My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 34 Tanyakan Pada Hatimu



Jonathan meletakan piring di tangannya dan menghampiri Daniella, ditariknya tengkuk sang istri dan memberikan ciuman di bibir Daniella.


Jonathan melakukan dengan lembut, ditariknya pinggang Daniella untuk semakin mendekat. Daniella membalas ciuman Jonathan.


Tidak ada sedikitpun penolakan, semakin membuat Jonathan percaya diri bahwa Daniella mencintainya dan semakin membuat Jonathan memperdalam ciuman mereka. Hingga, akhirnya Jonathan melepas tautan bibir mereka karena Daniella mulai kesulitan mengambil napas.


“Katakan kau mencintaiku!” ucap Jonathan sesaat ciuman mereka usai.


Bibir Daniella bergetar. Namun, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


"Katakan kau mencintaiku," titah Jonathan lagi.


"A—ku, Jo ... A—ku tidak tahu perasaan apa ini," ujar Daniella.


Dia pun tak tahu perasaan apa yang ada di hatinya. Sangat berbeda saat dia menjalin hubungan dengan Evan yang selalu membuatnya berbunga. Sedangkan dengan Jonathan, dia hanya merasakan debaran di hatinya.


Jonathan mengangkat dagu Daniella agar gadis itu bisa menatapnya. "Kenapa kau tidak menolakku setiap aku menyentuhmu?"


"Itu ... itu ...."


"Karena kau mencintaiku. Meskipun, kau tak menyadarinya," potong Jonathan.


Daniella mengerenyitkan dahinya. Mereka saling menatap dalam. "Jo ...."


Jonathan mengulurkan tangannya, menyentuh wajah istrinya dengan punggung tangannya. Menyusuri dari pelipis hingga ke pipi.


Daniella memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan suaminya. Hingga, bibir lembut Jonathan menciumnya kembali.


Entah yang keberapa mereka saling bertukar saliva hari ini. Yang jelas, Daniella selalu menikmatinya.


Lidah yang saling membelit seakan enggan untuk terlepas. Mereguk air untuk melepas dahaga. Bagaikan menemukan oasis di padang pasir. Kenikmatan yang luar biasa.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Prisil mengagetkan Jonathan dan Daniella.


Daniella langsung mendorong tubuh Jonathan menjauh. Entah sejak kapan sahabatnya itu sampai. Dia langsung mengelap bibirnya yang basah, entah basah karena air liurnya ataupun milik Jonathan.


"Apa kau masih menyimpan nomor telepon ahli supranatural itu?" tanya Daniella mengalihkan pembicaraan.


"Ya, aku datang pagi-pagi karena chat darimu itu," jawab Prisil.


Daniella mendekat pada Prisil dan menarik tangan asistennya itu. "Ayo, kita bicara di kamarku."


Prisil hanya bisa mengikuti Daniella yang menarik tangannya. Sebelum beranjak ke lantai dua, Prisil sempat melirik pada Jonathan.


"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Prisil tidak sabar.


Daniella duduk di meja riasnya setelah memastikan pintu terkunci. "Kemarin aku mendengar suara hantu menangis," jelas Daniella.


"Kau jangan mengalihkan pembicaraan dengan membawa nama hantu! Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Jonathan!" cecar Prisil.


"Aku tidak bohong, ada hantu di rumah ini."


"Baiklah, aku akan kasih informasi tentang sang ahli supranatural. Tapi, sekarang kau jelaskan dulu apa yang terjadi antara kau dan Jonathan!" tegas Prisil.


"Tidak ada yang terjadi."


"Kamu pikir aku buta? Aku melihat kalian berciuman!"


Daniella membuka mulutnya. Namun, sulit baginya mengucapkan sebuah kalimat. "Ya ... hanya itu saja," terangnya.


"Kau menyukainya?"


"Entahlah," jawab Daniella lemas.


"Kalau kau tidak menyukainya, kenapa kau biarkan dia menciummu?"


"Aku tidak tahu, aku tidak tahu!" ujar Daniella frustasi.


"Kau pasti sudah jatuh cinta padanya. Apa karena dia menolongmu saat dipermalukan Cysara?"


Daniella menghembuskan napasnya kasar. "Entahlah, aku tidak tahu."


"Aku sih tidak masalah kau menyukainya, aku rasa dia bukan pria playboy. Setidaknya, dia tidak akan menyakitimu seperti Evan yang menikahi wanita lain."


Daniella mengusap wajahnya kasar. "Ya, dia memang bukan pria playboy tapi dia adalah pria aneh! Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada pria seperti itu! Standarisasiku seakan jatuh ke jurang paling bawah," sangkal Daniella. Dia menarik rambutnya kebelakang, mencoba mengurangi pusing di kepalanya.


