
Tepat pukul sebelas siang, Daniella mengeratkan genggaman tangannya pada ujung kemejanya. Di depannya berdiri sebuah gedung tinggi dari perusahaan Game terbesar dengan logo tangan memegang api yang berkobar.
Mencoba memenuhi apa yang Evan inginkan, bertanya dengan jelas mengapa Brandon bisa sampai menghancurkan usahanya. Sedikit gugup, tetapi bukan gugup dia berada di gedung yang sangat besar itu. Dia gugup karena apa yang akan dia tanyakan pada Brandon.
Dia masuk melewati pintu putar, disapa oleh security yang berdiri di depan pintu. Daniella tidak memakai ID Card seperti para karyawan lainnya. Sang security tahu bahwa dia bukanlah karyawan dan hanya pengunjung di perusahaan itu.
“Selamat siang, Nona,” sapa sang security.
“Siang, Pak,” jawab Daniella.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya security.
“Saya ingin bertemu dengan seseorang.”
“Anda bisa datang ke meja resepsionis untuk konfirmasi terlebih dahulu dan mendapatkan kartu visitor di sana,” jelas sang security dengan ramah.
“Terima kasih,” ujar Daniella tidak kalah ramah.
Daniella berjalan ke meja resepsionis. Sang resepsionis sudah duduk manis di mejanya. Dia sudah melihat Daniella di dari kejauhan yang sedang berjalan menuju dia duduk.
Sang resepsionis sedikit mengerengitkan dahinya, seorang model papan atas datang ke perusahaan itu. Meskipun hanya menggunakan kemeja yang di masukan ke dalam celana jeans dan membiarkan salah satu ujung kemejanya terjuntai sebelah. Namun, Daniella tampak begitu modis dan tentunya cantik. Tampilannya tampak sempurna dengan kaca mata hitam bertengger di hidungnya.
Siapa yang tidak terpesona dengan keindahan seorang wanita secantik Daniella. Jika pria yang melihat, maka Daniella akan dijadikan sebagai dambaan pria itu, dan jika wanita yang melihat Daniella, maka akan menimbulkan rasa iri.
Ada banyak tamu yang datang ke perusahaan itu, ada begitu banyak model yang digunakan untuk brand ambassador perusahaan mereka. Namun, biasanya yang akan menjadi brand ambasador adalah para gamer dan bukanlah seorang model yang berlenggak lenggok di layar kaca atau pun model pakaian.
Kedatangan Daniella sedikit mengejutkan, karena sang resepsionis tahu, selain para gamers yang menjadi model maka tidak ada model lain yang akan menjadi model brand ambassador. Jika pun ada wanita cantik datang pada perusahaan itu dan dia bukan seorang gamers. Bisa dipastikan wanita cantik itu hanyalah seorang wanita penggoda yang ingin dekat dengan Brandon.
“Aku ingin bertemu dengan Pak Brandon, CEO Glaxy High Corp,” ujar Daniella pada resepsionis.
Sang resepsionis tersenyum, dia sudah menduga perkataan yang keluar dari mulut Daniella. “Apa Nona sudah membuat janji?” tanya sang resepsionis.
“Belum, tapi ada hal penting yang harus kukatakan padanya. Bisakah kau mengatur temuku dengannya?” pinta Daniella.
“Satu bulan ini, jadwal Pak Brandon sudah penuh, saya bisa jadwalkan untuk di bulan depan. Namun, itu pun harus saya tanyakan terlebih dahulu apakah pak Brandon bersedia menemuimu atau tidak,” terang sang resepsionis.
“Sebulan terlalu lama. Tolong kau katakan padanya bahwa aku datang menemuinya. Aku yakin dia bersedia menemuiku.”
Sang resepsionis tersenyum sinis, tetapi dia bisa menutupi senyum sinisnya. Sudah banyak wanita yang dengan nekat memaksa untuk bertemu dengan CEO mereka.
Sang resepsionis tidak mau mengambil resiko. Dulu, pernah ada wanita yang berbohong agar bisa bertemu dengan Brandon dan sang resepsionis memberi izin. Namun, pada kenyataannya Brandon sangat marah akan hal itu.
“Maaf Nona, ini sudah prosedurnya,” terang sang resepsionis dengan menangkupkan kedua tangannya sebagai permohonan maaf.
“Tidak bisakah kau menolongku?” pinta Daniell sekali lagi.
“Maaf Nona, saya tidak bisa.”
Daniella hanya menghembuskan napasnya pelan, dia memutar bola matanya malas.
“Kalau begitu, aku ingin bertemu dengan Jonathan saja,” ucap Daniella.
Jika dia tidak bisa bertemu langsung dengan Brandon, dia bisa membuat alibi untuk bertemu dengan Jonathan. Setelah itu, dia akan menyelinap untuk langsung bertemu dengan Brandon. Dia tahu, Jonathan begitu patuh padanya. Hingga, dia yakin Jonathan akan membantunya bertemu dengan Brandon.
