
"Ah!" Daniella terkejut lalu memutar tubuhnya. Jonathan tiba-tiba berada dibelakangnya. "Kapan kau pulang?" tanya Daniella mengatur napasnya.
"Baru saja," jawab Jonathan.
"Jadi kamu yang berada di halaman belakang?"
"Bukan."
"Jangan bercanda! Aku serius. Kamu bukan, yang di halaman belakang?" desak Daniella.
"Tidak. Aku baru saja sampai," jawab Jonathan datar.
"Kalau bukan kamu, pasti orang lain. Mungkin pencuri!" seru Daniella.
"Tidak ada orang."
"Aku mendengar ada orang yang berjalan!"
"Aku tidak mendengar apapun."
"Aku dengar dengan jelas. Ayo kita periksa," ajak Daniella.
"Lebih baik tidur saja."
"Kalau ada pencuri bagaimana?"
"Tidak ada."
"Jo, kita periksa dulu. Kalau kau takut, kau bisa berdiri di belakangku!" seru Daniella.
Daniella perlahan membuka pintu dapur dengan Jonathan berjalan dibelakangnya. Mereka berjalan dengan langkah yang sangat berhati-hati, takut langkah kaki mereka menimbulkan suara yang berisik.
Srek! Srek!
Daniella dan Jonathan saling tatap, mereka menajamkan telinga mereka. Daniella yakin ada orang lain di halaman belakang mereka.
Tumbuhan lebat yang belum sempat dirawat membuat mereka sedikit kesulitan berjalan. Suasana yang minim cahaya dan dingin nya malam membuat bulu kuduk berdiri. Belum lagi dengan suara katak sebagai nyanyian alam.
Jonathan menarik Daniella hingga posisi mereka berbalik. Jonathan berada di depan Daniella.
Jonathan berjongkok, mengambil batu. Dia bangkit lagi dan melempar batu ke arah sebelah kiri, yang di duga ada seseorang yang sedang berjongkok.
Bugh!
"Auw!"
"Siapa itu?" teriak Daniella.
Sosok tinggi keluar dari semak-semak seraya memegang kepalanya.
"Tuan Brandon?" tanya Daniella membulatkan matanya. Seorang CEO perusahaan besar menyelinap ke dalam rumahnya. Sungguh sesuatu yang sangat tak terduga.
Brandon hanya tersenyum canggung. "He, kalian di rumah? Aku mengetuk pintu depan tapi tidak ada yang membukakan pintu. Jadi, aku mencari pintu belakang untuk mengetuk pintu," jelas Brandon.
"Aku tidak mendengar ada yang menekan bel pintu depan!" tegas Daniella. Jelas dia tidak percaya akan penuturan Brandon.
"Sungguh aku sudah menekannya, mungkin belnya rusak," bela Brandon.
Daniella memicingkan matanya, sangat tidak percaya dengan penjelasan Brandon. "Untuk apa Anda datang ke rumah kami tengah malam begini?"
"Itu, itu, aku ...."
"Aku sudah mengirim draf pada Anda. Apa masih ada yang kurang?" tanya Jonathan memotong perkataan Brandon.
"Oh, iya. Kau benar. Deadline-nya jam lima pagi. Jadi, aku datang ke tempatmu," tutur Brandon.
"Kita bicara di dalam saja," ajak Jonathan.
"Oh, Baiklah."
Daniella masih merasa ada yang aneh. Namun, Jonathan malah mengajak pria itu masuk ke dalam rumah.
Mereka beralih ke ruang tamu, Daniella menuju dapur untuk menyiapkan minum untuk tamunya.
Daniella menyeduh teh untuk Jonathan dan Brandon dengan sesekali melihat interaksi dua pria yang duduk di ruang tamu.
"Silakan di minum," tawar Daniella mempersilahkan.
"Terima kasih," ujar Brandon.
Daniella tidak pergi dari ruang tamu, dia ikut duduk di samping Jonathan.
"Ha?"
"Ada hal penting yang ingin kami bicarakan dan merupakan rahasia perusahaan," tutur Jonathan.
Daniella berdiri dengan enggan, dia tahu yang namanya rahasia perusahaan tidak boleh diketahui oleh orang dari luar perusahaan. Namun, Daniella tetap melangkahkan kakinya meskipun dengan kecepatan seperti siput, dia masih berharap bisa mencuri dengar pembicaraan Brandon dan Jonathan.
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Jonathan dingin. Dia yakin Daniella kini sudah berada di kamarnya.
"Em, aku hanya ingin datang berkunjung saja," jelas Brandon canggung.
"Kau ingin memastikan, apa ada mayat di halaman belakang rumahku, bukan?" tanya Jonathan datar.
Semua biografi Jonathan sudah diketahui oleh Brandon. Termasuk sejarah rumah itu. Hanya saja, Brandon memang mengenal Jonathan jauh setelah tragedi berdarah di rumah itu.
