My Lovely Husband

My Lovely Husband
Kedatangan Beni.



Beni yang sebenarnya masih berada di luar negeri langsung membeli tiket penerbangan menuju kota terdekat dengan alamat yang ia dapatkan. Ia tidak mengatakan pada Bosnya dimana keberadaannya yang sebenarnya karena khawatir jika bosnya berubah pikiran dan kembali menyembunyikan keberadaannya.


Beni cukup terkejut, ternyata Bosnya berada dirumah sakit. Entah apa yang sebenarnya terjadi baik Bosnya maupun Si pemilik telpon yang sempat ia telpon kembali tidak memberinya informasi apapun. Mereka hanya meminta Aldo untuk datang ke rumah sakit.


Setelah melewati setengah hari lebih perjalanan akhirnya Beni sampai juga di rumah sakit yang ia tuju. Ia menatap heran sebuah rumah sakit sederhana melalui jendela mobil. Belum lagi perjalanan menuju kemari yang membutuhkan perjuangan di karenakan akses jalan banyak yang rusak dan berlubang.


Dua setengah jam perjalanan menggunakan pesawat, sedangkan untuk selebihnya di habiskan oleh perjalanan darat.


Beni turun dari mobil yang ia sewa, pinggangnya terasa rontok akibat melewati bebatuan dan jalan berlubang selama berjam-jam.


"Astaga, bagaimana bisa bos menemukan daerah ini" ucap Beni sembari merenggangkan otot pinggangnya.


"Mau cari siapa Tuan, ada yang bisa kami bantu?" Beni disambut senyum ramah oleh Suster rumah sakit.


"Kamar Pak Aldo nomer berapa ya sus?" tanya Beni.


"Maaf pak, tidak ada yang namanya Pak Aldo yang dirawat disini" ucap suster itu setelah mengecek buku pasien.


Beni yang merasa heran mengecek kembali handphone miliknya, nama rumah sakit dan alamat benar, tapi mengapa tidak ada pasien atas nama Aldo.


Akhirnya Beni memilih untuk menelpon handphone yang sebelumnya menghubunginya.


Terdengar suara panggilan handphone tak jauh dari tempat Beni berdiri.


"Hallo" jawab Andi, bukannya di jawab orang itu malah menutup telponnya.


"Maaf saya temannya Pak Aldo, ini benar nomer anda" Beni memperlihatkan SMS yang ada di dalam handphone miliknya.


"Oh, bapak temannya Pak Key, mari saya antar keruangannya" ajak cleaning servis itu. Anton menaruh alat tempurnya di pinggiran tembok lalu meminta Beni untuk mengikutinya.


"Key" gumam Beni lirih, nama yang cukup asing di telinganya. Tapi ia tetap memilih mengikuti pemuda itu.


"Tuan Key, lihat siapa yang aku bawa bersamaku" ucap Andi ketika memasuki ruangan Key.


"Beni!!" ucap Key. sementara Beni juga masih bingung dan bertanya-tanya dengan nama baru Aldo.


"Saya tinggal dulu tuan, saya harus melanjutkan tugas saya" ucap Andi pamit.


"Terimakasih ya Ndi" sahut Key.


"Jadi Bos anda mengganti nama anda Key agar kami tidak bisa menemukanmu" tebak Beni penasaran.


"Bukan, itu adalah nama panggilanku sejak lama: ucap Key menambah bingung Beni. Sejak 5 tahun ia mengikuti bosnya itu belum pernah ada satupun orang yang memanggilnya dengan nama itu.


"Apa yang terjadi padamu saat ini bos, kenapa kau ada di rumah sakit. Lalu namamu itu, aku tak pernah mendengar satu orang pun dengan nama itu."


"Mendekat lah, aku akan menjelaskan semuanya" Key meminta bantuan Beni agar membantunya duduk dan bersender pada kepala ranjang.


Key menjelaskan bagaimana ia mengalami kecelakaan hingga berakhir di rumah sakit.


"Apa kau tau seperti apa masa lalu Aldo sebelum dia kecelakaan dan koma?" tanya Key.


"Sudah aku bilang aku Key bukan Aldo, atau kau bisa menyebut nama lainku Aryo" ucap Key yakin.


"Hah! bagaimana bisa!!" ucap Beni terkejut.


"Kalau anda tuan Aryo terus yang disana itu siapa?" tanya Beni bertambah pusing.