“Jonathan? Divisi mana, Nona?”
“Di tunggu sebentar, saya lakukan pengecekan dulu,” ujar sang resepsionis.
Sang resepsionis menggerakan jemarinya di atas keyboard. Mencari informasi di komputernya. Jika bukan seorang CEO atau pun para direksi yang ingin ditemuinya. Maka, sang resepsionis hanya akan konfirmasi data dari informasi yang diberikan pengunjung, konfirmasi atas nama dan divisi yang terkait. Setelah itu, dia akan melakukan panggilan pada divisi tersebut.
“Maaf Nona, tidak ada nama Jonathan pada tim animator,” jelas sang resepsionis.
“Coba cek ulang. Nama lengkapnya Jonathan Gu,” terang Daniella lagi.
Sang resepsionis melakukan pengecekan ulang seperti yang diminta Daniella. Menambahkan kata ‘Gu’ di belakang nama Jonathan.
“Maaf Nona. Tetap tidak ada nama itu. Coba pastikan lagi siapa yang ingin Anda temui,” tutur sang respsionis.
Daniella mencoba berpikir, apakah nama Jonathan adalah nama kecilnya dan bukan, apakah nama Jonathan bukan nama sesungguhnya? Daniella menggeleng, buku nikah mereka tercantum yang menikah dengannya adalah Jonathan Gu.
“Mungkin datanya belum masuk. Dirinya baru bekerja beberapa hari. Namun, aku tidak berbohong, Jonathan bekerja di sini. Pak Brandon sendiri yang datang ke rumah dan menawarkan pekerjaan pada Jonathan. Jadi, tidak mungkin Jonathan bukan karyawan di sini!” protes Daniella.
Sang resepsionis sedikit terkekeh. “Nona, sekali lagi saya minta maaf. Saya tahu tekat Anda begitu kuat untuk bisa menemui Pak Brandon. Tapi, tolong jangan membuat sebuah bualan dengan bilang Pak Brandon datang untuk menawarkan pekerjaan, yang melamar ke perusahaan ini begitu banyak dan para pelamar bukanlah orang sembarangan. Tidak mungkin menawarkan secara pribadi!” celoteh sang resepsionis panjang lebar.
“Bualan? Kau mau bilang aku berbohong?” tanya Daniella sedikit kencang.
Sang respsionis menyadari kesalahannya. Meskipun dia tidak suka dengan wanita di depannya, tidak seharusnya dia berkata tidak sopan yang seolah menuduh orang lain berbohong. “Saya minta maaf Nona jika perkataan saya menyinggung. Namun, saya tetap tidak bisa membuat janji Anda bertemu dengan Pak Brandon!” Perkataan yang lembut tetapi penuh ketegasan.
“Iya saya tahu, tapi sekarang aku ingin bertemu dengan Jonathan Gu!” hardik Daniella.
“Maaf, tidak ada karyawan dengan nama Jonathan Gu,” ujar sang resepsionis dengan menekankan kata Jonathan Gu.
“Coba kau cek lagi! Aku tidak mungkin salah!” seru Daniella.
“Daniella!” panggil Brandon dari pintu lobby.
Brandon baru selesai kunjungan ke tempat klien. Baru masuk lobby, dia sudah melihat Daniella yang sedang berseteru dengan sang resepsionis.
“Brandon,” panggil Daniella.
Brandon berjalan mendekati Daniella diikuti oleh asistennya di belakang. “Ada apa kau datang ke sini?”
“Aku ingin bertemu denganmu tapi tidak diperbolehkan olehnya,” ucap Daniella sinis seraya menunjuk sang resepsionis dengan dagunya.
Brandon tersenyum. “Jadwalku memang padat, dia hanya menjalankan prosedur saja. Jika kau ingin bertemu denganku kau bisa menghubungiku terlebih dahulu.”
“Kita belum bertukar nomor telepon.”
“Oh iya, kau benar. Kalau begitu, nanti kita tukar nomor telepon.”
Sang resepsionis hanya menundukan kepalanya dan Daniella melihat itu. Dia kembali menoleh pada Brandon. “Aku tahu jadwalmu padat. Jadi, aku tadi minta bertemu saja dengan Jonathan, biar Jo yang mengantarku padamu. Tapi, dia mengatakan bahwa Jonathan bukan karyawan di sini. Malah dia mengatakan aku membual!” dengus Daniella.
“Oh,” ucap Brandon, dia tidak tahu harus berkata apa.
“Tidak seperti itu, Nona. Aku berkata jujur bahwa tidak ada nama Jonathan sebagai karyawan di sini,” bela sang resepsionis.
Daniella mendecak, sang resepsionis masih saja beralasan. “Lihatlah, dia masih berkilah. Jelas-jelas Jonathan bekerja di sini. Benar ‘kan, Brandon?” tanya Daniella pada Brandon merujuk peda persetujuan.
"Ha?" Brandon tidak tahu harus berkata apa.