My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 44 Mama



Flashback


"Argh! Hentikan Josh!" teriak Nathalie.


Joshua bukan melepas jambakan pada wanita itu. Dia malah menarik lebih keras. Menyeret wanita itu dari lantai dua menuruni tangga menuju lantai satu.


"Ini akibat kau berselingkuh dariku!" hardik Joshua. Dia mendorong Nathalie hingga terjatuh.


"Aku tidak pernah berselingkuh! Kau sudah gila Josh!" bela Nathalie. Dia bangkit dari lantai dan mencoba berdiri dengan tegak.


Plak! Sebuah tamparan mendarat tepat di wajah cantik Nathalie.


"Kau masih saja berkilah, semua sudah banyak buktinya!" ujar Joshua penuh emosi.


"Kau gila, Josh! Aku tidak tahan tinggal denganmu! Aku akan pergi dari sini bersama Jonathan!" teriak Nathalie.


"Kalau kau ingin pergi dari sini. Jangan pernah membawa Jonathan. Pergilah seorang diri!"


"Dia anakku! Aku akan membawanya."


"Dia juga anakku! Kau tidak berhak membawanya. Kau harus ingat bahwa kau adalah seorang imigran gelap! Kau tidak bisa membawa Jonathan bersamamu! Terlebih lagi, kau tidak memiliki apapun untuk menghidupinya!" ancam Joshua.


Nathalie hanya bisa menatap nanar suaminya. Seorang pria tampan yang dicintainya. Namun, kecemburuan telah membutakan pria itu. Bahkan kecemburuan yang tidak beralasan.


Nathalie tidak pernah berselingkuh, memiliki teman pria pun tak punya. Hanya karena dia tertawa dengan tukang reparasi mesin cuci, dirinya dianggap telah berselingkuh. Suaminya seperti orang gila yang selalu menganggapnya berselingkuh. Tidak hanya menudingnya berselingkuh. Pria itu pun ringan tangan, dia tidak segan memukul istrinya bahkan mengurung istrinya sendiri.


Nathalie pun yakin, kecelakaan tukang reparasi mesin cuci itu akibat ulah suaminya. Joshua sendiri yang bilang padanya akan membuat perhitungan pada lelaki itu.


Nathalie bimbang harus meninggalkan Jonathan atau tidak. Pikiran utamanya adalah keluar dari rumah itu. Dia harus pergi secepatnya. Setelah itu baru memikirkan cara untuk membawa Jonathan bersamanya.


Nathalie melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah. Dia tidak peduli lagi dengan Joshua.


Namun, baru akan meraih handle pintu, terdengar suara anak lelakinya.


"Aku pulang," ucap Jonathan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang tamu.


Dia menatap ibunya yang dalam keadaan kacau. Rambutnya berantakan, disudut bibirnya terdapat sedikit darah. "Mama mau ke mana?" terlontar pertanyaan dari mulut Jonathan.


"Mama akan pergi dari sini. Jaga dirimu, J." Nathalie melangkahkan kaki untuk pergi.


Jonathan langsung berhambur ke arah ibunya. Dia langsung memeluk kaki sang ibu. "Ma, jangan pergi. Aku akan patuh. Aku akan patuh."


Jonathan bersimpuh, takut ibunya meninggalkannya. Jonathan anak yang patuh. Namun, dia memiliki kebiasaan yang membuat Nathalie khawatir. Anaknya sering membunuh hewan peliharaan para tetangga.


"Maaf, Jo. Mama harus pergi." Nathalie melepas tangan Jonathan yang memeluknya.


Jonathan hanya menatap kepergian ibunya. Tidak jarang dia mendengar percekcokan kedua orang tuanya. Namun, tidak sampai membuat ibunya pergi.


Hari-hari Jonathan begitu hampa. Hidup yang sudah hambar ditambah kelam dengan kepergian ibunya. Dua minggu berlalu, selama itu dia hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Tinggal satu atap tapi tidak berkomunikasi.


Saat senja menyapa, mata Jonathan menangkap seekor kucing yang masuk ke dalam halaman rumahnya. Dia mengikuti kucing tersebut, masuk ke dalam halaman belakang.


Jonathan membuka pintu gudang yang ada di sana. Tatapan matanya tidak bisa diartikan. Di dalam gudang tersebut tergeletak ibunya yang telah pergi selama dua minggu dengan rantai yang mengikat di kaki dan tangannya.


"Jo, pergilah," lirih Nathalie.


"Jangan dibuka jika tidak ingin mamamu pergi!" Suara Joshua menggema di dalam gudang tersebut.


Jonathan menoleh menatap ayahnya. "Mama terlihat kesakitan," ujar Jonathan.