"Jangan bilang identitas anda tertukar karena hilang ingatan, tapi kenapa kembaran anda menyebut dirinya Aryo" tebak Beni lagi, ia terlihat makin pusing. Tapi satu hal yang pasti, ada sosok orang licik di balik semua kejadian ini.


"Itu sebabnya aku memintamu kemari, aku ingin kamu menyelidiki ini semua. Hanya ada dua kemungkinan kenapa Aldo menyamar sebagai diriku. Yang pertama ada orang lain yang menanamkan ingatan baru di otaknya atau bisa kita bilang ia mengalami cuci otak. Yang kedua ia sengaja berpura-pura dan mungkin memiliki motif tertentu" tebak Key.


"Tapi sepertinya kalau melihat situasi saat ini kemungkinan yang pertamalah yang paling mendekati kebenaran" ucap Key kembali menebak.


"Saya juga berpikir seperti itu" sahut Beni.


"Tolong kau selidiki masa lalu Aldo untukku dan juga tolong kau bayar semua biaya rumah sakit. Aku berhutang banyak pada rumah sakit ini sementara aku kehilangan dompet beserta isinya" keluh Key.


"Kalau Anda tuan Aryo yang asli berarti anda suami asli non Yesi dong" ucap Beni mengingatkan Key pada istrinya tercinta.


"Bagaimana kondisinya saat ini, apa suaminya menjaganya dengan baik?" tanya Aldo khawatir. Ia tidak tahu apakah ia masih berhak pada Aldo sementara setahunya Yesi sudah menikah secara sah dengan saudara kembarnya.


"Pada saat akad nikah Non Yesi pingsan tiba-tiba, jadi acaranya berantakan. Terpaksa mereka membawa Non Yesi ke rumah sakit."


"Jadi apa mereka tak jadi menikah?" tanya Key terlihat senang.


"Saya tidak tahu masalah itu Tuan, saya bahkan tidak bisa menjenguk Non Yesi. Keluarga anda memberi pengamanan yang ketat saat itu. Katanya sih mereka melanjutkan akad nikahnya di rumah sakit" jelas Beni. Key terlihat lemas dengan jawaban yang ia dapatkan dari asistennya.


"Lalu bagaimana kondisinya saat ini dan juga putraku Galih, bagaimana dia?" tanya Key masih penasaran. Terbersit kerinduan di hati dan juga ekspresi wajahnya.


"Saya tidak bisa mendekati non Yesi maupun Galih semenjak peristiwa akad nikah itu. Mereka benar-benar menjaga ketat kemanan mereka berdua. Bahkan para penjaga mengusir saya jika ingin bertemu galih dan Non Yesi, entah apa yang mereka sembunyikan dari publik. Tapi...." Beni menghentikan penjelasannya sejenak. Ia ragu ingin mengatakan sesuatu.


"Ada apa katakan saja!!" Key terlihat tak sabaran mendengar kabar dua orang tercinta dan terpenting dalam hidupnya.


"Non Yesi hamil tuan" ucap Beni dengan suara yang sedikit lirih.


"Apa?" tanya Key tak yakin. Ia takut jika salah dengar.


"Non Yesi hamil" ulang Beni sekali lagi.


"Hamil, kamu yakin?" tanya Key sekali lagi.


"Saya yakin tuan, waktu itu saya hanya bisa melihatnya dari jauh. Karena pengawalnya tak segan-segan menghajar saya kalau sampai saya ketahuan mengikuti mereka. Bahkan wajah saya pernah babak belur karena ketahuan mengintai non Yesi" ucap Beni sedikit bergidik mengingat peristiwa pengeroyokan yang ia alami. Bagaimana tidak, ia yang sendirian harus melawan lima orang pengawal.


"Hamil? Apa mungkin itu bayiku?" tanya Key penasaran. Jika benar itu bayinya ia berniat untuk merebut Yesi dari saudara kembarnya apapun yang terjadi.


Saya tidak tahu Tuan, saya mencoba mencari tahu tentang usia kehamilan Non Yesi ditempat ia memeriksakan kandungannya. Sayangnya Dokter itu tidak ingin memberi keterangan apapun tentang kehamilan Non Yesi. Dan saya kembali mendapat bogem mentah pada saat berada di pelataran parkir rumah sakit" jelas Beni.


"Ini sangat mencurigakan, tidak biasanya keluargaku sampai bertindak protektif seperti itu, pasti ada yang mereka sembunyikan" tebak Key.


TBC.