My Lovely Husband

My Lovely Husband
KEHILANGAN



Kevin terus ada di sisi Nayla saat Nayla belum sadarkan diri.


Dia terus menggenggam tangan Nayla dan menempelkan nya di pipi nya.


Hingga Sekertaris Zein datang dan memperlihatkan video cctv yang ada di taman.


Kevin langsung pergi setelah mengetahui apa yang terjadi.


" Kak, tolong jaga Nayla disini. " Katanya.


Kevin pergi dengan raut wajah yang terlihat sangat marah.


Dia mengendarai mobil begitu kencang menuju rumah Jeanny.


Kevin memanggil - manggil Jeanny tapi sepertinya tak ada siapapun dirumah. Dia mencoba membuka pintu dan itu pun terkunci.


" Kemana dia pergi. " guman Kevin.


Kevin lalu pergi dari rumah Jeanny dan mencari nya di tempat lain. Dia pergi ke cafe yang sering Jeanny kunjungi tak ada disana.


Semua tempat yang sering di datangi pun tak ada terlihat Jeanny disana.


BUKKK..


Kevin memumul kemudi mobil karena merasa kesal tak menemukan Jeanny dimanapun.


" Kau harus bertanggung jawab. " Katanya.


Kevin menyandarkan kepalanya di kemudi. Dia terbayang kembali saat dia harus membela Jeanny dari pada Nayla.


Dimana dia lebih memilih Jeanny dari pada Nayla.


Kevin benar - benar menyesal dan merasakan kesakitan yang di rasakan Nayla selama ini.


" Aku memang benar - benar bodoh. " Kata nya.


****


Lisa mulai melihat tangan Nayla bergerak - gerak.


" Nay, kau dengar aku Nay. Ayo bangun. " Lisa memanggil Nayla pelan.


Sekertaris Zein yang di tugaskan menjaga Nayla pun melihat nya di samping Lisa.


" Nay. " Lisa terus memanggilnya dan mengusap - usap kepala Nayla.


" Lisa. " Nayla membuka matanya dan memanggil Lisa.


" Nay! " Lisa sangat senang melihat Nayla membuka mata nya.


" Kau baik - baik saja. Syukurlah akhirnya kau bangun, Nay. " Lisa memeluk Nayla.


" Nona. " Sekertaris Zein menyapa dan dia pun terlihat lega akhirnya Nayla bangun.


Nayla tersenyum pada Sekertaris Zein.


" Apa yang terjadi? aku dimana? " tanya Nayla.


Sekertaris Zein keluar untuk menelpon Kevin. Baru saja dia akan menelpon, kevin ternyata sedang berjalan menuju arah kamar Nayla.


" Tuan, syukurlah kau sampai. Nona sudah siuman. " Kata Sekertaris Zein.


" Benarkah? " Kevin terlihat sangat senang.


Dia langsung berlari dan masuk ke dalam. Nayla langsung melihat ke arah Kevin yang baru datang.


" Nay, Kau baik - baik saja, kan? " tanya nya sambil memegang tangan Nayla.


Nayla diam dan melepaskan genggaman Kevin.


Kevin sedikit terkejut, tapi dia pun memahami keadaan Nayla sekarang.


" Apa yang terjadi, Lis? " tanya Nayla.


Lisa tak bisa menjawab nya karena memang dia tak tau apa yang terjadi.


" Semua salahku! " Kevin langsung menjawab.


" Semua karena kesalahan ku. Maafkan aku, Nay. " Katanya.


Nayla memegang kepalanya mencoba mengingat sesuatu.


" Aku.. aku bertemu Jeanny waktu itu. " Kata nya sambil menutup mata.


" Apa? Jeanny? " Lisa terkejut.


" Ya, dia mengajak ku bertemu. "


" Lalu? "


" Lalu kami bertengkar dan dia ingin mencekik ku. "


" Dasar kurang ajar! " Lisa sangat marah mendengar nya.


Kevin yang sudah tau kejadian nya hanya diam. Dia benar - benar merasa bertanggung jawab.


" Lalu,, dia... Ha!!! " Nayla terkejut setelah mengingat nya.


" Anak ku! " Nayla memegang perutnya.


" Anak ku baik - baik saja,kan?" Tanya nya dengan cemas.


" Nay, tenang dulu. " Lisa bingung harus berkata apa.


Melihat itu, Kevin langsung memeluk Nayla dengan erat.


" Maafkan aku, Nay. Semua salahku sampai kau harus kehilangan calon anak kita. " katanya.


