
Daniella hanya bisa terdiam, dia tidak peduli dengan Jonathan. Dia hanya menganggap Jonathan sedang cemburu.
Keesokan harinya, Daniella bersiap untuk menghadiri pemakaman Evan. Kematian Evan dinyatakan kasus pembunuhan dan belum ditemukan pembunuhnya.
"Mau kemana?" tanya Jonathan.
Daniella sudah rapi dengan pakaian serba hitam. Bagaimanapun, Evan pernah menjadi kenangannya.
"Ke pemakaman Evan," jawab Daniella.
"Apa kau harus datang?" tanya Jonathan.
"Apa kau meragukan hatiku?"
Jonathan menatap Daniella dalam. "Tidak."
"Jika seperti itu, biarkan aku pergi."
"Aku ikut denganmu."
Daniella hanya menganggukkan kepalanya. Jonathan masuk ke dalam kamar dan mengganti dengan kemeja hitam dan celana bahan hitam.
"Aku telepon sopir dulu, aku membebaskan dia untuk tidak selalu menunggu di sini," ujar Jonathan.
"Tidak perlu, kita naik taxi saja," usul Daniella.
Mereka pergi ke pemakaman Evan, Daniella berjalan sedikit menunduk. Menggunakan kaca mata hitam, dress hitam di bawah lutut. Sengaja tidak berpenampilan menonjol agar tidak banyak yang mengenalnya.
Tidak banyak yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir pada Evan. Entah apa penyebabnya. Apa ini kejamnya dunia bisnis? Saat kau sudah hancur ke jurang paling bawah. Maka, tidak ada lagi yang mempedulikan.
Daniella memberikan penghormatan terakhir di depan photo mendiang Evan. Di sampingnya ada Jonathan yang setia mendampinginya.
Brandon melihat Jonathan dari sudut ruangan yang tertutup tiang. Dia hanya menatap dari kejauhan sahabatnya itu.
Dia mendatangi Jonathan berdiri. "Bisa kita bicara?" tanya Brandon.
Jonathan tidak menjawab Brandon, dia melirik Daniella.
Daniella yang sedang serius memberi penghormatan merasakan ada yang menatapnya. Dia menoleh pada Jonathan dan melihat ada Brandon di samping suaminya.
"Apa kalian butuh waktu berdua?" tanya Daniella.
"Bisa aku pinjam suamimu dulu?" izin Brandon pada Daniella.
"Silakan, aku akan tunggu di sini," jawab Daniella.
Jonathan dan Brandon pergi meninggalkan Daniella. Sang wanita melanjutkan memberi penghormatan terakhir pada Evan.
"Semoga yang membunuhmu cepat tertangkap," ucap Daniella dalam hati.
Daniella baru saja berdiri untuk meninggalkan ruangan. Namun, langkahnya terhenti. Seorang wanita cantik berdiri di depannya.
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Veronika.
Veronika diberi penangguhan dan dia mendapatkan izin untuk datang ke pemakaman Evan.
"Aku hanya ingin memberikan penghormatan terakhir padanya," jawab Daniella.
"Seharusnya kalian mati bersama. Bertahun-tahun kalian berselingkuh, membohongiku. Jika kalian saling mencintai, seharusnya kalian tidak melibatkanku. Karena dirimu, aku pun ikut terkena imbasnya," ucap Veronika tegas.
"Hubungan kami tidak seperti yang kau bayangkan," jelas Daniella.
"Ya, aku tahu. Evan seorang pengecut yang tidak bisa mengambil keputusan. Dia tidak bisa meninggalkanku karena harta dan dia pun tidak ingin melepasmu walaupun tidak bisa memilikimu seutuhnya. Tetap saja, aku membenci kalian berdua. Karena hubungan kalian, aku di penjara. Terutama, karena pemilik Galaxy High Corp yang terobsesi padamu."
Daniella menggeleng. "Untuk kau yang dipenjara, itu bukan salahku. Kau sendiri yang melakukan kecurangan dalam bisnis. Hingga, Brandon dengan tanpa sengaja melaporkanmu."
"Tanpa sengaja? Apa kau bodoh?" tanya Veronika sinis.
Benar akan kecurangan yang ia lakukan dalam berbisnis. Namun, jika Evan tidak terlibat dengan Daniella, tidak mungkin dirinya dilaporkan.
"Itu yang Brandon katakan padaku. Dia hanya ingin membantu meringankan tugas polisi," tutur Daniella.
