
Keesokan harinya, Daniella sudah bersiap untuk konferensi pers. Dia menggunakan pakaian formal. Terlihat elegan dalam balutan blazer dress berwarna putih terang dari perancang terkenal.
Sang model memadukan blazer dress itu dengan topi bundar berwarna navy dan putih yang tentu saja juga merupakan dari perancang terkenal dunia. Gayanya ini dilengkapi dengan tas biru navy yang senada dengan topi bundarnya.
Berbeda dengan Daniella yang tampak anggun paripurna. Jonathan keluar dari kamarnya hanya dengan menggunakan celana jeans dan T-shirt. Ditambah menggunakan jaket kulit hitam dengan resleting depan yang terbuka untuk melengkapi outfitnya.
Daniella menatap Jonathan yang turun dari kamarnya dengan santai. “Apa yang kau gunakan?” telisik Daniella dari ujung rambut hingga kaki Jonathan.
Jonathan mengikuti arah pandang Daniella. “Apa ada yang salah?”
“Tentu saja ada yang salah! Kau ini mau konferensi pers, bukannya pergi ke taman bermain!” bentak Daniella.
Belum selesai Daniella marah-marah, sudah ada Prisil yang datang dengan membawa tas besar. Pandangannya menatap Jonathan. “Sudah kuduga akan seperti ini,” lirih Prisil.
Sang asisten membuka tas besarnya dan mengeluarkan satu set pakaian. “Pakai ini.” Prisil menyodorkan pakaian pada Jonathan.
Jonathan menerima pakaian itu. Tanpa bertanya apa pun dia kembali ke kamar.
“Apa kau sudah mengajarinya cara bicara dengan para wartawan?” tanya Prisil pada Daniella.
“Dia bilang sudah mengerti.”
“Dia sudah mengerti tentang pialang?”
“Ganti rencana! Dia itu animator. Kemarin CEO Galaxy High corp datang dan menawarinya pekerjaan.”
“Apa? CEO-nya langsung?” tanya Prisil penuh keheranan.
“Ya, dia bahkan pernah bekerja di Jepang. Aku rasa, pertemuanku dengannya di hotel, itu hari kembalinya dia ke sini,” gumam Daniella.
“Apa dia kaya?” tanya Prisil penasaran.
“Tidak tahu, tidak jelas! Susah bicara dengan orang aneh sepertinya!” dengus Daniella.
Tidak membutuhkan waktu lama, Jonathan turun dari kamarnya. Mendengar derap langkah semakin mendekat, sukses mengalihkan perhatian Daniella. Dia menatap seorang pria yang kini berpakaian formal. Jas dan celana bahan di sertai oleh sepatu pantofel.
Namun, dari semua tampilan Jonathan, yang paling menarik baginya adalah bagian rambut sang pria aneh itu. Jonathan menguncir rambut ikal gondrongnya, dicepol ke atas belakang, Curly Man Bun sangat cocok olehnya. Dengan begini, rambut Jonathan tidak terlihat berantakan lagi.
Sepersekian detik Daniella terpesona oleh ketampanan Jonathan. Seandainya pria di depannya merupakan pria dingin layaknya seorang CEO yang selalu didamba. Mungkin Daniella langsung jatuh cinta pada Jonathan. Namun, semua itu hanya bagaikan angan, terlebih saat Daniella mengingat tangis manja Jonathan di dalam kardus, membuatnya hilang sudah rasa kagum pada tampilan sekilas Jonathan saat ini.
“Wow! Kau tampak keren, Jo! Seharusnya kamu seperti ini setiap hari,” imbuh Prisil.
Meskipun diakui Prisil bahwa Jonathan merupakan pria tampan, hanya saja terkadang ketampanannya tertutup dengan tingkah anehnya.
“Sudah, ayo kita berangkat!” titah Daniella.
Mereka keluar dari rumah, saat membuka pintu dikejutkan dengan mobil yang terpakir di depan rumah. Sebuah mobil mewah berwarna merah yang sukses membuat Daniella dan Prisil membulatkan matanya. Mobil yang jauh lebih bagus dari miliknya.
“Mobil siapa itu?” gumam Daniella.
“Entahlah, saat aku datang belum ada mobil itu,” jawab Prisil.
Seorang sopir keluar dari mobil tersebut. “Silakan Tuan Jonathan, ini fasilitas mobil dari Tuan Brandon untuk Anda,” ujar sang sopir.
“Belum aktif bekerja tapi sudah mendapatkan fasilitas mewah ini?” tanya Daniella pada Jonathan. Namun, pria yang ditanya tidak menunjukan ekspresi apapun.
“Saya akan menjadi sopir kalian hari ini.” Sang sopir melihat Daniella dan Jonathan bergantian. “Silakan Tuan, Nona-Nona,” lanjut sang sopir.
“Aku bawa mobilku sendiri saja, kalian pergilah,” ucap Prisil.
“Awal kita bertemu, bukankah kau bilang meminjam mobil temanmu? Dimana mobil itu sekarang?” tanya Daniella memicingkan matanya.
Dirinya teringat bahwa mobil itu termasuk mobil mewah, meskipun tidak semewah mobil yang mereka tumpangi saat ini.
“Sudah diambil pemiliknya,” jawab Jonathan datar.
“Kapan? Kenapa aku tidak tahu?” cecar Daniella. Dia merasa banyak yang disembunyikan oleh suami diatas kertasnya ini.
“Aku pun tak tahu. Tiba-tiba sudah tidak ada.” Masih menjawab dengan datar.
Daniella membuka mulutnya, ingin sekali ia mengeluarkan perkataan lagi. Namun, dia urungkan. Hanya akan menghabiskan tenaga saja berbicara dengan Jonathan yang aneh.
Tidak ada yang banyak bicara dalam perjalanan menujuku konferensi pers. Mereka tiba di tempat konferensi pers. Tatapan Jonathan masih datar seperti biasanya. Daniella memulai memberi penjelasan tentang dirinya dengan Jonathan.
“Kami tahu apa yang kami lakukan salah. Namun, apa pun yang terjadi adalah persetujuan antara kedua belah pihak antara aku dan juga suamiku, Jonathan,” jelas Daniella.
Daniella tidak menjelaskan secara eksplisit yang terjadi. Dia tidak akan menjelaskan apa yang terjadi di dalam kamar hotel. Para wartawan semakin riuh karena pernyataan Daniella yang telah menikah dengan Jonathan.
“Nona, bukannya ada bilang bahwa pria yang bersama Anda adalah tunangan Anda?” tanya seorang reporter.
“Ya, pada saat itu. Kini, kami sudah menikah.”
“Kapan pernikahan kalian dilaksanakan?”
Daniella tersenyum. “Tanpa aku beri tahu, aku yakin kalian bisa mengetahuinya,” jawab Daniella sarkas.
“Apa pekerjaan suami Anda? Apa dia seorang pengangguran?”
“Untuk apa bertanya tapi berspekulasi sendiri!” kesal Daniella tetapi hanya bisa membatin.
“Dia seorang animator,” jawab Daniella singkat.
“Jadi, suami Anda hanya seorang karyawan? Di perusahaan apa?”
“Aku rasa tidak perlu memberitahu kalian.” Daniella hanya ingin memberikan sedikit privasi pada Jonathan.
“Pernikahan kalian dilaksanakan secara mendadak. Apakah karena Anda sudah hamil duluan?”
“Kalau aku hamil, kalian bisa melihat dalam beberapa bulan lagi, perutku membesar atau tidak!” tegas Ainsley.
Dia kesal dengan mulut tidak bertanggung jawab reporter itu.
Sesi wawanacara telah usai, Jonathan tidak sedikitpun bicara, hanya Daniella yang mengambil alih semua pembicaraan. Jelas, para wartawan tidak puas akan jawaban dari Daniella.
“Wawancara apa ini!” dengus salah satu reporter.
Daniella hanya melirik sepintas, dia tidak ingin memperpanjang urusan. Dia bangkit dari duduknya dan berniat berbalik meninggalkan tempat konferensi pers.
Jonathan ikut berdiri, mengikuti sang istri. Namun, tiba-tiba ada botol minuman dingin melayang dan menuju ke kepala Daniella.
Slap! Dengan lugas Jonathan menangkap botol minuman dingin tersebut. Matanya mengedar, menelisik siapa yang melempar botol itu. Tatapan tajam Jonathan menjadi perhatian para wartawan, tatapan kosong sebelumnya berubah menjadi tatapan mengerikan. Seketika para reporter membeku melihat tatapan tajam yang menghipnotis.
Daniella menoleh ke belakang, dia cukup terkejut, tangan Jonathan menggenggam erat botol minuman itu. Secara perlahan, minuman kaleng yang masih tersegel diremmas oleh Jonathan sehingga air di dalamnya keluar.
Kaleng tersebut langsung diambil Daniella, dia melihat tatapan tajam Jonathan. Jantungnya berdegup cepat, dia belum mengenal jauh suaminya. Namun, dia selalu merasa ada yang salah dengan pria yang sudah berstatus suaminya.