
“Apa yang harus aku lakukan? Apa aku bilang saja pada media jika aku memang kekasih Evan?” tanya Daniella.
“Kau gila ya! Dilihat dari dirinya meninggalkanmu kemarin, aku yakin dia tidak akan mengakuimu sebagai kekasihnya.” Prisil mendekatkan diri pada Daniella. “dan jangan berbuat yang memancing amarah Evan, karena kamu tidak tahu seberapa kuat kekuasaannya, terlebih dengan kekuasaan Veronika, istrinya. Bisa-bisa hanya kamu yang akan hancur!” tegas Prisil.
“Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Daniella frustasi.
“Pergi dari sini dan menikahlah dengan Jonathan, biarkan dirimu mengalah akan egomu, yang penting dirimu aman!” terang Prisil.
Tanpa mereka sadari jonathan mendengar semua percakapan Daniella dan juga Prisil, dia berdiri di ambang pintu. “Apa mau menikah sekarang?” tanya Jonathan memecahkan keheningan antara Daniella dan Prisil. Sontak dua wanita tersebut menoleh kearah Jonathan.
Daniella menatap Jonathan. “Tugasmu dimulai hari ini,” ucap Daniella pasti. Semalam dia masih ragu akan tindakannya melibatkan Jonathan ke dalam kehidupannya. Namun, kali ini dia berkata sangat yakin.
Setelah bersiap secara kilat, Jonathan, Daniella dan Prisil pergi ke catatan sipil untuk meresmikan pernikahan mereka. Para media menunggu di depan apartemen Daniella. Namun, yang memiliki apartemen tersebut tidak ada di tempat.
Setelah keluar dari biro pencatatan sipil. Daniella, Prisil dan Jonathan pergi menggunakan mobil, Prisil yang berkendara dan Daniella di sampingnya. Sedangkan Jonathan duduk manis di jok belakang. “Kita mau kemana?” tanya Daniella. Dia tahu Prisil tidak mungkin membawa mereka ke apartemen Daniella.
“Sedang aku pikirkan!” ucap Prisil sembari menyetir mobil. “Para media tahu dua tempat tinggalmu dan aku rasa media akan mengulik masa lalumu. Kemungkinan berita tentang kamu dibesarkan dalam keluarga sederhana akan terkuak, tidak memutus kemungkinan hubunganmu yang ditentang oleh orang tua Evan pun bisa terungkap media," lanjutnya.
Daniella memijat keningnya sendiri, semua yang dikatakan Prisil benar adanya. Dia pun tahu bagaimana kekayaan Evan dan juga Veronica, dirinya tidak memiliki kekuasaan apapun, salah langkah sedikit saja maka, dirinya yang akan hancur. “Berikan ponselmu?” pinta Daniella pada Prisil.
“Lebih baik kamu tidak melihat berita!” Prisil memberi peringatan. Daniella dilarang Prisil menggunakan ponsel karena media pasti sedang membicarakan tentang dirinya.
“Cepat berikan saja!” hardik Daniella. Sebal karena Prisil terlalu mengaturnya.
“Siapkan dirimu saat membaca berita,” ucap Prisil memberikan peringatan seraya memberikan ponselnya.
Daniella membuka halaman berita terlebih dahulu, membaca setiap tag namanya.
Seorang model papan atas terkena skandal dengan pengusaha muda.
Heboh perselingkuhan Pangeran bisnis dan juga seorang model.
Orang ketiga dalam rumah tangga raja dan ratu bisnis.
Daniella beralih ke sosial media dan membaca di kolom komentar pada postingan Instagram acara gosip.
Dasar! Cewe gatel aja itu…
Muka-muka pelakor banget itu si Daniella..
Gua rasa dia bukan selingkuhan tapi *****!
Istri udah cantik dan kaya saja masih selingkuh…
Palingan Daniella modal oplas tuh bisa cantik…
Ketemuan di kamar hotel, kalau bukan selingkuh apa lagi?
Pencari kekayaan dengan jalan pintas,
Cewek laknat!!
Kelihatan aja cewe baik-baik tapi hatinya busuk!
Model kerjanya ya kalau ada panggilan ja! Panggilan kunci hotel!
“Arghhh!” teriak Daniella.
“Kenapa Netizen jahat sekali! Mereka bilang aku pelakor, oplas, pencari kekayaan dengan jalan pintas!” lirih Daniella.
Tangan Daniella terkulai lemas, mengapa pengorbanannya selama ini menjadi akhir cerita yang buruk. Dia selalu membayangkan akan hidup bahagia dengan Evan. Namun, kenyataannya begitu menyakitkan.
“Apa salahnya dengan cinta? Aku yang terlebih dahulu mengenalnya, akulah kekasihnya! Aku lah yang selama ini menjadi korban! Jika orang tua Evan memberikan restu, maka kami sudah menikah sekarang!” seru Daniella meninggikan suaranya.
