My Lovely Husband

My Lovely Husband
PENYESALAN



" Nay, aku benar - benar sudah sangat bersalah padamu. " Kevin terus memeluk Nayla.


" Aku benar - benar minta maaf. " katanya lagi.


" Aku memang orang yang sangat bodoh, Nay. "


" Kau mau kan memaafkan ku? " Kevin menatap Nayla sambil memegang kedua pipi Nayla.


Pelan - pelan Nayla melepaskan tangan Kevin di pipi nya.


" Syukurlah kalau memang kau sudah mengerti sekarang. " Katanya.


" Tapi,,, aku butuh waktu. Aku benar - benar merasa sangat sakit. " Nayla meneteskan air mata.


Dia merasa hati nya seperti tersayat jika mengingat semua nya dan itu membuat airmata nya jatuh tak tertahankan.


"Nay, aku mengerti apa yang kau rasakan. " tatapan Kevin terlihat sangat lembut.


" Setelah semua yang ku lakukan, kau akan sulit untuk memaafkan ku dan menerimaku kembali. "


" Tapi aku benar - benar menyesal dan minta maaf, Nay. "


" Aku mengerti. Hanya,,, berikan aku waktu. "


Kevin mengangguk dengan senyuman kepedihan.


" Aku mengerti, Nay. Aku akan menunggu. " Kevin mundur selangkah.


Lisa yang melihat semua nya merasa sangat kesal dan tidak tahan untuk bicara dengan Kevin tapi Devan melarang nya.


" Biarkan Nayla menyelesaikan nya. " Katanya sambil tersenyum.


" Karena nanti, aku yang akan mengurus semuanya. " gumamnya.


" Apa? " tanya Lisa


" Tidak ada. " Devan membawa Lisa masuk ke dalam.


****


Kevin menyandarkan kepalanya di bangku kemudi.


Dia memejamkan matanya dan terdiam.


" Sial! " katanya sambil memukul kemudi.


" Bagaimana aku bisa sebodoh ini!" Katanya dengan raut wajah seakan ingin menangis.


" Sekarang Nayla tak akan pernah mau kembali padaku lagi. "


🎶🎶🎶🎶


Suara ponsel Kevin berbunyi.


Jeanny! untuk apa dia menghubungi ku lagi. batin nya.


Kevin tak menghiraukannya.


🎶🎶🎶🎶


Ponsel terus berbunyi dan berbunyi hingga Kevin kesal dan akhirnya mengangkat nya.


" Kevin, kalau kau pergi dari ku. Aku akan mati sekarang! " katanya.


" Apa lagi mau mu sekarang? " Kevin tidak ingin meladeni nya.


" Aku sudah tidak ingin mendengar apapun lagi dari mu! " katanya.


" Aku ada di atap gedung mu! Aku akan melompat sekarang! " Jeanny berteriak sesaat sebelum Kevin menutup telpon nya.


Kevin tak ingin menanggapi, tapi setelah beberapa saat berpikir dia pun pergi untuk memastikan.


Tak berapa lama dia sampai di gedung Artama. Dia langsung pergi ke lantai paling atas dan pergi ke bagian atap gedung.


Saat dia membuka pintu, dia melihat Jeanny sudah berdiri di pinggir gedung dengan menaiki pagar pembatas.


" Aku tau kau akan datang. Aku tau kau masih mencintaiku dan peduli pada ku! " Katanya sambil tersenyum.


Kevin berdiri tak mendekat, dia diam dan tak mengatakan apapun.


" Aku kesini bukan untuk menghentika mu. " Kevin terlihat dingin.


" Apa maksudmu? " Jeanny terkejut.


" Aku hanya ingin mengatakan, aku tidak peduli dengan apa yang ingin kau lakukan!"


" Kenapa? kenapa kau mengatakan itu? " Jeanny setengah berteriak.


Kevin menatap Jeanny sesaat, lalu dia pergi begitu saja.


" Kevin tidak! " Teriak Jeanny.


" Kevin tunggu, jangan tinggalkan aku! "


BRUGG..


Jeanny terjatuh ke lantai saat dia memanggil Kevin.


" Jangan pergi. " Katanya sambil menangis.


" Ini semua gara - gara kau Nayla. " Sorot mata Jeanny penuh dendam.


" Aku akan membalas semua nya! "


****


Nayla duduk termenung di kamar. Dia masih terbayang saat Kevin datang tadi.


Hati nya merasa kasihan karena sebenarnya dia masih mencintai Kevin. Tapi luka di hati nya ter amat sangat menyakitkan untuknya.


Dia teringat kembali semua yang telah Kevin lakukan pada nya dan itu membuat hati nya kembali teriris.


" Apa kau masih memikirkan dia? " Lisa tiba - tiba ada di samping Nayla.


" Kau tak perlu merasa kasihan. Dia dulu tidak merasa kasihan sedikitpun padamu" Lisa terlihat geram.


" Tapi,, kenapa tiba - tiba dia kemari dan meminta maaf seperti itu? " tanya Nayla yang bingung.


