My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 30 Merinding



Akhirnya Brandon tidak tahan menahan tawa, tawanya pecah. Dia terbahak-bahak di depan Daniella. “Kau sungguh lucu, Nona.”


Dia mengusap sudut matanya dengan jari kelingkingnya karena merasa ada air mata yang menetes. “Tingkat kepercayaan dirimu terlalu tinggi! Aku akui kau cantik. Namun, bukan berarti setiap pria menyukaimu,” sambungnya.


Daniella hanya menundukan kepalanya karena malu. Namun, dia harus menahan rasa malunya. “Jadi, apa sebenarnya motifmu melakukan itu pada Evan?”


“Sudah kubilang padamu, aku hanya membantu tugas polisi.”


“Apa kau bisa membantunya? Dia sangat menderita sekarang. Aku yakin dia bisa memperbaiki kesalahannya,” mohon Daniella.


Brandon menatap Daniella. “Bagaimana kau tahu dia menderita atau tidak? Tempat yang aman untuknya adalah penjara,” terang Brandon.


Dia tak menjamin Evan akan baik-baik saja jika Evan berkeliaran diluaran. Mengingat kejadian kebakaran hotel, membuat Brandon mengingat nasib Cysara. Seorang model yang tidak diketahui keberadaannya. Bahkan dia tidak tahu nasib Cysara saat ini.


"Tidak penting aku tahu dia menderita atau tidak. Aku mohon padamu, tidak mungkin seumur hidupnya bersembunyi," lirih Daniella.


Brandon menangkap satu kunci kata yang keluar dari mulut Daniella. "Bersembunyi? Apa maksudmu?" tanya Brandon penasaran.


Daniella menyadari dirinya telah salah bicara. "Bukan apa-apa." Dia beranjak dari duduknya. "Kalau begitu, aku permisi."


Daniella mengambil tasnya yang berada di sampingnya. Di bangkit dari duduknya dan bersiap keluar dari ruangan Brandon.


"Tunggu," ucap Brandon.


Daniella menghentikan langkahnya seketika, dia berbalik untuk menatap Brandon. Beberapa kali bermain film sebagai bintang tamu, membuat Daniella mudah mengubah ekspresinya. Dia mencoba menutupi kegugupannya. "Ada apa?"


"Aku bersedia membantu Evan."


"Apa?"


"Bukankah tujuanmu datang ke sini untuk aku membantunya?"


"Ah, Ya."


"Kalau begitu, aku ingin bertemu padanya. Aku ingin tahu seberapa besar ketulusannya," ujar Brandon.


Daniella bingung harus berkata apa. Dia belum mengenal jauh karakter Brandon. Jika dia mengatakan persembunyian Evan. Apakah pria di depannya ini benar-benar akan menepati perkataannya, yang akan membebaskan Evan? Atau, setelah tahu persembunyian Evan, Brandon akan menjebloskan mantan pacarnya itu ke penjara?


"Kenapa diam? Kau tidak percaya padaku?" tanya Brandon. "Dia kabur bukan?" tanya Brandon menguatkan dugaannya.


"Itu ... itu ...."


"Antar aku padanya, aku tidak akan menjebloskannya ke penjara," ujar Brandon seolah menjawab pikiran Daniella.


Akhirnya Daniella mengatakan sejujurnya pada Brandon tempat persembunyian Evan. Mereka berdua datang ke tempat itu.


"Apa ini tempatnya?" tanya Brandon.


"Ya," jawab Daniella.


Mereka berdua berjalan beriringan dengan jarak kurang dari satu meter. Daniella mengetuk pintu gudang.


Tok ... Tok ....


Tidak ada yang membukakan pintu. Tak terdengar ada pergerakan dari dalam. Daniella melirik Brandon sekilas. Dia mengetuk pintunya kembali.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Evan," panggil Daniella.


Tok ... Tok ... Tok ...


Kali ini Brandon yang mengetuk pintu gudang, dia mengetuk lebih kencang. Masih tidak ada yang membukakan pintu. Brandon mendorong handle pintu ke dalam dan pintu itu langsung terbuka. "Tidak terkunci," gumam Brandon.


Daniella hanya menatap sekilas Brandon, lalu ia masuk ke dalam gudang. Mata Daniella mengedar, mencari keberadaan mantan kekasihnya.


"Evan!" seru Daniella.


Daniella menelisik ke ruangan yang tidak terlalu besar itu. Dia menunduk, mencari Evan di balik meja yang bertengger di pojok ruangan.


"Tidak usah di cari, dia tidak ada di sini," ujar Brandon menggelap. Matanya menatap ke arah sudut lantai, terdapat ceceran darah di sana.


