
Flashback on
Tepatnya 6 tahun yang lalu. Seorang gadis cantik tersenyum menatap cermin di depannya. Ia mengagumi gaun yang di pilihkan oleh kekasihnya.
"Kau menyukainya" pria itu tersenyum menatap wanitanya yang bergerak miring ke kanan dan ke kiri mengagumi gaun yang ia kenakan.
"Tentu, ini adalah baju terbaik yang pernah aku kenakan" ucapnya.
Pria itu mendekat, meraih pundak wanitanya dan menghadapkan lurus ke depan kaca. Setelah ia merasakan posisinya sudah tepat, ia mengeluarkan sebuah kalung emas putih bertahtakan berlian. Ia mengenakan kalung itu pada kekasihnya.
"Sempurna. Apa kau menyukainya?" pria itu menatap kagum wanitanya yang mengenakan gaun dan kalung berlian darinya.
"Suka sangat suka, tapi..., apa aku pantas mengenakan perhiasan mahal ini?" Menyadari posisinya yang jauh berbeda membuat rasa percaya dirinya runtuh tiba-tiba. Senyum bahagia yang sebelumnya tersemat mendadak menghilang begitu saja.
"Pantas sangat pantas, karena kau adalah pilihanku Tania Rahmah" ucap pria itu mengecup kening wanitanya.
Terimakasih Tuan, Aldo" wanita itu memeluk pujaan hatinya. Sang pria membalas pelukannya dan menghadiahi kecupan lembut untuk wanitanya.
Ya Pria itu adalah Aldo dan kekasihnya Tania. Gadis yatim piatu yang berprofesi sebagai pelayan sebuah coffe shop di seberang kantor Aldo, telah berhasil mencuri hatinya.
Aldo setiap pagi sering melihat Tania menyeberangkan jalan wanita tua yang tinggal di belakang coffe shop milik bosnya. Pemandangan rutin itu membuat Aldo tertarik dan ingin mengenal jauh tentang gadis itu.
"Jangan memanggilku seperti itu, aku tidak suka" ucap Aldo sedikit merajuk.
"Aku hanya bercanda" ucapnya tertawa.
"Bersiaplah, aku akan membawamu ke suatu tempat" ucapnya sembari mencubit gemas dagu Tiara.
"Memangnya Mas Aldo, ingin mengajakku kemana?" wanita itu penasaran dengan sikap misterius kekasihnya hari ini.
"Menemui Papaku, aku ingin memperkenalkan mu padanya sekaligus meminta ijin untuk menikahimu" ucap Aldo yakin.
"Tapi aku takut, apa mungkin Papamu bisa menerimaku? kau Taukan aku hanya seorang gadis bia..."
"Aku tidak membutuhkan persetujuannya, aku hanya ingin mengenalkanmu padanya. Papaku setuju atau tidak, aku tetap akan menikahimu" Aldo memutus pembicaraan Tania.
"Tapi ..."
"Tidak ada tapi-tapi, Ayo berangkat!" Aldo meraih tangan Tania dan membawanya kedalam mobil.
Di dalam mobil Tania tidak berani berbicara apapun, ia diam membisu sepatah katapun tidak ada kata yang keluar dari bibirnya.
Tania terlihat gugup bahkan kedua telapak tangannya terasa dingin.
"Jangan takut, aku akan selalu bersamamu" ucap Aldo sembari meraih satu tangan Tania dan menaruhnya ke pangkuannya. Aldo menjalankan mobil dengan satu tangannya
Sampai di tujuan langkah kaki Tania terasa berat, ia benar-benar takut. Ia menyadari siapa dirinya dan dimana posisinya.
"Ayo masuk" ucap Aldo meraih tangan Tania.
Tania berjalan dengan langkah kaki sedikit terseret karena Aldo menariknya untuk berjalan cepat. Nyali Tania semakin menyusut menatap gedung mewah di depannya. Ia memperhatikan pria yang kini menggandeng tangannya. Mereka bagaikan langit dan bumi.
Aldo ibarat langit malam yang terlihat indah dengan kelep-kelip bintang dan bulan yang menyinarinya. Sedangan Tania mengibaratkan dirinya seperti sebuah lumpur yang becek.
"Sebaiknya aku pulang saja" Tania memaksa menarik tangannya dari genggaman Aldo tapi ia tak berhasil karena Aldo menggenggamnya sangat erat.
Aldo tak menghiraukan ucapan Tania, ia membawa masuk Tania walaupun Tania harus setengah berlari karena mengikuti langkah Aldo.
"Dimana Tuan besar" tanya Aldo pada pelayan yang membukakan pintu untuknya.
