My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 14 Suami Peliharaan



Daniella berdiri di dalam ruang rias, lampu gantung itu sudah berubah menjadi kepingan kaca yang menyebar di lantai. Dia mendongakkan kepala, melihat langit-langit ruangan itu, hanya tinggal kabel yang bergelantungan. Dia sempat menatap lampu gantung berbentuk kelopak bunga sebelum dirinya dirias.


"Bagaimana bisa lampu gantung itu bisa ambruk?" lirih Daniella.


"Ayo kita pulang," ajak Prisil.


"Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa lampu gantung itu bisa jatuh?" tanya Daniella.


"Sudah, jangan dipikirkan, aku prihatin Cysara mengalami kecelakaan. Tapi ... aku juga senang melihatnya menderita!" dengus Prisil. Cysara terkenal suka membuat onar.


Daniella tidak menanggapi ucapan Prisil, dia hanya sedang berpikir, ada keganjalan dalam jatuhnya lampu gantung itu. Daniella yakin, lampu tersebut sangat kokoh. Mengapa bisa jatuh tepat menimpa tubuh Cysara.


Cysara sudah dilarikan ke rumah sakit, entah bagaimana kedaannya sekarang. Lampu gantung yang tepat berada di atas Cysara jatuh, pecahan lampu berhamburan. Daniella tidak bisa membayangkan jika pecahan-pecahan kaca itu merusak wajah seorang model.


Pemotretan seketika dihentikan, Daniella ditarik oleh Prisil untuk meninggalkan lokasi.


“Jo, ayo kita pulang!” seru Prisil saat melihat Jonathan di luar masih menikmati minumannya.


Jonathan membuang bekas minuman fermentasi berprobiotik ke dalam tong sampah. Dia Sudah menghabiskan 5 botol. Minuman yang dikemas dalam botol plastik mungil berukuran 65 ml. Dari 5 botol kosong yang di masukan ke dalam tong sampah, satu botol jatuh dan menggelinding terbawa angin.


Jonathan mengejar botol plastik itu, mengikuti arah botol berhenti. Daniella dan Prisil hanya melihat tingkah laku Jonathan. Angin cukup kencang, botol plastik semakin menjauh, dengan lambat Jonathan mengejar botol tersebut.


Daniella berjalan setengah berlari, dia langsung mengambil botol plastik tersebut dan membuangnya ke tong sampah. “Sudah kubuang, ayo kita pulang,” ujarnya.


“Baik,” jawab Jonathan.


“Apa enak minumannya?” tanya Daniella. Jonathan sampai menghabiskan lima botol minuman itu.


“Ya.”


“Kemana saja kau selama berada di sini?” tanya Daniella tanpa menghentikan langkahnya. Mereka menuju ke mobil.


“Tidak kemana-mana,” jawab Jonathan.


“Setelah aku keluar dari ruang rias dan menuju ke lokasi pemotretan. Aku tidak melihatmu di lokasi pemotretan. Kemana dirimu?”


Daniella merasa ada yang aneh dengan Jonathan dan juga kecelakaan pada Cysara. Entah mengapa hatinya tidak tenang.


“Ke toilet dan mengambil minuman.”


“Itu saja?”


“Ya,” jawab Jonathan datar.


Mereka masuk ke dalam mobil. “Apa aku masih ada jadwal pemotretan?” tanya Daniella pada Prisil.


“Hanya satu ini, aku sengaja mengurangi jadwal kerjamu, menunggu skandal perselingkuhanmu dengan Evan mereda, akan ada jadwal pemotretan tiga hari lagi Tapi, kau ada undangan pesta ulang tahun besok malam yang tidak bisa kau tolak.”


“Pesta apa?”


“Produser Matt Forse pendiri MF Entertainment dan kau harus datang, dia mengadakan pesta ulang tahun.”


Daniella hanya menghembuskan napasnya pelan. “Ya, baiklah.”


Matt Forse adalah produser terkenal, Daniella pernah beberapa kali bekerja sama dengan produser itu. Selain model, Daniella terkadang diminta menjadi special appearance di beberapa film keluaran MF Entertainment.


Banyak tawaran pada Daniella untuk merambah ke dunia akting. Namun, Daniella belum tertarik masuk ke dalam dunia akting. Dia ingin fokus pada dunia permodelan.


Mobil terus melaju ke arah rumah mereka. Seperti biasa, Jonathan hanya duduk manis di kursinya. Hari masih siang, masih banyak orang lain lain yang masih disibukan dengan pekerjaan. Namun, tidak dengan tiga orang di dalam mobil. Setelah Daniella selesai pemotretan mereka menghabiskan waktu di rumah milik Jonathan.


“Jo, jangan lupa tutup pintu gerbang,” kata Daniella.


Jonathan tanpa menjawab langsung menuju pintu gerbang dan menutup pintu besi itu.


“Sampai kapan kau mau tinggal di rumah ini?” tanya Prisil, dia sembari melempar tubuhnya ke sofa empuk di ruang tamu.


“Tidak tahu, aku hanya merasa rumah ini nyaman,” jawab Daniella ikut duduk samping Prisil.


“Nyaman dengan rumahnya atau nyaman dengan suamimu?”


“Jangan sembarangan bicara! Tentu saja dengan rumahnya,” dengus Daniella.


“Tampaknya kau sangat akur dengan Jonathan.”


“Entahlah, Jonathan sangat patuh padaku, aku tidak tega padanya, terkadang dia tampak begitu memelas.”


“Apa kau tidak merasa dia sedikit aneh?”


“Bukan merasa! Tapi emang iya!”


“Aku rasa kepalanya pernah terbentur yang mengakibatkan otaknya sedikit lambat.”


