My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 13 Pemotretan



Daniella bersiap untuk menjalani harinya sebagai model. Sudah ada jadwal pemotretan hari ini. Sebelum bekerja, dia sempatkan diri untuk memasak sarapan untuk dirinya dan juga untuk Jonathan.


“Jo, tolong bawa ini ke meja makan.” Daniella memberikan piring berisi omelette pada Jonathan.


Jonathan menerima piring tersebut dan membawanya ke meja makan. Dia duduk manis di kursinya, menunggu Daniella selesai memasak. Tidak lama, Daniella membawa roti yang sudah dipanggang dengan butter dan bertabur parsley. Daniella meletakan satu roti di piring Jonathan.


“Kau mau minum teh atau kopi?” tawar Daniella.


“Aku mau susu,” jawab Jonathan.


Daniella mengerutkan dahinya. “Oh, baiklah.”


Daniella mengambil susu putih di kulkas, menuangkan susu putih dalam botol kaca tersebut ke dalam gelas kosong, sedangkan Daniella memilih teh untuk minumannya.


Jonathan mulai memakan sarapannya. Memulai dengan memakan habis omelette daging dengan lahap, setelah itu memakan roti panggang butter.


Daniella hanya melirik sepintas suami anehnya itu, ada bekas roti di sudut mulut Jonathan. Namun, dia tidak akan membantu membersihkan mulut Jonathan, dia tidak ingin mendapat ciuman tiba-tiba lagi dari Jonathan.


Prisil datang sebelum Daniella menghabiskan sarapannya. “Kau yang memasak?” tanya Prisil.


“Ya, makanlah,” tawar Prisil.


Prisil duduk di sebelah Daniella, dia berniat mengambil omelette yang tinggal satu. Sebelum garpunya mengambil omelette itu, tangan Jonathan lebih cepat dari pergerakan Prisil. Tanpa rasa malu Jonathan melahap omelette itu.


Daniella dan Prisil hanya saling tatap melihat kelakukan Jonathan. “Tiba-tiba aku kenyang. Apa kau sudah siap?” tanya Prisil.


“Sudah. Ayo kita berangkat,” jawab Daniella.


Daniella beranjak dari duduknya diikuti oleh Prisil. Tidak lama Jonathan juga ikut berdiri. Melihat Jonathan yang berdiri membuat Daniella berspekulasi bahwa Jonathan ingin berangkat kerja.


“Apa kau mau bekerja?” tanya Daniella.


“Tidak, aku tidak perlu ke kantor, bisa dikerjakan di rumah.”


“Oh.” Daniella tidak bertanya lagi. Dia berpikir Jonathan hanya akan mengantarnya sampai pintu depan. Namun, perkiraannya salah, Jonathan ikut masuk ke dalam mobil, dia duduk di bangku belakang. “Apa yang sedang kau lakukan?”


“Duduk,” jawab Jonathan datar.


“Maksudku, kenapa kau masuk ke dalam mobil?” tanya Daniella menahan amarah, sedangkan Prisil hanya menghembuskan napasnya pelan.


“Aku tidak mau sendiri di rumah,” jawab Jonathan.


“Kau bisa melakukan apa pun yang kau mau, tapi tidak mengikutiku!” bentak Daniella.


“Apa keberadaanku mengganggumu?”


“Ya.”


“Aku janji tidak akan mengganggu pekerjaanmu, aku hanya akan diam saja.”


“Tapi, tetap saja ….”


“Sudahlah, biarkan dia ikut,” ujar Prisil memotong perkataan Daniella.


Tidak ada yang bicara lagi, mereka datang ke lokasi pemotretan dengan keheningan. Daniella mulai dirias oleh penata rias. Jonathan hanya memperhatikannya dari ambang pintu, dia patuh berdiri tanpa selangkah pun masuk ke dalam ruang rias. Ya, titah dari Daniella, Jonathan hanya boleh melihatnya dari jauh.


Riasan Daniella hampir selesai, tidak lama seorang model junior datang ke ruang rias. Cysara model yang selalu iri dengan Daniella masuk ke dalam ruang rias.


“Bisa kau minggir dari jalanku?” perintah Cysara pada Jonathan.


Jonathan yang berdiri di dekat pintu membuat Cysara merasa terganggu. Jonathan menoleh ke arah Cyasara, dia hanya menatap model itu. Dirinya berdiri di pinggir pintu, jalan masih lebar tetapi Cyasara lebih memilih jalan di mana Jonathan berdiri. “Apa kau tuli? Minggir dari hadapanku!” hardik Cysara.


Daniella berjalan dengan gaun merah panjang lengkap dengan make up bold dan juga jepit rambut di sisi rambutnya, dia menghampiri Jonathan berada. Suara hentakan Cysara membuat dirinya ingin cepat-cepat pergi dari gadis pengacau itu. Tetapi, dia juga tidak bisa melihat Jonathan diperlakukan semena-mena seperti itu.


