My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 47 Menemui Jonathan



Daniella menatap mansion besar di depan matanya. Tidak disangka suaminya memiliki kekayaan luar biasa.


"Besar sekali rumahnya," bisik Prisil.


"Aku pun tak menyangka," timpal Daniella.


"Anda ingin bertemu dengan siapa, Nona?" tanya seorang penjaga menghampiri Daniella dan Prisil di gerbang depan mansion.


"Aku ingin bertemu dengan Tuan Besar Gu," terang Daniella.


"Apa sudah ada janji?" tanya sang penjaga.


"Belum. Bisakah aku bertemu dengannya?" pinta Daniella.


"Maaf, harus membuat janji terlebih dahulu untuk bertemu dengan Tuan Besar."


"Bisakah kau katakan padanya bahwa aku istri dari Jonathan?" pinta Daniella, dia menghela napas pelan. "Aku ingin bertemu dengan Jonathan," lanjutnya.


"Maaf Nona tidak bisa," jawab sang penjaga.


"Bagaimana Anda bisa bilang Tuan Gu tidak ingin bertemu kami kalau kau pun tidak menanyakannya?" tanya Prisil.


"Sudah peraturannya, Nona," jawab sang petugas.


"Baiklah, siapa namamu?" tanya Prisil. Meskipun dia sebenarnya bisa melihat dari name tag yang menempel di dada sang petugas. Namun, dia tetap menanyakannya. Hanya ingin membuat sang petugas terintimidasi olehnya.


"Sander," jawab sang petugas.


"Baiklah Sander, aku akan mengingat namamu! Karena kau mencoba menghalangi kami bertemu dengan Tuan Gu. Maka, jika terjadi sesuatu, aku akan membawa namamu untuk bertanggungjawab! Karena kedatangan kami sangat penting untuk Tuan Gu!" ancam Prisil.


Sander mengerutkan keningnya. Dia hanya menjalani prosedur dengan baik. Namun, dia pun tidak ingin dipersalahkan jika terjadi suatu yang buruk.


"Sander! Sander! Aku akan ingat namamu," ucap Prisil mengulang nama Sander. Dia menoleh pada Daniella. "Ayo kita pergi!" ketusnya.


"Tapi, bagaimana dengan Jonathan?" tanya Daniella sedih.


"Sudah ada nama Sander yang akan bertanggungjawab, yang terpenting kita sudah berniat baik. Semua hasil ada di tangan Sander," kata Prisil.


Sander yang mendengar Prisil menitikberatkan pada dirinya membuatnya gelisah.


"Tunggu, Nona!" panggil Sander. Ya, dia tidak mau dikambinghitamkan di kemudian hari jika sesuatu buruk terjadi.


Daniella dan Prisil menoleh. "Ada apa?" tanya Prisil.


"Tunggu sebentar, akan saya tanyakan dulu," ujar Sander.


Daniella dan Prisil saling tatap. Prisil menaikan alisnya. Sander masuk ke dalam pos jaganya dan menelpon bagian kepala pelayan untuk menyampaikan pesan pada Tuan Besar Gu.


Prisil dan Daniella masih setia menunggu di luar gerbang. Tidak lama Sander datang dan ada satu pengawal datang dengan membawa mobil golf.


"Tuan Gu bersedia menemui Anda," ujar Sander pada Daniella.


"Sudah kubilang, kami itu orang penting!" seru Prisil.


"Silakan Nona, naik mobil ini," ucap Sander menunjuk mobil golf yang sudah bersiap membawa Daniella dan Prisil tanpa mempedulikan ejekan Prisil.


"Terima kasih," ujar Daniella.


Daniella dan Prisil naik ke golf car.


"Besar sekali mansion-nya, pantas harus naik kendaraan. Jaraknya jauh dari pintu gerbang," celoteh Prisil. "Lihat, di samping rumah utama ada lapangan golf," sambung Prisil berbisik.


Daniella tidak menanggapi ocehan Prisil. Di benaknya hanya ada Jonathan. Dia ingin bertemu dengan kekasihnya itu.


Hingga, akhirnya mereka tiba di depan pintu utama. Sudah ada kepala pelayan yang menyambut mereka.


"Silakan," ujar wanita paruh baya selaku kepala pelayan.


Daniella dan Prisil mengikuti kepala pelayan itu. Dia berjalan dengan percaya diri. Dia tahu, yang akan ditemuinya bukan orang sembarangan. Maka dari itu, dia mempersiapkan dirinya sepantas mungkin. Menggunakan pakaian sopan dan riasan yang elegan. Tentu dengan barang-barang bermerek yang melekat pada tubuhnya.


Mereka dipersilahkan duduk di ruang tamu. Ruang yang besar dengan minimnya orang yang tinggal di sana.


Di depan mereka sudah tersaji minuman dan makanan ringan. Tidak sedikitpun Daniella menyentuh makanan di depan matanya. Bukan karena takut beracun atau pun tidak menyukai makanan tersebut. Namun, lagi-lagi otaknya hanya berpikir tentang Jonathan.


