
Daniella berhasil menenangkan Jonathan, dia menggiring Jonathan ke kamar mereka. Ya, kamar Daniella yang sudah menjadi kamar bersama.
Memeluk Jonathan hingga tertidur pulas. Setelah memastikan Jonathan tertidur, Daniella kembali ke kamar utama, kamar di mana Jonathan menangis.
Daniella masuk kembali ke kamar utama. Dia baru menyadari bahwa kamar tersebut begitu pengap. Matanya mengedar ke sekeliling. Ranjang yang besar, meja rias terbuat dari kayu jati yang kokoh. Namun tampak antik.
Melangkah ke meja rias tersebut, membuka laci meja rias. Tidak nampak apapun di sana. Hanya ada beberapa alat rias yang sudah kadaluarsa. Daniella menuju ke lemari yang berada di samping ranjang. Dia membuka lemari tersebut. Terdapat baju-baju wanita dewasa. Mulai dari pakaian rumah hingga pakaian resmi. Tidak hanya pakaian wanita, pakaian pria dewasa pun ada.
Kemungkinan, tidak ada yang berubah setelah ditinggalkan. "Kamar siapa ini?" gumam Daniella.
Dia teringat saat dirinya baru tiba di rumah itu, terdapat garis polisi. Pada saat itu, Jonathan berkilah telah terjadi perceraian. Hati Daniella mulai gusar. Dia melihat sebuah kotak yang berada di atas lemari. Ada dua kotak yang bertengger di sana.
Dia mengambil kedua kotak tersebut. Daniella membuka kotak itu. Seketika dirinya tersenyum melihat sebuah photo album. Wajah seorang bayi yang sangat cantik. Daniella meyakini bahwa bayi tersebut adalah suaminya.
Dia membalik setiap halaman photo album tersebut. Tidak ada senyum yang terukir dari wajah Jonathan kecil. Namun, tidak mengurangi ketampanan pria cantik itu.
Photo Jonathan bayi yang sedang digendong oleh seorang wanita cantik dan disampingnya berdiri seorang pria tinggi.
"Tinggimu seperti ayahmu, wajahmu seperti ibumu, J," lirih Daniella. Terukir senyum di wajah Daniella.
Jari telunjuk Daniella menyentuh sebuah photo Jonathan yang Daniella perkiraan photo di usia mereka bertemu. Pertama kali mereka bertemu di gang buntu karena seekor anjing liar.
Pria yang berumur dua tahun di atasnya. Namun, pada saat itu Daniella lebih tinggi dari Jonathan. Meskipun, saat ini Jonathan jauh lebih tinggi darinya.
Masih banyak photo di sana. Namun, lebih banyak photo Jonathan yang photo secara tersembunyi.
Daniella menutup photo album tersebut. Dia beralih ke kotak satu lagi. Kotak berwarna cokelat. Dia membuka kotak tersebut dan hanya menemukan satu surat kabar.
Dia mulai mengeluarkan koran tersebut. Tidak ada yang berbeda dengan koran pada umumnya. Koran yang terbit bertahun-tahun silam. Surat kabar yang sudah mulai lapuk.
Inflasi, penyerang di suatu negara konflik. Nilai dollar yang tinggi. Isi dari koran tersebut hanya berita tentang konflik negara dan bisnis.
Daniella membalik halaman demi halaman. Di pertengahan halaman, mata Daniella tertuju pada tulisan besar yang terpampang. Dia mengerutkan dahinya.
Daniella mendekatkan koran tersebut dan mulai membaca lebih detil berita di koran tersebut. Dia menghela napasnya sebelum membacanya.
Tulisan dengan font besar dengan judul ‘Hidup dengan mayat selama 40 hari’.
Seorang anak lelaki tinggal selama 40 hari bersama jasad ibunya yang diawetkan dengan metode dry iced. Jasad tersebut masih dalam kondisi baik. Sedangkan, jasad ayahnya ditemukan membusuk di halaman gudang belakang. Terdapat 50 tusukan di sekujur tubuhnya. Diduga, dibunuh oleh anaknya sendiri.
Jasad ditemukan oleh seorang petugas keamanan dan seorang tetangga. Kecurigaan dimulai karena tidak melihat satu keluarga yang keluar rumah selama berhari-hari.
Petugas keamanan sekitar dan seorang tetangga yang ditemani anjing peliharaan, sengaja berkunjung dan hanya ada anak lelaki yang membukakan pintu. Tak tampak orang tua dari anak tersebut, sehingga menimbulkan suatu kecurigaan lebih jauh, terlebih lagi halaman rumah mereka yang tampak tak terawat.
Sang anjing dari tetangga tersebut berlari ke bagian halaman belakang. Dari situlah terkuak jasad dari kepala rumah tangga di rumah itu yang sudah membusuk. Setelah itu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan ditemukan jasad seorang wanita di dalam kamar.
Otot tubuh Daniella menegang, matanya seolah tak bisa berkedip. Terdapat photo keluarga kecil yang wajahnya di tutup dengan garis hitam di bagian mata. Daniella membuka kembali kotak sebelumnya dan menemukan photo yang sama dengan di dalam koran tersebut.
Tangannya mulai bergetar, dadanya sesak seolah kehabisan pasokan udara. Dia terus membaca berita yang ada di dalam koran tersebut.
Sekarang ini sudah ada beberapa pihak yang menggunakan dry iced atau es kering untuk pengawetan mayat yang ramah lingkungan, yaitu dengan karbon dioksida beku. Karbon dioksida memang termasuk GHG, tapi jumlah gas yang dihasilkan terkait cara pengawetan ini cukup kecil dibandingkan keseluruhan emisi CO2. Dengan demikian, jenasah terawetkan lebih lama, walaupun es kering harus diganti setiap hari.
Berbeda dengan es batu biasa yang terbuat dari air, Dry ice dibuat dengan menggunakan gas CO2 yang dipadatkan hingga menjadi balok es. Sebuah solusi baru yang memberi hasil optimal dalam pengawetan jenazah dengan penggunaan dry ice atau es kering. Berbeda dengan es batu biasa yang terbuat dari air, Dry ice dibuat dengan menggunakan gas CO2 yang dipadatkan hingga menjadi balok es.
Dry ice memiliki suhu yang sangat dingin berkisar -70⁰C sampai -80⁰C. Bandingkan dengan es batu biasa yang suhunya hanya 0⁰C sampai -15⁰C.
Karena suhunya sangat dingin, dry ice dapat menghambat pembengkakan dan kerusakan pada jenazah secara maksimal. Jika menggunakan formalin, jenazah menjadi biru-biru, baunya juga sangat menyengat. Sementara kalau dengan es batu, jenazah akan bengkak. Tetapi jika menggunakan dry ice hasilnya akan sangat bagus terlihat seperti orang tidur.
Daniella membolak-balik koran tersebut, tidak ada kelanjutan lagi tentang berita pembunuhan itu. Hanya ada penjelasan tentang pengawetan mayat dengan dry iced.
Sangat jelas bahwa orang-orang yang ada di dalam koran adalah photo keluarga Jonathan. Tidak diketahui nasib dari anak tersebut.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Daniella.
Pikiran Daniella kacau, dia masih belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun koran tersebut sudah menjelaskan yang terjadi. Tangannya masih menggenggam erat koran tersebut, Daniella melihat tanggal dari koran tersebut. Tanggal cetaknya sebulan sebelum pertemuannya dengan Jonathan.
Daniella menjatuhkan koran lawas itu. Saat bertemu dengannya, Jonathan sudah melewati peristiwa berdarah itu.
Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin?
Jika Jonathan pembunuhnya, bukankah seharusnya tidak akan ada pertemuan dirinya dengan Jonathan?
Dirinya ingin menyangkal berita tersebut. Daniella beranjak berdiri untuk keluar dari kamar utama. Namun, Langkah kakinya terhenti saat melihat di ambang pintu sudah ada Jonathan yang sedang menatapnya. Entah sejak kapan Jonathan berdiri di sana.
“J,” lirih Daniella.