
Tidak tahan ditatap seperti itu, akhirnya Daniella bersuara. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” geram Daniella.
“Aku hanya penasaran saja, mengapa kau memainkan ponselmu secara terbalik,” ujar Jonathan.
Daniella melirik ke arah tangannya dan benar saja bahwa ponselnya terbalik. Daniella bahkan tidak menyadari kapan ponselnya terbalik seperti itu. Seingatnya, sebelumnya posisinya masih normal.
“Memang kau tidak pernah melihat orang lain menggunakan ponselnya seperti ini?” cerocos Daniella.
“Tidak,” jawab Jonathan datar.
Tidak ada sangkalan berarti dari Jonathan, semua yang dikatakan Jonathan singkat dan datar. Daniella membayangkan bagaimana membosankannya kehidupan Jonathan.
“Kalau begitu selamat, akulah orang pertama yang kamu lihat yang menggunakan ponsel terbalik,” jelas Daniella.
Tidak ada tanggapan dari Jonathan, pria itu hanya mengedipkan matanya sekal. Daniella kesal sendiri, tidak ada sanggahan atau timbal balik lagi dari perkataannya, dirinya bagai berbicara dengan tembok yang datar.
“Hei, bicaralah!” tutur Daniella.
Jonathan menatap Danilla lekat. “Kau tidak akan meninggalkanku bukan?” tanya Jonathan dengan wajah yang serius.
Daniella yang ditatap seperti itu merasa terintimidasi. “Apa maksudmu? Tentu saja kita akan bersama selama kontrak pernikahan kita berjalan.”
Jonathan menundukkan kepalanya, dia menatap lantai. Tidak lama bel berbunyi. Daniella bangkit dan menghampiri pintu, dia mengira makanan mereka datang.
“Siapa Anda?” tanya Daniella saat melihat yang datang bukan seperti pengantar makanan. Pria di depannya memakai pakaian formal dengan jas mahal melekat pada tubuhnya.
“Saya Brandon. Presdir dari Galaxy High corp,” jelas Brandon.
“A—pa?” tanya Daniella terbata. Mengapa ada seorang CEO datang ke tempatnya. Dia tahu kasusnya sedang trending. Namun, dia tidak menyangka ada seorang pengagum rahasia dari kalangan atas hingga mencarinya ke tempat terpencil ini.
“Apa kurang jelas penjelasan saya, Nona?” tanya Brandon.
Daniella menggelengkan kepalanya. Dia sedikit terpesona dengan seorang CEO dari perusahaan game terbesar datang menemuinya. “Oh, iya jelas. Tapi, mengapa datang ke sini?” tanya Daniella.
“Aku ingin bertemu dengan Jonathan,” jawab Brandon.
“Jonathan?” tanya Daniella memastikan. Tak disangka pria tampan di depannya bukan pengagum rahasianya. Melainkan mencari seseorang pria aneh yang tengah bersamanya.
“Ya, seharusnya dia datang ke kantor untuk interview hari ini. Jadi, saya datang untuk menanyakan alasan ketidakhadirannya,” terang Brandon lagi.
Daniella mengerutkan keningnya. Seorang Jonathan yang dia anggap melamar pekerjaan sebagai bagian umum, sanggup membuat seorang CEO datang hanya untuk menanyakan alasan tidak datang interview.
“Dia ada di dalam. Silakan masuk.” Daniella mempersilakan Brandon masuk ke dalam ruang tamu.
Brandon tidak langsung masuk ke dalam rumah. Dia menoleh ke belakang dan mengedipkan matanya. Setelah itu, ada seorang pria membawa sebuah koper dan berjalan di belakang Brandon.
Semua pergerakan Brandon tidak luput dari mata tajam Daniella. Tiba-tiba terlintas sesuatu, kenapa Brandon bisa tahu kediaman Jonathan padahal saat dia ke sini, rumah Jonathan kosong.
“Selamat siang, Jonathan,” sapa Brandon.
“Siang,” jawab Jonathan tanpa berdiri dari duduknya.
Brandon duduk tanpa ada yang mempersilakannya. “Kedatangan saya ke sini untuk menanyakan kelanjutan dari lamaran Anda sebelumnya. Apakah masih berminat bekerja di perusahaan kami?” tanya Brandon.
“Tunggu sebentar,” jawab Jonathan. Dia menoleh menatap Daniella.
Daniella semakin bingung. Dia tahu Galaxi High Corp merupakan perusahaan besar. Namun, mengapa seorang CEO tampak bagai sedang memohon untuk menawarkan pekerjaan pada orang lain.
Masih bergelut dalam pikirannya sendiri. Daniella merasakan tatapan Jonathan. “Ada apa?” tanyanya.
“Apa aku harus menerima bekerja di perusahaannya?” tanya Jonathan meminta persetujuan.
“Kau yang akan bekerja, mengapa bertanya padaku?”
“Kalau kau setuju, aku akan terima. Jika, kau tidak setuju aku akan menolaknya.”
Daniella menatap Brandon. “Memangnya, bekerja sebagai apa?” tanya Daniella.
“Animator di perusahaan kami,” jelas Brandon.
“Memangnya kamu punya keahlian itu?” tanya Daniella menatap Jonathan.
Daniella sedikit tercengang mendengar penuturan Brandon.
“Gajinya berapa?” tanya Daniella.
Dia ingin mengorek lebih dalam. Dia akan menginterogasi Jonathan setelah ini, banyak yang ingin diketahui oleh Daniella. Jika memang jabatan Brandon di perusahaan besar itu memuaskan, lebih baik Brandon bekerja di sana daripada harus berpura-pura menjadi seorang pialang yang belum tentu Jonathan memerankan perannya dengan benar.
“Tergantung dari Saudara Jonathan mau buka harga berapa? Mau minta lebih besar dari gaji Anda di Jepang juga boleh.” jelas Brandon.
***
Setelah kepulangan Brandon, Daniella menginterogasi Jonathan. “Bukankah kamu bilang tidak punya pekerjaan?”
“Baru saja mendapat pekerjaan.” Jonathan menjawab pertanyaan Daniella tanpa melihatnya. Dirinya fokus pada laptop yang diberikan oleh Brandon.
Asisten Brandon membawa fasilitas untuk Jonathan. Laptop dan ponsel untuk Jonathan.
“Dia bilang kamu pernah bekerja di Jepang!” hardik Daniella.
“Sebelumnya.”
“Oke. Jadi kamu dulu bekerja di Jepang dan sekarang kembali ke sini? Artinya kamu memiliki penghasilan di sana?”
“Ya,” jawab Jonathan datar.
“Apa lagi yang kau sembunyikan?”
“Aku tidak menyembunyikan apa pun.” Jonathan mengangkat tangannya, menunjukan pada Daniella dia tidak menyembunyikan apa pun.
Daniella menepuk kepalanya. “Bukan itu maksudku!”
“Lalu?”
Daniella menghela nafasnya pelan. “Sebelumnya kau bilang padaku. Bahwa kau tidak punya punya rumah, tidak punya kendaraan dan pekerjaan!”
“Aku tidak bohong. Di Jepang aku hanya menyewa apartemen kecil, aku memang tidak memiliki apa pun.”
“Brandon berani menggajimu besar. Tidak mungkin gajimu di Jepang kecil. Masa kau tidak punya kekayaan?” telisik Daniella.
Dia masih penasaran dengan pria di depannya ini. Sempat berpikir kenapa Jonathan bisa memesan kamar hotel jika tidak memiliki uang. Sekarang semuanya telah terjawab. Pria aneh ini setidaknya masih memiliki kemampuan.
Jonathan hanya mengedipkan matanya. “Kekayaan itu apa? Maaf, aku tidak tahu dari mana orang disebut memiliki kekayaan,” tutur Jonathan. Dia bertanya seolah memang tidak mengerti akan definisi kekayaan yang sebenarnya.
Apakah kekayaan hanya dilihat dari seberapa banyak memiliki harta? Apakah kepintaran juga merupakan kekayaan? Atau mungkin rasa bahagia merupakan kekayaan batin?
Daniella tertegun, membuatnya berpikir, apa definisi kaya yang sesungguhnya. Seberapa besar usaha kita untuk mengejar materi. Masih akan ada lagi yang lebih kaya. Namun, dari semua orang yang mengaku orang kaya, Sultan, Konglomerat, semua itu masih kalah dengan Yang Maha Kaya Sang Pencipta. Apa yang harus disombongkan?
Masih dengan pemikirannya sendiri, dikejutkan oleh bunyi bel. Daniella kembali ke pintu dan membukanya. Kali ini kurir pengantar makanan yang datang.
“Terima kasih,” ucap Daniella pada kurir.
Dia kembali ke ruang tamu dan menyediakan makanan untuk Jonathan.
“Aku mau ayamnya dipisah dengan kulitnya,” ujar jonathan.
“Iya.” Daniella mengupas kulit ayam yang renyah agar terlepas dari dagingnya.
“Cola-nya jangan terlalu banyak batu es-nya.”
Daniella malas mengambil sendok di dapur. Dia memilih mengambil sedotan dan memasukan sedotan tersebut ke dalam es batu yang bolong tengahnya. Dia membuang es batu tersebut ke plastik sampah.
“Ini sudah dikurangi es batunya.” Daniella menyodorkan minuman cola pada Jonathan.
“Saus sambalnya sekalian bukain.” Jonathan menyodorkan saus sambal dalam kemasan pada Daniella.
Sang model menerima saus sambal tersebut. Sedetik kemudian dia tersadar. “Kenapa kau menyuruhku terus?” tanya Daniella penuh kemarahan.
Melihat kemarahan Daniella. Jonathan langsung mengambil saus dan membukanya sendiri, dia langsung memakan kentang tanpa menoleh pada Daniella.