My Pet Husband

My Pet Husband
BAB 7 Garis Polisi



"Ditutup? Memang kasus apa?" tanya Daniella. Pikirannya berkelana kemana-mana, takut terjadi sesuatu yang buruk.


“Mau tahu?” tanya Jonathan datar. Namun, berhasil membuat Daniella sedikit takut pada Jonathan.


"Ya," jawab Daniella mengangguk, seperti terhipnotis perkataan Jonathan.


“Mengapa kamu seperti ini lagi?” batin Daniella.


Dia semakin tidak mengerti pada lelaki yang statusnya sudah resmi menjadi suaminya, mengapa ekspresi datarnya terasa mengintimidasi.


“Memang kasus apa?” tanya Prisil yang membuyarakan sepasang suami istri yang sedang saling tatap.


Kini Jonathan menoleh pada Prisil. “Kasus pembunuhan,” ucap Jonathan pelan.


“Apa?” tanya Daniella dan Prisil bersamaan. Memastikan telinga mereka tidak salah dengar.


"Kasus perceraian," ucap Jonathan lagi dengan tenang.


"Apa? Hanya kasus perceraian tetapi dikasih garis polisi?" tanya Daniella heran.


Dia menyakinkan dirinya tidak salah dengar saat Jonathan bilang pembunuhan, kenapa sakarang menjadi perceraian dan jika benar seperti itu, mengapa melibatkan polisi hingga diberi police line.


"Oh, garis polisi aku yang pasang. Agar tidak ada orang asing masuk sini! Setelah perceraian orang tuaku, kami tidak tinggal di sini." Setelah berucap Jonathan langsung memimpin jalan dengan raut wajah menahan emosi. 'Hanya itu yang perlu kau tahu!' batin Jonathan.


"Oh, begitu!" ujar Daniella. Dirinya saling tatap dengan Prisil yang seperti saling bicara bahwa mereka meragukan ucapan Jonathan.


Prisil dan Daniella melihat sekeliling, rumah sederhana tetapi terlihat kokoh. Sudah berdebu, hanya saja tidak menumpuk. Semua barang-barang yang ada di dalam ditutupi oleh kain putih. Jonathan menarik kain putih yang menutupi sofa. Nampak sudah sofa empuk bergaya klasik. "Kalian bisa duduk dulu di sini."


Prisil dan Daniella duduk di sofa tersebut sedangkan Jonathan beralih ke ruangan lain, entah kemana dia pergi! Daniella tidak berniat mencari tahu.


"Daniella," bisik Prisil.


"Ya," jawab Daniella.


"Apa hanya aku saja yang merasa suamimu aneh?" tanya Prisil masih berbisik.


Prisil merasakan perubahan mimik wajah Jonathan yang sebelumnya terlihat memelas bagai seekor kucing. Kini, tampak sangat dingin.


"Aku menyadarinya dari awal kami bertemu," jawab Daniella.


Dia sendiri sudah melihat perubahan mimik wajah Jonathan, dari wajah tampak tak peduli, mengintimidasi dan menakutkan saat mengusir para wartawan. Mimik memelas, datar dan kini dingin. Entah berapa ekspresi yang dimiliki oleh pria yang sudah menyandang sebagai suaminya ini.


"Kenapa tidak bilang padaku!" protes Prisil.


"Sudah pernah ku bilang padamu kalau Jonatan itu aneh! Tapi, kau malah menyarankan aku menikah dengannya!" gerutu Daniella.


"Sudah cukup lama dia pergi, apa dia sedang menyiapkan kita minum?" bisik Prisil di telinga Daniella.


"Entahlah, biar aku lihat dulu." Daniella berdiri untuk mencari Jonathan, dirinya tidak yakin Jonathan sedang menyiapkan minum karena rumah tersebut adalah rumah kosong yang tidak mungkin ada bahan makanan.


"Daniella, aku ke mobil dulu, membawa koper mu ke sini," ujar Prisil.


"Oke."


Daniella pergi ke arah Jonathan meninggalkannya dan Prisil keluar rumah menuju mobilnya. Saat keluar rumah, Prisil melihat sekeliling, posisi rumah yang berada di tengah dengan pepohonan disekelilingnya.


Ya, meskipun bukan tampak seperti rumah di film-film horror yang sangat menyeramkan. Namun, rumah Jonathan sukses membuat Prisil sedikit merinding. Entah karena rumah tersebut sudah lama tak berpenghuni dan menimbulkan aura dingin atau memang karena banyaknya pohon yang berada di rumah tersebut, yang lebih membuat Prisil takut, dia merasa ada yang mengawasi mereka.


