My Lovely Husband

My Lovely Husband
PERASAANMU.



" Apa kau baik - baik saja? " Tanya Lisa setelah proses tes selesai.


Nayla masih ada di ruang rawat untuk istirahat setelah proses tes DNA.


" aku baik - baik saja. Jangan khawatir. " Kata Nayla yang terbaring di atas ranjang.


" Syukurlah. Tapi janin mu juga tidak apa - apa kan? " Lisa masih khawatir.


Nayla mengangguk sambil tersenyum.


" Resiko nya benar - benar besar Nay. Kau bisa saja keguguran. Kenapa kau harus menyetujuinya. " Mata Lisa mulai berkaca - kaca.


" Tidak apa - apa, Lis. Semua baik - baik saja. " Nayla menenangkan Lisa.


" Lagipula untuk apa kau harus menuruti si brengsek itu? Ini anaknya atau bukan biarkan saja. Biarkan dia terus berpikir. " Lisa benar - benar merasa kesal.


Nayla malah tertawa melihat Lisa seperti itu. Dia tau sahabatnya itu memang gampang marah dalam hal apapun. Tapi dia adalah orang yang baik dan selalu menepati apa yang dia janjikan.


" Bisa aku bicara dengan Nayla sebentar?" Kevin tiba - tiba ada di belakang Lisa.


" Bicara apa lagi? apa semua belum cukup untuk menyakiti Nayla? " Lisa sudah tidak tahan denga Kevin.


" Ini tidak ada urusan nya dengan mu. " Kata Kevin dengan wajah serius.


" Tentu saja ada.. "


" Lisa. " Nayla memanggil Lisa dan menghentikan nys untuk bicara sesuatu yang tidak penting.


" Baiklah, Nay. Kalau ada apa - apa teriak saja. " Katanya sambil menatap tajam Kevin.


Pintu di tutup, dan mereka tinggal berdua sekarang.


Nayla memalingkan wajahnya agar tak melihat wajah Kevin. Rasanya sakit sekali jika dia melihat nya.


" Bagaimana keadaan mu? " tanya Kevin.


Nayla diam tak menoleh sedikitpun.


" Kalau tidak ada hal yang penting, lebih baik kau keluar saja. Karena tak ada yang ingin aku bicarakan. " Kata Nayla.


" Aku akan menikah dengan Jeanny! "


Nayla menutup matanya saat mendengar itu. Dia berusaha untuk tidak menangis ataupun marah.


" Saat tes keluar dan kita semua tau hasilnya bahwa itu bukan anakku. Saat itu juga aku akan menikah dengan Jeanny. " Kevin mengatakan itu tapi dengan raut wajah sedih..


Nayla terdiam.


" Bukankah saat kau tau itu anak siapa nanti, Kau juga harus menikah dengan nya?? " Tanya Kevin.


Entah apa yang dipikirkan Kevin dengan mengatakan itu semua. Sepertinya dia hanya ingin perhatian Nayla saja.


" Kita akan tau setelah 14 hari lagi, setelah tes nya keluar."


" Sudah cukup! Hentikan! ku mohon. " Nayla metapatkan kedua tangan nya dan memohon.


" Kau,, sepertinya memang tak pernah mencintaiku, Nay. "


Nayla terkejut dengan apa yang dikatakan Kevin.


Nayla tersenyum samar.


" Bukankah seharusnya kau katakan itu untuk dirimu sendiri? "


" Aku tidak akan seperti ini jika kau tak mengkhianatiku. "


" Jangan membuat ku tertawa. Dan sebaiknya kau pergi sekarang. "


" Aku akan pergi, jika kau memang menginginkannya. "


Kevin keluar ruangan. tapi Nayla tak tau saat dia akan keluar, sejenak Kevin memandang Nayla dengan raut wajah yang sangat sedih dan penuh dengan kehangatan dan cinta.


Lisa menunggu di luar dengan cemas. Saat Kevin keluar dia langsung menunjukan tatapan membunuh untuk Kevin.


" Kau pasti akan menyesal, Kevin. " katanya.


" Saat kau menyadari nya nanti, kau sudah kehilangan Nayla! " Lisa masuk setelah mengatakan itu.


Kevin melihat Lisa masuk ke dalam. Dia bingung, kenapa Lisa selalu mengatakan itu.


Apa aku benar - benar melakukan kesalahan selama ini?


" Sayang. " Lamunan nya di buyarkan karena Jeanny.


" Dadimana saja? " tanya Kevin


" Aku? hanya sedikit keperluan. " Katanya sambil tersenyum.


Devan yang dari tadi berdiri tak jauh dari ruangan Nayla, melihat Kevin dan Jeanny tanpa ekspresi apapun.


Lalu Devan berjalan ke arah ruangan Nayla dan Kevin ke arah sebaliknya. Mereka saling berpapasan


Devan melihat Kevin dengan ujung matanya begitu pun Kevin saat mereka saling melewati.