“Kau jangan lupa! Kemarin Evan lah yang meninggalkanmu! Kenapa aku labil seperti ini? Dia itu tidak pernah tulus denganmu, untung saja kamu belum sampai dimanfaatkan olehnya!” cerocos Prisil.
“Apa aku harus melupakannya?” tanya Daniella.
“Tidak! Seharusnya kamu balas dendam padanya! Bertahun-tahun kamu menjalani hubungan diam-diam dengannya, tanpa sedikitpun pria brengsek itu mempertahankan dirimu! Sekarang malah membuangmu! Jika dia seorang lelaki, seharusnya dia mencarimu! Setidaknya, dia menghubungiku untuk mengetahui kabarmu!” Prisil semakin cerewet, dia kesal dengan temannya yang dibutakan oleh cinta.
“Baiklah, aku akan balas dendam padanya, aku akan membuat hidupnya hancur!” ucap Daniella dengan lantang.
“Bodoh! Aku hanya bergurau dengan kata-kata balas dendam! Mana ada kekuatan untuk melawan Evan dan juga Istrinya! Kita tidak punya backing-an apapun, lebih baik menyerah dan menjauh. Terlebih kau sekarang sudah menikah dengan … Jonathan.” Kalimat terakhirnya diucapkan sambil menatap Jonathan melalui kaca spion. Lelaki yang sudah pasti tidak memiliki kemampuan dan kekuasaan apapun.
Daniella terdiam, hidupnya sudah hancur lebur, sekarang dirinya di cap sebagai orang ketiga, kekasihnya meninggalkannya dan dia harus menanggung sendiri, bahkan dirinya tidak memiliki kekuatan untuk melawan atau membalas dendam pada kekasihnya itu. Tidak! Mantan kekasih lebih tepatnya.
Daniella tidak sengaja menatap Jonathan melalui kaca spion depan, seorang pria yang sedang duduk dengan santai. Menelisik mimik wajah Jonathan yang manis dan polos. Daniella merasa frustasi, dia salah menikahi seorang pria.
Andai waktu bisa di putar, dia akan mencari pria mapan untuk menjadi kekasih pura-puranya. Menampar telak mulut pedas para netizen atau memilih untuk tidak pernah mengenal Evan.
Daniella tersenyum miris, dia masih menatap Jonathan dari kaca spion. Kini, dia memiliki suami pengangguran yang patuh bagaikan hewan peliharaan.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Meninggalkan profesinya sebagai model dan menjauh dari hingar bingar dunia hiburan? Apakah hanya sekadar membersihkan nama baiknya pun tidak bisa?
Merasa ada yang menatapnya, Jonathan pun melihat Daniella dari kaca spion. “Aku punya tempat yang bisa kita singgahi,” ucap Jonathan di tengah Daniella masih pusing memikirkan nasibnya.
“Bukannya kamu bilang tidak punya rumah?” tanya Daniella.
“Ya, aku tidak punya rumah. Tapi, mendiang Ibuku memiliki rumah. Kita bisa ke sana,” jawab Jonathan.
Daniella tertegun, bukannya sama saja, rumah ibunya adalah rumahnya. “Baiklah,” ujar Daniella pelan.
Mereka bertiga menuju alamat yang disebutkan oleh Jonathan, sebuah rumah sederhana tetapi terasa asri. Beberapa tumbuhan tanpa perawatan, hidup di pekarangan rumah. Mereka masuk kedalam gerbang.
Daniella melebarkan matanya saat melihat di depan pintu ada garis polisi. Pikiran Daniella menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu, mengapa ada garis polisi? Apakah ada tindak kejahatan? Apakah itu? Pembunuhankah? Perampokankah?
Jonathan menarik police line dan membuka pintu rumah tersebut. “Masuklah,” ucap Jonathan mempersilahkan. Daniella dan Prisil ragu untuk melangkah akan tetapi mereka tidak memiliki pilihan lain lagi.
Baru juga dua langkah, Daniella menghentikan langkah kakinya. “Apa kita boleh masuk ke sini? Ini ada garis polisi?” tanya Daniella ragu.
Jonathan menoleh pada Daniella dan mendekat. “Tidak apa. Kasusnya sudah di tutup!” jelas Jonathan dengan nada yang Daniella pun tidak mengerti.
“Di tutup? Memang kasus apa?” tanya Daniella. Pikirannya kemana-mana, takut sesuatu yang buruk telah terjadi.
“Mau tahu?” tanya Jonathan datar. Namun, berhasil membuat Daniella sedikit takut pada Jonathan.
‘Mengapa kamu seperti ini lagi?’ batin Daniella. Dia semakin tidak mengerti pada lelaki yang statusnya sudah resmi menjadi suaminya.
“Memang kasus apa?” tanya Prisil yang membuyarkan sepasang suami istri yang saling tatap.
Kini Jonathan menoleh pada Prisil. “Kasus pembunuhan,” ucap Jonathan pelan.
“Apa?” tanya Daniella dan Prisil bersamaan.