
Jonathan hanya menatap datar Daniella. “Aku sudah selesai mencuci piring.”
“Oh, begitu. Baguslah.”
“Aku mau pergi dulu siang ini.”
“Mau kemana?”
“Ke kantor.”
“Bukankah kau bilang, kau bekerja dari rumah?”
“Brandon memintaku datang siang ini.”
“Oh, baiklah.” Daniella menyerengitkan dahinya, dia tidak mengerti sistem bekerja di kantor seperti apa. Dia bekerja sebagai model, seorang pekerja lapangan yang tidak terpaku pada jam kerja 9 to 5. “Oh ya. Nanti malam aku akan pergi.”
“Pulang jam berapa?”
“Em, aku tidak tahu. Kau tidak perlu menungguku.”
“Baiklah.”
Jonathan pergi meninggalkan Daniella sendiri, dia pergi menuju kantornya. Jonathan hanya menggunakan jaket bahan dengan resleting dibiarkan terbuka. Rambut berantakannya dibiarkan tergerai.
Jonathan masuk lewat basement, masuk ke dalam lift yang tidak semua orang memiliki akses. Lift khusus dibuat untuk dirinya. Menekan tombol dan langsung menuju ruangannya. Brandon sudah menunggunya di ruangannya.
“Apa kau sudah mendapat yang kumau?” tanya Jonathan dingin.
“Sudah.” Brandon memberikan berkas pada Jonathan. “Ini Bos, semua bukti kegiatan ilegal yang dilakukan oleh perusahaan Evan Su dan istrinya.”
Galaxy High corp dengan Brandon sebagai CEO-nya. Namun, dibalik itu semua masih ada bos besar dibelakangnya yang tidak pernah tampil di depan umum. Jonathanlah pemilik dari Galaxy High corp.
Mereka bersahabat sejak dibangku sekolah tingkat menengah atas. Hanya Brandon yang bisa masuk menjadi teman Jonathan. Pria jenius yang tidak banyak diketahui orang banyak.
Brandon selalu mendapatkan nilai di bawah Jonathan. Namun, bukan berarti mereka menjadi musuh, mereka menjadi sahabat. Lebih tepatnya, hanya Brandon yang berani menjadi teman Jonathan.
Ketampanan dan kecerdasan Jonathan tertutup dengan kepribadian anehnya. Namun, hanya Brandon yang mengetahui siapa Jonathan sebenarnya.
Jonathan menerima berkas dari Brandon dan menerimanya. “Hancurkan mulai sore ini.”
“Kenapa tiba-tiba berbuat ini?” tanya Brandon menatap Jonathan. Dia tahu Jonathan bukan tipe orang yang mengusik milik orang lain, kecuali ….
Brandon semakin memicingkan matanya, menelisik bos sekaligus sahabatnya.
Nathan? Apakah kau Nathan?
Brandon tidak ingin sosok Nathan hadir kembali. Susah payah melenyapkan sosok kejam itu dan Brandon tidak ingin sosok lain Jonathan itu kembali lagi.
“Kau tidak menyediakanku minum?” tanya Jonathan.
“Kau mau minum apa?” pertanyaan umum. Namun, ada maksud dari itu semua. Dari berbagai karakter Jonathan, memiliki selera minuman yang berbeda-beda.
“Berikan aku teh,” ujar Jonathan tersenyum.
Brandon menghela napasnya pelan, dia lega mendengar permintaan Jonathan.
Brandon beralih ke meja kopi dan membuatkan teh untuk Jonathan. "Minum ini, J," Brandon menyodorkan teh pada Jonathan.
Brandon tahu, Jonathan memiliki beberapa kepribadian. Jojo yang menjadi anak penurut, Nathan yang kejam dan sosok J seorang sahabat bersifat dingin. Namun, dari semua sosok tersebut, memiliki satu persamaan, mereka semua Introvert.
Brandon juga yang selama ini menemani Jonathan dalam proses penyembuhan. Berkat Brandon pula Jonathan bisa menggunakan kecerdasannya untuk membangun perusahaan, meskipun Jonathan memiliki latar belakang keluarga berada dan yang termasuk memiliki kerajaan bisnis. Tetapi, Jonathan berhasil mendirikan perusahaannya sendiri.
"Apa kau bahagia bisa menikah dengan wanita yang kau cari itu?" tanya Brandon.
"Dia tidak mengingatku," timpal Jonathan.
"Kenapa kau tidak memberitahu padanya?"
"Jojo selalu hadir saat aku bersamanya," terang Jonathan.
"Kau sadar Jojo hadir? Bagaimana mungkin? Bukankah jika sosok-sosok itu hadir kau akan melupakan yang terjadi?" tanya Brandon penasaran.
Namun, tidak dengan Jonathan. Dia sangat mengingat setiap detil yang terjadi pada hidupnya.
