
Brandon berjalan menemui Jonathan di kantor polisi. Sebelumnya, dia ke rumah sakit untuk mengurus dua korban penganiayaan Jonathan.
"Ayo pergi," ajak Brandon.
"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Daniella.
"Sudah lewat masa kritis," jawab Brandon.
Daniella hanya melirik Jonathan yang terdiam menatap lantai. Sejak dibawa ke kantor polisi, suaminya hanya membungkam mulutnya dengan rapat.
Daniella lah yang menjelaskan kronologis pada sang polisi. Jonathan hanya meminta Daniella menghubungi Brandon.
"J, ayo kita pulang," ajak Daniella menggenggam tangan Jonathan.
Brandon hanya melihat interaksi Daniella dan Jonathan. Panggilan Daniella pun sudah berubah pada Jonathan. Dia menghembuskan napasnya pelan.
Beruntung dua preman itu tidak sampai mati. Setidaknya, Brandon masih bisa memberikan kompensasi dari apa yang telah dilakukan Jonathan. Meskipun, Jonathan tidak sepenuhnya bersalah.
Mereka masuk ke dalam mobil Brandon, tidak ada obrolan, hanya ada keheningan. Brandon belum berniat bertanya lebih lanjut pada Jonathan, terlebih ada Daniella di antara mereka.
"Terima kasih atas bantuanmu," ujar Daniella setelah mereka sampai di depan rumah.
"Tidak masalah," jawab Brandon.
Daniella dan Jonathan masuk ke dalam rumah. Danielle meraih tangan Jonathan dan menggenggamnya, mencoba menyalurkan rasa tenang di dalamnya.
Jonathan menatap Daniella lekat. "Kau tidak takut padaku bukan?" tanya Jonathan getir.
Tanpa ragu Daniella menggeleng. "Tidak," ucapnya yakin.
Jonathan hanya melirik sekilas dan menurunkan tatapan matanya. Mereka masuk ke dalam rumah masih dengan bergandengan tangan.
Mereka telah kenal lama. Sejak masih sangat belia, Daniella sudah memahami sifat Jonathan. Anak laki-laki yang tidak banyak bicara dan hanya mengekor kemana dia pergi.
Ada rasa sedikit khawatir di hati Daniella. Dia sangat mengingat jelas tatapan Jonathan saat menghajar dua preman itu. Bukan tatapan yang pernah Daniella lihat sebelumnya. Begitu menyeramkan, begitu tanpa perasaan.
Jika saat itu Daniella tidak menarik Jonathan, Mungkin preman itu sudah tak bernyawa. Jelas sekali Jonathan memukulnya tanpa perasaan, seolah yang terbaring bukanlah manusia.
"Ayo kita istirahat," ajak Daniella.
Jonathan hanya memeluk Daniella erat, tidak ada pisah kamar apalagi pisah ranjang. Jonathan tidur di kamar Daniella. Memeluk, bukan seperti seorang pria yang melindungi wanitanya.
Jonathan memeluk Daniella bagaikan dirinya seorang anak kecil. Menurunkan tubuhnya agar dia bisa bersembunyi di dada sang istri. Membenamkan kepalanya, mencari kedamaian.
Daniella hanya mengusap lembut rambut ikal suaminya dengan penuh kasih sayang. Perlahan mata Daniella mulai berat. Dia menutup matanya untuk masuk ke alam mimpi.
Dalam mimpinya, dia melihat kehidupannya dengan Jonathan. Hidup penuh kedamaian, hanya tinggal berdua tanpa ada yang mengganggu.
Rasa dingin menusuk tubuhnya, dia meraba samping tempat tidurnya. Tidak ada orang di sebelahnya. Dia masih sangat sadar bahwa dirinya tidur bersama Jonathan.
Daniella membuka matanya, benar dugaannya bahwa tidak ada Jonathan di sampingnya. Perlahan menurunkan kakinya, melangkah untuk mencari keberadaan suaminya.
"J ...."
Tidak ada jawaban sama sekali, Daniella melangkahkan kakinya turun ke lantai satu. Melihat ruang tamu, tidak ada tanda-tanda Jonathan.
"Kenapa terbangun?" tanya Jonathan tiba-tiba.
Daniella sedikit terkejut mendengar suara Jonathan yang menggema. "Kau dari mana? Aku mencarimu karena tidak ada di sampingku."
"Oh, aku haus karena itu aku ke dapur."
"Oh. Masih malam, ayo tidur lagi."
