
"Kenapa kau menanyakan itu? Dan kau tau dari mana nama itu? " tanya Ayahnya.
" Tidak, hanya seseorang memberitahu ku. " Jawab Kevin.
" Maaf kan Aku Ayah. Maaf kalau aku sudah lancang menanyakan hal seperti ini. " Kevin menyayangi Ayah dan Ibu nya.
Dia berpikir, apapun masa lalu mereka Kevin tak peduli. Yang dia tau kedua orang tua nya sangat menyayangi nya dan mendidik nya dengan baik.
" Tidak apa, Nak. Itu bukan sesuatu yang harus di sembunyikan juga, kan? " Kata Ayah nya sambil menepuk pundak Kevin.
" Baiklah, Aku harus pergi. Maaf aku sudah mengganggu waktu Ayah. "
Ayah Kevin memeluk Kevin dan menepuk - nepuk pundak nya.
" Sayang. " Panggil Ibu nya saat Kevin akan masuk ke dalam mobil.
Kevin menoleh dan Ibu nya langsung memeluknya penuh kasih sayang.
" Apapun yang terjadi, kau harus ingat bahwa Ayah dan Ibu sangat menyayangi mu. "
Kevin memeluk Ibu nya dan tersenyum lalu pergi.
Ibu Kevin melihat kepergian anak nya sampai dia tak terlihat lagi. Ayah Kevin menghampiri Istrinya yang terlihat sangat resah.
" Apa yang kau pikirkan? " tanya Ayah Kevin.
" Tidak ada. Hanya saja... kau pikir dari mana Kevin tau tentang semua nya? "
Ayah Kevin mendekap Istrinya dan menenangkan nya.
" Kenapa harus kau pikirkan? Itu hanya masa lalu. " Katanya.
" Apa kabar, tuan Arga Artama. "
Ayah dan Ibu Kevin terkejut karena ada yang menyapa saat mereka akan masuk ke dalam.
" Kau,,, siapa? " tanya AYah Kevin.
" Devan. " Dia mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan.
Ayah Kevin seperti nya ragu tapi akhirnya dia menyambut Jabat tangan Devan.
" Aku Devan. Devan Artama. " Devan tersenyum menyeringai.
Sontak Ayah Kevin langsung menarik tangan nya kembali.
" Siapa kau? " Tanya nya penuh curiga.
" Aku hanya seseorang yang kau lupakan selama ini dan datang hanya untuk menyapa. " Ucap Devan.
" Suami ku. " Ibu Kevin terlihat takut dan memegang tangan suaminya.
Devan melihat itu dengan raut wajah datar. Seprtinya dia sangat tidak menyukai nya.
" Anda terlihat hidup senang dan sukses. "
Ayah Kevin menatap Devan dengan perasaan yang aneh.
Siapa anak ini?
Aku baru melihatnya tapi rasa nya sudah mengenal nya sangat lama. Batin Ayah Kevin.
" Baiklah, aku permisi. Aku hanya ingin melihat keadaan mu saja,,,, Ayah! ".Devan tersenyum dan langsung pergi tanpa berkata apapun lagi.
" Siapa dia sebenar nya?" Ibu Kevin terlihat tidak nyaman.
Tapi Arga Artama sepertinya menyadari sesuatu.
****
Nayla sudah sadar saat Kevin kembali lagi ke rumah sakit. Lisa ada di samping nya dan menemani nya.
" Kau baik - baik saja, Nay? " Tanya Kevin yang lega Nayla sudah sadar tapi dia juga tak berani terlalu dekat dengan Nayla.
Melihat dari cara Nayla melihat sekilas ke arah nya, dia tau Nayla masih marah dan belum bisa menerima semua nya.
Kevi diam dan hanya bisa menatap Nayla yang membuang muka pada nya.
Tok.. tokk. tok..
" Boleh aku masuk? " Devan membuka pintu.
Kevin menahan emosi nya. Dia merasa Devan benar-benar menantang diri nya. Dengan terang - terangan dia datang mendekati Nayla saat Kevin ada disana.
Kevin berpikir, Devan pasti tau keadaan Nayla dan perasaan Nayla pada nya sekarang. Maka nya dia mengambil kesempatan untuk mendekati dan mengambil hati Nayla.
" Aku bawakan buah kesukaan mu. " Kata nya sambil menyimpan sekeranjang buah Apel di meja samping tempat tidur.
" Terimakasih. " Nayla tersenyum.
Melihat senyuman Nayla untuk orang lain begitu menusuk hati nya. Tapi Kevin tak bisa berbuat apa - apa jika memang Nayla tidak menginginkannya.
" Kau mau aku suapi? " tanya Devan.
Hampir saja Kevin maju dan akan menarik Devan karena sikap nya yang sangat berlebihan
" Tidak usah, terimakasih. " Kata Nayla dan tampak sekilas dia melihat ke arah Kevin.
Mungkin sedikit banyak, Nayla masih peduli tentang Kevin.
" Baiklah. Aku harus pergi sebentar karena ada janji dengan pasien. " Devan berdiri.
" Nanti aku akan kembali lagi. hhmm? "
" Tentu saja. Nayla akan senang kalau kau disini. " Lisa langsung menyahut sambil melihat ke arah Kevin.
Dia begitu karena dia ingin memanas - manasi Kevin yang hanya bisa melihat saja.
Kevin ikut keluar saat Devan keluar.
" Tunggu! " panggilnya.
Devan berhenti dan berbalik badan.
" Aku tau kau sengaja melakukan semua nya hanya untuk membuat ku kesal. " Kata Kevin.
" Tapi kau harus tau, Aku tidak akan terpengaruh sedikitpun dengan semua nya. " Lanjut nya.
Devan tersenyum.
" Baguslah kalau kau berpikir aku melakukan nya karena sengaja. " Kata Devan sambil maju ke arah Kevin.
" Tapi kau juga harus ingat. " Devan menepuk pundak Kevin.
" Kalau aku serius untuk mendapat kan Nayla. "
" Kau... "
" Lebih baik kau simpan emosi mu agar bisa mencegahku nanti. " Katanya sambil pergi.
Kevin benar - benar tak mengerti dengan Devan. Kenapa dia ingin sekali merebut Nayla padahal Kevin yakin kalau Devan sama sekali tak mencintai Nayla.
Dia pasti hanya ingin membuat ku kesal. pikir nya.
🎶🎶🎶🎶
Ponsel Kevin berbunyi.
" Halo. "
" Sayang. Kau masih ingat aku kan? "
" Jeanny!! "
" Berani sekali kau menghubungi ku lagi? " Kevin terdengar kesal.
" Kevin, Kau sudah membuat ku hancur seperti ini. " suara Jeanny terdengar parau.
" Tapi aku akan pastikan, kau pun akan hancur,Kevin artama. "
" Kau dan Nayla akan hancur. Kalian pasti akan mati. Hahahaha.. " Jeanny terdengar putus asa dan penuh dendam.
" Aku sudah melaporkan mu ke pihak polisi. Dan kau tidak akan bisa lari lagi. " Kevin mengancam.
" Aku tak takut! karena sebelum aku tertangkap, akan ku pastikan kau dan Nayla hancur!! "
Tut.. Tut.. Tut..
Ponsel di matikan. Kevin menarik nafas panjang.
" Alu harus hati - hati dengan ancaman nya. "