Veronika tersenyum getir. "Ternyata benar. Kau benar-benar bodoh! Selain kau ditipu oleh Evan bertahun-tahun. Kau pun tidak bisa membedakan kebenaran atau bukan. Pemilik Galaxy High Corp tergila-gila padamu. Dia melakukan itu karena ingin menyingkirkan Evan dan berimbas juga pada diriku!" terang Veronika.
"Berhenti, Brandon tidak menyukaiku!" elak Daniella.
Dia sudah memastikan sendiri pada orang yang bersangkutan dan Daniella yakin, Brandon tidak menyukainya.
Veronika tersenyum getir. "Aku tidak membicarakan Brandon. Yang aku bicarakan pemilik Galaxy High Corp dan bukannya CEO-nya!"
Daniella semakin bingung dengan perkataan Veronika. Entah karena otaknya yang lambat dalam berpikir atau Veronika yang mengatakan terlalu bertele-tele.
"Aku tidak mengerti," gumam Daniella menundukkan kepala.
Veronika sudah menyelidiki sedalam-dalamnya tentang orang yang menjebloskannya ke penjara. Dia menemukan fakta bahwa Jonathan lah dalang dari semua itu. Juga tentang fakta identitas Jonathan yang sebenarnya.
Seorang pria kaya raya, dari keluarga terpandang. Seorang bos besar di balik Galaxy High Corp. Satu fakta yang diketahui oleh Veronika, bahwa pria itu pernah di rawat karena masalah kejiwaan. Seorang pria gila yang berkuasa. Dia sadar, dirinya tidak akan bisa melawan pria itu.
Veronika mendekat pada Daniella. Dia membisikkan di telinga model cantik itu. "Nasibmu lebih buruk dariku. Kau ditipu bertahun-tahun oleh Evan, dimanfaatkan oleh pria itu dan kini, kau dicintai oleh pria gila! Jonathan adalah pemilik Galaxy High Corp. Pria gila yang telah menjadi suamimu adalah pria yang menghancurkan Evan. Mungkin, kematian Evan pun masih ada keterlibatannya."
Wajah Daniella menjadi pucat pasi. Veronika menarik tubuhnya kebelakang. Tersenyum mengejek pada Daniella, dia puas akan reaksi yang ditunjukan oleh Daniella.
Veronika yakin, Daniella tidak tahu apapun tentang suaminya. Sangat terlihat jelas dari wajah pias Daniella.
"Tidak mungkin, tidak mungkin!" gumam Daniella.
Veronika tidak peduli akan gumaman Daniella. Dia berbalik dan meninggalkan sang model dengan senyum smirk di wajahnya.
Kaki Daniella seketika lemah, dia luruh ke bawah. Mengingat kembali apa yang telah ia lewatkan sebelumnya. Mengingat kembali perlakuan Brandon terhadap Jonathan.
Sempat curiga, fasilitas yang telah diberikan pada Jonathan. Brandon yang datang sendiri untuk menawarkan pekerjaan pada Jonathan. Reaksi Brandon saat dirinya ke perusahaan.
Mata Daniella melebar, dia mengingat akan reaksi Brandon saat dirinya menceritakan tentang persembunyian Evan.
Ditambah lagi dengan penuturan Veronika. Dia yakin, Brandon mengetahui sesuatu. Gerak gerik Brandon dan Jonathan sangat mencurigakan.
Daniella mencoba untuk bangkit, dia harus mengetahui yang sebenarnya. Mencoba menggapai tiang untuk menjadi pegangan berdiri.
Mengumpulkan kekuatannya untuk menemui suaminya. Daniella berjalan perlahan mencari keberadaan Jonathan dan Brandon.
Tidak terlihat keberadaan dua pria yang dicarinya. Matanya mengedar. Akhirnya menangkap bayangan punggung pria yang dikenalnya, tidak keseluruhan yang terlihat. Hanya sebagian dan sebagian lainnya tertutup dinding, lawan bicaranya pun tak tampak karena berada dibalik dinding. Namun, dia sangat yakin pria itu adalah Jonathan.
Daniella berjalan untuk menghampiri dua orang pria itu. Namun, langkahnya terhenti, bukan niat untuk mencuri dengar. Tapi, kakinya yang tiba-tiba terpaku, diam tak bisa digerakkan.
"Aku akan membereskan yang ada di sini. Cepatlah pergi ke luar negri. Aku bisa menutupi perbuatanmu pada Evan."
Suara Brandon sangat jelas terdengar di telinga Daniella. Kakinya semakin melemah, dia memundurkan langkah kakinya dan memilih pergi dari tempat itu, tanpa mendengar secara menyeluruh percakapan Brandon dan juga Jonathan.