My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 33 Aku Mencintaimu



“Kau ke gudang?” tanya Jonathan mengerutkan dahinya. Wajahnya sangat serius saat menatap Daniella.


"Ya, aku dari sana sore ini.


Melihat keseriusan wajah Jonathan, menyakinkan Daniella bahwa ada makhluk halus di rumah mereka. “Apa pernah terjadi pembunuhan sebelumnya di rumah ini?”


“Jonathan menatap wajah Daniella. “Tidak.”


“Mungkin itu hantu penjaga rumah ini!”


“Tidak ada hantu.”


“Aku dengar dengan jelas, Jo. Suara wanita yang sedang menangis! Kita harus panggil ahli supranatural untuk mengusir roh halus itu,” usul Daniella menggebu.


Daniella sangat yakin rumah Jonathan berhantu, matanya mengedar ke sekeliling. “Kau lihat ponselku?” tanya Daniella mencari di atas meja samping tempat tidur.


“Mau apa?” tanya Jonathan.


“Dulu prisil pernah memanggil ahli supranatural untuk mengusir hantu di rumahnya. Aku rasa, dia masih menyimpan kontaknya.”


“Tidak perlu.”


Mata Daniella melihat meja di samping Jonathan, di sana terdapat tasnya. “Jo, ambilkan tasku?” pinta Daniella mengulurkan tangan, dia ingin Jonathan mengambilkan tasnya. Kemungkinan besar ponselnya berada di sana. “Cepat oper tas-ku?” pinta Daniella lagi.


“Tidak perlu,” ujar Jonathan.


“Tidak ada salahnya jika kita mencobanya.”


Kesal dengan Jonathan yang tidak mengambilkan tas-nya. Daniella beranjak mengambil tas-nya yang ada di meja samping Jonathan.


Jonathan tidak bergerak saat tubuh Daniella yang membungkuk melewatinya, dia melihat punggung mulus milik istrinya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Daniella berteriak karena tubuhnya tiba-tiba dibalik secara kasar oleh Jonathan dan laki-laki itu sudah menindihnya kembali.


“Sudah malam, besok saja.”


Daniella sedikit canggung, tubuh polos Jonathan menempel pada tubuh polosnya. “Ya, kau benar sudah malam. Kita harus tidur.”


“Aku mau lagi,” ucap Jonathan datar.


“Apa?” tanya Daniella pura-pura tidak tahu.


“Yang tadi.”


“Sudah malam.”


“Lebih baik malam.”


“Apanya?”


“Yang ini.” Jonathan langsung menyambar bibir Daniella lagi dan mereka melakukan untuk yang kedua kali.


Tidak pernah bisa menolak setiap permintaan Jonathan, entah apa yang terjadi padanya. Setiap permintaan Jonathan, Daniella selalu memenuhinya bahkan sampai ke permintaan di atas ranjang.


Entah karena cinta yang belum disadari ataukah karena rasa nyaman satu sama lain. Daniella seakan tidak peduli, bahkan dia melupakan hilangnya keberadaan Evan, lelaki yang selama beberapa tahun telah mengisi hatinya.


Kicauan burung menjadi nyanyian di pagi hari. Halaman besar penuh tanaman membuat suasana rumah asri. Daniella membuka matanya saat sinar matahari menyelinap masuk melalui kaca jendela yang tak tertutup gorden.


Dia menolehkan wajahnya ke samping, tak lupa bahwa dirinya tidur dengan suami kontraknya. Daniella menatap wajah tampan suaminya. Mengagumi ketampanan pria berwajah polos.


Dia tersenyum melihat bibir Jonathan yang tipis, bibir yang telah membuatnya terbuai. Daniella sedikit menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir mengapa dia bisa melakukan sejauh ini dengan Jonathan, bahkan mereka sampai dua kali melakukannya.


Daniella mengalihkan wajahnya setelah melihat gelagat Jonathan akan bangun. Dia memejamkan matanya lagi untuk berpura-pura tidur.


Jonathan yang membuka mata sudah tahu bahwa Daniella sudah bangun dari tidurnya.


“Selamat pagi,” bisik Jonathan di telinga Daniella. Dia tidak ingin membongkar kebohongan Daniella yang sedang berpura-pura tidur.


Jonathan bangkit dari tidurnya dan beralih ke kamarnya sendiri. Senyum terukir dari sudut bibirnya, senang semalaman telah menjadi dirinya sendiri tanpa ada Jojo atau pun Nathan yang mengganggu.


Dia masuk ke kamar mandi dan membasahi tubuhnya sendiri, sengaja tidak menggunakan air hangat, Jonathan menggunakan air dingin untuk membasuh kepalanya.


