
Prisil bolak-balik di rumahnya, beberapa kali dia mencoba menghubungi Daniella. Namun, tak diangkat. Sambungan telepon terakhir menandakan ponsel Daniella tidak aktif.
"Ke mana kau?" tanya Prisil putus asa.
...***...
"J," lirih Daniella melihat Jonathan yang sedang menunduk.
Jonathan mendongak setelah mendengar suara Daniella. Namun, dia tak sanggup untuk menatap mata istrinya.
Daniella bangkit dan duduk. Dia langsung memeluk Jonathan. Tanpa bicara tetapi seolah mengungkapkan bahwa dirinya baik-baik saja.
Hari ketiga, Jonathan tetap menangkap ikan di danau untuk makan siang mereka. Daniella membantu untuk membakar ikan. Dia menikmati hari bersama dengan suaminya. Lupa akan dirinya yang seorang model. Tidak peduli dengan Prisil yang sedang kebingungan mencari dirinya.
Jonathan duduk di tepi danau, tatapannya lurus ke depan. Memandang semak belukar yang ada di seberang danau. Dia bangkit dari duduknya, berjalan santai menuju rumah.
Langkahnya terhenti saat melihat Daniella membersihkan rumah. Dia menghampiri dan memeluk istrinya dari belakang yang sedang memegang sapu.
"Aku pergi dulu. Kau tunggu saja di rumah. Besok kita akan pergi dari tempat ini."
Daniella melepas pelukan Jonathan, dia berbalik untuk menghadap suaminya. "Mau kemana?"
Tangan Jonathan masih bertengger di pinggang sang istri. "Mengakhiri yang telah terjadi."
"Maksudmu?"
Cup! Jonathan memberi kecupan pada bibir istrinya. Dia tidak menjawab pertanyaan Daniella. "Tunggulah aku di rumah."
Jonathan langsung keluar rumah, dia berjalan stabil menuju ke tempat Brandon berada. Datang ke perusahaan yang telah dia bangun, menatap ketinggian gedung Galaxy High Corp.
Jonathan naik ke lift khusus miliknya. Akses sudah diganti entah sejak kapan. Namun, dengan kecerdasan Jonathan, dia dengan mudah membuka akses itu.
Bukan menuju ruang kerjanya, dia naik ke lantai teratas. Rooftop yang tidak sembarang orang boleh masuk.
Membuka pintu rooftop, sudah ada seorang pria yang sedang menatap kejauhan dengan tangan yang bertumpu pada pagar.
Brandon menikmati rokok yang tersemat di jarinya. Dia berbalik saat mendengar pintu terbuka, menatap pria yang baru saja datang menghampirinya.
"Lebih lambat dari yang kuduga," ujar Brandon.
"Sepertinya, kau mengharap kedatanganku. Apa kau siap untuk mati?" tanya Jonathan datar.
Brandon tersenyum smirk. "Yang telah lama mati adalah dirimu. Kau lah yang tidak pantas hidup di dunia ini," ujar Brandon.
Jonathan dengan tenang berjalan menghampiri Brandon. Brandon yang melihat Jonathan semakin dekat, membenarkan posisi berdirinya, dia memasukan tangannya ke dalam kantung celana. Tatapan kedua pria itu penuh kebencian.
...***...
Daniella melanjutkan membersihkan rumah. Terdengar pintu terbuka. Dia mengerutkan dahinya, baru keluar tidak lama, suaminya sudah kembali lagi.
"J, kau kembali lagi? Apa ada yang tertinggal ...."
Ucapan Daniella terhenti saat melihat yang masuk ke dalam rumah bukan suaminya. Tuan Besar Gu datang dengan membawa beberapa pengawal.
Seketika hati Daniella getir, dia mengeratkan genggamannya pada sapu yang sedari tadi di pegang.
"Di mana Jonathan?" tanya Janson Gu.
"Dia sedang keluar," jawab Daniella.
"Ke mana?"
"Aku tidak tau."
"Aku tidak mengacaukan apapun. Kami saling mencintai," terang Daniella.
"Keberadaanmu membuat Jonathan kehilangan kendali. Cintamu membuatnya melakukan hal gila lagi yang sebelumnya telah lama terkubur."
Daniella menunduk, matanya mulai mendung. "Aku tahu dia bersalah karena telah menyembunyikan Cysara. Tapi, dia bukan pembunuh! Dia bukan pembunuh Evan!" tegas Daniella.
Dia percaya suaminya tidak bersalah. Dia yakin Jonathan jujur padanya. Tidak mau berpisah oleh Jonathan lagi.
