My Lovely Husband

My Lovely Husband
MENGINGINKAN MU



Beberapa hari kemudian, Nayla sudah di perbolehkan pulang. Kedua orang tua Kevin dan juga Ibu Nayla seperti nya sudah mengetahui kalau Nayla kehilangan anaknya karena terjatuh.


Mereka tidak tau kejadian yang sebenarnya. Mereka hanya tau kalau Kevin sudah lalai menjaga calon anak nya sendiri dan mereka hanya menyalahkan Kevin saja.


Ibu Nayla mengajak Nayla pulang ke rumah dulu. Dia ingin mengurus Nayla dan mungkin jika pulang ke rumah, Nayla akan merasa lebih baik.


Nayla langsung menyetujui nya dan Kevin pun tak bisa menolaknya.


" Nay, Apa kau tidak ingin memberi kesempatan untuk ku memperbaiki semua nya? " tanya Kevin saat mereka berdua saja di dalam.


Nayla terdiam.


" Nay ku mohon. Maafkan semua kesalahan ku! " Kevin menggenggam tangan Nayla.


Perlahan Nayla menarik tangan yang kevin genggam.


" Aku sudah memaafkan mu. Tapi.. Aku masih belum bisa menerima mu kembali. " Jawab Nayla dengan pelan .


" Aku tau kesalahanku sangat besar dan mungkin tak termaafkan. " Kevin terus mencoba berbicara.


" Tapi ku mohon, beri aku kesempatan sekali saja untuk memperbaiki semua nya. "


Belum sempat Nayla menjawan apapun, Ibu nya masuk ke dalam.


" Kau sudah siap, sayang? " tanya Ibu nya.


Nayla mengangguk.


" Nak, Kau juga ikut dengan kami, kan? " tanya Ibu Nayla.


" Ah... iya bu. " Kevin melihat ke arah Nayla yang sama sekali tak melihat ke arah nya.


" Aku akan pulang jika semua urusan ku sudah selesai. " Kevin tau kalau Nayla tak ingin dia ikut.


" Baiklah, tapi kau harus menyusul nanti. "


" Baik, bu. Aku titip Nayla. " ucap Kevin.


Kevin mengantar Nayla ke rumah Ibu nya bersama Lisa. Nayla langsung masuk ke dalam bersama Lisa saat mereka sudah sampai.


" Kau mau masuk dulu, Nak? " tanya Ibu Nayla.


" Nanti saja, Bu. Aku harus segera ke kantor. " katanya.


" Baiklah. "


Kevin mendekati Nayla dan mencium kening Nayla. Karena di samping nya ada Ibu nya, maka Nayla pun tak menolak dengan kecupan Kevin.


Nayla langsung masuk tanpa menunggu Kevin pergi.


🎶🎶🎶


Ponsel Nayla berbunyi saat dia sedang berbaring di tempat tidur untuk beristirahat karena Lisa baru saja pergi untuk urusan mendadak dan tak bisa menemani nya.


Devan?


" Halo. " Nayla mengangkat telpon nya.


" Nay, Kau ada dirumah Ibu mu? " tanya Devan.


" Ya, aku dirumah Ibu. Ada apa? "


" Aku sangat mengkhawatirkan mu. Aku bisa kesana kan? "


" Tentu saja. " Nayla menyetujui nya tanpa berpikir terlebih dahulu.


Nayla menutup telpon nya dan sepertinya dia sedikit senang karena Devan akan datang. Terlihat dari senyuman tipis di bibir nya kalau dia senang.


****


" Aku harus membalas semua nya. " Devan sedang ada di kursi kemudi di mobil nya yang ternyata ada di depan gerbang rumah Nayla.


" Aku akan membuat Kevin merasakan bagaimana sakit nya kehilangan seseorang."


" Jangan sampai kau jatuh cinta atau merasa kasihan pada wanita itu. "


Devan melihat seseorang lewat kaca depan mobil dengan sweater hitam dan dengan di tutupi topi hitam hingga wajah nya tak terlihat duduk di belakang nya.


" Kau tenang saja. Aku pasti akan bisa membalaskan dendamku. Karena Kevin sudah merebut semua nya yang seharusnya jadi milik ku. " Katanya dengan kedua tangan yang memegang kemudi dengan kencang.


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu kamar Nayla di ketuk dan membuat Nayla terbangun dari tidur nya.


" Siapa? " tanya nya .