"Baik." Jonathan berjalan menuju Daniella.
"Tunggu sebentar, aku juga mau minum." Daniella melangkah ke dapur, membuka pintu kulkas dan mengambil air dingin.
Setelah selesai minum, dia beralih untuk menuju lantai dua. Namun, tatapannya terarah pada pintu dapur penghubung ke halaman belakang. "J, kenapa belum di kunci? Perasaan sebelum tidur, aku sudah menguncinya."
"Mungkin kau lupa," ujar Jonathan.
Daniella hanya mengangkat bahunya. Dia kembali ke kamar bersama Jonathan. Kini, dia yang masuk dalam pelukan Jonathan.
Wajah yang menghadap ke dada sang suami, menghirup aroma Jonathan. Dahi Daniella mengernyit karena ada bau yang pernah ia cium sebelumnya.
"Benarkah?" tanya Jonathan.
Daniella semakin mendekatkan hidungnya pada dada Jonathan. "Benar, rosemary. Sepertinya tidak asing. Tapi di mana ya, aku mencium wangi rosemary," gumam Daniella.
"Tidurlah, sudah malam," ucap Jonathan mengeratkan pelukannya. Tatapan matanya kosong. Sedangkan Danielle tidak peduli lagi dengan harum tubuh Jonathan.
***
Tirrrd ... tirrrd ... tirrrd ...
Bunyi alarm menggema di kamar Daniella. "J, aku terlambat!" teriak Daniella.
Dia hanya kosong pemotretan tiga hari dan hari ini waktunya menjalani harinya sebagai model lagi.
Daniella panik, dia bangkit dari tidurnya dan langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Jonathan hanya mengecek matanya dengan santai.
Tanpa diminta, Jonathan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Apa Prisil sudah datang?" tanya Daniella masih berjalan menuruni tangga.
"Belum, sarapan saja dulu," ujar Jonathan.
Daniella mengambil roti bakar buatan Jonathan selagi menunggu kedatangan Prisil.
"Pagi!" ujar Prisil yang baru saja tiba.
"Kau baru datang?" tanya Daniella.
"Kau pikir? Tentu saja baru datang."
"Aku pikir, aku telat!"
"Tenang saja, telat pun tidak ada yang akan memarahimu!" dengus Prisil.
"Biarpun seperti itu. Aku harus tetap profesional. Semakin terkenal bukan harus semakin sombong! Harusnya semakin rendah diri," tutur Daniella.
"Kapan kau pintar? Seharusnya rendah hati bukan rendah diri!" ejek Prisil.
"Ya, maksudku begitu! Hanya salah ucap saja!" bela Daniella
"Alasan!" dengus Prisil.
"Sudah, ayo berangkat," ujar Daniella pada Prisil. Dia menghampiri Jonathan dan memberikan kecupan di pipi suaminya. "Aku pergi dulu."
"Ya," ucap Jonathan datar.
Prisil hanya menaikkan alisnya sebelah. Daniella dan Prisil keluar dari rumah. "Jelaskan padaku, apa yang terjadi?" bisik Prisil setelah mereka keluar dari pintu.
"Nanti aku cerita semuanya padamu," terang Daniella.
Mobil Prisil melesat keluar dari jalan rumah Daniella. Mereka berpapasan dengan mobil Brandon yang menuju rumah Jonathan. Namun, tidak ada yang menyadari.
Brandon berjalan setengah berlari menuju rumah Jonathan, dia bahkan dengan sembarang memarkirkan mobilnya.
"Apa ada yang tertinggal?" tanya Jonathan saat mendengar pintu dibuka.
Jonathan menoleh ke arah pintu, bukan Daniella yang berdiri di depan pintu melainkan Brandon yang berjalan menuju dirinya.
"Evan ditemukan tewas pagi ini. Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Brandon dengan napas berat.
"Aku tidak melakukan apa pun," ujar Jonathan datar.
"Kau membunuhnya!"
"Tidak."
"Jangan bohong padaku! Kau yang menyekapnya di sebuah gudang di ladang, bukan? Kenapa kau berbuat seperti ini? Kenapa kau membunuhnya?" Brandon sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Dia berbicara dengan nada tinggi.
"Apa yang kalian bicarakan? Siapa yang membunuh?" tanya Daniella dengan penuh kebingungan.
Jonathan dan Brandon menoleh ke arah pintu, baru menyadari kehadiran Daniella yang berdiri di ambang pintu.
Daniella hanya menatap Jonathan penuh dengan tanda tanya.