My Pet Husband

My Pet Husband
Bridge of Love



Air begitu tenang di malam hari, tidak peduli dengan seorang gadis yang berdiri pada handrail jembatan. Tatapan mata gadis itu kosong, bibirnya pecah-pecah karena dehidrasi. Air sungai tak bisa menghilangkan dahaganya. Hidupnya hancur, gadis manja yang selalu serba berkecukupan harus menerima kenyataan pahit kebangkrutan keluarganya.


Ayahnya terkena kasus korupsi dan dimasukan ke penjara. Semua harta keluarga disita. Tak berapa lama, ibunya meninggal karena serangan jantung. Sang ayah pun ikut menyusul ibunya karena tak kuat dengan tekanan yang diterima.


Sekarang, hanya tinggal Anyelir sang gadis manja yang tak tahu harus berbuat apa. Dia berdiri di atas jembatan, menatap air yang tenang, seolah mengukur kedalaman sungai. Usia yang sangat belia, terlebih lagi, dia baru lulus sekolah. Mengahadapi beratnya hidup, membuatnya ingin mengakhiri hidup. Perlahan, dia menutup matanya.


“Ayah, Ibu. Kita akan bersama,” lirih Anyelir.


Dia bersiap melepas pegangan tangannya. Namun, seseorang meneriakinya. “Hei! Apa yang kau lakukan?”


Anyelir membuka matanya, dia sedikit menoleh ke samping, melihat seorang pria dengan rambut sedikit panjang untuk ukuran seorang pria.


“Pergilah!” titah Anyelir.


“Bagaimana aku bisa pergi jika melihatmu di sana?” tanya Krisan.


Dia tak sengaja lewat, kebetulan sepeda motornya mogok. Hingga membuat dirinya harus mendorong motornya di tengah malam. Penerangan yang baik membuatnya dapat dengan mudah melihat seorang gadis berdiri di atas jembatan.


“Anggap saja kau tak melihatku!” timpal Anyelir.


“Aku tidak buta! Bagaimana bisa aku pura-pura tak melihat?” tanya Krisan. Dia men-standar motornya.


“Kau tinggal tutup matamu dan pergi dari sini!”


“Tidak mau!”


“Kalau begitu, kau akan menjadi saksi kematianku.”


“Kalau jadi saksi tidak masalah. Tapi, jika aku yang tertuduh membunuhmu bagaimana?” tanya Krisan.


Dia mulai berjalan perlahan mendekati Anyelir. Mengajak gadis itu berdialog agar memberi celah dirinya mendekatinya.


“Polisi tidak bodoh! Mereka pasti tahu yang mati bunuh diri atau yang mati karena dibunuh. Mereka bisa melihat tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhku. Kau tidak akan jadi tersangka.”


“Kalau mereka berpikir kita sedang berkencan dan aku mendorongmu. Bukankah itu pun tak akan ada tanda-tanda kekerasan? Aku masih bisa menjadi tersangka.”


“Kalau begitu, kau pergilah. Aku akan melompat saat kau sudah tak berada di sini.”


Krisan menghembuskan napasnya. “Begitu muda, apa yang membuatmu ingin bunuh diri?”


Krisan tak tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Meskipun tanpa seragam sekolah, dia tahu gadis itu adalah seorang pelajar. Jika pun bukan pelajar, mungkin baru saja lulus. Sangat disayangkan jika ada pemikiran untuk mengakhiri hidup. Masih ada masa depan yang pantas diraih.


“Bukan urusanmu!” hardik Anyelir.


“Ya, memang bukan urusanku. Tapi, daripada mati sendiri, lebih baik kita mati bersama!” tawar Krisan.


“Apa maksudmu?” tanya Anyelir bingung.


“Kau pasti memiliki tekanan besar hingga ingin bunuh diri. Aku pun sedang bersedih, aku pun ingin mati. Tapi, aku tak ingin mati sendiri. Kebetulan ada kau di sini. Kita bisa mati bersama,” ujar Krisan melangkah hanya satu langkah.


“Kenapa kau ingin mati. Apa yang terjadi padamu?”


“Aku seharusnya menikah kemarin. Namun …,” Krisan menunduk seolah bersedih. “Calon pengantinku meninggalkanku. Seharusnya kami sudah berbulan madu saat ini. Tapi, semua itu tinggal angan. Rasanya sangat sakit di hati.”


Anyelir mengedipkan mata. “Apa calon pengantinmu meninggal?”


“Tolong jangan teruskan, aku tak sanggup,” ujar Krisan sendu. Tampak kesedihan di matanya. Itu semua hanya sandiwara, semata-mata hanya untuk mengalihkan pikiran sang gadis.