Janson duduk di kursi ruang tamu, dia menarik napasnya kasar. “Katakan padaku di mana Jonathan berada. Setelah itu, pergi menjauh dari cucuku sebelum aku bertindak padamu,” ujar Janson menahan amarahnya.
Daniella langsung membuang sapu di tangannya dan berjalan cepat menuju Janson. Dia berlutut di depan kakek tua itu.
“Aku mohon jangan pisahkan aku dengan Jonathan, Tuan Gu. Kami saling mencintai dan aku janji, kami tidak akan melakukan apapun. Bahkan kami bersedia tinggal di desa terpencil seperti ini,” tutur Daniella menundukkan kepalanya.
Janson menggusar wajahnya kasar. “Apa kau mengenal cucuku dengan baik?”
“Ya, tentu.”
“Apa kau percaya bahwa dia tak membunuh Evan?”
“Ya. Aku sangat percaya padanya.”
“Bagaimana kau bisa percaya akan kata-katanya?”
Daniella diam sejenak. “Entahlah, aku percaya padanya.”
“Apa dia bilang bahwa dirinya tak membunuh?”
“Ya, dia bilang bukan dia yang membunuh Evan.”
Janson menatap lekat Daniella. “Kau tidak mengenal cucuku,” lirihnya.
Daniella mendongak menatap Janson. Dia mengerutkan dahinya, tidak mengerti dari maksud pria tua itu.
“Jonathan itu manipulatif. Jika kau tulus mencintainya. Maka, seharusnya kau melepasnya dan jangan menemuinya lagi,” tutur Janson.
Janson menjentikan tangannya. Ajudannya memberikan sebuah amplop cokelat besar.
“Aku tidak akan berkata apapun untuk membelanya. Namun, kau bisa mengecek sendiri, apa yang telah dilakukan oleh pria yang kau cintai itu,” lanjut Janson.
Daniella dengan ragu menerima amplop besar itu, dengan perlahan membukanya. Daniella melebarkan matanya melihat informasi yang tertera di sana. Beruntung dirinya sedang berlutut sehingga dirinya tidak sampai terjatuh karena terkejut melihat informasi yang tertera.
Bukan hanya kasus penculikan Cysara, lampu jatuh yang menimpa Cysara adalah ulah Jonathan. Kecelakaan yang terjadi pada seorang reporter yang telah melempar minuman padanya, menunjukan fakta bahwa Jonathanlah dibalik semua insiden itu.
Hingga, lutut Daniella semakin melemas saat membaca penyebab dibalik Evan di penjara, lalu tewas di tangan Jonathan. Daniella luruh, lututnya seperti kosong dan akhirnya dia duduk di lantai.
“Tidak, tidak mungkin! Dia bukan pembunuh Evan,” ucap Daniella yang mulai meneteskan air matanya.
“Jika kau masih tidak mempercayainya, aku masih punya rekaman bagaimana cara dia menghabisi Evan. Namun, aku takut kau tak akan sanggup untuk melihatnya." Jason memicingkan matanya melihat Daniella yang sangat terpukul.
"Kaulah penyebab ini terjadi. Obsesi dirinya padamu, membuatnya ingin menyingkirkan orang-orang yang mengganggumu. Dia bahkan menyangkal bahwa dirinya membunuh. Ya, meskipun terkadang dia tidak menyadari apa yang telah ia perbuat. Namun, bukan berarti dia tak mengingatnya kembali,” Janson menghela napasnya pelan, lebih baik menceritakan yang sejujurnya pada Daniella.
“Kau pasti sudah tahu cerita tentang kematian orang tuanya. Jonathan pun dulu menyangkal telah menghabisi ayahnya. Sampai pada akhirnya dia mengakui kejahatannya setelah dirinya berhasil diobati. Namun, sifat gilanya muncul saat menemukanmu kembali,” lanjut Janson.
Daniella terus menggelengkan kepalanya, dia masih tidak mempercayai ucapan Janson. Dia melihat sendiri hancurnya Jonathan saat itu, suaminya masih punya hati. Tidak mungkin dia mau melepaskan Cysara pada saat itu.
“Satu-satunya cara adalah membawa Jonathan kembali berobat dan menjauhkan kalian. Bukan aku membencimu, aku tahu kau tak bersalah. Namun, aku tak ingin kau mengalami apa yang Nathalie alami."
Daniella mendongakkan kepalanya. Dia menatap sang Tuan Besar, dengan gugup dia bertanya, “Apa maksudmu?”