
“Membosankan! Tidak ada cara baguskah malam ini?” gumam Daniella.
Daniella terus mengganti channel, mengambil keripik kentang dan memasukan ke dalam mulut. Belum menemukan acara televisi yang sesuai, dia masih terus menekan remote tv, hingga akhirnya matanya tertuju dengan breaking news malam.
Terjadi kebakaran di hotel bintang lima, Hotel Amarisakti menjadi terang benderang karena kobaran api. Belum jelas berapa korban dari insiden kebakaran. Tim pemadam kebakaran masih berusaha memadamkan api ....
Daniella melebarkan matanya, tidak disangka dirinya beruntung karena telah pergi dari hotel itu. Teringat akan Jonathan yang belum pulang, dia mencari nomor telepon Jonathan di ponselnya. Khawatir Jonathan masih di sekitar situ.
Belum menekan tombol hijau, ponselnya sudah berdering. “Hallo.”
“Apa kau sudah melihat berita?” tanya Prisil di seberang telepon.
“Ya, aku sedang berada di depan televisi.”
“Bagaimana ini bisa terjadi?”
“Mana aku tahu! Aku pun terkejut mendengar kabar ini,” jelas Daniella.
“Apa ini sebuah sabotase?”
“Ish, memangnya aku polisi mengetahui motif dan penyebabnya!” kesal Daniella. “Sudah dulu, aku mau telepon Jonathan, dia belum pulang," sambungnya.
“Bukankah kau bilang tadi pulang dengannya?”
“Ya, dia memang datang ke sana, hanya saja dia masih ada urusan. Jadi, aku pulang diantar sopir.”
Prisil diam sejenak. “Kau bilang Cysara mengganggumu. Apa ada Jonathan saat dia mengganggumu?”
“Ya, aku dipermalukan oleh Cysara. Beruntung Jonathan datang tepat waktu,” ujar Daniella sedikit tersipu.
Apa orang-orang yang mencelakai Daniella langsung mendapatkan karma? Gumam Prisil.
Hening!
“Hallo, Prisil, kenapa diam?” tanya Daniella.
“Hubungi Jonathan, takutnya dia masih di sekitar sana.”
“Ya, aku tutup teleponnya ya.”
Daniella menutup teleponnya dan mencari nomor telepon Jonathan kembali. Pada panggilan pertama tidak ada jawaban. Daniella mencoba menghubungi Jonathan hingga tiga kali dan akhirnya Jonathan mengangkat sambungan teleponnya.
“Jo, di mana dirimu?”
“Aku masih di kantor.”
Daniella mengembuskan napasnya pelan, bersyukur Jonathan sudah pergi dari hotel. “Apa kau tahu hotel Amarisakti terjadi kebakaran?”
“Tidak,” jawab Jonathan datar. Tangan kanannya memegang ponsel, satu tangan lainnya memegang erat sebuah tali.
“Cepat pulang, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Akhir-akhir ini aku merasa beruntung karena terhindar dari bahaya.”
“Apa kau mengkhawatirkanku?” Jonathan mengedipkan matanya, berharap kata ‘Ya’ keluar dari mulut Daniella.
“Em, bisa dikatakan seperti itu,” jawab Daniella.
Ah, sakit ….
“Suara siapa itu?” tanya Daniella. Dia seperti mendengar lirih suara seorang wanita yang menahan sesuatu. Namun, tidak mendengar apa yang diucapkan oleh wanita itu.
“Tidak ada.”
“Aku tadi mendengar suara seorang wanita, seperti suara keputusasaan.”
“Mungkin kau salah dengar.”
“Tidak Jo, aku dengar dengan jelas.”
“Apa kau mau video call denganku? Agar memastikan bahwa aku tidak berselingkuh,” ujar Jonathan tenang.
“Benarkah?”
“Tentu. Kita bukan pasangan sesungguhnya, aku tidak akan menghalangi kedekatanmu dengan wanita lain,” dengus Daniella.
Perkataan lantang yang keluar dari mulut Daniella tidak selaras dengan hatinya. Ciuman di halte hadir kembali, ciuman yang tidak mungkin Daniella lupakan.
“Baiklah, terima kasih atas pengertianmu,” ujar Jonathan datar.
Dia mencubit pipi wanita di depannya, tatapan wanita itu begitu menyedihkan. Ingin sekali kembali ke masa lalu. Merutuki dirinya sendiri, seharusnya dia tidak mengusik siapa pun. Kini, hanya sebuah penyesalan yang dia rasakan.