“Tapi, kau harus ingat dia itu karyawan Galaxy High corp,” ujar Daniella mengingatkan. Butuh penyeleksian ketat untuk bisa menjadi karyawan perusahaan besar itu. Jonathan bisa bergabung dengan jalur khusus, pastinya memiliki otak yang encer dalam pembuatan game.


“Ya, mungkin dia termasuk orang jenius dengan tipe orang aneh," kekeh Prisil.


Belum Daniella menimpali ucapan dari Prisil. Jonathan sudah masuk ke dalam rumah. Dia langsung duduk di samping Daniella. Dia menatap Daniella. “Ini sudah siang dan sudah masuk jam makan siang,” ujar Jonathan.


“Apa kau sudah lapar?” tanya Daniella.


“Kalau begitu aku masak dulu.”


“Aku ke kamar dulu, ganti baju dan cuci kaki,” ucap Jonathan datar seraya pergi meninggalkan ruang tamu.


Prisil hanya memperhatikan interaksi pasangan suami istri itu dengan mengerutkan dahinya. “Kau seperti seorang ibu yang sedang mengasuh bayi besar,” dengus Prisil.


“Aku hanya tidak tega melihatnya kelaparan, wajahnya sangat imut saat memelas,” ujar Daniella gemas.


“Terserahlah, urus saja suami peliharaanmu itu selama tidak bekerja, sepertinya kau cocok jadi ibu teladan.”


“Ish, kau ini!”


Huft! Prisil menghela napas. “Baiklah, aku pergi dulu. Besok aku ke sini lagi untuk mengantarmu ke pesta Matt Forse.” Prisil meletakan sebuah tas ke atas meja. “Ini barang-barangmu. Tidak ada yang kusita.” Setelah berkata Prisil pergi meninggalkan rumah Daniella.


Daniella menuju dapur dan langsung memasak. Dia dan Jonathan menghabiskan makanannya. Ponsel Daniella berbunyi setelah mereka selesai makan siang.


“Jo, kau cuci piringnya. Aku mau angkat telepon dulu.”


“Ya.”


Daniella ragu mengangkat panggilan telepon dari mantan kekasihnya, pada akhirnya dia menyerah dan mengangkat panggilan itu.


“Hallo.”


“Daniella. Kau harus menjelaskan padaku apa yang terjadi?”


“Menjelaskan apa?”


“Kau berselingkuh dariku!”


“Aku tidak pernah berselingkuh darimu! Kaulah yang membuangku!”


“Aku tidak membuangmu, aku hanya menjaga keselamatan kita. Kau tidak tahu bagaimana kejamnya Veronika dan malah menuduhku! Kau sendiri bagaimana? Kau menghabiskan malam bersama pria asing!”


“Tidak seperti yang kau pikirkan! Aku dan Jonathan tidak terjadi apapun! Pernikahan kami pun untuk menutup perseling … untuk menutup hubungan kita!” cerocos Daniella. Dia bukan selingkuhan Evan, Veronikalah yang masuk ke dalam hubungan mereka.


“Jadi, kau hanya menikah kontrak dengan pria itu?” tanya Evan dengan senyum mengembang. Dia tahu kekasihnya tidak mungkin berbohong.


“Seperti itulah,” ujar Daniella menjentikan jari tangannya.


“Nanti malam, aku akan datang ke apartemenmu.”


“Apa?”


“Apa kurang jelas? Ayo kita bertemu.”


“Em.” Daniella bimbang, apa dia harus menyetujui permintaan Evan atau menolaknya. Dirinya memang masih mencintai pria itu, Evanlah cinta pertamanya.


“Aku mencintaimu,” ujar Evan parau.


“Evan aku ….”


“Aku tahu kau masih mencintaiku," potong Evan sebelum Daniella menolaknya.


“Tapi, aku tidak mau menjadi bulan-bulanan netizen yang mencap diriku sebagai pelakor. Jika kau mencintaiku, kau harus menceraikan Veronika!”


“Tunggulah sebentar lagi, aku janji akan menjadikanmu istriku.”


“Kau akan menikahiku?” tanya Daniella tersipu malu.


“Ya,” jawab Evan menyeringai jahat. Dia tidak mungkin menikahi Daniella dan meninggalkan Veronika, tambang emasnya. Namun, dia juga tidak akan melepas wanita secantik Daniella. Wanita polos yang mudah percaya akan kata cintanya.


“Aku pun masih mencintaimu, Evan.”


Seorang wanita yang mengagungkan cinta, berharap dirinya bisa bersama dengan Evan.


“Aku merindukanmu, kita bertemu malam ini ya? Aku akan datang ke apartemenmu.”


Daniella berpikir sejenak, kesempatan bersama Evan sangat jarang. Biasanya, dirinya akan disibukkan dengan pekerjaan. Namun, kali ini Prisil mengurangi pekerjaannya.


“Baiklah, tapi aku tidak ada di apartemenku.”


“Bagaimana kalau kita bertemu di apartemen Clasias,” usul Evan, apartemen milik Evan saat masih kuliah, apartemen yang sudah lama tidak ditempati.


“Baiklah.”


“Aku tunggu jam tujuh malam, Sayang.”


Wajah Daniella bersemu saat mendengar Evan memanggilnya sayang. “Baik, aku akan datang.”


Daniella menutup ponselnya, hatinya mulai berbunga kembali. Dia telah melupakan bagaimana Evan telah meninggalkanya kala itu. Hatinya telah dibutakan oleh cinta.


Daniella berbalik, hendak kembali ke kamarnya untuk bersiap menemui Evan. Namun, saat dirinya berbalik, dia dikejutkan dengan Jonathan yang berdiri tepat di depan matanya.


“Jo ….”