
Malam kian larut, hawa panas di kolam pemandian air panas berlanjut ke dalam kamar. Niat hati untuk menemukan paranormal agar dibawa ke rumah.
Mereka malah bertemu dengan sebuah penginapan yang membuat mereka lebih dekat lagi. Entah bagaimana mereka bisa keluar dari dalam kolam dan beralih ke ranjang.
Yang jelas, jejak air di lantai menunjukan mereka keluar dari kolam tanpa mengeringkan tubuh terlebih dahulu. Jejak air yang menuju ke ranjang dengan garis lurus tanpa ada pendampingnya.
Ya, Jonathan mengangkat Daniella menuju ranjang mereka dan melanjutkan pergelutan panas yang sudah mereka lakukan di dalam kolam dan siap melanjutkan sesi kedua.
Seperti biasa, tidak ada yang bicara. Mereka hanya akan saling menyentuh dan melakukan tindakan intim lainnya, layaknya pasangan lain yang sedang jatuh cinta. Jonathan masih berada di atas Daniella, dia menicum seluruh wajah sang istri.
Tersengal, Daniella mencoba mengatur napasnya karena sudah tak sanggup dengan perbuatan intim suaminya. Dia hanya bisa memejamkan matanya dengan napas yang memburu.
Sedangkan Jonathan, menikmati pemandangan indah di depan matanya. Seorang gadis dengan rambut setengah basah tergurai indah, sebagian helai rambut melintasi wajah sang model.
Bibir yang merekah sedikit bengkak akibat sesapan dan gigitan kecil dari sang pria, sukses membuat bibir itu tampak lebih sensual dikala mulut itu sedikit terbuka. Belum lagi dengan pipi yang merona bagaikan buah persik. Begitu cantik alami, begitu menggemaskan tak tahan untuk menggigitnya.
******* kenikmatan telah usai beberapa saat lalu, memberikan des*ahan kepuasan yang keluar dari kedua mulut orang yang saling memburu napas. Jonathan luruh, dia bersandar di dada sang istri. Menghirup aroma tubuh wanitanya.
Daniella masih mengatur napasnya, dia masih memejamkan matanya. Hening, hanya deru napas yang terdengar. Tiba-tiba, Daniella mendengar gumaman Jonathan.
"Aku menyukaimu, Kak. Aku mencintaimu."
Daniella langsung melebarkan matanya, ‘aku menyukaimu’ kata yang pernah ia dengar sebelumnya, bertahun-tahun lalu. Suatu kata yang lazim diucapkan manusia jika dihadapkan dengan perasaan suka pada seseorang.
Namun, kata tersebut diucapkan dengan nada yang berbeda oleh setiap orangnya. Begitupun dengan pria di depannya, meskipun sudah sering mendengar Evan menyatakan sukanya. Namun, nada mengatakannya sangat berbeda dengan lelaki yang kini berada dalam pelukannya.
Daniella menarik wajah sang suami agar saling berhadapan. Dia menatap lekat mata sang lelaki, menatap tak percaya.
Siapa lagi yang memanggilnya dengan sebutan 'kak' meskipun, saat mereka menikah, Daniella sudah melihat identitas Jonathan dan usia suaminya lebih tua dua tahun darinya.
"J," lirih Daniella.
Seketika Jonathan membeku, dia hanya menatap dalam istrinya. "Akhirnya, kau mengingatku, Kak," ujarnya.
Mata Daniella mengembun tanpa tahu penyebabnya. Seorang anak laki-laki dengan perawakan kecil. Kini, tumbuh menjadi pria tinggi dan semakin tampan. Begitu nyata di depan matanya. Anak lelaki yang membuatnya menunggu di taman kota dan sukses membuat dirinya kacau beberapa bulan, karena kepergian sang anak lelaki yang menghilang secara tiba-tiba.
"J," lirih Daniella lagi.
Dia menjulurkan tangannya, menyentuh wajah pria kecil yang dulu sering mengekornya. Lelaki yang sangat tulus padanya.
***
Tangan yang saling bertaut begitu pula dengan hati mereka. Daniella dan Jonathan tidak melanjutkan mencari sang supranatural. Mereka memilih kembali ke rumah.
Mereka pulang dengan kendaraan umum. Duduk di dalam bus dengan tangan yang saling menggenggam. Kaca mata hitam bertengger di hidung Daniella, kepalanya disandarkan ke pundak Jonathan. Telinga mereka masing-masing terpasang satu headset. Satu headset di telinga kanan Daniella dan satu headset di telinga kiri Jonathan. Menikmati sebuah lagu yang menenangkan.
Damai dan tenang. Itulah hubungan mereka sejak dulu, lebih banyak perbuatan dibanding pembicaraan. Lebih banyak saling tatap dan saling menggenggam.
"Sudah sampai," ujar Jonathan.
Daniella melepas headset yang dia pakai. "Kita harus transit bus, bukan?"
"Ya."
Jonathan pergi membeli tiket bus dan Daniella menunggu di tepi jalan, tidak lama Jonathan kembali lagi.
"Bus-nya, tiga jam lagi baru ada lagi. Baru saja berangkat yang sebelumnya," terang Jonathan.
"Ck! Seharusnya kita check out dari penginapan sejak pagi."
"Aku tidak tega membangunkanmu."
