My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 26 Daging Sisa



“Kenapa ada darah di pakaianmu?” tanya Daniella sembari menunjuk kemeja Jonathan yang terkena darah.


“Bukan apa-apa,” jawab Jonathan datar.


“Bukan apa-apa bagaimana?” tanya Daniella khawatir. “Apa kau terluka lagi?” Daniella mencoba memeriksa tubuh Jonathan.


Membalik tubuh Jonathan. Bahkan dia mengangkat ke atas pakaian Jonathan.


“Tidak ada luka,” gumam Daniella. “Darah apa itu?” tanyanya lagi.


“Tadi ada kecelakaan di jalan, aku hanya membantu korban. Aku rasa, darah ini milik korban itu,” jelas Jonathan.


“Kecelakaan? Aku tidak melihat beritanya di TV?”


“Bukan kecelakaan besar, hanya seseorang yang tertabrak sepeda motor,” imbuh Jonathan tenang.


“Oh, kalau begitu, ganti pakaianmu,” titah Daniella.


“Apa ada makanan? Aku lapar.”


“Masih ada makanan tadi pagi, biar aku panaskan untukmu.”


Daniella pergi meninggalkan Jonathan dan menuju dapur, dia membuka tudung saji. Masih ada beberapa makanan sisa tadi pagi, Daniella mengangkat mangkuk berisi daging sapi, mendekatkan ke hidungnya dan seketika mengernyitkan dahinya. “Sudah tidak bagus.”


Daniella menggeser mangkuk itu lalu membuka pintu kulkas. Dia berencana membuatkan makanan baru untuk Jonathan.


“Bukannya mau memanaskan makanan untukku?” tanya Jonathan heran melihat Daniella yang mengeluarkan sayur dan juga daging dari kulkas.


“Yang tadi pagi sudah kurang bagus. Masih belum basi, tapi sepertinya sudah tidak enak di makan. Jadi, mau aku buang atau kasih hewan liar di jalan saja,” ujar Daniella.


Jonathan melihat mangkuk daging sisa tadi pagi. “Kalau begitu, biar nanti setelah makan aku yang membuangnya,” usul Jonathan.


“Oh, ok.”


Daniella membuat masakan hanya untuk satu porsi. Dia tidak lapar, yang dia buat hanya untuk Jonathan.


Jonathan hanya duduk manis menunggu Daniella selesai memasak.


Jonathan menerima mangkuk dan piring itu dan meletakan di atas meja. Dia meraih garpu dan sendok. Menggenggam sendok di tangan kanan dan garpu di tangan kiri. Menatap lapar hidangan di depan mata.


Daniella yang melihat tingkah Jonathan menyunggingkan senyum. Dia membawa semangkuk kecil nasi ke pada Jonathan.


“Mau minum apa?” tanya Daniella.


“Susu,” jawab Jonathan singkat.


Daniella menuangkan susu di gelas, dia ikut duduk di samping Jonathan dan menonton pria itu menikmati makan malamnya. Dia gemas melihat wajah cantik Jonathan. Pria tampan dengan kategori pria cantik. Pipi mulus yang kenyal, tanpa adanya bulu wajah, membuat Daniella tanpa sadar mencubit pipi itu.


Cubitan Daniella membuat Jonathan menghentikan makannya, sebagian nasi keluar dari mulut Jonathan. Dia melirik sinis pada Daniella.


“Huft! Maaf, maaf. Aku tidak sengaja. Kamu menggemaskan sih,” kekeh Daniella melihat tatapan tidak suka Jonathan.


Jonathan menghadap Daniella, menelan paksa sisa makanan di mulutnya. “Apa mau cubit lagi?” tanya Jonathan serius.


Daniella tertegun, suara Jonathan tiba-tiba berubah, tidak lagi seperti saat meminta makan. “Tidak!” Daniella bangkit dari duduknya. “Aku tidur duluan. Jangan lupa bersihkan sisa makananmu dan makanan bekas segera buang atau beri hewan di luar.”


Setelah berkata, Daniella langsung masuk ke dalam kamarnya, dia memegang dadanya sendiri. Entah mengapa dadanya berdegup kencang.


Jonathan menghabiskan makannya. Dia melakukan sesuai dengan perintah istrinya. Mencuci piring dan membuang sampah. Namun, makanan bekas tidak dia buang. Jonathan membawa sisa mangkuk bersisi daging sisa.


Dia mulai membuka pintu belakang dapur, melangkahkan kakinya dengan senyap. Berjalan menuju sebuah gudang kecil yang berada di halaman belakang. Gudang yang berada di pojok halaman, gudang yang hampir tertutup tanaman liar. Gudang yang dulu dipakai untuk penyimpanan barang-barang perkakas.


Membuka pintu gudang itu, hanya ada ruangan kosong yang berdebu, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Jonathan mendorong sebuah meja. Tatapannya turun ke bawah, melihat lantai yang tertutup kain lusuh.


Dia menyibakkan kain tersebut, terdapat pintu ruang bawah tanah. Membuka ke atas pintu itu dan masuk ke dalam ruang bawah tanah dengan tangan masih membawa semangkuk daging sisa.


Mengetahui ada yang datang, membuat sang wanita yang berada di ruang bawah tanah menoleh. Air matanya telah kering, tetapi terdapat kesedihan yang mendalam. Kaki dan tangannya dirantai, ruang geraknya sangat terbatas.


Jonathan membuka lakban hitam di mulut sang wanita. “Makanlah,” titah Jonathan datar.


“Aku mohon lepaskan aku, Tuan," ucap sang wanita memohon.