" Tidak!! Anakku! Anakku! " Nayla menangis sejadi - jadi nya.


Lisa hanya bisa melihat Nayla tanpa bisa berbuat apa - apa.


Nayla kembali tak sadarkan diri karena emosi yang meluap - luap.


Dokter harus segera menanganinya kembali dan dokter bilang Nayla jangan dulu banyak pikiran. Dia harus benar - benar istirahat.


" Semua karena kau. Kalau kau tak ada di hidup Nayla, dia tak akan menderita seperti ini. " Kata Lisa sambil melihat Nayla di balik pintu.


Kevin diam, Dia tau dia yang salah. Karena perbuatan nya.Karena sikap nya, dan karena kebodohan nya Nayla seperti ini.


Kevin benar - benar menyadari sekarang, kalau dia memang sangat mencintai Nayla. Dan perasaan nya untuk Jeanny hanyalah sekedar pelampiasan karena tak bisa sepenuhnya memiliki Jeanny dulu.


" Tuan, tentang dokter itu... " Sekertaris zein ingin mengatakan sesuatu tentang Devan tapi terhenti karena Devan sedang berjalan ke arah mereka.


Kevin seperti nya sedang tidak fokus, hingga dia tidak menyadari kalau Devan datang. Kevin duduk dengan melipat kedua tangan nya di dada sambil melamun.


" Apa semua baik - baik saja? " tanya Devan pada Lisa.


Lisa menggeleng sedih.


" Dia kembali tak sadarkan diri saat tau sudah kehilangan anak nya. "


" Yah, semua penderitaan Nayla karena ulah bodoh seseorang. " Ucap Devan sambil melirik Kevin.


" Apa maksudmu? " Kevin sepertinya mendengar nya.


" Bukan kah sudah jelas? semua karena ulah bodoh mu! " Devan berbalik menghadap Kevin.


Kevin berdiri karena tak terima perkataan Devan.


" Memang nya siapa kau hingga harus ikut campur urusan ku. " Kevin terlihat serius.


" Kau pikir siapa? tentu saja aku adalah orang yang sangat peduli dengan Nayla. "


" Apa? "


" Aku orang yang sejak dulu ada di hidup Nayla sebelum kau ada, Kevin Artama! "


" Kau benar - benar,,,, " Tangan Kevin akan memukul Devan tapi Sekertaris Zein menahannya.


" Tuan, hentikan! " Katanya.


" Lepaskan aku! " Kevin mencoba melepaskan tangan nya.


" Kenapa kau menghentikan ku? "


" Tenang lah, tuan. Ku mohon."


Kevin merasa bingung, kenapa Sekertaris Zein menghentikan nya sampai memohon seperti itu.


Sekertaris Zein mengangguk saat Kevin melihat nya.


Kevin pun diam dan hanya menatap tajam ke arah Devan.


Devan hanya tersenyum mengejek sepertinya.


" Dokter! " Seorang suster berlari ke arah Devan.


" Ada pasien gawat darurat." Katanya.


" Ya, aku kesana sekarang. "


" Aku akan kembali lagi nanti. " Katanya pada Lisa.


Lisa hanya mengangguk. Dia terkejut dengan pengakuan Devan barusan.


Ternyata benar, Devan menyukai Nayla. batin Lisa.


Itu sudah tentu terlihat dari sikap dan tatapan nya pada Nayla selama ini.


Dasar bodoh, bodoh. Apa yang aku harapkan selama ini.


Lisa memukul - mukul kepala nya sendiri karena sudah sangat bodoh berharap Devan menyukai nya.


Padahal dia tau selama ini sikap dan tatapan Devan yang begitu lembut terhadap Nayla membuktikan kalau Devan sangat peduli dan menyukai Nayla.


" Kenapa kau menghentikan ku, Kak? " tanya Kevin.


Mereka berdua berada agak jauh dari Lisa yang sedang duduk di depan ruangan Nayla.


" Maaf, tuan. Aku bukan nya lancang menghentikan mu tadi. "Kata sekertaris Zein.


" Lalu kenapa? tidak biasanya kau memohon seperti itu. " Kevin masih sedikit kesal.


" Kau harus mendengarkan aku tentang dokter itu, tuan. " katanya.


" Maksudmu? Ada apa memang nya? " Kevin penasaran.


" Aku sudah menyuruh orang kepercayaan kita mencari tau tentang dokter itu. "


" Lalu, apa yang Kau dapat? "


" Seperti nya,,, " Sekertaris Zein tampak ragu.


" Dia masih ada hubungan dengan anda. "