
Galih berlari menghampiri Key, mereka berdua cukup terkejut dengan kehadiran Galih.
"Sayang, uuhhh...." key yang mencoba bangun dari tidurnya tidak sengaja menggerakkan kaki bekas operasi, hingga ia merasa kesakitan.
"Jangan terlalu banyak bergerak dulu tuan" Beni memperingatkan Key.
"Tidak apa, aku hanya ingin memeluk putraku
"Daddy, kemana aja selama ini. Galih dan mommy merindukanmu Daddy. Dan ada apa dengan kakimu ini Daddy?" tanya Galih, ia memeluk key dengan erat, sangking bahagianya ia bahkan sampai meneteskan air matanya.
"Daddy nggak kemana-mana, Kaki Daddy juga baik-baik saja, hanya sedang dalam perawatan. Daddy juga sangat merindukan kalian, bagaimana kabar mommy. Dan bagaimana kamu bisa sampai disini?" Key melepaskan pelukannya. Memperhatikan setiap inci anggota tubuh anaknya.
"Mommy juga sedang di rawat di rumah sakit ini, dan Galih tidak sengaja melihat Daddy pada saat melewati ruangan ini, jadi Galih putuskan untuk menengok Daddy" ucap Galih dengan senang.
"Apa? apa yang terjadi? Apa mommy sakit? Beni! bukankah aku menyuruhmu mengirim orang untuk melindungi istriku?"
"Tenang Daddy, mommy tidak sakit. Mommy telah memberiku dua adik kembar. Mereka sangat imut dan menggemaskan, aku baru saja melihat mereka tadi."
"Jadi mommy, sudah melahirkan?" Key terlihat senang sekaligus penasaran. Galih menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah...., terimakasih tuhan" ucap Key merasa bersyukur.
"Daddy juga ingin melihat adik kembarmu. Dimana mereka sekarang? tanya Galih."
"Adik ada di ruangan perawatan bayi, kata uncle Jhon karena mereka lahir belum cukup umur jadi mereka menaruhnya di in...., in apa ya...."
"Incubator" Beni menyahut perkataan Galih.
"Iya, bener itu paman."
"Daddy...., kapan kita bisa bersatu seperti dulu. Kasihan mommy, semenjak Daddy tidak ada mommy nggak mau bicara. Mommy pasti sangat merindukan Daddy."
"Tunggu sebentar lagi ya. Setelah Daddy bisa berjalan, Daddy janji akan menjemputmu, si kembar dan juga mommy. Sabar sebentar ya sayang" ucap Key meyakinkan mereka.
"Jangan terlalu lama ya Daddy, aku tidak menyukai uncle Aldo. Dia tidak seperti dulu, ia galak dan ingin menguasai mommy" Galih terlihat kesal dan tidak menyukai pamannya itu.
"Jangan seperti itu, walau bagaimanapun dia masih keluarga kita, saudara kembar Daddy. Selama ini bukankah ia telah menjagamu dan mommy dengan baik?"
Key tidak ingin anaknya sampai membenci Aldo, walau bagaimanapun Aldo adalah keluarga terdekatnya, saudara kembarnya. Galih mengerti dan mengangguki perkataan Daddy nya.
"Galih, bisakah kau rahasiakan dulu keberadaan Daddy. Daddy tidak ingin menjumpai mommy mu dalam keadaan seperti ini. Daddy janji Daddy akan langsung menemui Mommy begitu kaki Daddy sembuh" pinta Key pada Galih.
"Oke Daddy, tapi seperti kataku tadi. Jangan terlalu lama, jemput kami segera ya Daddy" pinta Galih sedikit merengek.
"Baiklah, Daddy akan berjuang agar cepat sembuh dan menjemput kalian."
"Terimakasih Daddy" kembali memeluk Key dengan erat.
Karena waktu kunjung Galih terbatas, akhirnya ia pamit pada Key. Ia tidak ingin jika Aldo dan asistennya itu mengetahui keberadaan Ayahnya.
