My Lovely Husband

My Lovely Husband
PERMINTAAN MAAF



" Devan, terimakasih banyak karena tadi sudah membantuku. " Kata Nayla saat di dalam mobil menuju ke rumah Lisa.


" Tidak apa - apa. Sudah seharusnya aku membantu mu. " Devan tersenyum.


" Aku benar - benar kesal dengan si wanita ular itu. " Lisa mendengus kesal.


" Rasanya ingin sekali alu memukulnya. ".Lisa terlihat sangat geram.


" Yang penting sekarang aku sudah lega. Semua sudah terbukti kalau aku tidak salah. "


" Syukurlah. " Lisa memeluk Nayla dan mereka tertawa bersama.


Devan ikut tersenyum melihat mereka.


Sekertaris Zein sudah ada di depan apartement Lisa saat mereka sampai di sana.


" Nona, apa semua nya baik - baik saja? " tanya nya.


" Semua berjalan lancar, Kak. "


" Aku minta maaf karena aku baru kembali dari luar kota. Jadi aku tidak tau keadaan disini seperti apa" Sekertaris Zein sepertinya benar - benar menyesal.


" Tidak apa - apa, kak. Yang penting sekarang semua sudah terbukti kalau aku tidak melakukan hal yang salah. " Kata Nayla.


"Syukurlah, Nona. Tuan pasti merasa sangat menyesal, kan? " tanya nya.


Nayla hanya tersenyum.


" Baiklah, aku harus pergi karena aku juga harus menemui tuan muda. " Katanya berpamitan.


Sekertaris Zein pun pergi, tapi sebelum pergi dia sempat melirik ke arah Devan.


" Itukah orang nya? " tanya Devan.


" Ya. " Nayla mengangguk.


" hmm.. ternyata dia masih muda. Ku pikir sudah om - om. "


Nayla tersenyum mendengar nya.


" Baiklah, aku pun harus segera pergi karena banyak pasien yang menunggu. " Kata Devan.


" Sekali lagi, terima kasih banyak. "


Devan mengusap - usap rambut Nayla lalu pergi. Hal itu membuat hati Nayla terasa hangat.


Di perjalanan dalam mobil, Devan terbayang hari dimana tes di lakukan. Saat dia akan pergi menemui Nayl, dia melihat Jeanny diam - diam pergi menemui petugas Lab. Disana dia melihat Jeanny memberikan sebuah amplop coklat yang beisi kan uang yang banyak untuk petugas.


Dia mengatakan untuk mengganti hasil tes jadi negatif. Awalnya si Petugas tidak mau karena takut, tapi karena melihat uang yang banyak. akhirnya dia mau.


Devan tak lupa membuat Video mereka. Lalu setelah Jeanny pergi, Devan menemui si petugas Lab dan mengancamnya.


Dia memperlihatkan Video tadi dan mengancam si petugas. Jika dia curang, dia akan melaporkan si petugas ke komite dan ke polisi.


Sepertinya si Petugas ketakutan karena hasil sama sekali tidak di rubahnya. Devan tersenyum puas.


" Apa yang akan kau lakukan sekarang, Kevin? " gumamnya.


" Aku pasti akan menghancurkan mu!"


****


KYAAAAAA....


Jeanny menjerit - jerit sendirian di kamarnya.


" Dasar sial, sial, siaaallll. " Teriaknya.


" Kenapa hasilnya bisa sama. Padahal aku sudah menyuruh petugasnya mengubah semuanya! "


Kyaaaa....


PRANKKK


Jeanny melempar vas bunga di kamarnya ke cermin dan membuat nya pecah berhamburan.


" Nayla. Aku tidak akan membiarkan nya kembali bersama Kevin. TIDAK AKAN!! " katanya sambil melihat ke arah cermin yang tersisa.


" Siapa? siapa pria itu? Kenapa dia mengatakan itu pada Kevin. Apa dia tau tentang kehamilan ku?! "


****


Kevin benar - benar merasa menyesal. Dia membayangkan kembali apa yang sudah dia lakukan pada Nayla.


Betapa kasar nya dia, begitu tak percaya nya dia hingga Nayla pergi dari rumah.


Aarrgggg...


kevin berteriak penuh penyesalan.


" Apa yang harus aku lakukan, Nay? " gumamnya.


" Aku memang bodoh, kenapa aku harus meragukan mu. Aku memang bodoh!" Kevin bicara pada dirinya sendiri.


Tok.. Tok.. Tok..


Tiba - tiba terdengar suara ketuk pintu .


Kevin terdiam sejenak lalu bangun dan membukakan pintu dengan langkah lunglai.


