My Lovely Husband

My Lovely Husband
Operasi Berhasil.



"Bagaimana kondisi Bos saya, Dokter" tanya Beni pada seorang Dokter.


"Jangan khawatir operasinya berhasil, Tuan Key akan bisa berjalan seperti sediakala," jawab dokter itu dengan tersenyum.


"Terimakasih banyak Dok" Beni menjabat tangan dokter erat.


Dokter meninggalkan ruangan Key setelah memeriksa kondisinya pasca operasi.


Beni berjalan mendekat ke arah ranjang pasien, terlihat Key berbaring diatas tempat tidur itu dalam kodisi yang masih belum sadar.


"Selamat Tuan, operasi anda berhasil" Beni tersenyum sembari menatap Key.


Sementara itu di sebuah rumah sakit yang sama di sebuah ruang operasi, Dokter masih melakukan operasi sesar untuk Yesi. Aryo bersama dua orang pengawalnya, Galih dan seorang asisten rumah tangga terlihat sedang menunggu di depan ruangan operasi. Tampak wajah Aryo dan Galih terlihat tegang.


"Sebaiknya kamu pulang dan beristirahat, rumah sakit tidak baik untuk anak kecil" ucap Aryo mendekat ke arah Galih.


Galih mengabaikan ucapan Aryo, ia memilih duduk menjauh dari Aryo dan menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia bahkan tidak menoleh sedikitpun ke arah Aryo. Sementara itu Aryo hanya bisa menghela nafasnya melihat keponakannya yang mengabaikannya.


"Jhon bawa Galih pulang ke rumah" perintah Aryo.


"Aku tidak mau pulang, aku mau disini menunggu mommy" akhirnya Galih bersuara juga.


"Jhon!!" Aryo kembali memerintah Jhon, mengingat wajah Galih yang terlihat lelah dan mengantuk.


"Jangan menyentuhku, aku ingin disini menunggu mommy ku!" Galih berusaha menghindar dari gapaian tangan Jhon, ia bahkan sampai berdiri diatas kursi yang sebelumnya ia duduki.


"Aku akan menjaga mommy mu, sebaiknya kau pulang dan beristirahat. Besok pagi Jhon akan membawamu kesini melihat mommy" ucap Aryo meyakinkan Galih.


"Tidak!! kau bohong, pasti kau ingin menjauhkanku dari mommy seperti kau menjauhkan Daddy dariku. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil mommy dan adikku!" teriakan lantang Galih sempat menjadi perhatian beberapa orang yang berada tak jauh dari situ.


Aryo segera memberi kode Jhon agar segera membawa Galih dari sana. Jhon segera melaksanakan perintah Aryo, ia membawa Galih dalam gendongannya dan mengabaikan perlawanan dan teriakan Galih.


Lampu operasi mati, tanda operasi telah selesai. Tak lama seorang dokter keluar, Aryo segera berjalan menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi istri dan anak saya Dok?" tanya Aryo, terlihat raut khawatir di wajahnya.


"Operasi berhasil, walaupun sebelumnya sempat terjadi pedarahan. Untungnya kandungan telah Memasuki usia 28 minggu, paru-paru janin sudah terbentuk dengan cukup baik, janin sudah bisa bernapas dengan paru-parunya sendiri. Dalam tahap ini, bayi kemungkinan dapat bertahan hidup meski terlahir prematur, tetapi kondisinya masih cukup lemah untuk bisa bertahan di luar rahim. Jadi untuk sementara kami akan menempatkan putra-putri anda dalam inkubator."


"Putra-putri?" tanya Aryo sedikit terkejut.


"Iya, seperti pemeriksaan sebelumnya jika istri anda hamil kembar. Hanya saja pemerikasaan sebelumnya kami mengira dua bayi laki-laki tapi ternyata anda mendapatkan paket komplit" Dokter itu tersenyum sembari memberi selamat pada Aryo.


"Terimakasih banyak Dokter" terlihat raut bahagia dari wajah Aryo.


"Apa saya boleh melihat istri dan anak saya?"


"Tunggu sebentar, nanti akan ada perawat yang akan mengantar anda" ucap Dokter.


Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya Dokter mohon undur diri, tapi sebelum itu dokter juga memerintahkan seorang perawat untuk mengantar Aryo menemui Yesi dan anaknya.


Suster mengantar Aryo melihat kedua bayi kembar itu, walaupun ia hanya bisa melihat kedua bayi itu dari balik kaca tapi ia terlihat senang dan tersenyum.