Prisil menepis semua yang ada di pikirannya, dia mantap melangkah menuju mobilnya. Sepanjang keluar dari rumah Jonathan, Prisil mencoba bernyanyi agar pikirannya tidak kosong dan menghilangkan kegugupannya. Jarak yang tidak terlalu jauh, mengapa terasa sangat jauh hingga dia merasa mobilnya terparkir jauh.


Jarak yang memang cukup jauh? Ataukah langkahnya yang lambat hingga tidak sampai di tempat mobilnya terparkir. Entahlah, Prisil tidak mau pusing, dia hanya berpikir untuk cepat sampai di tujuan.


Berbeda dengan Prisil, Daniella tidak merasa ada yang aneh di rumah itu, meskipun ia akui bahwa rumah tersebut terasa dingin. Pikiran Daniella tertuju pada Jonathan yang menurutnya sangat aneh.


Daniella mencari ke arah terakhir dia melihat Jonathan pergi, berjalan hingga sampai ke dapur. Melihat begitu banyak peralatan dan perlengkapan memasak, Daniella yakin penghuni rumah ini gemar memasak.


Tidak ada orang di dalam dapur, dia terus melangkah, mencari keberadaan Jonathan. Di samping dapur, ada sebuah ruangan, Daniella membuka pintu tersebut, diyakini oleh nya bahwa ruangan tersebut adalah kamar pembantu.


Rumah dengan dua lantai, rumah yang tidak besar. Namun, memiliki halaman depan dan belakang cukup luas. Lantai satu hanya berisi ruang tamu, dapur, ruang makan dan kamar pembantu.


Tidak menemukan Jonathan di lantai satu, Daniella menoleh dan melihat tangga, dia ragu untuk menaiki anak tangga karena dia tidak melihat Jonathan menaiki tangga tersebut. Yang Daniella ingat, Jonathan hanya masuk ke dalam dapur.


Sempat ragu apakah dia harus menaiki tangga atau tidak. Daniella mencoba peruntungannya atau mencoba keberaniannya. Dia meraih handrail, melangkahkan kakinya pada anak tangga. Setapak demi setapak anak tangga terlampaui.


Langkahnya semakin dekat menuju lantai dua, hanya ada pintu yang tertutup, sekitar tiga rungan. Daniella tidak tahu apakah rungan tersebut adalah kamar.


Daniella memegang handle pintu, mencoba membuka salah satu ruangan yang ada di sana. Pintu terbuka, manik mata Daniella menatap isi ruangan. Layaknya kamar pada umumnya yang dilengkapi oleh ranjang, lemari dan meja rias.


Tidak ada Jonathan di kamar itu, Daniella menutup kembali kamar tersebut. Dia beralih ke kamar kedua. Melakukan hal yang sama yaitu memutar handle pintu berbentuk bulat. Namun, kali ini kamar tidak terbuka, terkunci atau memang macet hingga tidak bisa di buka.


Daniella mencoba mengetuk pintu tersebut, memanggil nama Jonathan. Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Daniella menempelkan telinganya di pintu, mencoba mendengar kemungkinan ada suara di dalamnya. Namun, lagi-lagi nihil, tidak ada suara Jonathan sedikitpun.


Di meninggalkan kamar kedua dan berjalan ke kamar paling pojok, kamar yang terletak di sudut dengan pencahayaan yang kurang, hawa dingin lebih terasa saat menuju kamar ketiga. Namun, Daniella memberanikan diri untuk tetap melangkah, mencoba menemukan Jonathan.


Pikiran Daniella pun kalut, menerka apa yang terjadi pada Jonathan. Mengapa hilang begitu saja! Sampailah pada kamar ketiga, Daniella membuka pintu, tidak ada orang di dalamnya, hanya ada ranjang, lemari dan ... pandangan Daniella tertuju pada pojok ruangan. Sebuah kardus besar, entah bekas kardus mesin cuci ataukah AC, yang jelas cukup besar untuk dua anak kecil bermain di dalamnya. Namun, yang membuat Daniella penasaran, kardus tersebut sedikit bergerak, Daniella yakin ada pergerakan.


Daniella melangkah lebih mendekat pada kardus tersebut, seketika Daniella menutup mulutnya, lalu berteriak, "Jonathan!"