My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 46 Kantor Polisi



Jonathan dibawa oleh pihak berwajib dengan tangan di borgol. Dia digiring keluar dari rumah tesebut. Naik ke atas mobil. Namun, sebelum kakinya naik ke dalam mobil. Tatapannya tertuju pada seseorang yang berdiri di bawah pohon.


Brandon menunggu di bawah pohon. Menatap sahabatnya yang sedang digiring oleh polisi. Mereka saling menatap dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.


Daniella mencoba mengejar Jonathan. Namun, mobil sudah mulai berjalan menjauh. Jonathan hanya melihat Daniella yang berlari mengejar mobilnya.


Daniella membungkuk, menumpukan tangannya ke lutut. Napasnya kembang kempis menandakan napasnya yang tidak beraturan. Merelakan kepergian suaminya yang dibawa pihak berwajib.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Brandon.


Daniella mendongak. "J, bukan pembunuh. Dia bilang tidak melakukan itu semua!" seru Daniella dengan napas berat.


"Aku tahu perasaanmu. Namun, semua bukti mengarah padanya. Ada rekaman dia pergi menemui Evan di gudang. Dia mengikutimu saat bertemu dengan Evan. Bahkan kau tidak menyadari bahwa sebenarnya kalian berada di dalam satu bus yang sama saat itu."


Daniella melebarkan matanya, beberapa kali dia mengedipkan matanya seakan mencerna apa yang di dengar merupakan suatu kesalahan.


"Menurut hasil visum Evan, terjadi penganiayaan pada hari kau terakhir bertemu dengannya," lanjut Brandon.


Daniella mengerutkan dahinya. "Bukankah aku seharusnya dipanggil pihak kepolisian?"


Brandon menatap lekat Daniella. "Ya, seharusnya. Status Evan adalah buronan dan kau datang menemuinya. Kau bisa terjerat hukum karena menutupi kebenaran dan melindungi buronan. Aku sudah menutup jejakmu yang datang menemui Evan. Sehingga, polisi hanya menemukan fakta bahwa Jonathan datang ke gudang itu karena sudah mengetahui posisi Evan tanpa perantara dirimu dan kemungkinan pembunuhan ini berencana."


"Aku harus ke kantor polisi," ujar Daniella.


"Untuk apa?"


"Aku akan bilang Jonathan tidak merencanakan pembunuhan. Dia datang ke sana karena mengikutiku!"


"Jangan membuat keadaan kacau! Kehadiranmu tidak akan bisa merubah apapun! Jonathan tidak akan melukaimu, dia tidak akan melibatkan mu. Seandainya kau datang, aku yakin tidak akan berpengaruh apapun. Terlebih lagi ada kasus Cysara di sini. Jelas kasus Cysara adalah kasus penculikan yang terencana," tutur Brandon. "Mungkin, sebentar lagi kau akan diminta untuk memberi keterangan tentang Cysara," lanjut Brandon.


Daniella hanya bisa terdiam dan dia kembali ke rumah mereka. Entah mengapa dia mempercayai bahwa bukan Jonathan yang membunuh Evan.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Prisil baru saja datang. Dia langsung memeluk sahabatnya.


"Jonathan, bukan pembunuhnya," lirih Daniella seraya membalas pelukan Prisil.


"Kita akan tahu kebenarannya," ujar Prisil.


***


Hari berikutnya, benar yang dikatakan oleh Brandon. Daniella diminta untuk memberi keterangan. Polisi hanya menanyakan tentang Cysara. Dia hanya menjawab apa yang dia tahu.


Begitu pula dengan Cysara yang sudah diminta keterangan. Dia bahkan menceritakan tentang kelakuannya yang memprovokasi tindakan Jonathan yang menculiknya karna telah mengganggu Daniella.


Dua minggu berlalu, Daniella mengalami stres berat saat tidak ada Jonathan di sisinya. Pengaruh Jonathan begitu besar untuknya. Membuat tubuhnya lemah dan tidak bisa untuk keluar rumah.


"Daniella, sampai kapan kau akan seperti ini?" tanya Prisil yang prihatin melihat diamnya Daniella.


Tidak ada jawaban dari Daniella membuat Prisil pun sedih. "Jika kau seperti ini. Bagaimana kau bisa membantu Jonathan kalau dia tidak bersalah?"


Daniella mendongak. "Kau percaya Jonathan tidak bersalah?" tanya Daniella.


Tidak ada yang percaya bahwa bukan Jonathan yang melakukan pembunuhan. Termasuk Prisil sahabatnya.


