
Selama mereka menunggu hasil tes, Nayla dan Kevin tak pernah sekalipun berkomunikasi.
Kevin masih selalu di ikuti Jeanny kemanapun dia pergi, bahkan sekarang Jeanny pun sering ada di kantor karena dia juga mulai bekerja sebagai model dalam produk baru Artama Group.
Nayla pun masih tinggal dengan Lisa dan sekarang seperti nya Devan sering mengunjungi Nayla.
Devan orang yang lucu. Dia selalu membuat Nayla tertawa setiap kali dia datang berkunjung.
Dia selalu menceritakan hal yang lucu dan membuat Nayla senang saat bersama Devan.
Hari yang di tunggu pun tiba.
Devan menjemput Nayla dan Lisa untuk pergi ke rumah sakit.
Devan tidak mengantar Nayla sampai ke ruang dokter. Dia hanya mengantar sampai mereka turun dari mobil lalu Devan pergi ke ruangan nya.
Saat Nayla masuk, Kevin sudah ada di dalam dan juga Jeanny!
Jeanny duduk sambil memeluk lengan Kevin dan sangat menempel dengan Kevin.
Dan sepertinya Kevin sengaja membiarkan Jeanny seperti itu agar Nayla melihatnya.
Kali ini Nayla sama sekali tidak terpengaruh. Dia langsung duduk dan Lisa duduk di sebelahnya.
Lisa menatap tajam ke arah Kevin, dan Jeanny hanya tersenyum mengejek ke arahnya.
Suasana begitu hening. Tak satupun dari mereka bicara hingga tak berapa lama dokterpun masuk bersama seorang suster.
"Selamat pagi. " Sapa dokter.
Lalu dokterpun duduk dan suster memberikan sebuah map pada dokter.
Suasana sudah mulai tegang. Kevin sesekali menatap ke arah Nayla walaupun Nayla tak pernah melihatnya sedikitpun.
Dalam hati Nayla sebenarnya sangat cemas. Dia teringat terus kata - kata Lisa yang mengatakan kalau hasil tes bisa saja di tukar.
Dia sempat berpikir, bagaimana kalau itu sampai terjadi dan Kevin benar - benar percaya kalau itu bukan anaknya.
Sebenarnya Nayla tidak khawatir tentang masa depan anaknya. Hanya saja dia tidak terima jika itu tidak di akui oleh Kevin.
Rasanya itu tidak adil untuknya dan untuk anaknya nanti. Apa kata orang nanti, sedangkan dia dari keluarga terpandang dan kalau sampai itu terbukti bukan anak Kevin maka reputasi keluarga nya akan jatuh.
Dan perasaan nya pun akan hancur jika nanti Kevin benar - benar tidak mengakui nya.
" Saya akan sampaikan hasil tes nya." Dokter membuka map nya dan mulai membaca secara seksama.
Lisa menggenggam tangan Nayla agar Nayla tenang dan tidak merasa gugup.
Nayla tersenyum dan mengangguk ke arah Lisa.
Kevin melirik ke arah Nayla dan Jeanny sudah tersenyum - senyum seperti sudah tau akan hasilnya kalau hasilnya adalah tidak sama.
" Baik, jadi hasilnya adalah... "
Semua terlihat tegang kecuali Jeanny yang tersenyum.
" Hasilnya adalah sama. Gen kalian sama. "
Ucapan dokter membuat Nayla menghembuskan nafas panjang karena Lega.
Lisa langsung berteriak senang dan memeluk Nayla.
Kevin pun sepertinya terlihat senang dan lega tapi tak dia tunjukan.
Dan Jeanny,,,
Mata nya terbelalak karena kaget dan wajahnya mulai memerah karena sepertinya dia tak bisa menerima keputusan hasilnya.
" Apa? apa maksudnya ini? ini tidak mungkin! " Katanya langsung berdiri.
Semua melihat ke arah Jeanny dengan penuh tanda tanya.
" Apa maksudmu tidak mungkin? " Lisa ikut berdiri.
" Ya,, itu tidak mungkin sama. Sudah jelas Nayla itu berselingkuh dan itu bukan anaknya! " Kata Jeanny.
" Jeanny cukup. " Kevin mencoba menghentikan Jeanny.
" Lalu maksudmu, hasilnya di manipulasi? " Lisa benar - benar sudah tidak tahan dengan Jeanny.
