
Beni membayar semua biaya administrasi selama Aldo dirawat di rumah sakit. Dokter juga sudah mengijinkannya untuk pulang. Ia bisa melakukan rawat jalan, dan Dokter juga memberikan surat rujukan ke rumah sakit pusat untuk operasi pemulihan Kaki Key.
Key duduk di kursi roda menghampiri Andi yang sedang ngepel di depan kamarnya. Key berpamitan pada Andi, ia memberikan Andi dua lembar amplop yang berisi uang. Satu untuknya dan satu lagi untuk Leni.
"Tuan, anda tidak perlu melakukan ini semua" Andi menolak amplop pemberian Key.
"Kau dan Leni sudah banyak membantuku, ambillah!" ucap Key tak ingin dibantah.
"Baik Tuan, terimakasih banyak. Hati-hati di jalan Tuan, semoga sampai tujuan dengan selamat" ucap Andi dengan tulus.
"Beni tolong kau berikan kartu namamu padanya!" perintah Key pada asistennya.
"Baik Tuan" ucap Beni kemudian mengambil kartu nama dari dompetnya, dan menyerahkannya pada Andi.
"Jika suatu saat kau ke kota ini dan membutuhkan pekerjaan, kau bisa menghubungi asistenku" ucap Key membuat Andi terkejut dan tersenyum senang.
"Terimakasih Tuan" ucap Andi. Ia memang bercita-cita ingin hidup dan bekerja di kota. Hanya saja kehidupan perkotaan terlalu berat untuknya yang tidak memiliki sanak saudara ataupun koneksi disana. Key dan Beni meninggalkan rumah sakit dan menuju ke mobil.
Mobil yang dikendarai Beni melaju menuju ke wilayah perbatasan kota. Key memilih menggunakan kacamata dan masker saat berada di dalam mobil. Ia meminta Beni membawanya ke arah puncak, ia ingin istirahat disana selama masa pemulihannya sambil menunggu jadwal operasinya. Ia juga meminta Beni untuk menyelidiki Keadaan Yesi dan anaknya Galih.
"Ingat, rahasiakan keberadaanku dari siapapun, dan kabari aku tentang keadaan Yesi dan anakku Galih" perintah Key pada Beni sebelum turun dari mobil.
Tok tok tok
Beni mengetuk pintu Villa dan muncullah wanita paruh baya membuka pintu.
" Ya Allah Aden apa yang terjadi, kenapa bisa begini!" tanya mbok Darmi histeris. Key atau yang di kenalnya sebagai Aldo sudah ia anggap seperti anak sendiri. Wanita tua itu mendorong kursi roda Key dan berteriak-teriak memanggil suaminya.
"Pak'ne, den Aldo Pak'ne!" Mbok Darmi berteriak memanggil suaminya.
Pak Atmo yang sedang mencari rumput makan sapi di belakang rumah, lari masuk dengan tergesa-gesa.
"Ya Allah, den Aldo" ucap Pak Atmo sembari berlari ingin menghampiri Aldo. tinggal jarak berapa langkah mbok Darmi menghentikan langkah suaminya.
"Stop!! kalau mau salaman, tangannya dicuci dulu toh Pak'ne. Terus sabit itu juga di taruh dulu, kalau sampai kena orang itu nyawa bisa melayang" ujar mbok Darmi memberi nasehat.
"Ya Allah sampai lupa saya mbok'ne sangking senangnya denger Aden datang" ucap Pak Atmo.
"Maaf, lupa mbok ne. Tunggu sebentar ya den, bapak permisi ke belakang, mau bersihin badan dulu" pamit pria tua itu sembari mencium kedua ketiaknya yang dipenuhi keringat. Mbok Darmi menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya itu.
Mbok Darmi membawa Key keruang tengah sesuai permintaan Key, setelah itu ia segera ke dapur membuatkan minuman dan mengambil makanan kecil untuk ia sajikan.
"Alhamdulillah Nak Aldo akhirnya muncul juga, kapan nih bibi di kenalkan dengan calon istrinya" ucap mbok Darmi sembari menaruh minuman dan makanan kecil yang ia bawa. Mbok darmi ingat jika Aldo pernah mengatakan tentang calon istrinya sebelumnya.
