
Disebuah rumah sakit sederhana seorang gadis muda kira-kira berusia 21 tahun sedang memandangi seorang pria yang sudah terbaring kurang lebih 7 bulan lamanya.
Pria itu sebelumnya mengalami patah tulang kaki di bagian kiri dan beberapa luka di bagian tubuh lainnya, pada saat itu ia di temukan terdampar di aliran sungai sebuah desa yang jauh dari perkotaan.
Luka di badannya sudah sembuh, bahkan bekasnya pun tak terlihat, tapi pria tampan itu tak juga bangun.
Rambutnya sudah mulai terlihat panjang bahkan bulu-bulu halus sudah mulai menutupi pinggiran wajahnya.
"Leni apa yang kau lakukan kenapa kau selalu saja memandangi wajah pria itu, apa pekerjaanmu sudah selesai" Andi teman Leni sesama cleaning servis rumah sakit itu mengingatkan.
"Iya-iya aku akan segera menyelesaikan tugasku" ucapnya meraih sapu yang ia senderkan diranjang pasien.
"Hai tampan kapan kau bangun, lihat bahkan wajah tampanmu sudah tertutupi dengan kumis dan jenggotmu" Leni selalu memperhatikan pasien itu dari awal di temukan hingga saat ini.
"Leni, cepat selesaikan tugasmu" Andi kembali meneriaki Leni. Andi memasuki ruangan pasien itu untuk membersihkan kamar mandi.
"Apa yang kau bersihkan di kamar mandi itu, bahkan kamar mandi itu tidak ada yang menggunakannya sama sekali. Kasihan pasien ini dimana keluarganya?" Leni menyapu lantai sambil menggerutu.
"Jangan biasakan bekerja sambil mengoceh, nanti yang ada pekerjaan tidak selesai-selesai" Andi kembali menasehati Leni.
Usia Andi terpaut 3 tahun dari Leni. Pemuda berusia 24 tahun itu memiliki dua pekerjaan. Di pagi hingga sore hari ia bekerja di rumah sakit, di sore hingga malam hari ia bekerja di sebuah kafe.
"Hai lihat tangan pemuda ini bergerak," Leni terlihat heboh ketika menyaksikan pasien yang koma selama 7 bulan telah mulai ada tanda-tanda tersadar.
"Cepat panggil dokter!!" teriak Leni lagi ketika melihat Andi yang terbengong menyaksikan jari-jemari pasien itu bergerak lemah.
"Kenapa kau tak pencet tombol itu untuk memanggil perawat" ucap Andi terlihat kesal. Ia kesal Leni terlalu peduli dengan pasien di depannya.
"Oh iya" menepuk jidatnya lalu menghubungi perawat.
Tak butuh waktu lama, beberapa perawat dan Dokter datang memeriksa.
"Cepat dokter, lihat ini tangannya bergerak" Leni kembali heboh memanggil dokter yang sedang berjalan menuju bed pasien.
"Kalian keluar dulu, biar dokter memeriksanya" ucap perawat mengusir Leni dan Andi secara halus.
Pemuda itu membuka matanya perlahan saat merasakan tubuhnya seperti sedang di sentuh oleh orang lain. Ya, saat ini dokter tengah meriksa dirinya.
"Apa anda bisa melihat saya?" tanya dokter itu menatap Mata pemuda itu yang baru saja terbuka. Pemuda itu mengangguk lemah.
"Ambil sampel darahnya kita akan melakukan pemeriksaan ulang" perintah dokter itu pada seorang perawat yang membantunya memeriksa pasien.
"Anda ingin mengatakan sesuatu?" Dokter melihat pemuda itu gelisah ingin berbicara tapi terlihat sulit. Pemuda itu mengangguk dan melepas paksa selang oksigen yang menancap di hidungnya.
"Biar saya bantu untuk melepaskan" ucap dokter itu.
Dokter kemudian mendekatkan telinganya ketika pemuda itu memberi kode untuk mendekat. Pemuda itu sepertinya ingin berbicara.
"Di-ma-na Sa-ya" ucapnya Lemah.
"Anda saat ini berada di rumah sakit Desa Makmur. Anda ditemukan oleh salah satu warga desa di pinggiran sungai, lalu dibawa kemari untuk perawatan" jelas dokter itu.
Pemuda itu berusaha untuk bangun tapi dokter mencegahnya.
"Anda baru saja sadar setelah kurang lebih 7 bulan koma, tolong jangan bangun dulu tubuh anda masih lemah" ucap Dokter itu menahan pemuda itu yang berusaha keras untuk bangun.