“Apa matamu buta, tidak bisa melihat pintu ini lebar dan bisa dilalui oleh dua orang berpapasan?” tegas Daniella. Ucapannya bukan untuk Jonathan melainkan untuk Cysara.


“Tidak ada urusan denganmu!” celoteh Cysara.


“Jangan pikir kau senior dan bisa menindasku!” cela Cysara.


“Tidak ada yang menindasmu. Kaulah yang tidak punya adat, berlaku seenaknya saja!” Daniella mendorong tubuh Cysara, dia tidak takut akan model junior yang sedang naik daun itu


“Hei!” hardik Cysara.


“Pemotretan akan segera dimulai!” Prisil berdiri di depan Cysara. Menghalangi Cysara yang ingin mengejar Daniella.


Cysara hanya mendecak setelah itu masuk ke ruang rias. Prisil menoleh ke arah Jonathan. “Ayo, Jo.”


“Aku mau ke toilet dulu.”


“Baiklah, kau bisa melihat Daniella melakukan pemotretan. Tapi, jangan berbuat apa pun.”


“Baik.”


Prisil pergi meninggalkan Jonathan. Namun, Jonathan tidak pergi ke toilet seperti yang dia katakan pada Prisil. Dia hanya berdiri di balik pintu ruang rias.


Di dalam ruang rias hanya ada Cysara dan penata rias. Sang penata rias langsung memoles wajah Cysara, saat akan memasangkan bulu mata, Cysara menghentikan tindakan sang penata rias.


“Aku tidak mau pakai bulu mata palsu milikmu,” tolak Cysara.


“Tapi Nona, hanya ada ini,” terang sang penata rias.


“Kau ambil di mobilku, aku punya bulu mata produksi eropa.”


“Di mobil Anda?”


“Kau pergi ke mobilku, asistenku masih ada di mobil. Minta padanya!”


“Kenapa tidak meminta asisten Anda yang ke sini untuk membawakannya?” tanya sang perias, dia enggan menjadi pesuruh Cysara.


“Aku bilang ambil ya ambil! Kenapa banyak tanya! Asistenku lagi ada yang dia kerjakan!” bentak Cysara.


Sang penata rias hanya menghembuskan napasnya pelan, dia hanya mencoba untuk bersabar, dirinya masih butuh pekerjaan dan Cysara adalah model yang sedang naik daun. Jika dia menolak, bukan Cysara yang akan ditegor, melainkan dirinyalah yang akan di pecat.


“Baik, Nona. Saya akan mengambilkannya.”


Setelah sang penata rias pergi, Cysara mengambil ponselnya. Dia menelpon seseorang. “Hallo, Om.”


Jonathan masih berdiri di ambang pintu, dia mendengar percakapan Cysara di telepon. Cysara bisa menjadi model terkenal karena menjadi sugar baby dari seorang yang berpengaruh dan Cysara meminta bantuan orang tersebut untuk menghancurkan karir Daniella. Jonathan pergi setelah mendengar percakapan Cysara dengan orang di seberang telepon.


***


“Apa kau siap?” tanya seorang asisten fotografer pada Daniella.


Daniella menghembuskan napasnya pelan, dirinya harus menjadi model profesional. “Ya, berikan padaku.”


Seekor ular berwarna kuning melilit di tubuh Daniella dengan tangan Daniella menggenggam bagian kepala ular. Meskipun hatinya getir. Namun, ekspresi saat pemotretan sangat memuaskan. Daniella sangat bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya.


Sang fotografer sangat puas dengan kerja Daniella, gadis itu tidak pernah mengecewakannya. Beberapa kali pose dan mendapatkan hasil yang bagus. Prisil menghampiri Daniella dan mengelap keringat yang ada di dahi Daniella. Mereka melakukan pemotretan di ruang terbuka. Jonathan hanya menatap Daniella yang bekerja sungguh-sungguh.


“Di mana Cysara? Kenapa belum tiba? Sebentar lagi gilirannya!” seru sang fotografer.


Dia tidak terlalu suka dengan model itu. Namun, dia hanya seorang pekerja yang hanya mengikuti perintah atasannya.


“Biar aku panggilkan,” ujar sang asisten fotografer lalu pergi ke ruang rias.


Setelah lama menunggu, Cysara tidak kunjung datang, sang asisten fotografer berlari terengah, terpancar wajah yang pucat, dia sangat panik. “Gawat! Cysara mengalami kecelakaan di ruang rias.”


“Apa!” ujar sang fotografer terkejut.


Daniella dan Prisil menoleh, mereka pun terkejut mendengar kabar kecelakaan kerja Cysara. Hanya Jonathan yang tidak menampakan ekspresi apapun, dia menikmati minuman berfermentasi digenggaman tangannya.