"Jangan di dengerin Den Aldo, omongan mbok ne suka ngelantur kemana-mana" Pak Atmo yang telah selesai mandi kilat, segera mengambil posisi duduk tak jauh dari Aldo.
"Bibik dan Pak Atmo, mulai hari ini aku ingin kalian berdua memanggilku Key saja. Aku tidak suka dengan panggilan Aldo karena itu bukanlah namaku" ujar Key terdengar serius.
Pak Atmo dan Bibik sedikit terkejut, akhirnya Key menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Akhirnya kedua orang itu mengerti dan turut prihatin atas apa yang terjadi pada Key. Mereka mendoakan semoga masalah Key cepat selesai dan bisa kembali berkumpul dengan anak dan istrinya.
"Aden ini lucu sekali, ini kan rumah Aden. Masak sih bibik keberatan" ucap wanita tua itu sembari tersenyum.
Key terlihat nyaman berada di tengah-tengah kedua orang itu. Beni tersenyum memperhatikannya, ternyata bos nya bisa juga dekat dengan orang lain. Bahkan bisa dikatakan hubungan bos nya lebih dekat dengan Bu Atmo di bandingkan dengan Ayahnya sendiri.
******************
Sementara itu di sebuah rumah besar seorang wanita hamil terlihat sedang duduk di balkon kamarnya. Ia selalu menatap keluar rumah yang memang merupakan sebuah jalan besar. Wajahnya terlihat sedang memancarkan kesedihan yang mendalam, Ia seperti sedang menantikan kehadiran seseorang. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat padanya, tapi ia sama sekali tidak bergeming.
"Mommy" terdengar suara anak kecil memanggilnya. Wanita itu akhirnya menoleh dan tersenyum sekilas, lalu kembali menampakkan wajah sedihnya.
"Mommy merindukan Daddy" tanya bocah kecil itu mendekat dan menaruh kepalanya di pangkuan wanita hamil itu. Wanita itu diam saja tapi air matanya menetes, ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya di depan putranya. Kehamilannya membuatnya menjadi lebih sentimental dan sensitif dari biasanya.
"Jangan menangis Mommy, aku pasti akan menemukan Daddy untukmu" ucap Galih bangun dari posisinya dan menghapus air mata ibunya.
"Hallo Adik, apa kau juga merindukan Daddy" Galih menunduk dan mendekat ke perut Yesi, ia mengelusnya dengan sayang.
"Galih, kapan datang? seorang pria yang memiliki wajah dan perawakan yang sama dengan Aldo mendatanginya.
"Baru saja Paman" ucapnya singkat, ia menjabat tangan pria itu dan meletakkannya di keningnya.
"Kenapa kau sekarang memanggilku dengan nama itu? aku tidak menyukainya" ucap pria itu sembari mengacak rambut bocah kecil itu.
"Karena Daddy ku cuma satu, dan itu adalah Daddy Aldo" ucapnya lirih membuat pria yang berdiri di sebelahnya menghela nafasnya kasar.
"Bagaimana kondisi mommy mu, apa ada perubahan" tanya Aryo mengalihkan pembicaraan.
"Masih sama Paman, tapi paling tidak Mommy sudah mau tersenyum tadi walaupun sebentar" ucap bocah itu menahan kesedihannya.
"Apa paman belum menemukan Daddy?" tanyanya penuh harap.
"Belum" ucap Aryo singkat sembari memperhatikan Yesi.
"Paman belum menemukan Daddy atau memang Paman tidak pernah mencarinya" ucap bocah kecil itu tiba-tiba sembari mengepalkan erat kedua tangannya. Ia seperti menahan amarahnya.
"Apa maksudmmu?" Aryo terkejut dengan ucapan Galih.
"Paman tidak usah bohong padaku terus menerus, aku mendengar semua perkataan paman dengan Kakek!!" teriak bocah itu menahan amarahnya.
"Galih, ikut aku. Kau harus menjelaskan maksud dan perkataanmu itu" Aryo membawa paksa Galih.
"Bibik tolong kau temani nyonya di balkon kamarnya" perintah Aryo ketika berpapasan dengan seorang pelayan. Ia lalu membawa Galih masuk kedalam kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar Yesi.
"Tolong jelaskan maksud ucapanmu tadi" ucap Aryo melembut ketika melihat mata Galih memerah. Tapi bocah itu tetap berusaha untuk terlihat tegar.
"Aku..."