
Daniella memicingkan matanya. "Galaxy High Corp?" tanya Daniella memastikan pendengarannya.
"Ya, kau tahu aku tidak pernah punya musuh. Tiba-tiba aku mendapat penyerangan darinya. Aku ingin ketemu dengan CEO Galaxy High Corp. Namun, aku terlanjur menjadi tersangka dan sekarang menjadi seorang buronan. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya telah aku lakukan. Itu perusahaan besar. Tetapi seharusnya tidak cukup kuat menghancurkan perusahaanku," keluh Evan.
Daniella hanya terdiam mendengar celotehan Evan. Dia tahu pemimpin Galaxy High Corp. Tetapi, mengapa Brandon mengganggu Evan.
Dia pun menyadari ada yang aneh dari Brandon, terlebih pria itu pernah menyusup ke belakang rumahnya.
"Apa kau mau seterusnya seperti ini?" tanya Daniella.
"Tentu saja tidak!" Evan menelisik Daniella. "Bisakah kau membantuku?" tanya Evan penuh harap.
Daniella menyeringitkan dahinya. "Apa yang bisa kubantu?" tanyanya.
"Bisakah kau datang ke pemimpin Galaxy High Corp dan tanyakan padanya, alasan mengapa dia berbuat seperti ini padaku."
Daniella melirik Evan sekilas. "Bukan aku tidak mau membantumu. Tapi, apa alasanku tiba-tiba datang padanya dan bertanya tentangmu."
"Daniella, kumohon padamu," pinta Evan.
"Evan, aku ...."
"Sepertinya ada hubungannya denganmu," ujar Evan memotong ucapan Daniella yang belum terselesaikan.
"Apa?"
***
Jonathan hanya berdiri di bawah pohon, tatapannya datar, hanya terdiam tanpa suara menunggu seseorang keluar dari tempat itu.
Satu jam berlalu, dia melihat sosok yang selalu dicintai keluar dari sebidang gudang tua.
Tatapan Jonathan tidak dapat diartikan. Pandangan lurus ke depan. Angin berhembus membuat hawa yang dingin, sedingin wajah Jonathan.
Jonathan melangkahkan kakinya setelah melihat Daniella naik bus. Dia langsung datang ke gudang itu dan membuka gudang tersebut.
"Kau kembali lagi ...."
"Siapa kau?" tanya Evan.
Dia melihat sesosok pria di depannya dengan rambut yang berantakan dan berwajah dingin. Seakan pernah melihatnya. Namun, lupa di mana mereka pernah bertemu.
"Kau mencariku, bukan?" tanya Jonathan dengan tatapan tajam.
"Kau ...."
***
Daniella hanya bisa mondar-mandir di kamarnya. Dia memikirkan bagaimana caranya untuk menggali informasi dari Brandon.
Tidak mendapat pencerahan di dalam kamar, Daniella keluar dari kamar, dia duduk di depan tv.
Daniella hanya bisa termenung di depan tv. Semenjak dia pulang dari menemui Evan, dia tidak menemukan Jonathan di rumah.
Dia tidak peduli dengan keberadaan Jonathan yang tak tampak batang hidungnya, dalam benak Daniella hanya terbesit tentang Brandon. Mengapa pria itu menghancurkan Evan.
Tidak ada tanda-tanda Evan dan Brandon berseteru, tidak pula Evan menyinggung pria itu. Hingga malam datang, Daniella masih termenung di ruang tv.
"Kau belum tidur?" tanya Jonathan yang melihat Daniella termenung.
Suara Jonathan membuyarkan lamunannya. "Kau baru pulang?" tanyanya.
"Ya, aku bosan sendiri di rumah. Jadi, aku pergi jalan-jalan."
"Oh," jawab Daniella singkat dan dia termenung kembali.
Jonathan hanya menatap dingin Daniella. Istrinya masih saja memikirkan pria lain. Meskipun pria lain itu tidak sekali pun peduli dengan Daniella. Membutuhkan Daniella hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.
"Tidurlah, ini sudah malam," ujar Jonathan.
"Ya, kau benar. Ini sudah malam."
Daniella bangkit dari duduknya mengikuti Jonathan yang akan naik ke atas. Namun, fokus tatapan Daniella beralih ke kemeja yang digunakan Jonathan. "Kenapa ada darah di pakaianmu?" tanya Daniella menyeringitkan dahinya.