Derap langkah sepatu pantofel dipadukan dengan tongkat kayu terdengar di telinga Daniella dan Prisil.


Dua gadis itu menoleh ke arah sumber suara. Seorang lelaki tua dengan tongkat di tangannya. Namun, tidak terlihat rapuh. Lelaki tua itu masih terlihat gagah. Sepintas memiliki tatapan seperti milik Jonathan.


Daniella dan Prisil berdiri untuk memberi salam pada lelaki tua itu. "Selamat siang, Tuan," ucap Daniella.


"Duduklah," ujar lelaki tua itu.


Daniella dan Prisil duduk di kursi mahal itu. Meskipun Daniella memiliki karir yang cemerlang dan kekayaan sudah dimilikinya. Namun, melihat mansion yang kini dia datangi membuat dirinya kecil. Ya, kekayaannya tidak sebanding dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Apa maksud kedatanganmu?" tanya Janson Gu. Lelaki tua yang masih terlihat gagah, kakek dari Jonathan Gu.


"Aku adalah istri Jonathan ...."


"Aku sudah tahu," ujar Janson. "Yang aku tanya, apa tujuanmu datang ke sini?"


Janson Gu sudah tahu hubungan Jonathan dan Daniella. Dia membenci gadis di depannya ini karena telah membangkitkan jiwa psikopat Jonathan.


Daniella melebarkan matanya, menghela napasnya pelan untuk menghadapi pria tua di depannya. "Aku ingin bertemu dengan Jonathan."


"Tidak perlu bertemu dengannya," jelas Janson.


"Aku mohon, aku ini istrinya. Aku mau bertemu dengannya," pinta Daniella.


"Kau tidak pantas bertemu dengan cucuku. Dia baik-baik saja tanpamu."


Daniella menggeleng. "Tolong pertemukan aku dengannya. Aku mohon, aku ingin nama baiknya kembali lagi. Dia bukan pembunuh," terang Daniella.


"Tidak perlu dirimu untuk mengurus Jonathan. Berita tentangnya pun tidak akan terkuak ke media. Pergilah dari hidup cucuku!" terang Janson.


"Tuan aku mohon pertemukan aku dengan Jonathan. Dia tidak bersalah, dia bukan pembunuh," ujar Daniella sangat yakin.


"Semua bukti sudah mengarah padanya," timpal Janson.


"Aku yakin Jonathan bukan pembunuh. Jika, Anda bisa menutup media. Bukankah Anda bisa menyelidikinya? Aku sangat yakin suamiku tidak bersalah," tutur Daniella.


Janson sedikit mengerutkan dahinya. Namun, hanya sekilas. "Pergilah dari sini. Aku yang akan mengurus cucuku," ujar Janson seraya pergi meninggalkan ruang tamu.


Daniella mencoba mengejar Janson untuk memohon. Namun, dirinya di tahan oleh penjaga.


"Nona, silakan pergi dari sini," ujar sang pengawal.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Daniella, para pengawal sangat ketat menggiring mereka keluar rumah.


Daniella hanya bisa pasrah, dia dan Prisil keluar dari rumah itu. Mereka berjalan menuju mobil golf yang mengantar mereka sebelumnya.


Mata Daniella mengedar, hanya sekilas untuk melihat mansion mewah itu sebelum pergi. Tetapi, matanya menangkap sosok laki-laki yang dia rindukan duduk di taman dengan seekor Anjing di kakinya.


"J," seru Daniella tanpa ragu. Dia meneriakkan nama kekasihnya itu.


Jonathan menoleh saat mendengar suara yang dikenalnya. Dia bangkit dari duduknya dan mencoba berlari ke arah Daniella.


Namun, empat orang berpakaian putih menahan Jonathan, mereka mencengkram lengan Jonathan kuat.


Begitupula dengan Daniella yang di cekal oleh pengawal mansion tersebut. Dirinya dibawa paksa untuk keluar dari mansion.


Daniella dan Jonathan hanya bisa saling tatap dengan tubuh mereka yang ditahan oleh orang-orang yang tak mengizinkan mereka bertemu.


...πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


...Terima kasih telah mengikuti kisah Jonathan dan Daniella πŸ™πŸ₯°πŸ₯°...


...Mohon maaf dengan jadwal up yang tidak beraturan πŸ™πŸ™πŸ™...


...Writer Block kadang jadi kendala penulis remahan seperti Age πŸ˜πŸ™...


...Tapi, tidak ada novel Age yang menggantung, karena bagi Age menulis adalah sebuah kesenangan. 😊πŸ₯°...


...Terima kasih sekali lagi.. Kawal hingga akhir yach.. Novel ini tidak akan banyak bab coz Age memang sudah buat outline novel ini tidak panjang 😊😁...


...Oh ya, Jangan lupa πŸ‘πŸ’—πŸŒΉn vote πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜...