My Lovely Husband

My Lovely Husband
TAMAN BERMAIN



Berkali - kali Kevin mencoba menelpon Nayla, tapi tak pernah di jawab. Nayla masih ragu dan belum sepenuhnya benar - benar menerima keadaan.


Walaupun semua sudah terbukti kalau itu anak Kevin, tapi dia masih enggan untuk kembali ataupun berbicara dengan Kevin.


Walaupun sudah 12 minggu umur kandungan nya, tapi perutnya masih belum membesar. Nayla duduk di dekat jendela sambil menikmati sore dan mengelus - elus perutnya.


🎶🎶🎶🎶


Ponsel Nayla kembali berbunyi. Kali ini Devan yang menghubungi nya.


" Hai, Nay. "


" Hai. "


" Pasti sedang melamun, ya? "


Ha? kenapa bisa tau?


" Tidak. Aku tidak sedang melamun" Kata Nayla.


" Mau jalan - jalan? " Tanya Devan.


" Apa? "


" Turunlah, aku ada di depan. "


" Eh tapi... "


Belum sempat Nayla menolak, Devan sudah menutup telpon nya.


" Dasar orang ini. " Nayla mengumpat, tapi raut wajahnya terlihat senang.


Dia langsung berdiri dan pergi keluar.


Ternyata benar, Devan sudah ada di depan dengan mobil biru nya.


Dia terlihat sangat tampan dengan sweater coklat dan kacamata nya.


" Ayo! " Ajaknya.


" Hei tunggu dulu. Aku tidak bilang akan pergi dengan mu, kan? " Nayla menolak pergi.


" Lalu untuk apa kau turun? " tanya Devan.


" Ha? itu... itu karena kau bilang sudah ada di depan, kan!" Nayla sedikit bingung.


" Ya sudah. Yuk. Sayang kan sudah jauh - jauh turun tapi harus balik lagi. " Devan menarik tangan Nayla.


Nayla pun sebenarnya tak menolaknya dan masuk dengan mudah ke dalam mobil.


" Jadi,,, kita mau kemana? " Tanya Devan setelah masuk mobil.


" Kemana? kau mau ajak aku kemana pun aku mau? " Tanya Nayla.


" Tentu saja. " Devan tersenyum manis.


Akhirnya Devan dan Nayla pergi ke taman bermain.


Nayla terlihat sangat menyukai pergi ke taman bermain. Terlihat dari mata nya yang berbinar dan senyum lebar nya.


" ayo naik itu. " katanya sambil menunjuk ke arah Bianglala.


Devan di tarik nya agar mau naik bersamanya. Dia terlihat sangat bersemangat. senyum lebar nya tak pernah pergi dari bibir nya saat dia menaiki wahana.


Setelah turun dari Bianglala, Nayla mengajak Devan naik komedi putar. Dia duduk di atas kuda dan bergaya seperti seorang putri yang sedang berkuda.


Devan tertawa melihatnya, tapi dia juga terpesona melihat Nayla yang memang sangat cantik dan terlihat seperti seorang putri.


Mereka mencoba berbagai permainan dan semua terlihat sangat menyenangkan untuk Nayla.


" Ah,,, perutku. " Nayla terlihat agak kesakitan saat mereka turun dari wahana bermain.


" Nay, kau baik - baik saja? " Devan cemas melihat Nayla yang membungkuk memegang perutnya.


" Ya seperti nya karena terlalu senang. " katanya sambil tertawa.


Mereka pun duduk dan menikmati eskrim mereka. Tampak seperti anak kecil yang senang datang ke taman bermain, seperti itulah Nayla saat ini.


" Ayah selalu membawaku ke taman bermain setiap minggu. " Katanya.


" Dari aku kecil sampai sudah besar pun selalu mengajak ku kemari. " Dia tersenyum mengingat ayahnya.


" Aku akan membawa mu kemari setiap hari jika kau menginginkannya. "


Nayla langsung melihat ke arah Devan saat dia mengatakan itu. Mereka saling bertatapan dan Nayla pun tersenyum.


****


Jeanny terlihat sedikit stres dengan semua yang terjadi. Semua tidak sesuai dengan rencana nya.


Dan dia tidak ingin kehilangan Kevin apapun yang terjadi.


" Aku harus benar - benar menyingkirkan Nayla dari hidup Kevin. " Katanya.


Dia lalu pergi keluar dan membawa mobil nya. Dia pergi menuju apartement Lisa.


Sepertinya sebelumnya dia sudah mencari tau dimana Nayla tinggal sekarang.


Sesampainya disana, dia tak tau Lisa di apartemen lantai berapa. Jadi dia pun menunggu di bawah dan berharap kalau Nayla turun.


Jeanny menunggu di dalam mobil dengan sabar. Dan tak berapa lama sebuah biru pun datang.


Awalnya Jeanny sama sekali tak tau siapa yang datang. Tapi Jeanny langsung bersemangat saat tau itu adalah Nayla dan Devan.


Secepat kilat Jeanny mengeluarkan ponselnya dan memfoto mereka.


Devan mengantar Nayla sampai depan saja. Dia tau Lisa sedang tidak ada, jadi dia tak ikut ke dalam karena takut.


Nayla ataupun Devan tidak merasa terkejut dengan kedarangan Jeanny yang tiba - tiba.


" Kenapa tidak kau lepaskan saja Kevin? bukan kah kau sudah punya mangsa baru? " Jeanny menyilangkan tangan nya.


" Maaf, Nona. Daripada anda mengkhawatirka orang lain, bukankah anda harus nya mengkhawatirkan diri anda sendiri? " Ucap Devan sambil tersenyum.


" Apa maksudmu? " Raut wajah Jeanny seketika langsung berubah.


" Bukankah kau lebih tau dari pada siapapun? " Devan tersenyum menyeringai.


" Jangan mencoba membodohiku! " Katanya.


" Dan kau, ," Jeanny menunjuk Nayla.


" Akan ku buat kau meninggalkan Kevin. " Katanya lalu pergi.


Nayla tak mengatakan apapun, dia hanya melihat Jeanny pergi begitu saja.


" Apa maksud perkataan mu tadi pada Jeanny? " tanya Nayla setelah Jeanny pergi.


Devan tersenyum.


" Kau akan tau pada saat waktu nya nanti. "


****


Sudah hampir malam dan Kevin masih ada di kantornya.


Dia berdiri di dekat jendela kaca besar dan melihat ka arah luar seperti sedang memikirkan sesuatu.


🎶🎶


Suara pesan datang dari ponsel Kevin. Dia langsung melihatnya dan tak ada nama di pesan tersebut.


" Siapa ini? " pikirnya.


Sebuah video di kirimkan. Kevin membukanya dan melihat isi video tersebut.


Mata Kevin terbelalak melihatnya. Dia tak percaya dengan apa yang dia lihat.


" Apa - apaan ini? " Katanya.


Dia lalu mematikan Video nya.


BUKKK..


Kevin memukul meja dengan kepalan tangan nya.


" Apa dia sudah membohongi ku selama ini? " Katanya dengan wajah memerah.


" Tuan ini... " Sekertaris Zein yang masuk ruangan dengan membawa sebuah map langsung menghentikan langkahnya melihat Kevin yang sepertinya sedang marah.


" Apa yang terjadi? " tanya nya.


Kevin menyodorkan ponselnya untuk Sekertaris Zein lihat.


Sekertaris Zein melihat isi video tersebut , tapi dia tak terlalu terkejut seperti hal nya Kevin.


" Bagaimana menurutmu, Kak? apa itu benar? " tanya Kevin.


" Aku tidak ingin membuat semua nya jadi bertambah buruk. " kata Sekertaris Zein.


" Tapi,, Aku sudah curiga dari dulu. "


" Kak, tolong cari kebenarannya. Apa benar semua ini? Apa dia sudah benar - benar membodohi ku. " Kevin tampak geram.


" Baik, tuan. Aku akan mencari tau kebenarannya. "


" Satu lagi, Tolong cari tau siapa pemilik nomor ini. " Kata Kevin.


" Aku tidak mengenal nomor ini, tapi dia yang mengirimkan video ini. Aku ingin tau maksud dan tujuan nya apa mengirim Video ini padaku. "


" Baik. "


Kevin benar - benar menahan amarah nya. Dia mengepalkan tangan nya lagi.


🎶🎶🎶🎶


Ponsel Kevin berbunyi dan Jeanny yang menelpon nya.


Kevin tidak mengangkat telepon nya.


🎶🎶🎶🎶


Ponsel terus berbunyi dan akhirnya Kevin mengangkatnya.


" Sayang, kenapa lama sekali. " suara Jeanny terlihat kesal.


Kevin tak mengatakan apapun.


" Sayang apa kau tau? tadi aku melihat Nayla pergi dengan seorang pria berdua saja. " Jeanny mulai meracau.


" Bukan kah dia benar - benar wanita yang jahat. Setelah tak mendapatkan sekertaris mu, sekarang dia mencari mangsa lain. " Dengan percaya diri nya Jeanny terus menjelekan Nayla.


" Sayang? Sayang kau dengar kan? " tanya nya karena Kevin tak mengatakan apapun.


" Sayang? "


" Kau.. apa yang kau sembunyikan dari ku? " Tanya Kevin yang membuat Jeanny langsung terdiam.


" A.. apa maksud mu?? " Jeanny terdengar gugup.


" Apa kau sedang membodohi ku? "