"Bayinya mirip sekali dengan bapak" ucap suster itu membuat Aryo tersenyum lebar.


"Bagaimana dengan istri saya?"


"Perawat sedang membawa istri anda ke ruang perawatan, anda bisa melihatnya disana nanti" ucap suster itu.


"Terimakasih" ucap Aryo. Ia sekali lagi memperhatikan raut wajah kedua bayi itu.


Selesai melihat kedua bayi kembar itu, Aryo berjalan menuju ke ruang rawat inap Yesi. Ibu muda itu terlihat terbaring dengan nyenyak diatas tempat tidur pasien.


Aryo tersenyum dan berjalan mendekat, ia mengambil sebuah kursi dan meletakkannya di samping tempat tidur untuk ia duduki.


Ia merapikan anakan rambut yang menutupi sebagian kening wajah Yesi.


"Cepatlah sadar, kau telah melahirkan dua bayi yang sangat menggemaskan. Suster bilang, dia mirip denganku" Aryo mengelus wajah Yesi sembari tersenyum.


*****


Sementara itu disebuah apartemen mewah, Galih terpaksa dikurung di dalam kamar karena ia terus memberontak dan ingin kabur pergi ke rumah sakit untuk menemui Mommy nya.


Jhon memilih membawa Galih ke salah satu apartemen milik Aryo karena dekat dari rumah sakit.


Terdengar suara barang-barang yang dilemparkan ke lantai dari kamar tempat Galih di kurung.


Jhon dan salah satu asisten rumah tangga hanya bisa mengawasi dari ruang CCTV, tak jauh dari kamar itu.


Terdengar notifikasi masuk dari handphone Jhon. Sebuah pesan dari Aryo untuk memperlihatkan beberapa gambar yang dikirim Aryo pada Galih.


Salah seorang asisten rumah tangga mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum ia dan Jhon memasuki kamar Galih yang sudah seperti kapal pecah.


Jhon memperhatikan Galih yang berdiri dekat tempat tidurnya dengan lampu tidur di tangannya, sepertinya ia ingin bersiap-siap untuk melempar lampu hias itu.


"Tolong letakkan lampu itu Tuan muda," Jhon sedikit terkejut karena Galih mengancamnya akan melemparkan lampu itu padanya."


"Sebaiknya kau antar aku ke Mommy, kalau tidak aku akan melemparkan ini padamu!" ancam Galih sekali lagi.


"Tenanglah Tuan, saya kemari ingin memperlihatkan foto kedua adik anda" Jhon mencoba menenangkan Galih. Ia memperhatikan wajah Galih yang memerah dan dipenuhi buliran keringat di wajahnya.


Jhon segera mengarahkan handphone miliknya yang terdapat gambar dua wajah mungil kearah Galih.


"Berikan handphone itu padaku" pinta Galih, dengan wajah berbinar Galih menerima handphone itu. Sebelumnya ia memilih meletakkan kembali lampu tidur itu diatas meja.


"Bukankah dia mirip denganku?" Galih memperlihatkan gambar foto itu pada salah satu asisten rumah tangga yang berdiri tak jauh darinya.


"Iya Tuan" jawab sang asisten rumah tangga.


"Bagaimana dengan mommy ku?" tanya Galih tanpa mengalihkan pandangannya dari gambar foto kedua adiknya.


"Nyonya baik-baik saja, sebaiknya Tuan muda beristirahat. Saya janji akan mengantar anda besok pagi kesana" ucap Jhon meyakinkan Galih.


Galih akhirnya menyetujui ucapan Jhon, ia berjalan ke kamar mommy nya untuk beristirahat. Sementara itu asisten rumah tangga membersihkan kamar Galih yang berantakan.


****


Di dalam sebuah kamar di rumah sakit, terlihat Key sudah sadar dari pengaruh obat bius. Ia senang mendengar informasi dari Dokter yang mengatakan ia akan bisa berjalan kembali seperti semula.


"Perintahkan beberapa orang kita untuk mengawasi rumah tempat Yesi dan putraku secara diam-diam" perintah Key.


"Baik Tuan" jawab Beni dan segera menghubungi beberapa orang kepercayaannya.


Key juga menyuruh Beni untuk mencari makan diluar. Ia tau asistennya itu sedari tadi menunggunya dan belum sempat makan malam.


Beni yang awalnya menolak akhirnya setuju karena ia memang benar-benar merasa lapar. Ia berjalan melewati lorong ruangan VVIP, yang tanpa ia sadari ia telah melewati sebuah kamar inap yang bertuliskan nama Yesi.


TBC.