"Ada di ruang tengah Tuan, Tuan ditunggu Tuan besar untuk menemuinya segera" ucap Pelayan itu. Aldo menganggukkan kepalanya dan kembali berjalan.
"Ada apa lagi?" Aldo terlihat kesal.
"Tuan besar berpesan hanya ingin bertemu dengan Tuan muda saja. Sebaiknya Nona ini menunggu diruang tamu saja" ucap pelayan itu dengan nada sedikit takut. Ia tahu seperti apa Tuan mudanya itu jika sedang marah
"Siapa kau mengatur- ngatur urusanku" ucap Aldo makin kesal.
"Maaf Tuan, ini perintah Tuan Besar" dengan membungkuk hormat pelayan itu berbicara.
"Paman Amaaaarrrr!! teriak Aldo memanggil kepala pelayan.
"Ada apa Tuan" dengan lari tergopoh-gopoh dan keringat yang membanjiri wajahnya pria paruh baya itu menghadap tuan mudanya.
"Pecat pelayan ini sekarang juga" perintah Aldo tidak dapat lagi di bantah. Pelayan itu terkejut hingga jatuh bersimpuh. Dengan tangisannya ia memohon untuk di maafkan dan tidak dipecat.
"Ampun Tuan, ampun...., Tolong jangan pecat saya Tuan. Saya mohon maaf saya hanya menjalankan perintah Tuan besar" pelayan itu menangis sambil bersimpuh, tapi Aldo sama sekali tidak perduli dan berlalu.
Tania yang merasa kasihan menarik ujung lengan baju Aldo.
"Mas maafkan dia, jangan dipecat kasihan" ucap Tiara setengah berbisik.
"Paman, biarkan ia tetap bekerja. Cukup potong separuh gajinya sebagai tanda peringatan" ucap Aldo lalu pergi dari situ. Tania tersenyum lega dan kembali mengikuti langkah Aldo.
"Terimakasih Tuan, terimakasih Nona" ucap pelayan itu sambil bersujud.
Aldo sampai diruangan yang dimaksud, Tania menundukkan kepalanya takut, saat semua mata yang ada di ruangan itu menatapnya dengan tajam.
"Amaaaarrrr...!!!" teriakan kembali terdengar. Tapi kali ini bukan Aldo melainkan Tuan besar.
"Ya, ada apa Tuan besar" datang tergopoh-gopoh sambil menyeka keringat di wajahnya.
"Bawa wanita ini keluar!!" perintahnya sambil menunjuk wanita yang ada di samping Aldo.
Pria paruh baya itu baru saja ingin maju satu langkah, tapi kembali memundurkan langkahnya ketika tatapan Aldo bagai belati yang menghunusnya.
"Kalau anda tidak menerima keberadaannya, maka aku juga akan pergi dari sini!" ucap Aldo dengan ada suara yang mantap.
"Keluarlah Arman dan tutup pintunya" Akhirnya Tuan besar mengalah dari keras kepalanya Aldo.
"Aldo kau tau bukan siapa kedua orang di depanmu ini?" tanya Tuan besar di angguki oleh Aldo. Aldo tak melepaskan genggamannya sama sekali dari Tania, ia juga memilih untuk berdiri di bandingkan duduk di sofa bersebelahan dengan Mayang. Kebetulan hanya satu kursi kosong sebelah Mayang dan satu lagi di sebelah Ayah Mayang, Aldo enggan duduk terpisah dari Tania
"Ayah sudah membicarakan masalah pernikahanmu. Seminggu lagi kau akan bertunangan dan tiga bulan kemudian kita adakan resepsi pernikahan kalian" jelas Tuan besar.
"Tidak aku tidak ingin menikah tiga bulan lagi" ucap Aldo.
"Lalu apa maumu?" nada bicara Tuan besar sudah mulai meninggi.
"Saya akan menikah seminggu lagi" ucap Aldo singkat
"Kak Aldo, tapi Mayang belum bersiap-siap untuk pernikahan kita Kak. Bagaimana kalau sebulan lagi?" ucap Mayang tak bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahnya.
"Aku tidak akan menikah denganmu, tapi dengannya" ucap Aldo.
Mak jleb, Mayang seperti merasakan hujaman ribuan panah mengarah tepat ke jantungnya, Mayang terdiam melirik Ayahnya dan Tuan besar yang juga sama terkejut sepertinya.
Sementara Tania semakin menundukkan pandangannya ketika semua tatapan mata beralih seperti ingin mencabik-cabiknya.
TBC.
Untuk dua episode, author bakal bahas masa lalu Aldo dan penyebab tertukarnya identitas mereka. Sabar ya, yang mau tau kelanjutan ceritanya Aryo. Terimakasih dukungannya, love you all 😘.