
Key menatap Aldo yang saat ini berada di depannya. Ia menampakkan wajah datarnya.
"Apa kau membenciku?" tanya Aldo. Ia merasa kedatangannya tak diharapkan sama sekali.
"Apa aku harus berterimakasih karena kau telah merebut keluargaku?" ucap Key masih dengan wajah datarnya.
Aldo berjalan mendekat ke arah tempat tidur pasien, ia tersenyum menatap wajah Kakaknya yang menahan marah.
"Aku tak pernah merebutnya darimu, ia masih milikmu" jawab Aldo membuat Key terkejut.
"Benarkah?" tanya Key tak percaya.
"Hemmm, pernikahanku saat itu dibatalkan karena setelah kepergianmu Yesi pingsan. Tadinya pernikahan akan dilanjutkan setelah ia sadar, tapi ternyata Yesi hamil anakmu. Maaf karena telah membuat kalian terpisah."
"Jadi bayi kembar itu benar-benar milikku?" terpancar kebahagian dari wajah Key.
"Ya mereka milikmu. Selamat kau memiliki tiga orang anak sekarang. Tapi sayang putramu Galih sangat membenciku."
"Dia benar-benar putraku. Aku juga sangat membencimu."
"Katakan, bagaimana caranya agar kau mau memaafkanku?" ucap Aldo, terlihat penyesalan dari raut wajahnya.
"Kembalikan anak dan istriku padaku" jawab Key.
"Maaf, untuk saat ini aku tidak bisa melakukan itu" ucap Aldo membuat Key terkejut.
"Apa maksudmu?!!" teriak Key dengan marah. wajahnya memerah menahan amarahnya yang sedari tadi ingin meledak.
"Yesi dan Galih akan lebih aman bersamaku" jawab Aldo penuh percaya diri.
"Kau...!!! Key ingin bangkit dari tempat tidurnya dan menghajar Aldo, tapi di halangi oleh Beni. Kondisinya saat ini belum memungkinkan ia menggerakkan kakinya. Apalagi kakinya masih terbungkus oleh gips pasca ia menjalani operasi.
"Kau menantang ku? Aku tidak akan segan padamu jika kau tidak mau mengembalikan mereka. Aku akan merebutnya darimu, karena selamanya mereka adalah milikku" ucap Key dengan lantang.
"Tuan Aldo, tolong jangan memancing kemarahan saudara anda" ucap Beni, tapi ia mendapatkan pelototan dari kedua saudara kembar itu.
Hah, mungkin lebih baik aku diam, batin Beni.
"Aku tidak akan mengembalikan mereka padamu, selama penjahat yang mencelakaimu itu belum tertangkap. Aku tidak ingin kalau sampai mereka celaka sama sepertimu," jelas Aldo, ia ingin membuat Key mengerti jika yang Aldo lakukan adalah untuk melindungi Yesi dan anaknya.
"Mereka adalah istri dan anakku, keselamatan mereka adalah tangung jawabku. Jangan jadikan alasan ini untuk menjauhkanku dari keluargaku. Aku bisa melindungi keselamatan mereka bertiga" ucap Key dengan lantang.
"Kalau begitu buktikan padaku, tangkap penjahat itu. Orang yang sudah berhasil mencelakaimu. Jika kau sendiri tidak bisa melindungi dirimu, bagaimana kau akan melindungi keluargamu" ucap Aldo membuat Key terkejut. Ia merasa tertampar dengan kenyataan yang terjadi padanya.
"Baik, akan ku buktikan padamu. aku pastikan, akan menangkap mereka dan membawanya kehadapanmu. Pada saat itu terjadi kau harus mengembalikan mereka dan menjauh dari kehidupan kami" ucap Key kesal, ia diliputi oleh kemarahan.
"Aku akan menunggu saat itu terjadi, tapi sebelum kau membuktikannya, berjanjilah kau akan menjauh dari mereka. Aku sudah siapkan rumah sakit terbaik untukmu. Bersiaplah, satu jam lagi akan ada ambulans yang menjemputmu" ucap Aldo meninggalkan tempat itu.
Prang!!!
Key melemparkan gelas yang ada diatas meja dekat dengan tempat tidurnya. Gelas itu mengenai pintu yang baru saja ditutup oleh Aldo.
"Minta anak buah kita untuk menyelidiki kecelakaan yang terjadi padaku. Cari tahu siapa dalangnya dan dimana keberadaan mereka" perintah Key pada Beni.
Beni langsung melaksanakan perintah Key, ia menyebar anak buahnya untuk mendapatkan informasi.
Aldo kembali ke ruangan Yesi. Hanya terdapat Galih dan Yesi diruangan itu, karena bayi kembarnya masih dalam perawatan.
Galih menunggu Ibunya sembari menonton kartun Tom and Jerry.
"Apa masih terasa sakit?" tanya Aldo dengan lembut. Ia menanyakan luka bekas operasi Yesi.
"Sedikit" ucap Yesi tersenyum. Ia sudah terlihat segar dan baik-baik saja di bandingkan sebelumnya.
"Kapan aku bisa melihat mereka lagi?" tanya Yesi, ia merasa tak ingin jauh dari buah hatinya itu. Mereka adalah lambang cintanya bersama Key suaminya.
"Segera, aku akan membawamu nanti pada mereka. Tapi untuk sekarang ini kau memerlukan istirahat yang cukup, tidurlah" perintah Aldo.
"Tapi aku tidak mengantuk" ucap Yesi.
"Aku berjanji akan membawamu nanti menemui mereka, jika kau menuruti perkataanku. Tidurlah" perintah Aldo lagi.
Aldo duduk disebelah Yesi, ia mengusap rambut Yesi hingga wanita itu tertidur. Sementara itu Galih menatapnya dengan kesal.
Aldo yang menyadari tatapan Galih, beralih menatap balik bocah itu.
"Kemarilah, aku memiliki hadiah untukmu" Aldo bangun dari duduknya dan menghampiri Galih. Ia meminta Galih untuk bangun dan mengikutinya.
Aldo mengajak Galih menuju ke jendela ukuran besar, ia memerintahkan Galih untuk melihat apa yang ada di luar jendela itu.
Galih terpaku, terkejut menatap di luar sana. Sebuah ambulans terpakir, dan tak jauh dari sana ia bisa melihat sosok pria yang sangat ia cintai dipindahkan masuk kedalam ambulans. Pria itu masuk dengan di bantu beberapa petugas medis.
"Ini adalah hukumanmu karena menemuinya diam-diam di belakangku. Jika kau melakukannya lagi tanpa seijinku, aku tidak akan bisa menjamin keselamatannya lagi" ucap Aldo berbisik di telinga Galih.
Setelah menyampaikan maksudnya pada Galih, Aldo langsung pergi keluar dari ruangan itu.
Sementara Galih yang terkejut, tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin membasahi keningnya, ia menggenggam erat kedua telapak tangannya. Hingga ia tak menyadari kuku-kuku jarinya melukai telapak tangannya.
Tubuhnya merosot kelantai karena kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Ia menyenderkan keningnya di tembok dan menangis dalam diam.
TBC.
catatan: dua episode lagi tamat ya. Selamat membaca dan jangan lupa like nya terimakasih 🙏