"Tapi, bukan sampai jam 12 siang kamu baru membangunkanku!" kesal Daniella. Perjalanan mereka masih cukup panjang dan mereka harus menunggu tiga jam lagi untuk mendapatkan bus-nya.
"Aku sudah membangunkanmu jam sembilan tapi kau bilang masih ngantuk."
"Siapa yang semalaman membuatku lelah!" dengus Daniella.
Jonathan hanya tersenyum, dia menarik Daniella ke dalam pelukannya. "Karena aku tahu telah membuatmu lelah. Maka itu, aku tidak tega membangunkanmu."
"Kita cari makan saja dulu, ini sudah sangat sore. Kita belum makan siang."
Mereka mencari restoran terdekat. Daniella dan Jonathan memesan makanan yang diinginkan. Restoran yang tak ramai pengunjung. Tempat yang cukup sepi, hanya beberapa orang saja yang ada di sana. Menghabiskan waktu untuk menunggu kedatangan bus.
"Kurang enak," desis Daniella. Dia meletakan kembali kentang goreng yang tadi diambilnya.
"Apa aku minta orang untuk menjemput kita saja?"
"Tidak perlu, kau itu hanya karyawan, jangan menyalahgunakan fasilitas kantor. Ini untuk kepentingan pribadi bukan kepentingan kantor, kasian sopirmu itu!" Daniella menyedot minuman berperisanya. "Oh, ya. Kau tidak apa bolos bekerja?" tanyanya.
Daniella sedang tidak ada jadwal pemotretan dalam tiga hari sehingga dia bisa bebas berpergian.
"Tidak apa, aku bisa kerjakan di rumah nanti."
"Brandon baik sekali padamu. Baik-baiklah dengannya, jarang punya atasan seperti itu." Daniella melihat arlojinya. "Jo, kita ke terminal, tinggal tiga puluh menit lagi."
"Iya, aku bayar dulu."
"Aku tunggu di depan restoran saja. Di sini agak sumpak."
"Ya."
Daniella pergi keluar restoran, tak lupa menggunakan kaca mata hitamnya, sedangan Jonathan pergi ke kasir untuk melakukan pembayaran.
Matahari sudah kembali ke ufuk. Jingga sudah hilang di telan kaki langit. Daniella berdiri di tiang luar restoran.
"Nona, kau tampak asing di sini? Apa kau pendatang?" tanya seorang pria dengan tubuh tinggi menggunakan jaket kulit hitam, menyeringai begitu menyeramkan.
Daniella hanya melirik sedikit dibalik kaca mata hitamnya, tanpa ingin menjawab pertanyaan pria itu. Sangat terlihat jelas sang pria hanya ingin menggodanya, karena dari ucapan pria itu, Daniella bisa melihat tatapan pria itu adalah tatapan lapar seorang lelaki, terlebih dari seringainya yang seolah melecehkan Daniella.
"Hei, Nona! Temanku bicara denganmu. Apa kau tuli?" Seorang pria dengan seringai yang sama mendekati Daniella. Hanya saja, kepala pria itu tidak berambut.
Daniella yakin, pria itu masih satu komplotan. "Maaf, aku tidak tahu kau bicara denganku."
"Apa kau pikir, aku bicara dengan wanita tua itu?" tanya sang pria berjaket kulit menunjuk wanita paruh baya.
Daniella melirik sekeliling, ada seorang wanita paruh baya yang berdiri tidak jauh darinya.
"Bukankah dia juga seorang wanita?"
Sang pria botak mendekati Daniella. "Benar-benar menantang, ikutlah dengan kami, aku jamin kau akan bahagia."
Daniella tak menggubrisnya, dia memilih untuk meninggalkan dua pria brengsek itu. Namun, langkahnya di tahan oleh pria botak itu.
"Biarkan aku pergi!" hardik Daniella.
Sang pria menatap Daniella lebih dalam. "Wah, kau cantik sekali, ikutlah dengan kami." Sang pria botak baru akan menarik lengan Daniella. Namun, tiba-tiba pria itu ambruk.
Bukan jatuh karena serangan jantung, melainkan bogem mentah mendarat di wajah sang pria botak itu.
Pria berjaket kulit hitam menyerang Jonathan, dengan lincah Jonathan menghindar dari pukulan pria itu. Pria botak bangkit dari keterpurukannya.
Terlibat pertengkaran tiga pria. Daniella menyingkir. Melihat Jonathan yang unggul, membuat Daniella tidak khawatir prianya terluka.
Bahkan, Daniella menyorakan semangat untuk Jonathan. Senyum mengembang saat melihat Jonathan unggul. Namun, senyum itu perlahan memudar.
Bukan karena Jonathan terluka, tetapi karena menyerang dua pria itu secara membabi buta. Jonathan memukul dua pria itu seakan bukan manusia, dia memukul tanpa ekspresi.
Memukul seolah itu adalah hewan buas yang harus dimatikan karena mengancam.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Jonathan duduk di atas pria botak, masih dengan terus memukul. Tangan Jonathan dihiasi warna merah dari darah sang pria yang terkapar lemah. Sedangkan pria berjaket kulit sudah tergeletak tak sadarkan diri.
Daniella berlari menghampiri Jonathan. Dia mulai panik melihat lelakinya memukul tanpa ampun.
"Hentikan, Jo!" teriaknya.