My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 49 Melarikan Diri



Sang pelayan memberikan troli pada Daniella yang sudah terisi penuh makanan di atasnya. "Gunakan lift pelayan. Ada di sebelah kanan. Kamar Tuan Muda berada di lantai tiga nomor dua," jelas sang pelayan.


"Oke, terima kasih."


Daniella mendorong troli makanan dengan hati penuh harapan. Dia hanya menundukkan kepalanya saat mendorong troli tersebut. Masuk ke dalam lift khusus para pelayan.


Sesekali melihat interior di mansion tersebut. Jelas, semua adalah barang-barang mewah. Masih banyak pertanyaan di kepala Daniella. Mengapa Jonathan bisa tinggal di rumah yang tergolong sederhana untuk kalangan konglomerat.


Dia menekan tombol tiga di lift. Masuk seorang pelayan ikut bersamanya. Dia menelisik Daniella. "Siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu di sini?" tanya seorang pelayan.


Setiap lantai akan ada pelayan yang berbeda dalam bertugas. Jadi, orang asing bisa langsung diketahui jika masuk ke dalam area yang bukan miliknya.


"Aku pelayan baru yang akan mengantarkan makanan pada Tuan Muda Gu," jawab Daniella.


"Kemana Celin dan Margaret?"


"Aku yang bersedia mengantar makanan ini, Celin dan Margaret sedang ada urusan lain. Lagipula, masakan ini buatan Chef dan aku sebagai asistennya. Jadi, jika terjadi sesuatu. Maka, akan menjadi tanggung jawabku juga," terang Daniella.


Sang pelayan melihat ID Card Daniella dengan nama Mona. "Mona, hati-hati, tempramen Tuan Muda sedang tidak stabil."


Daniella mendongak, dia hampir lupa bahwa namanya adalah Mona. Dia menatap sekilas Id card yang digunakan sang pelayan itu. "Ya, terima kasih, Irina."


Ting! Lift terbuka. Daniella keluar dari lift dan mencari kamar suaminya. Berdiri di depan kamar kedua. Ada dua pria yang menjaga di pintu kamar suaminya. Sang penjaga hanya menggeser tubuhnya agar Daniella bisa masuk ke dalam kamar.


Daniella menghela napas sebelum mengetuk pintu. Dia mendorong handle pintu. Dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.


Brak! Sebuah kursi dilempar oleh Jonathan dan nyaris mengenainya. Beruntung kursi jatuh tepat di samping Daniella sehingga tidak sampai membuatnya terluka.


"Pergi!" hardik Jonathan tanpa melihat Daniella.


"J," lirih Daniella.


Hanya satu huruf yang keluar dari mulut Daniella. Namun, sukses membuat Jonathan menoleh pada sumber suara.


Dia menatap penuh rindu istrinya. Menelisik dari atas hingga bawah wanita yang sedang mengunakan pakaian pelayan.


Tampilan yang sangat berbeda. Namun, suara yang keluar begitu familiar. Aura wanita itu pun sangat kuat. Aura kekasih hatinya.


"Daniella," gumam Jonathan memastikan dugaan kuatnya.


Daniella mengangguk, dia langsung berhambur menghampiri kekasihnya. Jonathan bangkit dari duduknya. Dia langsung merentangkan tangannya.


Seketika Daniella masuk dalam pelukannya. Daniella memeluk erat sang suami. Enggan untuk memberi jarak di antara mereka. Moment yang sangat sulit mereka dapatkan.


Setelah cukup lama, Jonathan mengendurkan pelukan mereka. "Kau di sini? Kau percaya padaku?"


"Ya, aku percaya padamu," terang Daniella.


Mereka duduk bersama, Daniella menceritakan singkat bagaimana dia bisa menyamar. Namun, Daniella tidak bisa terlalu lama berada di dalam kamar Jonathan. Penjaga di depan kamar Jonathan pasti akan curiga jika dia terlalu lama di dalam kamar suaminya.


"Aku harus pergi. Penjaga akan curiga jika aku terlalu lama di sini."


"Apa kau bersedia pergi denganku?" tanya Jonathan.


Daniella mengangguk dengan pasti. "Tapi kita harus mencari cara agar bisa keluar dari sini."


"Bawakan aku laptop. Di gudang banyak terdapat pakaian pelayan, bawakan itu juga padaku dan juga bawa dua senter kecil. Dua hari lagi si Kakek Tua akan membawaku keluar negri. Kita bisa mencoba melarikan diri sebelum itu terjadi," terang Jonathan.


Daniella menatap intens sang suami. "Ya."


Jonathan menarik tengkuk sang istri. Dia memberikan ciuman perpisahan.


"Nanti malam, kau yang antar makanan ya?" pinta Jonathan.


"Aku tidak bisa sering-sering datang ke sini. Namun, aku usahakan untuk datang menemuimu."


Keesokkan harinya, Daniella mengantarkan makanan untuk Jonathan. Bukan Daniella yang mengajukan permintaan mengantar makanan. Namun, semua itu ulah Jonathan semalam yang menyulitkan pelayan yang bertugas mengantar makanan.


Dia ingin orang dapur langsung yang mengantar makanan. Dia ingin ada orang yang menjelaskan tentang gizi dan komposisi makanan tersebut.


Hal ini dimanfaatkan oleh Daniella karena sudah pasti banyak yang tidak mau berhubungan dengan Jonathan.


"Ini laptop dan pakaian pelayan sesuai permintaanmu," tutur Daniella seraya memberikan laptop pada Jonathan.


"Nanti malam, kau antar makanan untukku. Kita pergi malam ini," tutur Jonathan.


"Ya," jawab Daniella.


Dia keluar setelah mengantar makan siang pada Jonathan dan kembali lagi ke dapur.


"Apa Tuan Muda masih mengamuk?" tanya Margaret menghampiri Daniella yang baru tiba di dapur.


Daniella hanya mengangkat bahunya. "Begitulah," jawabnya singkat.


"Apa kau terluka?"


"Dia melempar kursi. Namun, tidak kena padaku," jelas Daniella. Mengatakan apa yang ingin didengar oleh orang lain. Itulah yang dikatakan oleh Daniella agar tidak dicurigai.


Waktunya makan malam. Daniella bersiap mengantar makanan pada Jonathan.


"Kenapa belum berganti pakaian?" tanya Daniella.


"Aku menunggumu. Kalau bukan kau yang datang, rencana kita akan gagal," ucap Jonathan tersenyum.


Jonathan langsung membuka bajunya dan berganti menjadi pakaian pelayan. Sedangkan Danielle menolehkan pandangan. Meskipun sudah beberapa kali memadu kasih. Namun, dia masih malu melihat Jonathan berganti pakaian.


"Berbincanglah sebentar dengan penjaga di luar. Setelah lampu mati, pergi ke arah taman belakang. Keluar dari pintu kecil yang ada di halaman belakang. Namun, sebelum itu tinggalkan ponselmu di dapur. Di sana ada sebuah gubuk. Jangan keluar sampai aku datang," terang Jonathan. "Gunakan senter ini, cahayanya tidak begitu terang, hanya mampu menerangi langkah kakimu," tambahnya.


Daniella mengangguk dan menyimpan senter ke saku bajunya. Jonathan sudah mempersiapkan segalanya. Dia tahu malam ini Kakeknya ada acara di luar sehingga mengambil kesempatan kabur malam ini.


Daniella berbincang sedikit dengan penjaga di depan pintu kamar Jonathan. Tidak sampai lima menit listrik padam. Seketika pandangan menjadi gelap gulita.


Daniella langsung berpura-pura takut akan gelap, berteriak histeris sehingga membuat sang penjaga pintu memusatkan perhatian padanya dan tidak menyadari pintu kamar terbuka.


Jonathan langsung keluar dari kamar. Menuju arah yang sudah ia tentukan. Beberapa kali pelayan di rumah itu mencoba menyalakan lampu. Namun, belum juga berhasil menyala. Lampu akan mati sekitar dua puluh menit. Maka, Daniella dan Jonathan harus memanfaatkan waktu tersebut untuk pergi dari mansion.


Daniella langsung menuju halaman belakang, lalu ke gubuk yang disebutkan oleh Jonathan. Dia menunggu kedatangan sang suami.


Pintu gubuk terbuka. Jonathan mengulurkan tangannya. "Ayo."


Daniella tanpa ragu meraih tangan suaminya. Mereka tidak menggunakan kendaraan umum. Meskipun, Jonathan menggunakan kemampuannya untuk meretas lampu jalan dan juga CCTV, sehingga membuat tidak berfungsi. Namun, sedikit mengambil resiko, mencari jalan yang lebih aman.


Mereka masuk ke dalam hutan. Daniella tidak menolak ataupun keberatan. Ini sudah menjadi keputusannya.


"Ulurkan tanganmu," ujar Jonathan.


Daniella meraih tangan sang suami dan naik ke perahu kecil. Mereka melalui sungai kecil di sana.


"Kita mau kemana?" tanya Daniella.


"Kau akan tahu nanti," jawab Jonathan.


...πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


...Terima kasih telah mengikuti kisah Jonathan dan Daniella πŸ™πŸ₯°πŸ₯°...


...Mohon maaf dengan jadwal up yang tidak beraturan πŸ™πŸ™πŸ™...


...Terima kasih sekali lagi.. Kawal hingga akhir yach.. Jangan lupa πŸ‘πŸ’—πŸŒΉn vote πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜...