My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 38 Kematian Evan Su



"Cepet katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Jonathan?" desak Prisil sesaat mereka masuk ke dalam mobil.


Daniella mengulum senyum. "Aku jatuh cinta pada Jonathan," ucapnya menutupi wajah.


"Wah, kemakan omongan sendiri. Bukankah kau menganggapnya pria aneh?" tanya Prisil, melirik Daniella sekilas.


"Mau bagaimana lagi, aku mencintainya."


"He, asal kau senang saja! Lalu, bagaimana dengan Evan?"


"Tidak tahu, perasaanku pada Evan berbeda dengan perasaanku pada Jonathan."


"Apa kau sudah tidak mencintai Evan?"


Daniella menggeleng. "Aku sudah menemukan jawaban hatiku. Jonathan lah yang membuat hatiku berdebar. Tapi, aku pun masih penasaran dengan hilangnya Evan. Bagaimanapun, aku orang terakhir yang dimintai tolong dan aku pun harus mengakhiri hubunganku dengannya."


Prisil mengacungkan ibu jarinya. "Bagus, akhirnya kau sadar bahwa Evan hanya memanfaatkanmu saja."


"Bukan memanfaatkan. Hanya saja, dia tidak berani mengambil keputusan untuk hubungan kami."


"Kau masih saja membelanya. Kalau Evan tidak buronan dan dia menceraikan Veronika. Apa kau mau kembali padanya?"


"Tidak!" jawab Daniella tegas.


"Wah, kau yakin sekali," dengus Prisil.


"Jika dia serius denganku. Seharusnya, dia sudah melakukannya sejak lama atau mungkin, dia lebih memilih kawin lari denganku daripada menikah dengan wanita lain. Untuk saat ini dan kedepannya, aku tidak akan kembali padanya. Sudah ada Jonathan yang mengisi hatiku."


"Baru sadar sekarang! Dari mana saja kau selama ini? Sekarang saja, cinta buta dengan Jonathan. Dasar budak cinta!" ejek Prisil.


Daniella hanya melebarkan senyum, dia sangat tahu bagaimana sikap Jonathan padanya. Sejak mereka masih belia, Jonathan selalu melindunginya, memperlakukan dirinya dengan sangat baik dan yang terpenting, hanya dia yang ada di hati Jonathan.


Jonathan-nya tidak pernah melirik wanita lain. Seolah wanita hanya ada Daniella di dunia ini. Tidak seperti Evan, lelaki itu masih sempat main mata dengan wanita lain, walaupun sedang bersama Daniella. Evan selalu beralibi bahwa semua pria akan seperti itu. Namun, hal itu wajar selama tidak sampai berselingkuh.


"Aku beruntung Jonathan menemukanku, cinta kami tidak pernah berubah."


"Kau ini, baru kali ini kau seperti ini."


"Sudah, berkendara yang benar."


"Ya, ya, ya."


"Aku nyalakan radio ya."


Daniella menyalakan radio di mobil, mencari siaran yang ingin ia dengar.


Evan Su, pengusaha muda ditemukan tewas pagi ini di pinggir sungai, setelah beberapa hari menjadi buronan. Terdapat banyak luka tusukan di sekujur tubuhnya. Diduga menjadi korban pembunuhan.


Jemari Daniella terhenti saat nama mantan pacarnya disebut di salah satu siaran radio. Tiba-tiba tubuhnya bergetar, dirinya baru saja membahas pria itu.


Baru saja Daniella penasaran akan keberadaan mantan pacarnya itu dan kini, dihadapkan dengan berita kematian Evan.


Prisil langsung meminggirkan dan menghentikan mobilnya, dia melihat wajah sahabatnya yang berubah menjadi pias.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Prisil.


"Apa aku salah dengar?" tanya Daniella memastikan pendengarannya.


Prisil merogoh ponselnya dan mencari kebenaran berita kematian Evan Su. "Berita itu benar," ucap Prisil.


Daniella menangkup wajahnya, seketika dia menangis. Meskipun, sudah tidak ada cinta pada pria itu. Namun, dia pernah memiliki kenangan dengan pria itu.


"Akan aku batalkan pemotretan hari ini, lebih baik kau menenangkan dirimu dulu," usul Prisil.


Prisil tahu, Daniella memiliki hati yang lembut, meski bukan orang yang pernah dicintai. Jika, orang itu yang dikenalnya. Daniella pasti akan meneteskan air matanya.


Mobil mereka putar balik, Prisil mengantarkan kembali Daniella ke rumahnya. "Kau masuklah, aku akan menelpon dulu untuk membatalkan pemotretanmu."


