
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Jonathan.
"Kembalilah. Tempatmu bukan di sini," ujar Brandon.
"Hidupku, tak perlu kau yang urus," ujar Jonathan datar.
"Jika kau tidak melewati batas, aku tidak akan memintamu untuk pergi."
"Aku tidak melakukan apapun."
"Jangan bohong padaku! Kau lah yang membunuh Evan."
"Tidak," ucap Jonathan tanpa ekspresi.
Brandon hanya tersenyum miris. "Aku tahu apa yang telah kau lakukan, aku sudah menyelidiki kebakaran di acara ulang tahun Matt Forse. Kebakaran yang disengaja, meskipun aku tidak memiliki bukti. Namun, siapa diantara kita yang memiliki kemampuan meretas. Kaulah yang melakukannya. Semua yang mengganggu Daniella, kau akan menyingkirkannya!" seru Brandon.
Brandon menghela napas panjang. "Aku akan membereskan yang ada di sini. Cepatlah pergi ke luar negri. Aku bisa menutupi perbuatanmu pada Evan," lanjutnya.
Daniella yang mendengar percakapan dua orang yang dia kenal hanya berdiri membeku. Otaknya belum bisa berpikir jernih.
Suara Brandon sangat jelas terdengar di telinga Daniella. Kakinya semakin melemah, dia memundurkan langkah kakinya dan memilih pergi dari tempat itu, tanpa mendengar secara menyeluruh percakapan Brandon dan juga Jonathan.
"Sudah kubilang bukan aku yang membunuhnya," ujar Jonathan masih tanpa ekspresi.
"Katakan padaku, apa Nathan menguasaimu?" tanya Brandon.
Jonathan terdiam saat Brandon menanyakan Nathan. Baru akhir-akhir ini dia menjadi dirinya sendiri. Namun, Jonathan merasakan dirinya sudah berbaur dengan sosok yang ada dalam dirinya.
Terkadang Jonathan sendiri tidak bisa membedakan siapa yang sedang menunjukan diri.
Jonathan tidak ingin mengatakan lebih jauh pada Brandon. Dia memilih pergi meninggalkan pria itu dan kembali ke tempat Daniella menunggu. Namun, baru dua langkah, dia mendengar Brandon bersuara lagi.
"Aku tidak bisa menghadapimu lagi. Akan aku serahkan pada kakekmu!" terang Brandon.
Jonathan kembali berbalik, dia berjalan mendekati Brandon. "Sekarang kau menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Apa yang selama ini kau lakukan hanya semata perintah dari keluargaku. Kau telah menunjukkan bahwa kau adalah anjing keluargaku. Lakukan apa yang kau mau karena aku tidak akan tunduk pada siapapun!"
Jonathan kembali berbalik dan meninggalkan Brandon. Dia kecewa dengan apa yang diucapkan oleh Brandon. Persahabatan yang mereka jalin hanya sekadar sahabat yang terbayar.
Jonathan tahu, biaya hidup Brandon ditanggung oleh keluarganya dan sebagai gantinya, Brandon harus menjadi teman Jonathan. Awalnya Jonathan mengira Brandon tulus, hingga dia tahu kebenarannya.
Namun, Jonathan tidak peduli akan hal itu. Pada awal mereka bersahabat Jonathan bisa melihat ketulusan Brandon. Setelah mereka dekat, keluarganya mengulurkan bantuan pada Brandon.
Kaki Jonathan terus melangkah hingga ke tempat awal Daniella menunggu. Tetapi, dia tidak menemukan wanitanya. Dia terus mencari ke setiap sudut tempat itu, tetap tidak menemukan keberadaan istrinya.
Jonathan menghubungi ponsel Daniella. Namun, tidak diangkat oleh si pemilik ponsel. Dia mulai melihat posisi Daniella dari GPS yang terpasang di ponsel.
Mengetahui posisi Daniella yang menuju rumah membuat Jonathan bernapas lega. Dia melangkahkan kakinya keluar gedung dan memberhentikan taxi.
Daniella yang tiba di rumah langsung menghempaskan tubuhnya di kursi. menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
Aku tahu apa yang telah kau lakukan, aku sudah menyelidiki kebakaran di acara ulang tahun Matt Forse. Kebakaran yang disengaja, meskipun aku tidak memiliki bukti. Namun, siapa diantara kita yang memiliki kemampuan meretas. Kaulah yang melakukannya. Semua yang mengganggu Daniella, kau akan menyingkirkannya!
Aku akan membereskan yang ada di sini. Cepatlah pergi ke luar negri. Aku bisa menutupi perbuatanmu pada Evan.
Suara Brandon masih menggema di telinganya. Beberapa kali menyangkal, tetapi tetap saja suara itu masih terdengar dengan jelas.
Daniella masih termenung, Jonathan akan menyingkirkan orang-orang yang mengganggunya. Otak Daniella terus berpikir. Menelisik kebelakang beberapa kejadian. Evan yang tiba-tiba masuk penjara dan tewas. Kebakaran di acara ulang tahun Matt Forse.
Daniella menggigit kuku tangannya, kecelakaan reporter yang melempar kaleng minuman padanya. Hingga lampu yang terjatuh tepat mengenai Cysara.
Semua bukanlah kebetulan. Mengingat kembali ekspresi Jonathan yang datar saat Daniella antusias menceritakan tentang sang reporter dan juga Cysara. Tentu menunjukkan ekspresi yang sama saat Jonathan mendengar kabar kematian Evan.
Jangankan empati, simpati pun tak terlihat dari raut wajah Jonathan. Daniella mencoba mengingat kembali kenangan masa lalu mereka.
Daniella pernah bertanya pada Jonathan tentang anjing liar yang sering berkeliaran di jalan yang sering Daniella lewati. Pada saat itu, Jonathan hanya mengatakan sudah mengusirnya.
Daniella mempercayai semua yang Jonathan katakan meskipun, desas desus tentang kematian mengerikan anjing liar itu terdengar di telinga Daniella.
Begitupula dengan teman sekelasnya yang pernah merundungnya. Orang-orang yang mengganggunya mengalami kecelakaan meskipun tidak sampai menewaskan nyawa.
Daniella semakin dalam menggigit kukunya. Terus berpikir, hingga dia teringat akan sesuatu. "Rosemary," gumam Daniella.
Daniella bangkit dari duduknya. Bau rosemary di tubuh Jonathan di malam hari. Ya, banyak tumbuhan rosemary di halaman belakang, tepatnya di sekitar gudang perkakas di pojok halaman.
Daniella melangkahkan kakinya, dia setengah berlari menuju gudang. Hingga dia berdiri di depan gudang. Matanya mengedar, tumbuhan rosemary tumbuh subur di sekitar gudang dan tidak tumbuh di tempat lainnya.
Jantung Daniella berdebar, takut akan apa yang dipikirkan terjadi. Dia mendorong pintu gudang. Namun, kali ini pintu gudang di gembok.
Daniella berkeliling di area luar gudang. Dia menemukan sebuah kapak. Tanpa ragu mengambil kapak tersebut dan membawanya. Daniella mengangkat kedua tangannya yang menggenggam kapak dengan kuat. Dia memukul gembok tersebut hingga akhirnya pintu terbuka.
Daniella melangkah masuk ke dalam gudang, dia hanya mematung di dalam gudang tersebut. Hingga akhirnya dia mendengar rintihan lemah seorang wanita.
Mencoba menajamkan pendengarannya. Matanya tertuju pada sebuah meja. Di bawah meja tersebut ada kain sebagai alasnya.
Entah mengapa hatinya tertuju pada meja tersebut. Dia menggeser meja dan menyibak kain yang menjadi alas kaki meja.
Sebuah pintu ruang bawah tanah, Daniella tanpa ragu menarik pintu itu ke atas. Sebuah tangga terpampang di depan matanya. Menuruni setiap anak tangga.
Hingga akhirnya dia tiba di ruang bawah tanah. Rasa takut dan rasa penasaran bercampur. Daniella mencoba mengabaikan bulu kuduknya yang berdiri.
Mencoba membuyarkan bayangan film horor yang tiba-tiba terlintas di otaknya. Ruang bawah tanah yang tidak terlalu besar itu terasa sangat lembab.
Tangan Daniella mengulur ke dinding, mencari sebuah saklar. Klik! Cahaya lampu menerangi ruang bawah tanah.
Daniella mengangkat tangannya, cahaya lampu menyilaukan pupilnya. Begitu pula dengan wanita yang terbaring lemah. Dia tak sanggup mengangkat tangan untuk menghalau cahaya dan hanya bisa memejamkan matanya.
Setelah menyesuaikan cahaya dengan matanya. Daniella menurunkan perlahan tangannya. Dia langsung membelalakkan matanya saat melihat seorang wanita yang dikenalnya terbaring lemah.