“Kau ingin mati bersamaku?” tanya Anyelir.


Deg! Krisan mendongak, dia ingin menggagalkan percobaan bunuh diri gadis itu. Namun, sang gadis menawarkan untuk mati bersama.


“Ya, bersama akan lebih baik bukan? Jika kita mati bersama, apa kita akan dikuburkan di liang lahat yang sama?” tanya Krisan.


“Kau sudah mati saat itu. Bagaimana kau bisa protes? Lagi pula, kita akan mati bersama, orang yang melihat akan mengira kita mati karena cinta. Berita kita akan viral. Mungkin akan ada judul ‘Romeo and Juliet Masa Kini’ yang melihat pun akan kasihan. Kemungkinan dimakamkan di liang lahat yang sama bisa saja terjadi,” tutur Krisan. Dia melangkah semakin mendekat pada Anyelir.


“Sedang apa kau? Berhenti di situ!” hardik Anyelir yang melihat Krisan melangkah semakin dekat dengannya. Tangannya mengacung sebelah, memberi peringatan pada Krisan untuk mundur.


“Aku tak mau satu liang lahat denganmu!”


Krisan berhenti, dia takut Anyelir melepas kedua tangannya. Kini, Anyelir hanya menggunakan satu tangan untuk menahan tubuhnya pada handrail.


“Kalau tidak mau satu liang lahat. Seharusnya, kau buat catatan terlebih dahulu sebelum melompat. Jadi, saat kita ditemukan tewas, kita akan dikuburkan di liang lahat yang berbeda.”


“Kalau begitu, kau sedikit menjauh! Carilah tempat lain untuk bunuh diri! Aku yang terlebih dahulu di sini. Jadi, ini sudah menjadi hak-ku!”


“Apa kau sudah membayar tempat ini untuk bunuh diri? Ini jembatan pemerintah. Siapa pun bisa bunuh diri di sini,” terang Krisan. “Aku ingin mati di sini!”


Krisan menautkan alisnya, bisa-bisanya mereka berdebat siapa yang pantas mati di tempat itu.


“Menjauh! Aku tak ingin mati bersamamu!”


“Kalau begitu, biarkan aku mati terlebih dahulu. Kau bisa pindah tepat untuk mati.”


“Tapi aku duluan yang di sini!”


“Aku pun ingin mati di jembatan ini! Kau minggir lah jika tak ingin mati denganku!”


Anyelir mendecak, dia mencoba menggeser tubuhnya tanpa turun ke jembatan. Kakinya masih berpijak pada handrail yang paling bawah.


“Sedang apa kau?” tanya Krisan.


“Aku akan bergeser ke sebelah sana. Kau bisa mati di sini dan aku di sana,” tunjuk Anyelir ke arah kanan. Namun, karena sebelah tangannya tak sigap, membuat tubuhnya tak stabil.


“Ah!” teriak Anyelir.


Grep! Krisan menarik sebelah tangan Anyelir.


Anyelir membuka matanya, dia pikir dirinya akan terjebur. “Angkat aku,” pintanya.


Krisan menatap mata gadis itu, dia tak berkedip saat melihat Anyelir dengan jarak yang dekat. Wajah yang terlihat cukup jelas dari sebelumnya. Mata gadis itu jernih. Siapapun yang melihatnya akan merasa teduh.


“Bukannya kau ingin mati?” tanya Krisan tanpa melepas pandangannya.


“Ya, tapi tidak seperti ini! Ini tidak seperti rencana kematianku.”


“Pembunuhan berencana akan mendapatkan hukuman berat. Jadi, urungkan niatmu untuk pembunuhan berencana itu!”


Krisan mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk menarik Anyelir ke atas. Cukup kesulitan untuk membawa Anyelir ke atas. Namun, usahanya tak sia-sia. Anyelir bisa terselamatkan olehnya.


Kini, dua orang yang baru saja berselisih pendapat tentang bunuh diri, telentang di atas aspal yang sama. Napas mereka tersengal karena proses penyelamatan tersebut.


“Jangan lakukan hal itu lagi! Sangat merepotkan!” keluh Krisan dengan napas tersengal.


“Siapa kau mengaturku?” tanya Anyelir sinis. Dia menatap bintang di langit.


“Aku tidak tahu apa masalahmu hingga berniat bunuh diri. Namun, mulai sekarang, kau bisa mengandalkanku.”


Anyelir menoleh, menatap wajah Krisan dari samping. “Apa kau ingin membantuku? Apa kau ingin bersamaku?”


Krisan ikut menatap gadis remaja itu. “Ya,” jawabnya pasti.


“Kalau begitu, buktikan ucapanmu!”