My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 21 Kebakaran



Air danau yang tenang. Namun, tidak akan pernah ada yang tahu akan adanya buaya yang sedang berenang. Buaya itu berenang dengan senyap, tanpa membuat percikan air.


Begitulah cara jalan Jonathan, dengan langkah yang stabil dan juga tenang. Dia melihat pertikaian istrinya dari jauh. Namun, dia tidak bergesas berlari untuk menolong wanitanya. Berjalan tanpa disadari oleh orang lain. Melihat dari kejauhan, apakah wanitanya akan melakukan perlawanan.


Dunia Daniella seakan runtuh, dirinya dipermalukan begitu hinanya. Dia hanya bisa menundukan kepalanya, berharap saat dia mengedipkan matanya, dirinya sudah berpindah tempat.


Seandainya pintu Doraemon nyata, ingin sekali Daniella membelinya. Namun, semua itu hanya lah sebuah angan yang tak pernah mungkin terwujud.


Fiksi, dunia fiksi memang bebas berimajinasi. Tetapi sayang, dirinya bukan tokoh dalam dunia fiksi itu. Dirinya kini, berada di dunia yang fana.


Dingin, gelap seakan kini menjadi temannya, meskipun begitu banyak mata yang sedang menatapnya.


Masih dalam keadaan linglung, tiba-tiba tubuhnya ada yang menyelimuti. Sebuah mantel hitam panjang menghangatkan tubuhnya. Rasa hangatnya tersalur hingga ke relung jiwanya. Daniella mendongak, melalui sela rambut hitamnya yang menjuntai menutupi wajahnya, Daniella menatap wajah tampan Jonathan. Perlahan Jonathan berjongkok di depannya.


Semua mata masih menatap ke arah Daniella dan juga Jonathan, pakaian resmi dan juga rambut yang dikuncir rapi membuat kesan dingin dan modis pria yang sedang berjongkok di depan Daniella.


“Kau memilikiku dan aku tidak akan membiarkanmu terluka,” ujar Jonathan tenang.


Daniella hanya bisa terpaku menatap Jonathan. Bulir air mata datang tanpa permisi, dia hanya menganggukan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Matt menghentikan langkahnya, dia menelisik Jonathan. Matt meyakini lelaki yang sedang menyelimuti Daniella bukanlah dari kalangan entertainment, bukan juga dari kalangan bisnis. Matt tidak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya.


Tanpa bicara, Jonathan langsung menggendong istrinya. Meskipun tidak ada yang mengenal Jonathan. Namun, dirinya yang dingin membuat orang lain membungkam mulutnya. Lebih tepatnya, membuat orang lain tidak bisa berbicara.


Jonathan melangkah menuju Cysara berdiri, dia menatap model itu dengan tenang. “Kau tampak baik-baik saja,” ujar Jonathan dingin.


Cysara tidak gentar, dia pun menatap Jonathan. Sekarang dia bisa ingat siapa pria yang di depannya. Pria yang berdiri di depan pintu saat pemotretan, berdiri dengan wajah bodohnya. “Kau pikir dengan mengubah tampilanmu, aku akan takut? Aku mengerti sekarang. Kau hanyalah pria rendahan yang dijadikan tameng oleh dia bukan?” Cysara menunjuk Daniella dengan dagunya.


Jonathan sedikit mencondongkan tubuhnya. “Tidak, kau tidak perlu takut dengan diriku dan aku pun bukan tamengnya." Jonathan melirik dari atas hingga bawah. "Kau hanya perlu menjaga dirimu,” lanjut Jonathan.


Setelah berkata, Jonathan tersenyum smirk lalu berjalan menjauh dari keramaian. Daniella bisa bernapas dengan lega saat menyadari mereka telah keluar dari gedung.


Jonathan memasukan Daniella ke dalam mobil. “Pulanglah, sopir akan mengantarmu pulang.”


Daniella hanya menatap linglung Jonathan yang berdiri di ambang pintu mobil yang terbuka. Satu tangannya menyangga pada atap mobil. Tidak ada tanda-tanda Jonathan masuk ke dalam mobil.


“Kau tidak ikut pulang?” tanya Daniella.


“Tidak, aku masih ada sedikit urusan,” jawab Jonathan datar.


“Ini sudah malam, kau mau kemana?” tanya Daniella.