Selama ini Jonathan hanya berbohong saat satu pribadinya muncul dia akan bilang bukan dirinya. Yang terjadi sebenarnya adalah jika salah satu pribadi itu muncul maka, yang lainnya hanya berperan sebagai penonton. Termasuk sosok Nathan. Hanya saja, Nathan sudah jarang muncul. Namun, bukan berarti sosok tersebut telah hilang.
"Entahlah. Tapi, sepertinya Daniella menyukai sosok Jojo," sambung Jonathan.
"Jadi, belum terjadi apapun antara kalian?" tanya Brandon penasaran. Sosok Jojo yang patuh bak anak penurut tidak mungkin menjadi anak yang lantang.
"Begitulah!" Jonathan menyandarkan dirinya di sofa.
Brandon tertawa, dia tahu betapa gilanya Jonathan mencari Daniella, gadis yang selama ini dia rindukan. Setelah menikahinya malah tidak mendapatkan seutuhnya gadis itu.
"Tapi, Nathan tidak pernah hadir bukan?" tanya Brandon menelisik.
"Tidak pernah," jawab Jonathan berbohong. "Kalau Nathan yang hadir, mana mungkin aku memintamu menghancurkan bisnisnya," lanjutnya.
"Lalu, untuk apa kau minta aku menghancurkan usaha Evan Su?"
"Dia ingin menghancurkan pernikahanku, sebelum itu terjadi aku harus menyingkirkannya," terang Jonathan.
Brandon terdiam, jika Nathan yang bertindak, tidak mungkin menggunakan cara menghancurkan bisnisnya. Nathan akan bertindak lebih ke kriminal, bagaimana cara seorang psikopat bertindak. Tindakan yang hanya untuk memuaskan na*su membunuhnya.
Cukup satu korban nyawa melayang dari tangan Nathan, beruntung saat kejadian itu Jonathan masih di bawah umur sehingga terbebas dari jerat hukum, didukung pula dengan rekam medis yang menunjukan dirinya memiliki penyakit kejiwaan.
Jonathan pamit untuk kembali ke rumahnya. Brandon membuka lemari yang ada di dalam ruang istirahatnya. Mengambil satu botol berisi cairan merah. Dia menuangkan ke dalam gelas kaca. Lalu berdiri di depan dinding kaca ruangannya, menggoyangkan gelas kaca digenggaman tangannya dan menyesap cairan merah kental itu dengan raut wajah yang tak bisa diartikan.
***
Jonathan pulang setelah urusannya selesai dengan Brandon. Nathan ingin sekali muncul menghadap Evan. Namun, J telah mengontrol agar sosok tersebut tidak hadir.
"Kau sudah pulang?" tanya Daniella.
Jonathan menatap Daniella yang tampil cantik, dress baby doll melekat pada tubuhnya, riasan natural dengan rambut yang digerai.
"Jo, kenapa diam saja?"
Jonathan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa."
"Oh, kalau begitu aku pergi dulu."
"Kau mau pergi?"
"Bukankah aku sudah bilang bahwa aku akan pergi?"
"Kemana?"
"Aku ada sedikit urusan, jangan tunggu aku." Meskipun Jonathan hanya suami kontraknya. Namun, tidak mungkin dia bilang pada Jonathan bahwa dia akan menemui kekasihnya.
"Jangan pergi!" Suara Jonathan menghentikan langkah kaki Daniella untuk keluar rumah.
"Jo, aku akan kembali lagi."
"Dia tidak akan datang," ujar Jonathan.
Daniella mengerutkan dahinya. Mengapa Jonathan begitu yakin bahwa orang yang akan bertemu dengannya tidak akan datang.
“Dia pasti akan datang,” jawab Daniella yakin. Dia masih berharap Evan masih mencintainya dan memilih bersamanya.
“Jangan pergi,” lirih Jonathan putus asa.
Daniella hanya menurunkan tatapan matanya, dia tidak berani menatap wajah Jonathan terlebih menatap mata pria yang sudah menjadi suaminya, tatapan yang bisa membuat dirinya berubah pikiran. “Maaf, Jo.”
Daniella langsung pergi tanpa menoleh, dia tidak ingin goyah. Dia masih berharap pada kekasihnya, Evan. Daniella langsung memberhentikan taxi untuk menuju tempat tujuan.
Jonathan hanya terpaku melihat kepergian Daniella. Meskipun dia tahu Evan tidak akan datang karena pasti sedang disibukan dengan perusahaannya. Namun, Jonathan masih berharap Daniella memilih tinggal bersamanya daripada harus menemui kekasihnya itu.
Kenapa kau bergerak lama sekali? Seharusnya kau ikat istrimu agar tidak kabur! Bunuh saja orang-orang yang menghalangi jalanmu! Nathan mencoba mempengaruhi pikiran Jonathan.
Perlahan Jonathan mengangkat kepalanya, rahangnya mengeras. Melangkahkan kaki, keluar dari rumah untuk mengejar wanitanya.