" Apa lagi, Nay. dia mungkin hanya ingin anak nya saja. Bukankah dia akan menikah dengan si wanita ular itu. "


" Aku tau. Tapi aku merasa dia benar - benar menyesal. " Nayla terlihat sedih.


" Hei stop it, Nay. Kau tau dia seperti apa kemarin. Kau jangan mau terpengaruh, Nay! " Lisa kesal karena Nayla sepertinya goyah.


" Aku tau. " Kata nya sambil merebahkan dirinya dan menarik selimut.


Lisa merasa kasihan melihat keadaan Nayla.


" Kau istirahat lah. " Lisa mengelus rambut Nayla.


Lisa keluar kamar dan duduk di meja makan setelah membawa segelas air di tangan nya.


" Lisa, apa menurut mu ada kesempatan untuk ku bersama Nayla? " Lisa terbayang kembali pertanyaan Devan tadi sebelum dia pulang.


" Maksudmu? " Lisa tak mengerti.


" Aku,, sepertinya aku menyukai Nayla. " Devan terlihat malu.


" Apa? apa kau sudah tidak waras? " Lisa terkejut.


" Kenapa? memang nya apa salah nya? "


" Tentu saja salah! Nayla itu masih jadi istri orang lain dan dia juga sedang mengandung." Lisa menjelaskan.


" Aku tau. Mungkin saat ini dia masih istri orang lain. " Devan tersenyum.


" Tapi sebentar lagi, aku pastikan dia akan meninggalkan suami yang tidak berguna itu. " katanya sambil tersenyum menyeringai.


Lisa punya firasat buruk tentang kata - kata Devan dan raut wajah nya terlihat sangat menyeramkan saat mengatakan akan memastikan sesuatu.


Keesokan pagi nya.Pagi - pagi sekali Nayla mendapat pesan dari Jeanny.


Aku tunggu kau di taman jam 10 .


Hanya itu isi pesan nya. Nayla tak ingin memanggapi nya tapi Jeanny mengirim pesan lagi.


Jika kau ingin aku melepaskan Kevin, datang lah. Kalau tidak, aku akan mencelakai Kevin.


Nayla tak mengerti apa maksud perkataan Jeanny. Awalnya dia tak ingin menanggapi, tapi dia terlanjur memikirkan nya dan akhirnya dia pergi ke tempat yang di janjikan.


Lisa masih tertidur dan tak tau Nayla akan pergi.


Akhirnya Nayla pergi sendiri dengan taksi.


Jeanny sudah menunggu disana. Nayla sedikit aneh karena hari ini Penampilan Jeanny sedikit tertutup dengan jaket sedikit tebal dan memakai topi hitam walaupun riasan nya masih terlihat glamour.


" Apa yang ingin kau bicarakan? " tanya Nayla.


Jeanny berbalik dan tersenyum.


" Apa kau senang sekarang, Nayla? " tanya nya.


" Apa maksudmu? " Nayla tak mengerti.


" Kau pasti merasa menang setelah semua jelas kan? " Jeanny terlihat kesal.


" Aku tidak mengerti maksudmu. "


Jeanny berjalan mengelilingi tubuh Nayla sambil melihat dengan tatapan benci.


" Kau jangan pura - pura bodoh. " Jeanny mencengkram dagu Nayla dengan kencang.


" Lapaskan! " Nayla menepis tangan Jeanny.


" Apa sebenarnya yang ingin kau katakan! " Nayla mulai kesal.


" Kalau tak ada yang ingin kau bicarakan, aku akan pergi! " Nayla berniat pergi.


Tapi tiba - tiba Jeanny menarik rambut Nayla hingga Nayla kesakitan sambil memegang rambutnya.


" Kya.. lepaskan aku. Kau sudah gila. " Katanya.


" Aku memang sudah gila! " Jeanny setengah berteriak sambil menghempaskan rambut Nayla.


" Semua rencanaku hancur karena Kau! "


" Kau merebut Kevin dariku!" Katanya sambil menunjuk Nayla.


Nayla sedikit ketakutan karena perilaku jeanny seperti orang tidak waras.


" Kalau kau tak ada, Kevin akan menjadi milik ku dan tak akan meninggalkan ku! " Jeanny mulai menangis.


" Jeanny sadarlah, kau terlalu terobsesi. "


" Terobsesi katamu? " Jeanny kembali marah.


" Semua karena kau, Nayla. " Jeanny mendekati Nayla.


Nayla mundur karena takut.


" Kalau saja kau tak ada. Aku tak akan seperti ini. " Jeanny terus menyalahkan Nayla.


" Lebih baik kau lenyap saja! "


Jeanny langsung mencekik leher Nayla dan membuat Nayla kesulitan bernafas. Nayla terus berusaha melepaskan tangan Jeanny tapi cengkraman nya terlalu kuat.


Akhirnya dengan segala kekuatan yang tersisa dia berhasil menendang kaki Jeanny dan membuat cengkraman nya lepas.


Nayla berusaha untuk lari turun dari tangga dengan tubuh lemas.


Tapi tiba - tiba Jeanny berlari dan mendorong Nayla.


BRUGG...


Nayla terjatuh berguling - guling dari tangga.