"Lalu, ke mana dia?" tanya Daniella. Dia tidak menyadari ada ceceran darah.


Daniella hanya bisa termenung, Evan tidak ada ponsel, email yang pernah di kirim oleh Evan sebelumnya adalah email palsu yang sengaja dibuat dan dia krim lewat warnet.


"Ayo kita pergi," ajak Brandon.


Mereka masuk ke dalam mobil Brandon. "Mau kuantar ke mana?" tanya Brandon sembari menyalakan mesin mobil.


"Pulang saja."


"Baiklah."


Tidak banyak obrolan selama perjalanan. Hingga mereka sampai di depan gerbang rumah Daniella. "Terima kasih atas tumpangannya."


"Tidak perlu sungkan." Brandon berpikir sejenak. "Jika kau dihubungi Evan lagi, segera hubungi aku, ada yang ingin kubicarakan padanya."


Bukan karena Brandon peduli pada Evan, melainkan dirinya khawatir Jonathan melakukan hal yang tidak diinginkan.


Jika dia mendapat kabar Evan baik-baik saja. Mungkin, Brandon akan sedikit merasa lega, setidaknya Jonathan tidak melakukan apapun pada Evan.


"Em, baik." Daniella memberikan ponselnya pada Brandon. "Masukan nomor teleponmu, biar aku bisa menghubungimu."


Brandon menerima ponsel Daniella dan mengetikan sederet nomor teleponnya. Setelah itu menyentuh simbol panggilan ke nomor tersebut.


"Ini ponselmu. Jangan lupa hubungi aku." Brandon mengembalikan ponsel Daniella.


"Ya."


"Apa Jonathan di rumah?"


"Tidak. Dia bekerja, karena itu aku tanya padamu dia ada di ruangannya tidak!"


"Oh, iya aku lupa. Dia tidak ada urusan pekerjaan denganku hari ini. Jadi, kami tidak bertemu. Lagi pula, tentu aku tidak perlu mengabsen seluruh karyawan, bukan!"


Daniella mengangguk lalu keluar dari mobil, berjalan menuju rumahnya. Brandon hanya menatap Daniella dari dalam mobil. Dia tahu Jonathan tidak ada di kantor hari ini. Namun, Jonathan bilang pada Daniella hari ini dia bekerja.


Di mana kau J?


***


Daniella pulang dengan hati yang berkecamuk, memikirkan keberadaan Evan. Melihat rumah yang cukup besar untuk ditinggali dua orang, membuat Daniella berkeinginan membersihkan rumah itu untuk mengalihkan pikirannya tentang Evan.


Dia mulai menyapu bagian dalam rumah, mengelap kaca dan mengepel lantai. Meskipun seorang model, dia tidak segan melakukan pekerjaan rumah.


Setelah selesai membersihkan bagian dalam rumah, dia bertolak ke halaman depan. Melihat tanaman tumbuh tak beraturan membuat Daniella ingin memangkasnya.


Dia mulai memotong rumput dengan gunting rumput yang tersedia. Belum juga tiga puluh menit, sukses membuat kaki Daniella keram.


"Melelahkan!" keluh Daniella seraya mengelap keringatnya di dahi. "Apa tidak ada mesin pemotongan rumput di sini?" gumam Daniella.


Mata Daniella mengedar, halaman seluas itu tidak mungkin tidak memiliki mesin pemotong rumput. Dia teringat saat Brandon menyusup di halaman belakang.


"Sepertinya ada gudang di belakang, mungkin ada di sana," gumam Daniella.


Dia beralih ke halaman belakang. Langkah kakinya terganggu karena tanaman merambat yang sesekali membelit kakinya.


"Padahal rumah ini bagus, sayang tidak terawat!" gumam Daniella lagi.


Dia menemukan gudang di pojok halaman belakang. Mendorong pintu tersebut. Namun, pintu sulit di buka. Daniella mengerahkan kekuatannya untuk mendorong pintu tersebut. Pintu besi yang sedikit macet karena telah usang dan berkarat.


Dia masuk ke dalam gudang tersebut dan menemukan banyak perkakas. Senyum terukir di bibir Daniella saat melihat mesin pemotong rumput.


Dia mulai mengambil mesin itu dan mencoba mengeluarkan dari dalam gudang.


Tek ... Tek ... Tek ...


Daniella menoleh, mencari sumber suara. Seketika bulu kuduknya merinding. Daniella mempercepat langkah kakinya. Namun, terdengar suara tangis seorang wanita.


Hiks ... Hiks ...


Daniella semakin melebarkan matanya, kakinya seketika membeku, sulit sekali untuk melangkah. Berdiri bulu kuduknya, suara tangis itu samar. Namun, cukup jelas terdengar di telinga Daniella.