‘Terima kasih!’ batin Daniella heran mengapa Jonathan mengatakan terima kasih.
“Hahaha, jangan sungkan. Nikmati harimu,” ujar Daniella asal.
“Baik, aku masih ada urusan. Kau tidurlah, tidak usah menungguku.”
“Oh, kamu masih lama?”
“Ya, mungkin. Aku akan menikmati hariku.”
“Oh, ya sudah. Aku tutup teleponnya ya.”
“Ya.”
Daniella langsung melempar bantal sofa ke lantai. “Dasar laki-laki! Kemarin habis menciumku dan sekarang dia bilang ingin menikmati harinya! Pasti dia sedang bersama seorang wanita. Wajah doang polos!” gerutu Daniella.
Dia menghentakkan kakinya keras menuju lantai dua. Memutuskan untuk tidur dan melupakan yang telah terjadi hari ini. Daniella tidur telungkup, menutup kepalanya dengan bantal, mencoba mengusir bayangan Jonathan dari kepalanya.
Domba satu masuk ke kandang.
Domba dua masuk ke kandang.
Domba tiga masuk ke kandang.
Jo empat masuk ke kandang.
Jo lima masuk ke kandang.
Jo enam masuk ke kandang.
Daniella menghitung domba yang masuk ke kandang, hingga kata domba berganti menjadi ‘Jo’ nama panggilan Jonathan darinya.
Jo seratus masuk ke kandang.
Jo seratus satu masuk ke ….
Daniella tertidur karena lelah menghitung.
Malam kian larut. Namun, ada saja manusia yang masih beraktivitas di malam hati. Berjalan di dekat taman melewati pohon-pohon tinggi, dan juga ada yang rendah, dihiasi oleh bunga-bunga yang indah. Sudah waktunya sebagian makhluk hidup beristirahat. Begitu pula dengan tumbuhan. Sudah saatnya mereka respirasi setelah pagi hari menghasilkan Oksigen dan memberi kesegaran pada makhluk lainnya. Kini, saatnya sang tumbuhan mengeluarkan Karbondioksida.
Daniella terbangun di tengah malam, makan keripik kentang tanpa minum membuat dirinya haus di malam hari. Dia mengerjapkan matanya, posisi tidurnya salah, mendapati tangan kirinya ditindih oleh tubuhnya sendiri.
Mencoba untuk meluruskannya, dia meringis karena rasa sakit itu. Mendongakkan kepalanya. Jam dinding sudah menunjukan pukul tiga malam. Namun, karena rasa haus yang mendera memaksa Daniella untuk bangkit dari tidurnya.
Dengan menahan rasa kantuk, Daniella keluar kamar, melewati kamar Jonathan, hatinya tergerak untuk mendekati kamar suaminya. Dia mengetuk pintu kamar Jonathan.
“Jo, apa kau sudah pulang?”
Tidak ada sahutan dari dalam kamar, Daniella mendorong handle pintu. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Alhasil, tidak ada orang di dalam kamar itu.
Daniella keluar lagi, mengangkat bahunya. Bersikap tidak peduli dengan ketidakhadiran Jonathan. Dia melanjutkan langkah kakinya menuju dapur. Membuka pintu kulkas, menuang mineral water ke dalam gelas tanpa menutup pintu kulkas, lalu menghabiskan air dalam gelas. Matanya tidak sengaja tertuju pada deretan minuman probiotik yang berjejer dalam kulkas. Minuman kesukaan Jonathan.
Daniella tersenyum, mengingat kelakukan Jonathan yang mengejar botol plastik bekas itu. Senyum Daniella pudar saat dia mendengar suara dari taman belakang, posisi taman persis di belakang dapur. Derap langkah kaki terdengar samar, langkah kaki khas orang berjalan di semak-semak. Daniella sangat yakin suara tersebut bukan dari binatang. Langkah kaki yang stabil.
Jantung Daniella berdegup kencang, dia mengambil panci yang menurutnya enak digenggam dan kuat. Dia mencoba untuk melihat dari balik jendela, membuka sedikit gorden agar matanya bisa melihat ke luar. Dia yakin ada pergerakan seseorang dari taman belakang.
Tidak ada orang, Daniella mencoba membuka pintu dapur secara perlahan, dia mengumpulkan segenap keberaniannya. Baru satu langkah, pundaknya sudah ada yang menepuk.