" Ya itu bisa saja. Kalian pasti sudah memanipulasinya kan? " Jeanny bersikukuh.
" Dia memang sudah tidak waras. " Kata Lisa.
" Sayang, kau jangan percaya hasilnya. itu pasti sudah di ganti. Itu palsu. ".Jeanny merengek.
" Kau tau dia sudah mengkhianatimu!" Jeanny menunjuk Nayla.
Lisa geram dan sudah mengangkat tangan nya untuk menampar Jeanny.
PLAKKK...
Nayla menampar Jeanny dengan keras.
Semua terkejut melihatnya. Jeanny memegang tangan nya dan berniat menampar Nayla kembali. Tapi Nayla langsung memegang tangan Jeanny dan menatap tajam.
" Sudah cukup tuduhan mu padaku? " tanya Nayla.
" Apa masih belum puas sampai kau mendapatkan suami ku? "
" Kau bisa mengambil Kevin dariku, tapi tidak harga diriku. " Nayla benar - benar marah.
Nayla melepaskan tangan Jeanny, dan sepertinya Jeanny kesakitan karena dia mengelus tangan nya.
" Sekarang semua sudah terbukti, Aku sama sekali tidak salah dan kalian lah yang salah. " Katanya sambil menatap ke arah Kevin.
Nayla langsung pergi meninggalkan ruangan dan Lisa mengikutinya.
Kevin yang sudah merasa bersalah langsung mengejar Nayla keluar.
" Nay, tunggu aku! " Katanya.
Tangan Jeanny yang memegang tangan nya pun langsung di tepisnya.
Nayla bertemu Devan di luar dan Devan melihat Nayla meneteskan air mata.
" Apa semua baik - baik saja? " Tanya Devan menghentikan langkah Nayla sambil memegang pundaknya.
" Nay? kau tidak apa - apa? " Devan menundukan wajahnya melihat wajah Nayla yang di tutupi lengan nya karena menahan tangis.
" Nayla! " Langkah Kevin terhenti saat melihat Nayla dengan pria di luar.
Devan mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Kevin.
" Ayo pergi dari sini. " Katanya sambil memeluk pundak Nayla dari belakang.
Kevin yang melihat itu merasa cemburu karena Nayla pergi dengan pria yang tak dia kenal.
" Nay tunggu. Biarkan aku bicara denganmu. " Kevin berniat menarik tangan Nayla.
Tapi Devan dengan sigap langsung mencegahnya dengan memegang tangan Kevin dengan kuat.
Mereka saling bertatapan dengan tatapan yang tajam dan serius antara dua pria.
" Nayla sedang tidak ingin di ganggu! " Kata Devan.
" Siapa kau mengaturku? Dia istriku dan aku berhak bicara dengan nya. " Jawab Kevin.
Devan melepaskan genggamannya.
" Kau ingin bicara dengan nya? " tanya nya pada Nayla yang masih membelakangi Kevin.
" Tidak! " Jawab Nayla pelan.
Devan melihat ke arah Kevin dengan mengangkat alis nya seolah berkata ' Kau dengar itu? '
" Nay, tolong beri aku kesempatan untuk bicara. "Kevin tetap ingin bicara dengan Nayla.
Jeanny datang dan langsung memegang lengan Kevin.
" Sudahlah, untuk apa kau bicara dengan nya lagi. "Katanya .
" Jeanny tolong diam lah. " Kevin mulai kesal dengan Jeanny.
" Kevin, walaupun hasilnya sama. Tapi kau tidak bisa meninggalkan ku kan? aku juga sedang hamil anakmu! "
Kevin terdiam setelah mendengar nya.
" Kau tidak meninggalkan ku juga. Kau harus bertanggung jawab. "
" Aku tidak mau di tinggalkan. Aku lebih baik mati saja! "
Nayla langsung pergi setelah mendengar pembicaraan Jeanny. Hatinya sudah cukup sakit dengan semua yang terjadi.
Semua tuduhan itu, semua sikap itu. Semua yang telah terjadi sudah membuat nya sangat muak!
Devan masih berdiri di depan Kevin dan Jeanny.
" Aku hanya memberi saran. Bukankah kau harusnya mencurigai dia? "
Kevin tak mengerti apa yang di katakan Devan tapi sepertinya Jeanny sangat terkejut dengan kata - kata Devan.