"Dia tidak sakit. Kalau kau menyayanginya, kau harus menjaganya. Jangan biarkan dia pergi," ucap Joshua.


Jonathan menatap ibunya kembali yang sudah tergeletak lemah. "Tidur di lantai tidak akan nyaman. Mama harus tidur di kasur," terang Jonathan, dia mendekati ibunya dan membuka rantai di kaki sang ibu.


"Menyingkir, Nathan! Pergilah ke kamarmu!" titah Joshua.


Nathalie dan Joshua memiliki nama panggilan yang berbeda untuk Jonathan. Nama Jonathan adalah singkatan dari nama keduanya, Joshua dan Nathalie.


Nathalie akan memanggil Jonathan dengan panggilan Jojo. Sedangkan Joshua akan memanggil dengan nama Nathan.


Jonathan tidak menggubris ayahnya. Dia tetap membuka rantai di kaki dan tangan ibunya. Diangkatnya kepala Nathalie, mengusap rambut yang berantakan di wajah sang ibu.


Joshua melihat itu naik pitam. "Menyingkir lah!" Joshua mendorong Jonathan hingga terjatuh.


Dia langsung menarik rambut Nathalie. "Kau tidak bisa menyentuh wanita ini. Hanya aku aku yang boleh menyentuhnya!" tutur Joshua. Dalam benaknya, Nathalie hanya miliknya, hanya dia yang boleh menyentuh wanita itu. Siapa pun tak boleh sedikitpun menyentuh Nathalie, termasuk Jonathan, anaknya sendiri.


Joshua menangkup kedua pipi Nathalie. "Cantik, sangat cantik." Joshua mencium bibir Nathalie. Bukan, lebih tepatnya menggigit dengan keras.


Nathalie memberontak. Namun, tenaganya sudah habis. Darah bercecer dari bibir wanita cantik itu. Tangan Nathalie bergetar, merasakan sakit yang teramat.


Jonathan langsung menghampiri ibunya yang mulai melemah. Dia menggigit lengan ayahnya yang masih menggigit bibir ibunya.


Joshua merasakan sakit di tangannya. Seketika dia melepas gigitannya pada bibir Nathalie. Joshua mengambil piring beling, piring yang digunakan untuk alat makan Nathalie. Lalu, dengan keras memukulkan piring itu ke kepala Jonathan.


Jonathan seorang anak remaja berperawakan kecil tersungkur. Darah mengalir dari kepalanya. Joshua menghampiri dan memukul Jonathan membabi buta.


Nathalie yang melihat anaknya terkulai lemah, mengumpulkan kekuatannya. Dia mengambil sebuah martil dan memukulkan ke kepala Joshua. Namun, karena tenaganya habis, pukulan itu tidak keras.


Joshua berhenti memukul Jonathan, dia beralih pada Nathalie. Dia menampar wanita itu hingga tersungkur. Nathalie lemah tak berdaya, dia hanya bisa terbaring. Bahkan untuk sekadar berteriak pun tak sanggup.


"Kau harus di hukum! Akan kubuat kau tidak bisa pergi dariku. Kau tidak akan pernah bisa kabur," ujar Joshua dengan tatapan yang tidak fokus.


Dia beralih ke pojok ruangan. Terdapat gergaji mesin. Joshua mengambil gergaji tersebut.


Nathalie hanya melihat gerak gerik suaminya, tubuhnya lemah. Namun, matanya memancarkan ketakutan.


"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Nathalie bergetar.


"Aku akan membuatmu tidak bisa berjalan. Tidak punya kaki akan membuatmu selalu di sisiku."


Joshua berjalan semakin dekat, Nathalie hanya bisa meneteskan air mata dalam diam, pasrah atas apa yang akan terjadi pada dirinya. Tubuhnya bagaikan tertabrak truk, luka yang dialaminya belum sembuh. Namun, sudah bertambah luka baru lagi. Luka dalam dan juga luka luar.


Nathalie menutup matanya, tidak ingin melihat hal mengerikan terjadi. Namun, suara dari gergaji mesin semakin menjauh. Nathalie membuka matanya, dia melihat gergaji mesin yang menyala. Namun, tergeletak di bawah.


Menolehkan kepalanya, membuat dirinya melebarkan matanya. Air mata semakin deras mengalir dari sudut matanya. Anak yang dicintainya, sedang duduk di atas ayahnya yang terbaring lemah. Bukan hanya menindihnya. Di tangan Jonathan terdapat sebuah pisau.


Gerakan Jonathan stabil, menusuk dan menariknya. Suara dari daging yang tertusuk begitu jelas terdengar di telinga Nathalie.