"Siapa nama anda?" tanya Dokter itu.
"Key" ucapnya Lemah.
Ya pemuda itu adalah Aryo atau kita sebut saja dia Key. Setelah kecelakaan itu ia di temukan terdampar di pinggiran sungai. Entah bagaimana ceritanya mobil yang sebelumnya menggelinding dan meledak itu bisa membawa Key terdampar ke sebuah desa di pinggiran sungai.
"Istirahatlah,anda perlu memulihkan tenaga anda. Kita akan memulai terapi besok untuk memulihkan kondisi fisik anda."
"Jangan khawatir kondisi patah tulang kaki anda masih bisa kita perbaiki. Saya akan persiapkan operasi anda nanti, ketika fisik anda sudah siap" ucap Dokter itu.
Key yang tadinya panik akhirnya tersenyum lega.
Tak terasa lima hari telah berlalu, Key melewati hari-hari nya berjuang untuk kesembuhan Kakinya. Ia meminta tolong pada Andi yang biasa ia temui di pagi hari ketika melaksanakan tugasnya.
"Bisakah aku meminta bantuanmu?" tanya Key.
"Tentu Tuan, ada apa?" tanya Andi.
"Apa kau memiliki handphone ?" tanya Key.
"Ada Tuan, ini" Andi menyerahkannya pada Key.
"Boleh aku gunakan untuk menelpon sebentar?" tanya Key lagi.
"Boleh Tuan tenang saja selama dirumah sakit bisa pakai sepuasnya karena ada WiFi gratis" ucap Andi setengah tertawa.
Key mengingat-ingat nomor Beni asistennya, setelah ia mengingatnya ia segera menghubunginya.
"Hallo" jawab Beni dari sebrang telpon.
"Tuan Aldo!! Alhamdulillah akhirnya anda menghubungi saya Tuan. Ya Allah Tuan sudah tujuh bulan anda tanpa kabar, anda dimana saat ini Tuan? Kabar anda bagaimana? Anda tinggal dengan siapa? Beni terus bertanya, membuat kepala Key semakin pusing.
"Kalau kau terus bertanya, bagaimana aku bisa menjawab" ucap Key terlihat kesal.
"Maaf Tuan, saya terlalu senang anda mau menghubungi saya."
"Ben, aku akan memberitahukan padamu posisiku saat ini. Tolong kau kemari dan jangan biarkan orang lain tahu keberadaanku selain dirimu. Aku akan kirimkan alamatnya segera" ucap Key, ia tidak mengatakan jika ia berada di rumah sakit karena kecelakaan. Jika asistennya tahu pasti akan semakin heboh lagi.
"Andii!!" panggil Key pada Andi yang masih sibuk mengepel lantai di depan ruangan Key.
"Ya Tuan!" dengan berlari kecil, Andi menghampiri Key.
"Ini handphone mu, terimakasih Ya" ucap Key, menyodorkan handphone milik Andi.
"Sama-sama Tuan" Andi mengambil kembali handphone miliknya
"Tumben pagi ini sepi, mana Leni. Biasanya pagi-pagi dia sudah membuat kehebohan diruanganku" tanya Key.
"Leni ijin Tuan, dia pulang kampung orang tuanya sakit Tuan" ucap Andi memberi penjelasan.
"Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu" ucap Key dari atas tempat tidur pasien.
**************
Sementara itu di lain tempat, seorang wanita cantik duduk sendirian di sebuah taman samping rumah yang terlihat begitu megah.
Pandangannya menerawang ke depan, tapi pikirannya entah berada dimana. Ada kerinduan mendalam dari tatapan matanya, merindukan seseorang yang entah dimana keberadaannya.
"Kau masih memikirkannya" seorang pria dengan setelan jas kerjanya mendekat padanya.
Wanita itu diam saja, ia tak menjawab pertanyaan pria di depannya. Ia hanya mengelus perutnya yang terlihat membesar.
Ya, wanita itu sepertinya sudah hamil Tua. Berkali-kali ia terus mengelus lembut perutnya sekalipun pikirannya entah berada dimana.
"Jagalah dirimu baik-baik, aku akan kembali ke kantor. Ingat satu bulan lagi adalah waktu kelahiran anak-anakmu. Jangan lama-lama duduk di luar rumah, tidak baik untuk calon bayimu" Pria itu mengelus lembut rambut wanita di depannya walaupun tidak ada reaksi berarti dari wanita itu.
Pria itu akhirnya pergi dengan menghela nafasnya, sesekali ia menoleh kebelakang menatap wanita hamil itu yang masih saja terdiam.
TBC.