Tanpa sengaja Prisil melihat kebagian leher Daniella dan melihat tanda kemerahan di sana. "Sudah tahap apa?" tanyanya.


"Apanya?"


"Biasa saja, hanya yang kau lihat tadi."


"Benarkah?"


"Ya."


"Kau tidak bohong padaku bukan?"


"Ya."


"Mulutmu bisa berbohong, tapi tanda di lehermu tidak bisa membohongiku!" dengus Prisil. Dia melirik ranjang Daniella yang berantakan. Tidak biasanya, sang model tidur dengan urakan.


Prisil mendekati ranjang dan menyibakkan selimut. Dia menghela napas kasar. "Apa kau masih menyangkal dengan noda merah di sprei-mu?"


Daniella hanya menundukkan kepalanya. Tidak bisa berbohong pada sahabatnya itu.


"Apa yang harus kulakukan?" lirih Daniella.


"Tanyakan pada hatimu, kau mencintainya atau tidak. Jangan menjalin hubungan yang tak sehat. Setidaknya, kalian harus saling mengungkapkan perasaan kalian terlebih dahulu," ujar Prisil. "Bagaimana dengan Jonathan sendiri?"


"Dia bilang mencintaiku," jawab Daniella.


"Dia bisa bilang seperti itu?" tanya Prisil penuh keheranan.


"Ya, itu dia yang membuatku bimbang. Aku seperti dipermainkan olehnya. Sifatnya selalu berubah-ubah, aku takut dia mempermainkan ku," jelas Daniella.


"Temukan jawabanmu sendiri. Selama itu, jangan biarkan dia menyentuhmu lagi."


"Ya," gumam Daniella.


"Oh ya, apa kau serius ingin bertemu dengan paranormal?"


"Ya." Pandangan Daniella mengedar. "Rumah ini berhantu," bisiknya.


"Kau adalah manusia modern, masih percaya hal itu!" ejek Prisil.


"Aku tidak bohong! Aku bahkan mendengar dengan kepalaku sendiri! Hantu wanita itu menangis kesakitan," tutur Daniella.


"Apa kau melihat hantunya?"


"Tidak, hanya suara wanita menangis."


"Mungkin kau salah dengar."


"Aku tidak mungkin salah dengar. Sangat jelas terdengar di telingaku!"


"Mungkin, suara orang yang mengerjai mu. Berapa kali kau dengar? Kalau hantu, dia hanya akan bersuara tiga kali, kalau lebih dari itu, berarti manusia."


Daniella mencoba berpikir. "Sepertinya, aku mendengar lebih dari tiga kali," gumamnya.


"Kalau begitu, itu manusia yang sedang mengerjaimu."


"Tidak mungkin, aku mendengarnya di dalam gudang. Rumah ini memiliki area halaman depan dan belakang yang luas. Gudang ada di halaman belakang dan juga dikelilingi oleh pepohonan. Tidak ada orang sama sekali di gudang dan selama ini tidak ada orang masuk ke rumah kami!" bela Daniella.


"Baiklah, baiklah. Biarkan paranormal itu datang, mumpung jadwal mu belum padat."


"Ya sudah, cepat panggil orang itu."


Prisil mencari ponselnya di dalam tas. Seketika dia mengingat sesuatu. "Aku lupa kalau aku tidak menyimpan nomor teleponnya."


"Apa? Tumben sekali kau ceroboh!"


Prisil hanya mendecak. "Tapi, aku punya alamatnya. Kau bisa datang bersama Jonathan. Hanya yang bersangkutan yang harus datang."


"Bisakah kau tanyakan pada keluargamu, aku yakin pasti ada yang menyimpan nomor teleponnya."


"Percuma, meskipun ada telepon, orang itu tidak akan datang jika kita tidak meminta langsung," terang Prisil.


"Benarkah seperti itu? Yang aku ingat, kau tidak datang ke sana!" gumam Daniella.


"Kata siapa? Kakak sepupuku yang datang ke paranormal itu."


"Kalau begitu, aku akan pinta Jonathan yang datang ke orang itu."


"Selama Jonathan pergi, apa kau mau berdiam di sini sendiri? Tempat itu cukup jauh. Lebih baik kau ikut saja, daripada kau sendiri di rumah dan tiba-tiba ada hantu di sebelahmu yang menemanimu menonton TV!" seru Prisil.


Bukan Prisil tidak ada nomor telepon sang paranormal. Melainkan, menginginkan Daniella dan Jonathan banyak waktu untuk saling memahami perasaan masing-masing.