Ceklek..


" Oh hai. " Nayla mencoba bangun.


" Ow.. tunggu.. tunggu. Biar aku bantu. " Devan secepat kilat menghampiri Nayla dan membantu nya bangun.


" Ada apa ke sini? bukankah kau sedang sibuk? " tanya Nayla.


" Aku hanya ingin tau keadaan mu. " Jawab Devan yang duduk di samping tempat tidur Nayla.


" Dan... Aku juga merindukan mu. " katanya sambil tersenyum manis.


Devan membuat wajah Nayla memerah dan tersipu malu.


" Nay... " Devan menggenggam tangan Nayla dan membuat nya terkejut.


" Apa aku boleh mengatakan sesuatu? " Devan menatap mata Nayla dengan lembut.


" A.. apa? " Jantung Nayla berdebar hingga membuat nya terbata.


" Aku tidak bisa menahan perasaan ini, Nay. "


" Aku.. Sepertinya aku mulai menyukai mu, Nay. " Devan tertunduk.


Nayla terkejut dan tak tau harus berkata apa.


" Apa aku salah jika aku mencintai mu? " Devan terdengar tulus.


" A.. aku.. " Nayla benar-benar bingung.


" Aku tau kau sangat mencintai Kevin. Dan kau tidak akan mungkin menyukai ku. " Devan melepas genggaman nya.


" Tidak! " Respon Nayla membuat Devan terkejut.


" Bulan itu maksudku. " Nayla merasa malu karena bereaksi berlebihan.


" Apa kau menyukai ku? "


Pertanyaan Devan membuat nya terkejut. Nayla merasa bingung dengan perasaan nya sendiri.


Dia tau kalau dia masih mencintai Kevin, tapi Nayla merasa, dia sangat nyaman berada di samping Devan.


Apa aku orang yang serakah? pikir nya.


" Ahahaha... " Devan tertawa.


" Pertanyaan bodoh. Iya kan? " Katanya.


" Maafkan aku jika membuat mu bingung. Aku tau kau masih mencintai suami mu. " Katanya sambil berdiri dan melihat keluar jendela membelakangi Nayla.


" Hanya saja... setelah beberapa lama menghabiskan waktu bersama mu, Aku menjadi hilang akal. "


" Tidak, itu bukan salahmu. " Nayla merasa tidak enak dengan perasaan Devan. Karena selama ini, Devan sudah sangat baik terhadap nya dan selalu melindungi nya.


" Tapi kau tau, Nay? " Devan mendekati Nayla dan membungkukan badan nya ke depan wajah Nayla.


" Aku adalah orang yang selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Dengan cara apapun. "


Devan memegang pipi Nayla dan tiba - tiba mencium Nayla dengan sedikit kasar dan memaksa.


Nayla benar-benar benar sangat terkejut dan berusaha melepaskan tangan Devan dari nya.


Tapi Devan terlalu kuat hingga Naya tak bisa melepaskannya. Devan terus mencium Nayla dan tubuh Nayla pun terdorong ke belakang hingga Devan berada di atas tubuh nya sekarang.


Nayla memukul - mukul tangan Devan tapi tak berhasil. Devan seperti kesetanan, dia terus mencium bibir Nayla tanpa ampun dan membuat Nayla sedikit kesulitan bernafas.


Dan setelah beberapa saat, Devan pun akhirnya melepaskan ciuman nya.


PLAKKK...


Nayla menampar Devan dengan keras di pipi nya. Nayla seperti ingin menangis dan Devan terkejut karena tak menyangka Nayla akan menampar nya.


" Kau sudah gila! " Kata Nayla.


Devan berdiri dan mengusap pipi nya. Raut wajah Devan membuat Nayla takut. Dia tidak seperti Devan sebelum nya yang ceria dan baik hati.


Dia berdiri menatap Nayla tanpa ekspresi apapun. Tiba - tiba dia tersenyum dan mengusap bibir nya dengan jari nya.


" Seperti nya aku benar - benar menyukai mu, Nay. " Katanya.


" Kau,,, kenapa seperti ini. Apa mau mu? " Nayla mulai ketakutan.


" Aku mengingin kan mu." bisik nya.


Nayla merasakan sesuatu di tangan nya. Ternyata Devan menyuntikan sesuatu di tangan nya dan membuat pandangan Nayla tiba - tiba buram dan dia pun jatuh pingsan.