******
Sementara itu di ruangan Yesi sudah sadar, ia bahkan sudah bisa duduk. Keadaannya lebih baik dari sebelumnya, tapi setidaknya ia sudah mau bicara dengan Aldo. Walaupun terlihat sedikit terpaksa.
"Anakmu baik-baik saja. Mereka ada diruang perawatan, istirahatlah dulu nanti setelah itu baru kita jenguk mereka" ucap Aldo dengan lembut.
"Tidak, aku ingin melihat mereka sekarang!"
"Baiklah, tunggu sebentar biar aku hubungi perawat lebih dulu" Aldo terlihat senang, setidaknya Yesi sudah mau bicara dengannya.
Tak lama datang seorang dokter di temani seorang suster. Key meminta dokter itu untuk memeriksa Yesi, ia juga menyampaikan keinginan Yesi ingin bertemu anaknya.
Dengan sebuah kursi roda, Yesi di bawa ke ruangan anaknya. Ia menatap anaknya yang berada dalam ruang incubator. Air matanya menetes bahagia melihat kedua belah hatinya.
"Jangan khawatir, mereka baik-baik saja. Dua Minggu lagi kita bisa membawa mereka pulang" ucap Aldo.
"Aku ingin menggendong mereka" pinta Yesi.
"Baiklah Bu, tapi hanya sebentar saja ya" perawat itu mengambil bayi dari kotak incubator dan menaruhnya hati-hati ke tangan Yesi.
Yesi terlihat bahagia sampai ia meneteskan air matanya. Setelah ia merasa cukup, Yesi mengembalikan bayinya pada suster dan kembali menaruhnya di ruang inkubator.
Yesi dan Aldo kali ke ruang perawatan, mereka juga berpapasan dengan Galih ketika ingin menuju ke ruangan Yesi.
"Mommy kau sudah bangun" berlari mendekati ibunya dan memberikan sebuah pelukan.
"Darimana saja Kau Galih dan dengan siapa?" tanya Yesi terlihat khawatir. Ia melepaskan pelukan putranya dan memperhatikan kondisi tubuh putra sulungnya itu.
"Mommy kau sudah mau bicara denganku, syukurlah mommy kau baik-baik saja" Galih terlihat senang.
"Uncle, biar aku yang mendorong kursi roda Mommy" Galih mengambil alih kursi roda dari tangan Aldo.
"Ini berat, biar aku saja" ujar Aldo.
"Tidak, aku sudah besar paman. Aku bahkan sudah bisa menjaga adik dan juga Mommy. Mulai sekarang Uncle tidak perlu khawatir lagi. Saya yang akan menjaga mereka dengan baik"
Bocah kecil itu berusaha terlihat sok Dewasa. Aldo tersenyum kecil nyaris tak terlihat.
Akhirnya Aldo membiarkan Galih mendorong kursi ibunya, walaupun awalnya terlihat agak sulit tapi akhirnya ia terbiasa juga.
Sementara Galih menemani Yesi di ruangannya, Aldo mengajak Beni untuk berbicara diluar.
Di Ruangan Key terlihat sedang memarahi Beni. Ia merasa pekerjaan orang yang ia minta untuk mengawasi Yesi tidak becus. Key menyuruh Beni mengganti orang-orangnya dengan orang yang lebih profesional. Ia tak masalah berapapun biaya yang harus ia keluarkan.
"Segera kau ganti orang-orangmu itu, kali ini kau benar-benar mengecewakanku" ucap Key.
"Baik, Tuan" ucap Beni. Ia merasa bersalah kali ini karena telah menerjunkan orang yang kurang profesional.
Lama mereka bercakap-cakap, tiba-tiba pandangan mereka teralihkan oleh pintu yang tiba-tiba terbuka. Kedua wajah mereka terkejut saling pandang.
"Apa kabar Kak?"
TBC