Prisil hanya mengembuskan napasnya pelan. "Kalau kau tidak percaya Jonathan tidak membunuh Evan, setidaknya kamu berusaha untuk membuktikannya."


"Ya, kau benar. Aku harus mencari tahu yang sebenarnya," terang Daniella.


Prisil hanya memandang empatik pada Daniella. Siapa yang percaya Jonathan tidak membunuh sedangkan bukti-bukti sudah mengarah padanya. Terlebih lagi didukung oleh masa lalu kelam Jonathan yang terungkap.


"Sebelum kau mencari tahu kebenarannya. Kau harus bangkit. Kuatkan tubuhmu!" seru Prisil memberi kepalan tangan bertanda semangat.


"Berikan aku makan," pinta Daniella bersemangat.


Prisil tersenyum, dia langsung memberikan makanan pada Daniella. Sudah beberapa hari Prisil menginap di rumah Daniella. Dia menemani sahabatnya itu.


"Ya, setelah ini aku akan menemui Jonathan."


"Tentu."


Daniella menenggak minumannya. "Oh ya, pasti berita di luar begitu heboh ya?" tanya Daniella.


Dia menutup diri dari media. Tidak mungkin media tidak mengetahui kabar Jonathan yang notabene adalah suami model terkenal.


Daniella membayangkan berbagai tagline dari berita tentang dirinya.


Seorang suami membunuh kekasih istrinya.


Cinta buta seorang suami berakibat petaka.


Pernikahan psikopat dengan seorang model.


Daniella menggelengkan kepalanya membayangkan hebohnya dunia luar yang membicarakannya. Namun, khayalan tersebut tidak berlangsung lama.


"Tidak ada berita apapun tentangmu ataupun Jonathan," terang Prisil.


"Apa?" tanya Daniella terkejut.


"Entahlah, aku rasa Jonathan memilki identitas tersembunyi. Sepertinya, ada yang menutupi kasus ini!" jelas Prisil.


Daniella hanya bisa membeku. Teringat perkataan Veronika sebelumnya. Didukung pula dengan percakapan Jonathan dan juga Brandon yang menggiring opini Jonathan sang konglomerat sesungguhnya.


Dia menggeleng kepalanya pelan. Tidak peduli siapa identitas Jonathan. Yang dia tahu, lelaki itu tulus mencintainya. Begitu pula dengan Daniella yang mencintai Jonathan.


Daniella bergegas ingin menemui Jonathan. Dia bersemangat menuju kantor polisi. Dia sangat yakin Jonathan belum dipindahkan ke rumah tahanan. Namun, dia mendapatkan kabar yang begitu mengejutkan bahwa Jonathan sudah keluar dari tahanan. Lebih tepatnya, dia tidak ditahan karena mengalami gangguan jiwa.


"Lalu, di mana dia saat ini?" tanya Daniella.


"Di bawa oleh pihak keluarganya," jawab seorang polisi.


"Aku keluarganya! Aku istrinya! Bukankah seharusnya aku yang dihubungi!" hardik Daniella.


***


Daniella keluar dari kantor polisi dengan rasa amarah. Dia pergi ke Galaxy High Corp untuk menemui Brandon.


"Di mana Jonathan?" tanya Daniella.


"Aku tidak tahu," terang Brandon.


"Jangan bohong padaku. Kau pasti tahu di mana dia berada."


"Sungguh aku tidak tahu," jawab Brandon. "Apa hubungannya denganku sehingga mengharuskan diriku mencarinya!" lanjutnya.


"Kau pasti tahu. Karena kau bekerja untuk keluarganya!" terang Daniella.


Meskipun tidak menampakkan kehidupan mewah bila dilihat dari photo-photo Jonathan di kamar orang tuanya, Namun, pendengarannya tidak salah bahwa Brandon bekerja untuk keluarga Jonathan.


"Apa maksudmu?" tanya Brandon sarkas.


"Aku sudah tahu bahwa kau bekerja untuk keluarga Jonathan, bukan?" Daniella mengembuskan napasnya pelan.


"Ya, kau benar. Aku memang bekerja untuk keluarga suamimu bahkan perusahaan ini pun milik Jonathan."


"Aku tidak mempermasalahkan siapa dirimu. Yang ingin aku tanyakan, di mana keberadaan Jonathan?" tanya Daniella memelas.


Brandon hanya menatap lekat Daniella. "Aku tidak tahu pasti di mana Jonathan berada. Namun, aku bisa memberi tahu keberadaan keluarganya. Hanya saja, aku tidak bisa menjamin bahwa mereka membiarkanmu untuk bertemu dengan suamimu," jelas Brandon.