Banyak yang harus dipikirkan olehnya. Dia harus memikirkan semua kekacauan yang telah dilakukan oleh Nathan. Dia harus mengontrol dirinya sendiri agar sosok lain di dirinya tidak muncul kembali, meskipun dia tahu itu akan sulit.


Daniella bangkit setelah melihat Jonathan keluar dari kamarnya, meskipun sakit saat berjalan. Namun, Daniella berusaha untuk terus masuk ke kamar mandi.


Membasahi tubuhnya dengan air hangat, aliran air hangat yang melewati tubuhnya, mengingatkan kembali akan sentuhan Jonathan. Daniella menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir setan kecil di kepalanya.


Setelah mandi, Daniella turun ke lantai satu, dia mendengar aktivitas di dalam dapur dan melihat Jonathan sedang sibuk memasak.


Jonathan memberikan senyum manis dikala Daniella berjalan mendekat padanya. “Pagi.”


“Pagi,” jawab Daniella sedikit gugup. Entah mengapa senyum suaminya begitu mempesona di matanya.


“Duduklah, aku buatkan sarapan untukmu.”


“Kita masak bersama saja.”


“Boleh.”


Jonathan mengembangkan senyum secara terus menerus, merasa hidupnya bahagia. Meskipun dia tahu harus menyelesaikan masalah Cysara dan Evan sebelum Daniella mengetahui yang sebenarnya. Satu hal yang terpenting adalah menyelesaikan sebelum Nathan hadir kembali menguasai dirinya.


Mereka memasak bersama, hingga semua masakan siap dihidangkan. Menyajikan di meja makan, mereka makan dengan diam. Tidak banyak obrolan yang ada, Jonathan menghabiskan makanannya dengan lahap dan senyum selalu terukir di bibirnya.


Daniella melihat sisa makanan di sudut bibir Jonathan, selalu seperti itu. Jonathan selalu saja berantakan jika makan.


“Ada sisa makanan di sudut bibirmu,” ujar Daniella.


“Di mana?” tanya Jonathan.


“Sebelah kiri.”


Jonathan mengelap dengan ujung ibu jarinya.


“Bukan itu, sebelahnya,” ujar Daniella mengkoreksi tindakan Jonathan.


Kali ini, Jonathan tidak membersihkan dengan ibu jarinya. Dia mencondongkan wajahnya ke hadapan Daniella. “Tolong bersihkan,” pinta Jonathan.


“Bersihkan dengan tanganmu sendiri!” ketus Daniella.


Jonathan hanya memonyongkan bibirnya lalu mengelap dengan ibu jarinya lalu melanjutkan sarapannya. Semua makanan sudah habis tersisa, waktunya untuk membersihkan piring kotor. Jonathan mulai menumpuk piring bekas pakai dan membawanya ke dapur.


Daniella pun mengikuti Jonathan ke dapur.


“Jo.”


Jonathan menoleh pada Daniella, dia baru akan mulai mencuci piring bekas. “Ya.”


Daniella ragu untuk mengatakannya, dia tidak berani menatap Jonathan. Namun, bibirnya tetap mengatakan yang ingin dia katakan.


“Yang semalam, kita lupakan saja,” ujarnya.


Gerakan tangan Jonathan berhenti setelah mendengar ucapan yang keluar dari gadis yang dicintainya, tangan kanannya masih memegang piring dan tangan kirinya menutup kran air . “Kenapa?”


“Karena … itu sebuah kesalahan. Hal seperti itu harus dilakukan karena cinta, sedangkan kita tidak memilikinya.”


“Aku mencintaimu,” tegas Jonathan.


Daniella mendongak menatap Jonathan, wajah pria itu begitu serius seolah apa yang keluar dari mulutnya adalah suatu hal sesungguhnya.


“Apa kau bilang?” tanya Daniella memastikan pendengarannya, meskipun dia sangat jelas mendengar ucapan Jonathan.


“Aku mencintaimu,” ujar Jonathan lagi tanpa ragu.


“Bagaimana bisa? Kita baru saling mengenal, aku rasa semua yang kita lakukan hanyalah sebuah kekhilafan,” oceh Daniella.


“Kita melakukan atas kesadaran kita masing-masing. Kau menikmatinya, kau pun menginginkannya, meski mulutmu berkata tidak, tapi hatimu berkata iya,” jelas Jonathan.


Jika tidak ada rasa suka sudah pasti Daniella menolaknya. Namun, semalam adalah kerja sama dua orang. Jonathan yakin, wanitanya pun mencintainya.


“Jo ….”


Jonathan meletakan piring di tangannya dan menghampiri Daniella, ditariknya tengkuk sang istri dan memberikan ciuman di bibir Daniella.


Jonathan melakukan dengan lembut, ditariknya pinggang Daniella untuk semakin mendekat. Daniella membalas ciuman Jonathan. “Katakan kau mencintaiku!” ucap Jonathan sesaat ciuman mereka usai.