My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 50 Brandon, dia yang membunuh.



Mereka tiba di sebuah rumah satu lantai. Entah dari mana Jonathan bisa menemukan rumah tersebut. Bukan hutan, tetapi rumah tersebut dikelilingi oleh banyak tumbuhan. Ada danau kecil di depan rumah.


Rumah yang terbuat dari kayu, banyak pohon-pohon besar di sekitar itu. Mungkin, rumah itu bisa dijadikan lokasi syuting film horor.


"Apa kita akan tinggal di sini?" tanya Daniella.


"Ya, untuk sementara."


Daniella mengeratkan genggaman tangan pada Jonathan. Selama ada suaminya, dia tidak akan takut pada apapun.


Mereka masuk ke dalam rumah itu, tidak banyak barang yang ada di sana. Namun, cukup untuk bermalam. Rumah yang masih ada fasilitas. Ranjang, sofa dan beberapa barang lainnya.


"J, apa ada listrik di tempat ini?" tanya Daniella.


"Tentu," jawab Jonathan seraya melepas tasnya ke kursi. Tas yang hanya berisi laptop pemberian Daniella.


Tidak ada kendala di rumah itu. Jonathan membuka tas laptopnya. Entah apa yang dia lakukan di depan laptop.


Listrik menyala sebagaimana mestinya. Hanya saja, tidak ada bahan makan yang tersedia.


"Aku akan memancing untuk makan malam kita," ujar Jonathan.


"Ya."


Daniella melihat sekeliling, tidak ada pakaian ganti, terpaksa hanya menggunakan yang melekat pada tubuhnya.


Dia berkeliling seluruh rumah, tidak ada bahan makanan sedikitpun. Rumah yang hanya berfungsi pada listrik dan air.


Dia keluar dari rumah dan mencari Jonathan yang sedang memancing ikan di danau. Daniella langsung menemukan sosok suaminya. Namun, seketika dia mengerutkan dahinya. Jonathan dalam posisi jongkok. Daniella mengembuskan napasnya pelan. Dia yakin, pria yang sedang memancing ikan adalah Jojo.


Daniella sudah diceritakan semua oleh Brandon. Semua tentang karakter berubah suaminya. Hanya saja, bukankah sudah cukup lama Jojo tidak pernah hadir.


"Jo, apa sudah mendapatkan ikannya?" tanya Daniella.


Jonathan menoleh dan tersenyum manis pada Daniella. "Belum." Dia kembali fokus pada kail yang di pegangannya.


Daniella ingin bertanya tentang yang sesungguhnya terjadi. Bagaimana tentang keluarganya, bagaimana tentang kasus Evan yang sebenarnya dan bagaimana dia tahu rumah ini. Namun, Daniella harus mengurungkan niatnya. Dia harus menunggu J kembali lagi.


Daniella hanya duduk di samping Jonathan yang sedang memancing. Hingga akhirnya mereka mendapatkan ikan.


"Kita dapat ikan, Jo," ujar Daniella sumringah.


Mereka membakar ikan hasil pancingan mereka. Menggunakan kayu bakar yang ada di sekitar rumah. Menikmati makan malam dengan tenang. Setelah makan malam, Jonathan merebahkan kepalanya di paha Daniella. Dia terlelap oleh usapan lembut di kepalanya.


Daniella hanya bisa mengusap lembut surai ikal sang suami. Tidak dipungkiri, dia pun menyukai sosok Jojo. Bahkan, di dalam hati Daniella, dia pun menyukai sikap lantang Nathan. Dia masih tidak percaya Nathan bisa melakukan hal keji.


Daniella akhirnya ikut tertidur pulas bersama sang suami. Hingga matahari bersinar. Daniella membuka matanya, suaminya tidak ada di sampingnya. Entah jam berapa, yang Daniella yakini adalah hari sudah siang.


Daniella mencari keberadaan Jonathan di dalam rumah dan sekitar Danau. Namun, tidak menemukan keberadaan suaminya.


Hatinya mulai panik. Namun, disaat dia mulai putus asa. Dia dikejutkan dengan keberadaan Jonathan yang datang tiba-tiba.


"Kau darimana?" tanya Daniella.


Jonathan mengangkat tas plastik berwarna hitam. "Ada pasar disekitar sini. Aku membawakanmu pakaian ganti."


Daniella menerima kantong plastik dan membukanya. Isinya benar pakaian wanita meskipun bukan pakaian bermerk.


"Itu apa, kantung satu lagi?"


"Bahan makanan," jawab Jonathan.


Daniella menerima satu kantong plastik bahan makanan. Jonathan pergi ke belakang rumah untuk mencari kayu.


Mereka hidup damai meskipun dalam keterbatasan. Kadang Jonathan masuk ke dalam hutan dan mengambil buah yang tumbuh di sana.