" Kak? " Kevin terkejut karena sekertaris Zein ada di depan nya.


" Bagaimana kabar Anda, tuan? Maaf aku tidak mengabari anda tentang kepulangan ku hari ini. " Kata sekertaris Zein.


" Tidak, kak. Aku yang seharusnya minta maaf padamu. " Kata Kevin.


" Maksud anda? "


" Kak, aku minta maaf karena sudah menuduh mu yang tidak benar selama ini. " Kevin


menunduk.


" Aku sudah menuduh mu dan Nayla. Aku benar - benar minta maaf, kak. "


" Sudahlah, tak usah di pikirkan. Semua sudah terjadi dan sudah berlalu. " Sekertaris Zein memegang pundak Kevin.


" Yang penting sekarang, bagaimana cara anda mengajak Nona Nayla kembali ke rumah ini. " Katanya.


" Aku tidak tau, Kak. Apakah Nayla masih mau kembali lagi. Sepertinya dia sangat membenciku sekarang. " Katanya.


" Kau belum tau jika belum mencobanya. "


" Ya, aku akan berusaha agar Nayla memaafkanku. "


" Apa maksudmu? Lalu aku bagaimana? " Jeanny tiba - tiba ada di belakang mereka.


Karena pintu kamar tidak di tutup, makanya dia mendengar percakapan mereka dan langsung masuk ke dalam.


" Jeanny! " Kevin terkejut dengan kedatangan Jeanny.


" Aku juga sedang mengandung anakmu! " Jeanny mendekati Kevin.


" Lalu apa kau akan kembali pada Nayla dan meninggalkan aku? " tanya nya .


" Bukan, bukan begitu. Aku hanya ingin Nayla memaafkan ku. "


" Hanya memaafkanmu? tidak untuk kembali, kan? " Jeanny merasa kesal.


" Kau tau apa yang akan aku lakukan jika kau meninggalkan ku dan anakku! " Ancam Jeanny.


" Baik, baik. Aku tau. " Kevin menyerab jika di ancam seperti itu.


Karena Dia tau Jeanny orang yang sangat nekad.


Inilah kelemahan mu, tuan. Batin Sekertaris Zein.


" Sedang apa kau masih disini? cepat keluar. " Suruh Jeanny pada Sekertaris Zein.


" Aku bukan bawahan mu. Jadi anda tidak berhak menyuruhku! " Kata sekertaris Zein tanla ekspresi apapun.


" Sayang, lihat sekertaris mu ini. Padahal dia sudah berselingkuh dengan istrimu, tapi dia masih datang dengan tak tau malu. "


" Cukup Jeanny! Semua yang kau tuduhkan itu tidak benar! " Kevin mulai kesal dengan Jeanny.


Tapi sekertaris Zein tak merespon apapun.


" Baiklah tuan, Aku pergi dulu. " katanya.


Dia sangat sangat tidak suka melihat tingkah manja Jeanny yang sangat tidak pantas.


" Sayang. " Jeanny mendekati Kevin dan mulai menyentuh pipi Kevin.


" Kau tetap akan menikah dengan ku, kan? "


" Aku... "


" Kau tidak akan kembali dengan Nayla kan? "tanya nya lagi.


" Aku tidak tau. Nayla benar - benar mengandung anak ku. "


" Apa kau benar - benar yakin kalau dia anakmu? bisa saja hasil nya di tukar kan? " Jeanny memulai siasat nya lagi.


" Sudah cukup, Jean. Amu tidak mau lagi mencurigai Nayla. " Katanya.


" Tapi itu bisa saja, kan? " Jeanny bersikukuh.


" Baiklah, terserah mau mau pikir seperti apa. Tapi aku tidak akan meragukan Nayla lagi. " Kevin benar - benar tulus kali ini.


" Lalu bagaimana dengan ku? Kau tak mau menikahi ku? begitu maksudmu? " jeanny seperti akan menangis.


" Bukan begitu. Aku hanya perlu berpikir. "


" Berpikir? apa yang mau kau pikirkan lagi? " Jenny setengah berteriak.


" Aku tidak mau anakku nanti lahir tanpa ayah. "


" Sebentar lagi perutku akan semakin besar dan tak akan ada lagi tawaran model apapun. "


" Apa kau mau bertanggung jawab atas hidupku yang hancur nanti? " Jeanny menangis .


Kevin merasa kasihan melihay Jeanny seperti itu.


Kevin mendekatinya dan memeluknya.


" Tidak, Jean. Aku akan bertanggung jawab atas mu. "