“Hanya masalah pekerjaan. Kau pulanglah, jangan tunggu aku.”


Jonathan mengambil tas kecil dibangku belakang yang berada di samping Daniella. Kemudian, dia langsung menutup pintu mobil. Daniella masih tertegun, mobil mulai jalan tanpa perintah dari Daniella.


Daniella hanya menatap Jonathan dari dalam mobil. Begitu juga dengan Jonathan yang terdiam diri, melihat mobil yang ditumpangi Daniella perlahan mengecil.


Setelah memastikan Daniella pergi, Jonathan berbalik arah, dia berdiri di bawah pohon yang tidak ada lampu taman. Membuka tas kecilnya dan mengeluarkan ipad dari sana.


Jemari panjang dan ramping Jonathan menari di atas keyboard touch screen, entah apa yang Jonathan kerjakan. Beberapa menit kemudian, listrik hotel padam. Lampu-lampu tidak dapat menyombongkan dirinya. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menerangi gelapnya malam.


Jonathan melangkahkan kakinya di tengah gelapnya malam. Dirinya tidak sedikitpun ragu dalam melangkah, menuju ke tempat semula. Tempat ball room di lantai dasar hotel, di mana acara ulang tahun Matt Forse berlangsung.


Petugas hotel berlari, secepat mungkin untuk mengecek penyebab terjadinya pemadaman. “Kenapa tiba-tiba mati?” seorang petugas hotel memeriksa ke ruang listrik.


“Nyalakan genset saja dulu,” titah petugas pertama.


Belum juga beralih ke ruang genset, sudah ada petugas lainnya yang berlari tergesa dengan senter di tangannya.


“Gawat, kebakaran di ball room!” seru petugas hotel dengan napas terengah karena lelah berlari.


“Cepat panggil pemadam kebakaran!”


Semua orang berlari kocar kacir, Jonathan hanya bisa menatap dari kejauhan, ada kilatan di matanya. Namun, wajahnya begitu datar.


Setelah puas memadang pertunjukan di depan matanya, dia berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Jonathan berjalan di trotoar, gerimis mulai membasahi jalan. Namun, tidak serta membuat Jonathan terganggu dengan air itu, dirinya dengan sigap melangkah dengan santai.


***


Daniella patuh akan perintah Jonathan, di diam di dalam mobil. Dia merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Dia lupa akan asistennya yang menunggu di cafe dekat hotel.


"Hallo, Prisil."


"Apa sudah selesai acaranya?" tanya Prisil dari seberang telepon.


"Belum, aku pulang duluan. Kau pulanglah."


"Ada apa? Pasti terjadi sesuatu! Katakan padaku!"


"Cysara menggangguku. Besok akan aku ceritakan. Kau pulanglah."


"Kau pulang dengan siapa?"


"Jonathan, dia menyusulku."


"Baiklah, besok kau harus menceritakan semua padaku."


"Ya."


Daniella menyandarkan tubuhnya, memejamkan matanya sejenak. Hingga akhirnya dia sampai di rumah, dia langsung bebersih diri. Menunggu di lantai satu dengan teh menemaninya, menunggu kepulangan Jonathan.


Matanya belum lelah, dia menyalakan televisi, mengganti-ganti chanel untuk menghilangkan kejenuhan.


Pemain sinetron Pablo Sentana menyumbangkan penghasilannya untuk amal.


Isu perselingkuhan antara artis dengan managernya.


"Sudah malam masih ada saja acara gossip!" decak Daniella sebal. Dia mengganti saluran televisi lagi.


Genjatan senjata terus terjadi sehingga membuat warga sipil terluka.


"Apa sih maunya perang terus?"


Daniella terus mengganti channel, mengambil keripik kentang dan memasukan ke dalam mulut. Belum menemukan acara televisi yang sesuai, dia masih terus menekan remote tv, hingga akhirnya matanya tertuju dengan breaking news malam.


Terjadi kebakaran di hotel bintang lima, Hotel Amarisakti menjadi terang benderang karena kobaran api. Belum jelas berapa korban dari insiden kebakaran. Tim pemadam kebakaran masih berusaha memadamkan api ....


Daniella melebarkan matanya, tidak disangka dirinya beruntung karena telah pergi dari hotel itu.