Sudah dua hari mereka di sana. Jonathan memeluk Daniella dari belakang. "Mau berenang?" tanya Jonathan. Mereka sedang duduk di pinggir danau.


"Di danau?"


"Tentu."


Jonathan melepas pakaiannya dan hanya menyisakan celana pendek. Begitu pula dengan Daniella yang melepas pakaiannya. Menggunakan dalaman two piece untuk berenang.


Mereka menikmati hari berdua, menikmati suasana di rumah itu. Berenang, bermain kejar-kejaran, saling berciuman dan bercinta.


Daniella hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. "Em, tapi senang."


Jonathan tersenyum. "Lain kali aku akan lebih berhati-hati," terang Jonathan.


"J."


"Ya."


"Apa kita akan tinggal di sini seterusnya?"


"Tidak. Kita akan pindah. Tetapi, setelah semua selesai."


"Keluargamu bisa dibilang keluarga konglomerat. Tapi, kenapa kau bisa tinggal di rumah itu?" tanya Daniella. Dia tahu, Jonathan pasti tahu maksud rumah yang ditanyakan adalah rumah terjadinya tragedi.


"Yang aku tahu, Ayah menikahi ibu yang seorang imigran. Kakek tidak merestui mereka. Hingga, ayah memilih kabur dari rumah," terang Jonathan.


Masuk akal, itu yang dipikirkan oleh Daniella. Terkadang cinta tak membutuhkan logika. Dia tidak bertanya lagi tentang orang tua Jonathan.


"J, kau tidak membunuh Evan, bukan?"


Tatapan lembut Jonathan berubah tajam saat Daniella menanyakan tentang pembunuhan Evan. Namun, Daniella tak melihatnya karena dia masih menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


"Kau tidak percaya padaku?" tanya Jonathan.


"Bukan tidak percaya. Tetapi, semua bukti ada padamu."


"Bukan aku," jawab Jonathan.


"Lalu, kira-kira siapa yang membunuh Evan?"


Jonathan terdiam lalu dia berkata, "Brandon, dia yang membunuh."


Daniella langsung mengangkat kepalanya. "Tidak mungkin," ujarnya.


Dia tidak percaya bahwa yang melakukan adalah Brandon. Pria itu terlalu baik padanya. Bahkan, dia yang membantunya menemukan Jonathan.


"Kenapa? Kau tidak percaya?"


"Ya. Sulit dipercaya."


Jonathan mendorong Daniella, dia bangkit dan mengukung istrinya. Menindih wanitanya dan menatapnya tajam. "Tidak perlu memikirkan apapun. Semua akan berjalan sebagaimana mestinya," ujar Jonathan tegas.


Setelah berkata, dia langsung menyambar bibir istrinya. Mengulang kembali kegiatan yang baru saja selesai.


"J, hentikan," mohon Daniella.


Jonathan tidak memberi ruang pada Daniella. Dia menyerang tanpa henti. Menunjukan pada sang istri bahwa dialah seorang Alpha. Seolah memberi petunjuk bahwa Daniella bersalah dan harus dihukum.


Daniella terus mendorong Jonathan yang semakin liar. Mer*mas, menggigit dan mengisap dengan kuat. Entah apa yang salah, Daniella tak mengerti kenapa tiba-tiba Jonathan berubah. Dia tidak melihat tatapan lembut Jonathan sebelumnya.


"J, hentikan!" hardik Daniella merasa tidak sanggup lagi melayani suaminya.


Jonathan tidak mendengar rintihan dan permohonan sang istri. Dia mengangkat dagu sang wanita dan memberi ciuman keras pada Daniella.


Bibir s*xy Daniella membengkak, tanda kemerahan ada di sekujur tubuhnya. Daniella menangkup wajah Jonathan. Ditatapnya mata sang suami.


Tatapan Jonathan dalam dan tajam, Daniella mengenal tatapan itu. Seketika Daniella bergumam, "Nathan."


Jonathan hanya menyeringai. Dia langsung menutup mulut Daniella dengan bibirnya. Melancarkan aksinya kembali.


Daniella hanya bisa meneteskan air matanya dalam diam. Sudah menjadi keputusannya untuk bersama Jonathan, dan kini dia harus berani dengan apapun resikonya. Hingga akhirnya dia lelah dan tertidur.


Matahari menjelang, Jonathan hanya menatap wanita yang masih terlelap. Dia menundukkan kepalanya. Dia sadar apa yang telah ia lakukan semalam. Namun, J tidak bisa berbuat apapun jika Nathan sedang hadir menguasainya.


...πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž...


...Terima kasih telah mengikuti kisah Jonathan dan Daniella πŸ™πŸ₯°πŸ₯°...


...Mohon maaf dengan jadwal up yang tidak beraturan πŸ™πŸ™πŸ™...


...Terima kasih sekali lagi.. Kawal hingga akhir yach.. Jangan lupa πŸ‘πŸ’—πŸŒΉn vote πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜...