
Ponsel Evan terus berdering, irama nada dering menggema di sekitar ruang kantornya. Evan mengambil ponselnya dan melihat yang menelpon adalah kekasihnya, Daniella. Evan langsung membanting ponselnya seketika.
“Brengsek! Siapa yang berani melakukan ini padaku?” tanya Evan penuh dengan kemarahan.
“Maaf Tuan, saya belum tahu siapa yang melaporkan Anda pada pihak berwajib tentang penggelapan pajak,” jelas Alex.
“Bagaimana dengan Veronika?”
“Dia sedang di kantor polisi, selain masalah pajak, perusahaan Nyonya Veronika tersandung penyelundupan bahan baku.” Alex terdiam sejenak. “Saham perusahaan kita juga anjlok, kemungkinan akan mengalami kebangkrutan,” lanjutnya.
“Pasti ada orang yang melakukan ini padaku! Cepat cari orangnya!” titah Evan.
“Baik. Namun, sebelumnya para direksi meminta rapat dadakan. Mereka ingin menarik saham mereka sebelum terjadi kebangkrutan.”
Rahang Evan semakin mengeras, dia mengguyar rambutnya. Dirinya tidak pernah terlibat perselisihan dengan siapa pun, dia selalu berhati-hati dalam melangkah. Ada beberapa bisnis haram yang dijalankan oleh Evan, dia tidak tahu pihak berwajib mengetahuinya atau tidak.
Jika hanya penggelapan pajak, mungkin Evan masih bisa berkilah dan membereskan semuanya. Namun, dia dihadapkan dengan banyaknya pemegang saham yang akan menarik saham di perusahaannya. Jika sampai bisnis haramnya tercium oleh pihak berwajib, dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya kelak.
***
Jam tangan cantik menghiasi pergelangan tangan Daniella, menunjukan pukul sembilan malam. Daniella masih setia menunggu kekasihnya, dirinya sudah memakai jaket hoodie yang menutupi kepalanya, dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
Hanya matanya yang terlihat, itu pun tertutup sebagian oleh rambut. Berdiri di depan pintu unit apartemen dengan diam, membuatnya sekilas menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang, Daniella hanya bisa menundukkan kepalanya semakin dalam, tidak ingin orang lain melihatnya.
Beberapa kali mencoba menghubungi kekasihnya tetapi tidak sekalipun diangkat, bahkan terakhir kali dia menghubungi, sambungan teleponnya langsung mati. Pikiran Daniella kacau, sekali lagi Evan mempermainkannya.
Cukup sudah merasakan sakit hati karena cinta, dia begitu tulus mencintai Evan. Orang tua yang tidak merestui dan juga ketidakberanian kekasihnya mempertahankan cinta mereka, menjadi terjalnya kisah cinta mereka. Menyerahkan hatinya untuk pria itu selama beberapa tahun ini, bahkan dia tidak pernah tahu bahwa cinta Evan selama ini palsu.
“Apa dia Daniella Tan?” bisik seseorang yang sedang berjalan dengan temannya.
“Entahlah, aku tidak tahu,” jawab seseorang yang lain.
“Dari perawakannya sih iya.”
“Apartemen siapa itu?”
“Sudah lama tidak ada penghuninya, tapi aku masih melihat ada orang yang rutin membersihkannya.”
Dua orang wanita itu berjalan menjauh dari Daniella, menuju unit apartemen mereka.
“Tunggu, aku rasa, aku tahu siapa pemilik apartemen itu,” ujar salah satu wanita itu, dia menghentikan langkahnya.
“Siapa?”
“Aku pernah bertanya pada orang yang membersihkan apartemen itu. Pemiliknya adalah Evan Su.”
“Apa? Jadi, wanita itu Daniella? Bukankah dia diisukan punya hubungan gelap dengan Evan Su?"
“Bagaimana jika kita langsung tanyakan pada wanita itu?”
“Ayo.”
Dua wanita tadi memutar arah, kembali ke arah Daniella yang masih berdiri di depan pintu apartemen Evan.
“Apa kau Daniella?” tanya seorang wanita itu.
Mendengar ada yang bertanya tentangnya, Daniella tersadar akan lamunannya tentang hubungannya dengan Evan.
“Maaf, kalian salah orang,” ucap Daniella tanpa mengangkat kepalanya.
“Kau pasti Daniella,” seru wanita tadi.
“Bukan.” Daniella langsung beranjak pergi dari tempat itu. Namun, salah satu wanita itu menarik hoodie Daniella hingga kupluk di kepalanya tertarik ke belakang.
“Lepaskan!” hentak Daniella mendorong wanita itu. Dia langsung berlari menjauh.
Dua wanita tersebut sempat ingin mengejar Daniella. Namun, Daniella hilang entah kemana.
Daniella tidak masuk ke dalam lift dia beralih ke tangga darurat, menuruni tangga dengan tergesa menjauh dari tempat itu.
Hingga dirinya lelah menuruni anak tangga, tingginya lantai unit apartemen Evan, membuat Daniella tidak menemukan akhir dari anak tangga itu.
Daniella lelah, dia duduk di salah satu anak tangga. Dia meletakan kepalanya di lututnya. Mencoba mengatur napasnya.
Tap … tap … tap ...
Derap langkah kaki seseorang yang semakin mendekat pada Daniella, tidak membuat wanita itu sadar akan kehadiran orang lain di sekitarnya. Hingga derap langkah kaki itu berhenti tepat di depan Daniella.
“Ayo, kita pulang,” ajak Jonathan datar.
Daniella mendengar suara Jonathan langsung mendongakkan kepalanya. “Kau ada di sini?” tanyanya.
“Ya,” jawab Jonathan dingin.
Daniella hanya menatap suaminya tanpa berkata satu patah pun, tidak lama Jonathan ikut menunduk, membelakangi Daniella lalu dia berjongkok dengan satu lutut menyentuh lantai di depan Daniella. “Naiklah.”
“Jo ….”
“Kau pasti lelah, aku akan menggendongmu,” jawabnya.
Daniella menyerengitkan dahinya, dirinya seperti terhipnotis oleh nada bicara Jonathan yang tidak biasa. Dia mematuhi perintah Jonathan dan naik ke punggung suaminya.
Setelah memastikan Daniella naik ke punggungnya, Jonathan langsung berdiri dan mulai melangkahkan kakinya. Daniella hanya dapat menyembunyikan kepalanya agar wajahnya tidak terlihat oleh orang lain.
Mereka keluar dari apartemen itu. “Jo, turunkan aku, ini sudah di luar.” Daniella mencoba turun dari tubuh Jonathan. Namun, lelaki itu semakin mengeratkan gendongannya.
“Diamlah.”
Jonathan terus berjalan di trotoar. “Jo, turunkan aku, lebih baik kita cari taxi untuk pulang,” usul Daniella.
“Apa kau lihat ada taxi yang lewat?”
Daniella melihat sekeliling, benar kata Jonathan bahwa dari tadi tidak ada taxi yang lewat. “Jadi, kau akan menggendongku selama kita belum mendapatkan taxi?”
“Ya.”
Jonathan minim bicara, Daniella pun ikut tak banyak berbicara, perubahan sikap Jonathan sangat terlihat jelas.
Minimnya bicara Jonathan bukan karena dia bosan dengan istrinya, melainkan dirinya sedang berjuang keras agar sosok Nathan atau pun Jojo tidak hadir di saat seperti ini, dia ingin mengabiskan waktu dengan gadis pujaannya.
“Jo, itu ada halte, kita tunggu di sana saja,” usul Daniella.
Jonathan mematuhi perintah Daniella karena air mulai turun dari langit. Gerimis menghiasi jalan malam mereka. Udara dingin menyeruak ke sukma.
Gedung-gedung tinggi menjulang, sekokoh apapun gedung tersebut, tetap saja tidak bisa menghidari basahnya hujan.
Papan bilboard yang menempel pada salah satu gedung menampilkan gambar diri Daniella sebagai model iklan. Daniella tersenyum melihat dirinya terpampang pada papan bilbord itu. Namun, senyumnya pudar saat wajahnya kini telah berganti dengan informasi lainnya.
Daniella membulatkan matanya saat melihat informasi di papan bilbord itu. Wajah kekasihnya terpampang, berita berjalan di bawah layar menunjukan bahwa Evan ditangkap pihak berwajib karena bisnis ilegal yang dijalaninya.
“Evan,” seru Daniella. Dia bangkit dari duduknya hendak meninggalkan Jonathan.
Tangan Daniella dicekal oleh Jonathan. “Mau kemana?” Jonathan ikut bangkit dari duduknya.
“Aku harus pergi Jo, lepaskan aku.”
“Jangan pergi.”
“Tidak bisa, aku harus pergi, Jo.” Daniella melihat tangannya yang tidak dilepaskan oleh Jonathan. “Lepaskan aku, Jo.”
Jonathan bukan melepaskan tangan Daniella, dia menarik Daniella hingga tubuh mereka bertubrukan.
“Panggil aku Nathan!” ucap Jonathan tegas, setelah itu memberikan ciuman tiba-tiba pada Daniella.
Daniella hanya membulatkan matanya saat Jonathan menciumnya, ciuman layaknya seorang lelaki pada seorang wanita. Bukan hanya sekadar sentuhan bibir yang pernah mereka lakukan.