
Nathalie hanya bisa menangis dalam diam, melihat apa yang telah dilakukan Jonathan. Bukan tidak ingin menghentikan, bukan pula senang atas apa yang dilakukan oleh anaknya. Namun, karena dirinya yang sudah tidak berdaya lagi.
"Jo," lirihnya yang tak terdengar oleh Jonathan.
Joshua menghembuskan napasnya yang terakhir. Namun, Jonathan seperti tidak mengerti kondisi. Dia terus menerus menancap pisau dan menariknya berulangkali.
Nathalie yang melihat itu merasa sesak di dadanya. Luka yang begitu dalam yang di alaminya membuat dirinya tak bisa menahan lagi rasa sakit. Dia menghela napas untuk yang terakhir kalinya dan mulai menutup mata selamanya.
Hingga rasa lelah melanda dan membuat Jonathan berhenti menusuk ayahnya. Jonathan membuang pisaunya. Dia beralih ke arah sang ibu. "Papa sudah tidak bisa menyakiti Mama lagi," ucap Jonathan datar.
Dia berjongkok, mulai mengangkat tubuh sang ibu yang sudah tak benapas. Tubuh yang kecil, tangan yang terlihat rapuh. Namun, bisa menggendong bobot ibunya. Ya, meskipun ibunya memilki postur tubuh yang ideal.
Jonathan mengangkat tubuh sang ibu ke kamarnya. Dia meletakan sang ibu di ranjang. "Mama, mau makan?" tanyanya.
Tidak ada jawaban dari Nathalie. "Mama mau minum?" tanya Jonathan lagi.
Masih tidak ada jawaban dari Nathalie. Jonathan berjongkok, menunggu sang ibu membuka suaranya.
Masih tidak ada suara yang keluar dari mulut sang ibu. Membuat Jonathan lelah menunggu. Dia mengambil sebuah keranjang besar, keranjang yang sering digunakan ibunya merapikan cucian bersih.
Meletakan sebuah kain di dalamnya. Jonathan mulai meringkuk di dalam keranjang itu. Dia tidak berani tidur di samping ibunya. Sebuah stigma yang membekas di kepalanya.
Sang ayah tidak pernah mengizinkan Jonathan tidur bersama Nathalie. Bahkan dari mulai Jonathan dilahirkan. Tidak ada yang boleh seranjang dengan Nathalie selain Joshua. Jonathan selalu tidur di kamar sendiri semenjak bayi.
Hari berikutnya, tidak ada tanda-tanda ibunya bergerak. Jonathan dengan telaten membersihkan tubuh sang ibu. Memandikannya dan mengganti pakaiannya. Dia mulai menyadari sesuatu, bahwa ibunya telah tiada. Namun, dia masih menganggap ibunya masih hidup.
Otak cerdasnya digunakan untuk mengawetkan tubuh sang ibu. Menjalani hari-hari layaknya tidak terjadi apapun.
Jonathan lebih memilih untuk tinggal di dalam rumah dengan ibunya tanpa keluar rumah dan itu berlangsung selama 40 hari.
Flashback off
Jonathan melihat Daniella yang memegang kotak di tangannya. Dia melangkahkan kakinya mendekati sang istri. Tatapan mata Jonathan sedih. Namun, tidak ada air mata yang keluar dari matanya.
Daniella berdiri, dia memberanikan dirinya untuk melangkah mendekati Jonathan.
Tanpa Jonathan duga, Daniella memeluknya erat. Dia pikir Daniella akan histeris, mungkin akan kabur meninggalkan dirinya. Namun, istrinya memeluk erat dan menyalurkan kehangatan.
"Pasti hidupmu berat, J," lirih Daniella.
Jonathan mulai menangis dalam diam, Dia membenamkan kepalanya di ceruk leher istrinya.
Daniella mengusap punggung sang suami. Merasakan basah di pundaknya. Dia yakin, suaminya sedang menangis dalam diam.
"Kau bisa mengatakan apapun padaku, J."
Setelah menenangkan Jonathan. Akhirnya, Jonathan mulai menceritakan yang terjadi pada orang tuanya. Setiap detil, dia ceritakan pada Daniella. Pertengkaran orang tuanya, kekerasan yang dialami ibunya. Bagaimana menjalani hari-harinya hidup bersama jasad ibunya. Tidak hanya itu, Jonathan menceritakan masa kecilnya yang dinilai aneh oleh banyak orang. Termasuk dengan kepribadian yang sering berubah.
"Setelah kejadian itu, aku tidak di penjara. Selain masih dibawah umur. Mereka mengatakan ada yang salah dengan kejiwaanku. Hingga, aku dibawa ke rumah sakit. Aku merindukan mama, aku kabur dari rumah sakit. Setelah beberapa hari, kita bertemu," tutur Jonathan.
