
Jonathan dan Daniella bersiap pergi ke super market. Daniella menggunakan kaos hitam. Menggerai rambutnya hingga menutupi pipinya. Topi hitam menghiasi kepalanya, dengan posisi topi menutupi mata. Tidak lupa menggunakan kaca mata hitam dan juga masker yang menutupi sebagian wajahnya.
“Kau mau kemana menggunakan itu?” tanya Jonathan heran melihat Daniella.
“Tentu saja ke super market! Aku model terkenal, semua orang sedang membicarakanku, tidak mungkin aku keluar sembarangan!” jawab Daniella bangga.
“Tidak perlu seperti itu.” Jonathan menarik kaca mata yang digunakan Daniella. “Seperti ini saja,” lanjutnya.
“Tapi ….”
Jonathan langsung menarik tangan Daniella dan membawanya keluar rumah.
“Sopir perusahaanmu masih belum pulang?” tanya Daniella saat melihat mobil Jonathan masih terparkir.
“Ya, tengah malam baru pulang.”
“Bos-mu baik sekali, belum juga bekerja sudah mendapat fasilitas mobil sekaligus sopir,” puji Daniella.
Jonathan tidak menimpali ucapan Daniella. Mereka masuk ke dalam mobil. Sang sopir menjalankan mobilnya. Tidak ada pembicaraan antara Daniella dan Jonathan.
Mereka diam duduk di bangku belakang. Tidak ada ponsel membuat Daniella bosan, melirik ke samping dan melihat Jonathan yang duduk dengan manis. Posisi kedua tangan bertumpu pada paha, pandangan ke depan. Nampak seperti anak taman kanak-kanak dengan sikap rapi manis.
“Jonathan,” panggil Daniella.
Jonathan menoleh saat Daniella memanggilnya. “Ya.”
“Boleh aku pinjam ponselmu?” pinta Daniella.
Dia tahu Jonathan mendapatkan fasilitas ponsel dari perusahaannya. Daniella berniat meminjamnya untuk mengisi kebosanan. Ponselnya diambil kembali oleh Prisil.
Sahabat sekaligus managernya sangat mengkhawatirkan dirinya jika mendengar umpatan para netizen.
“Aku tidak bawa,” jawab Jonathan datar.
“Jangan bercanda. Pinjami aku ponselmu!”
“Aku tinggal di rumah.”
“Bohong!” Daniella menjulurkan kedua tangannya dan mulai menggerayang Jonathan.
“Kamu mau apa?”
“Aku sedang mengecekmu sedang berbohong padaku atau tidak!” Daniella terus melancarkan aksinya.
Dia terus mencari ponsel di tubuh Jonathan. Tidak menemukan di bagian atas, Daniella beralih ke celana yang digunakan Jonathan. Merogoh kantung celana Jonathan. Selama itu juga, tanpa sadar Jonathan menelan salivanya sendiri, yang sukses membuat jakunnya bergerak naik dan turun.
Daniella menghempaskan tubuhnya sendiri, menyandarkan tubuh pada kursi. Jonathan tidak berbohong padanya, dia tidak menemukan ponsel. Sedangkan Jonathan hanya bisa mengatur napasnya pelan agar stabil.
Mereka tiba di tempat tujuan, bukan supermarket yang berada di mall. Mereka datang khusus ke tempat supermarket. Supermarket terbesar di kota tersebut.
“Kenapa ke sini?” tanya Daniella.
“Bukankah kita mau belanja?” tanya balik Jonathan.
“Aku tahu, tapi jangan yang terlalu besar seperti ini. Kita ke supermarket yang agak sepi saja!”
Ketempat ramai akan memperbesar kemungkinan orang lain mengenalnya, Daniella akan meminimalisir hal buruk terjadi.
“Ini juga sepi.”
“Omong kosong! Tidak mungkin supermarket terbesar sepi pelanggan. Kita cari tempat lain saja!” Daniella berbalik, tetapi tangannya ditarik oleh Jonathan.
“Hei …,” teriak Daniella.
“Di sini saja,” ujar Jonathan.
Daniella memprotes, akan tetapi Jonathan seakan tidak peduli. Dia tetap menarik tangan Daniella hingga sampai ke pintu utama supermarket tersebut. Daniella menunduk untuk menutupi wajahnya, menyembunyikan dari halayak orang banyak.
Suara transaksi jual beli tidak terdengar, begitu pula dengan suara orang yang berbicara tidak ada sama sekali. Daniella merasa ada yang aneh, perlahan dia mendongakan kepalanya. Langkah kakinya seketika terhenti.
“Tempat apa ini?” tanya Daniella bingung.
“Kau tidak pernah ke supermarket?” tanya balik Jonathan.
“Bukan itu maksudku! Kenapa sepi sekali?”
“Ini tanggal tua, mungkin belum pada gajian.”
“Tidak mungkin! Ini supermarket terbesar, tidak mungkin tidak ada pengunjung!”
“Aku tidak tahu.”
Daniella merasa ada yang aneh, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.
“Ayo kita pergi saja. Aku takut ini tempat berhantu!” seru Daniella sembari melihat ke sekeliling.
Jonathan menyatukan alisnya, melihat kelakuan Daniella. Dia mengahmpiri istrinya dan mendekatkan wajah mereka. “Mereka bukan hantu,” ujar Jonathan datar.
“Ah! Kau mengagetkanku saja!” Daniella melirik sekilas pada para karyawan supermarket.
Terlalu hening, membuat suara percakapan Daniella dan Jonathan terdengar jelas menggema di area tersebut.
Jonathan tidak menghiraukan Daniella, dia berjalan mendahului istrinya. Menarik asal troli belanja dan mulai mendorongnya.
Daniella langsung mengikuti Jonathan, dia tidak ingin ditinggal sendirian. Tanpa sadar, Daniella menggenggam lengan Jonathan seolah takut pria tersebut akan hilang.
Jonathan memasukan barang-barang yang ia mau. Semuanya bahan makanan dan lebih banyak sncak yang dia ambil.
“Kenapa mengambil banyak makanan ringan?” tanya Daniella.
“Aku suka,” jawab Jonathan singkat.
Daniella menarik tangan Jonathan ke bagian bahan makanan mentah. “Kita harus stok bahan makanan. Jangan terlalu banyak makan makanan instan.”
Daniella mulai mengambil bahan-bahan masakan. Mulai dari daging-dagingan, sayuran hingga bumbu-bumbu yang diperlukan. Tanpa sadar sudut bibir Jonathan tersenyum simpul. Kemana Daniella pergi, maka Jonathan akan mengikutinya.
Troli belanja mereka sudah penuh, Daniella yang akan membayar semua belanjaan mereka. Satu hal aneh lagi, mereka mendapatkan reward karena menjadi pelanggan pertama hingga semua barang belanjaan mereka gratis.
Mereka kembali ke rumah. Jonathan membawa semua barang ke dapur. Daniella membongkar barang belanjaan mereka. Memindahkan satu persatu ke atas meja dapur, dia bertolak pinggang menatap semua bahan makanan tersebut.
Jonathan mengambil satu bungkus snack kentang dan membukanya. Dia hendak memasukan keripik kentang tersebut ke mulutnya. Namun, dihentikan oleh Daniella.
“Hentikan!” titah Daniella.
“Ada apa?” tindakan Jonathan terhenti saat Daniella memerintah.
“Kita tunggu sebentar. Aku takut bahan makanan ini berubah menjadi cacing atau belatung.”
“Aku sudah memeriksa tanggal expired-nya.”
“Bukan itu! Apa kau tidak merasa aneh? Super market itu sepi, hanya kita pengunjungnya. Terlebih lagi dengan gratisnya semua belanjaan kita. Aku pikir, itu super market hantu. Aku takut semua bahan belanjaan kita tiba-tiba berubah menjadi belatung atau pun cacing!” seru Daniella.
Kres!
Jonathan langsung memakan keripik kentangnya tanpa mempedulikan ocehan Daniella lagi. Dia duduk di meja bar dapur.
“Aku lapar," ujar Jonathan.
Daniella hanya mendecak melihat kelakuan Jonathan, dia langsung mengambil beberapa bahan masakan dan mulai memasak.
Hanya dua jenis makanan yang dia masak. Satu dari olahan daging dan satu dari olahan sayur. Tidak lupa memasak nasi sebelum memasak lauk pauk.
“Makanlah.” Daniella menghidangkan hasil masakannya di meja makan.
Daniella dan Jonathan menikmati makanan di depan mereka. Jonathan sangat lahab menghabiskan semua makanan di atas meja.
“Pelan-pelan, tidak ada yang mengambil makananmu,” terang Daniella yang melihat Jonathan makan terlalu terburu-buru seolah ada yang mengejarnya.
“Enak,” puji Jonathan.
“Iya aku tahu. Makanlah yang banyak tapi jangan kunyah terlalu cepat, nanti perutmu sakit.”
“Ya.”
Daniella mengambil minum untuk Jonathan. “Minumlah.”
Jonathan langsung meminum hingga habis air yang diberikan oleh Daniella lalu melanjutkan makannya.
Melihat napsu makan Jonathan yang tinggi membuat Daniella tidak tega memakan banyak makanan yang dia masak. Dia membiarkan Jonathan yang mengabiskan masakannya.
Wajah polos Jonathan membuat gemas Daniella, belum lagi dengan rambut ikalnya yang sedikit panjang. Tatapannya beralih ke bibir Jonathan. Saus sambal menghiasi sekitar mulut Jonathan.
Tidak ada tisu di meja makan tersebut. Daniella mengulurkan tangannya, dengan ibu jarinya membersihkan sisa makanan di sudut bibir Jonathan.
Jarak mereka dekat, kebetulan mereka makan bersebelahan. Jonathan menoleh ke arah Daniella.
“Ada sisa makanan di bibirmu,” jelas Daniella.
“Apa sudah bersih?” tanya Jonathan.
Daniella menelisik, di sudut bibir Jonathan satu lagi, masih terdapat sisa makanan. Daniella mengulurkan tangan mencoba membersihkan dengan tangannya lagi. Namun, kali ini Jonathan menahan tangan Daniella.
Cup!
“Apa yang kau lakukan?” geram Daniella yang tiba-tiba mendapat ciuman dari Jonathan.
“Membersihkan sisa makanan di bibirmu,” jawab Jonathan datar.
Daniella hanya bisa membulatkan matanya. Jonathan dengan santai melanjutkan makannya setelah mencuri ciuman darinya.