Tapi Kevin berhenti dan kembali melihat ke belakang,ke arah Devan yang sedang berjalan.


Lalu dia pergi karena Jeanny mengajaknya pergi.


Kevin pergi dan giliran Devan yang melihat ke arahnya saat dia sudah di depan pintu ruangan Nayla.


Menatap dengan tatapan kebencian


"Hai. " Devan menyapa saat masuk ruangan.


" Devan. Sedang apa disini? " tanya Lisa.


" Kebetulan saja lewat. Makanya mampir kemari. " Katanya sambil tersenyum lebar.


" Apa? apa aku tidak di terima di sini? " tanya nya dengan wajah terkejut.


" Nah, Kau terlihat saaaaaangat cantik kalau tersenyum. " Kata Devan.


Bukannya tersipu karena di puji, tapi Nayla malah tambah tertawa.


Devan senang melihatnya.


" Bagaimana tes nya? " tanya Devan.


" semuanya lancar. " Jawab Lisa.


" Hasilnya akan keluar 14 hari lagi. " Nayla menambahkan.


" Syukurlah. Semoga semua sesuai dengan apa yang kau harapkan. " Kata Devan.


" Tapi,, aku tidak melihat wanita itu sejak tes selesai. " kata Lisa.


" Jeanny? "


" Ya Dia. Aku hanya takut di melakukan sesuatu. "


" Maksudmu? " tanya Nayla.


" Yah, seperti dalam film. Hasil yang di tukar! "


Nayla terdiam dan berpikir.


" Apa itu mungkin? " Nayla sedikit takut.


" Hei sudah, sudah. Jangan dulu memikirkan hal yang belum tentu terjadi. " Devan menenangkan.


" Untuk apa ada aku disini? " Katanya membanggakan diri.


Nayla tersenyum dan sepertinya mulai sedikit lega.


" Tapi, Nay. Apa yang akan kau lakukan saat hasilnya sesuai dengan kenyataan nya ?" tiba - tiba Devan bertanya seperti itu.


Nayla diam dan melihat keluar jendela.


" Akan sulit bagiku untuk bisa memaafkan nya. " Kata Nayla.


Semua terdiam mendengar jawaban Nayla.


****


Sambil menyetir mobil, Kevin terus terbayang pria yang lewat tadi.


Kenapa rasanya seperti pernah melihatnya?


Kenapa rasanya ada sesuatu dengan dokter itu.


Pikiran Kevin di penuhi tanda tanya.


Dan sepertinya dia akan masuk ruangan Nayla.


Itu bukan dokter Nayla, apa mereka saling mengenal?


Pikiran Kevin kacau. Bukannya tenang karena sudah melakukan tes, tapi dia malah. semakin memikirkan banyak hal.


" Sayang. Apa yang sedang kau pikirkan? " Tanya Jeanny membuyarkan lamunan Kevin.


" Tidak ada. Hanya memikirkan sesuatu. " Jawab Kevin.


" Apa kau memikirkan Nayla? "


" ah.. itu.. "


" Kenapa seperti nya akhir - akhir ini kau tidak bersemangat? " Jeanny tampak kesal.


" Kau jarang datang ke rumahku. Kita jarang menghabiskan waktu bersama. "


" Dan kau sepertinya banyak memikirkan hal lain. Apa lau terus memikirkan Nayla? " Jeanny marah - marah.


" Lalu aku ini kau anggap apa? Anak dalam kandungan ku kau anggap apa? "


" Apa kau tidak menganggap anak dalam kandungan ku ?" Jeanny terus bicara tanpa henti.


" Bukan begitu.. tapi.. "


" Ah sudahlah. Sepertinya kau sudah mulai tidak mencintaiku lagi. "


" Bukan begitu. " Kevin mengelus rambut Jeanny dan mencoba menenangkan nya.


Jeanny menepis tangan Kevin.


" Kau pergi saja kembali pada Nayla. Biar aku mati saja dengan anak yang ku kandung ini. "


CKIIITTTTT..


Kevin langsung menghentika mobilnya.


" Hei bukan seperti itu. " Katanya dengan lembut.


Kevin menggenggam tangan Jeanny lalu mencium tangannya.


" Aku mencintaimu. Jangan berpikir hal yang tidak benar. " Katanya.


Kevin mendekati Jeanny dan mencium bibir Jeanny dengan lembut.


" Kau percaya padaku kan? " tanya Kevin.


" Lalu kau sebenarnya sedang memikirkan apa? " tanya Jeanny


" Aku hanya sedang memikirkan hasil tes saja. " jawab Kevin.


" Kau tenang saja. Hasilnya akan sesuai dengan. apa kita perkirakan " Kata Jeanny sambil tersenyum.


" Ha? maksudmu? "