Daniella mendengar tanpa menyela cerita suaminya. Dia yakin, yang dimaksud rumah sakit adalah rumah sakit jiwa. "Kenapa kau tidak datang? Aku menunggumu 4 jam." Daniella mengingat kembali perjanjian saat mereka masih remaja belasan tahun.
"Aku di bawa Kakekku, selama itu aku dikurung di rumah sakit," jelas Jonathan. Dia menoleh, menatap sang wanita. "Pergilah," lirih Jonathan.
"J ...."
Daniella menangkup tangan Jonathan. "Aku adalah istrimu, aku tidak akan meninggalkanmu. Namun, kau harus mempertanggung jawabkan atas tindakanmu. Aku akan menunggumu, J."
Jonathan hanya bisa menatap wajah cantik Daniella yang sangat yakin dalam berkata untuk menunggunya.
"Aku mencintaimu, J. Aku mencintaimu," lirih Daniella seraya memeluk Jonathan.
Mereka saling berpelukan, Daniella menyalurkan kasih sayangnya pada Jonathan. Daniella menggiring Jonathan keluar dari kamar itu. Keluar dari kamar yang hanya akan mengingatkan Jonathan pada sang ibu. Berceloteh tentang masa lalu mereka, berceloteh masa kecil Daniella. Tidak hentinya Daniella mengoceh. Mengalihkan pikiran Jonathan, agar sosok Nathan tidak pernah hadir.
Tidak ingin Nathan hadir atau pun Jojo yang hadir. Meskipun, sosok Jojo menggemaskan bagi Daniella. Namun, satu hal yang Daniella tangkap dari sosok Jojo. Dia tidak mengerti perasaan orang lain, dia tidak peduli dengan orang lain. Dia akan mendukung semua yang dilakukan oleh Nathan. Memiliki misi yang sama tanpa bisa membedakan benar atau salah.
Mereka berbincang, hingga lelah melanda dan mereka tertidur saling berpelukan.
***
Daniella menggenggam erat tangan Jonathan. Pagi ini, mereka akan melepaskan Cysara.
"Apa kau sudah siap?" tanya Daniella.
"Ya."
Daniella melangkah lebih dulu, dengan tangan yang masih saling bertautan. Dia membuka pintu gudang.
Mereka masuk ke dalam ruang bawah tanah. Daniella berjongkok, menatap penuh prihatin dan juga bersalah atas apa yang terjadi pada Cysara.
"Kami akan melepasmu. Aku mohon maafkan kesalahan suamiku." Daniella bersimpuh dengan menangkup kedua tangannya. Matanya menampakkan ketulusan.
Jonathan hanya menunduk mendengar penuturan Daniella yang meminta maaf atas dirinya.
Cysara tersenyum samar, dia tahu Daniella tidak tahu apapun. Terlebih lagi saat melihat interaksi Daniella dan Jonathan kemarin saat mereka bertemu di ruang bawah tanah. Meyakinkan dirinya bahwa Jonathan bertindak atas kemauan sendiri dan tanpa hasutan orang lain.
"Terima kasih," lirih Cysara lemah.
Cysara dipapah Di Daniella yang dibantu oleh Jonathan. Baru membuka pintu gudang, sudah ada beberapa orang yang menghampiri mereka.
Para pria berseragam polisi datang menghampiri. Daniella mulai pucat, dia tahu masa ini akan datang. Tidak seperti ini seharusnya. Jika pun Jonathan dipenjara, seharusnya dirinya yang menyerahkan diri.
"Anda ditangkap atas dugaan pembunuhan Tuan Evan," ucap seorang polisi.
"Aku tidak membunuhnya," bela Jonathan. Dia menatap Daniella. "Aku tidak membunuh," ulangnya.
Petugas polisi lainnya membatu Cysara. Daniella menghampiri Jonathan. "Aku akan selalu bersamamu," ucap Daniella.
"Tapi aku tidak melakukannya, kau percaya padaku bukan?" tanya Jonathan.
"J, yang harus kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu."
"Katakan padaku bahwa kau percaya padaku?"
Daniella hanya menatap Jonathan, setelah itu menundukkan kepalanya. Dia tidak menjawab Jonathan, dia pun tak tahu apa yang harus dia lakukan.
Tak ada jawaban 'Ya' atau 'Tidak' dari mulut Daniella dan hal itu membuat Jonathan kecewa. Dia menatap pada wanita yang mengatakan bahwa dirinya sangat mencintainya. Sebuah tatapan tidak percaya.