“Bukan itu maksudku!” sangkal Brandon.
“Apa kau masih berpikir, aku masih seperti yang dulu?” cecar Jonathan.
Brandon menghela napasnya. “Lalu, siapa yang membuat kebakaran di hotel?”
“Bukan aku,” jawab Jonathan dengan tenang.
“Baiklah, aku percaya padamu, J. Jika kau membutuhkan sesuatu, hubungi aku, aku selalu ada yg untukmu.”
“Terima kasih.”
Brandon berdiri, memilih untuk pergi dari rumah itu. Dirinya tidak menemukan apapun di halaman belakang. Berharap sahabatnya berkata dengan jujur. Jika tidak mengingat kebaikan Jonathan padanya dulu. Tidak akan pernah Brandon mau masuk dalam kehidupan Jonathan.
Dari banyaknya teman yang Brandon miliki, hanya Jonathan yang tulus padanya. Maka dari itu, Brandon menjaga Jonathan agar sembuh seutuhnya dari penyakitnya dan mencegahnya berbuat hal yang mengerikan.
“Kalau begitu aku pulang dulu,” ucap Brandon di ambang pintu.
“Ya, hati-hati,” jawab Jonathan hendak menutup pintu.
Brandon baru akan berbalik. Namun, matanya tertuju pada ujung lengan kemeja yang digunakan Jonathan. “Darah apa itu?” tanya Brandon menghentikan Jonathan yang mencoba menutup pintu. Ujung kemeja Jonathan terdapat bercak darah.
“Bukan apa-apa, aku tidak sengaja memecahkan gelas dan secara tidak sengaja menggores lenganku.”
“Mana lukamu?” cecar Brandon.
Jonathan menggulung lengan kemejanya dan menunjukan pada Brandon. Balutan perban menghiasi lengan Brandon, sekitar 7 cm di atas pergelangan tangan.
“Apa aku sudah boleh tidur?” tanya Brandon.
Brandon hanya menyeringitkan dahinya. “Ya, tidurlah.”
Jonathan masuk ke dalam kamar sedangkan Brandon pulang ke rumahnya. Brandon tidak pernah merasa takut berhadapan dengan Jonathan. Karena selama ini, tidak sekalipun Jonathan menyakitinya meskipun saat sosok Nathan hadir di depan matanya.
Satu hal yang Brandon ketahui dari Jonathan. Pria itu akan melindungi orang-orang yang dianggap penting olehnya. Karena itu, Brandon tidak pernah khawatir Daniella akan dicelakai oleh Jonathan.
***
Cakrawala biru nampak begitu anggun, cahaya matahari begitu menghangatkan masuk kedalam celah jendela, wangi khas tumbuhan tercium di hidung. Daniella mulai menggerakkan badannya karena mulai merasakan sesak di dada.
Perlahan kelopak matanya terbuka, tatapannya tepat tertuju pada jam yang menempel pada dinding kamarnya.
Pandangannya mulai turun ke bawah, nampak lengan yang cukup kekar melingkar di perutnya. Daniella menoleh ke samping, melihat Jonathan yang tertidur pulas di sampingnya.
“Jo, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Daniella mencoba menggeser tubuh Jonathan yang memeluknya bagaikan boneka beruang.
Tidak ada sahutan dari Jonathan, Daniella mendorong tubuh Jonathan dengan lebih keras. “Jo, bangun!” hentak Daniella.
Karena hentakan Daniella, membuat Jonathan tersadar. Dia mulai mengerjapkan matanya. “Selamat pagi,” ujar Jonathan tersenyum manis.
Daniella sempat terpaku selama sedetik, baru kali ini dia melihat Jonathan tersenyum begitu manis. “Pa—gi,” jawab Daniella canggung.
Cup! Jonathan mencium sekilas bibir Daniella. “Aku mandi dulu, jangan lupa buatkan aku sarapan.” Setelah berkata, Jonathan langsung meninggalkan Daniella yang terdiam di atas ranjang.
Daniella langsung memukul kepalanya sendiri, merutuki kebodohannya. Seharusnya dia marah karena Jonathan ada di kamarnya terlebih lelaki itu menciumnya tanpa persetujuan. Mengapa dirinya terdiam seperti orang idiot.
Semua amarah Daniella hanya tertahan di dalam hati, entah mengapa dia menuruti kemauan Jonathan. Daniella beralih ke dapur dan memulai aktifitas memasaknya.
Sebelumnya, dia beralih ke ruang tamu untuk menyalakan TV. Membesarkan volume suara agar terdengar hingga ke dapur.
Daniella membuka pintu kulkas, mengambil sekantong daging, dan juga beberapa sayuran. Dia mulai memotong sayur itu sembari mendengar berita di televisi. Gerakan tangannya tiba-tiba terhenti. Dia langsung berlari menuju ke depan televisi.
Daniella membekap mulutnya sendiri setelah melihat berita yang menyatakan Cysara tewas akibat kebakaran semalam.