Air mata masih mengalir, Daniella keluar dari mobil Prisil dan berjalan menuju rumahnya. Tangannya mengusap air mata di pipi.


Hatinya sedih mendengar kematian Evan yang menyedihkan. Tidak ada yang menginginkan akhir hidupnya harus tewas karena dibunuh.


Saat Daniella membuka pintu, dia mendengar suara seorang pria yang dikenalnya.


"Kau yang menyekapnya di sebuah gudang di ladang, bukan? Kenapa kau berbuat seperti ini? Kenapa kau membunuhnya?" Brandon sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Dia berbicara dengan nada tinggi.


Hanya sebagian kalimat panjang yang dilontarkan oleh Brandon yang terdengar oleh Daniella.


"Apa yang kalian bicarakan? Siapa yang membunuh?" tanya Daniella dengan penuh kebingungan.


Daniella hanya menatap Jonathan penuh dengan tanda tanya. Pikirannya sedang kacau, dia bahkan tidak mendengar jelas apa yang Brandon katakan.


Wajah Jonathan tidak ada perubahan, berbeda dengan wajah pias Brandon. "Itu ... itu ... kami hanya membahas tentang game terbaru perusahaan kami," terang Brandon.


Daniella hanya mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti tentang game apapun.


"Karakter game terbaru, tentang bunuh membunuh dan Jonathan menghilangkan karakter pembunuh itu," jelas Brandon memberi alasan.


"Oh, silakan lanjutkan diskusi kalian." Daniella beranjak naik ke lantai dua meninggalkan Jonathan dan Brandon.


"Kau tidak jadi pemotretan?" tanya Jonathan menghentikan langkah Daniella. Dia melihat mata Daniella yang jelas nampak sehabis menangis.


"Tidak, aku sedang tidak enak badan."


"Apa ada yang tidak nyaman? Bagian mana? Apa kita harus ke rumah sakit?" cecar Jonathan dengan berentet pertanyaan.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin menenangkan diri," ujar Daniella, lalu berjalan setengah berlari ke kamarnya.


Brandon menatap Daniella yang menghilang di lantai dua, dia mendekati Jonathan. "Kau boleh mencintainya, kau boleh terobsesi dengannya. Namun, bukan berarti kau harus membunuh orang yang tak bersalah. Apalagi, wanitamu sudah membalas cintamu."


"Aku tidak membunuhnya!" tegas Jonathan.


"Kau pembohong, Nathan!"


Brandon keluar dari rumah Jonatan, berpapasan dengan Prisil yang masuk ke dalam rumah.


Jonathan mengepalkan tangannya, dia sedang mengontrol emosinya. Tidak ingin melukai sahabatnya sendiri.


"Di mana Daniella?" tanya Prisil.


"Di atas," jawab Jonathan.


Prisil menghembuskan napasnya pelan. "Aku harus pergi, kau tenangkan lah dia."


"Ada apa dengannya? Apa ada yang mengganggunya? Apa ada yang menyakitinya?" tanya Jonathan khawatir.


"Hei, tenanglah, bukan seperti itu. Kami baru tahu, bahwa Evan ditemukan tidak bernyawa pagi ini."


"Dia bersedih karena itu?"


"Ya." Prisil melihat arlojinya. "Aku pergi dulu."


Jonathan beranjak pergi ke lantai dua, dia langsung masuk ke kamar Daniella. Melihat istrinya sedang menenggelamkan kepalanya ke dalam bantal, menangis untuk pria lain.


"Kau tidak bekerja. Bagaimana jika kita pergi ke taman kota."


Daniella melepas bantal yang menutupi wajahnya. "Maaf, aku mau sendiri."


"Kenapa menangis?"


"Bisa kau tinggalkan aku sendiri?"


"Kenapa menangis? Apa kau menangisi Evan Su?"


"Kau sudah tahu beritanya?"


"Jadi kau menangis karena pria itu?" tanya Jonathan getir.


"J, bagaimana pun aku pernah menjalin hubungan dengannya, aku mengenalnya. Dia tewas begitu menyedihkan ...."


"Dia pantas mendapatkannya!"


"J! Kenapa kau bicara seperti itu?"


"Apa kau masih mencintainya?"


"J, apa kau meragukan perasaanku setelah apa yang telah kita lalui?"


"Lalu, kenapa kau menangis karenanya?"


"Itu karena aku dan dia ...."


"Aku senang dia mati. Dia tidak bisa mengganggumu lagi. Kau hanya milikku, Kak. Hanya milikku!" tegas Jonathan.


"J?" Daniella menatap dengan raut yang tidak bisa diartikan. Dia tidak menyangka Jonathan bisa bicara seperti itu.