My Lovely Husband

My Lovely Husband
Bab 22



Hari ini Marina sudah dipindahkan ke ruang rawatnya.keadaannya sangat buruk,bahkan dokter sudah hampir menyerah,tetapi karena Gavin yang memaksa dan memohon.


Gavin baru saja melihat bayi nya,ia melihat wajah polos anaknya ia tersenyum melihat anaknya itu.Namun mengingat keadaan mamanya yang saat ini tidak bisa melihat anak yang telah lama dinantikan olehnya.


Baru saja Gavin keluar dari ruangan bayinya,dokter menghampiri Gavin.


"Permisi pak,ada yang mau saya bicarakan dengan bapak."seru dokter pada Gavin.


"Ada apa dok,apa ini menyangkut istri saya.dia baik-baik saja kan dok."tanya Gavin yang mulai panik.


"sebaiknya kita bicarakan diruangan saya saja pak."ajak dokter.


"Baiklah."jawab Gavin singkat yang langsung mengikuti dokter.


saat sudah sampai ruangan dokter pun langsung menyuruh Gavin duduk dan menceritakan apa yang ingin ia sampaikan pada Gavin.


"Begini pak, setelah kami periksa.kini keadaan Bu Marina semakin memburuk,dan kami tidak bisa melakukan apapun lagi kecuali semangat hidup Bu Marina sendiri."ucap dokter yang langsung mendapat protes dari Gavin.


"Dokter jangan begini dong, tolong usahakan yang terbaik untuk istri saya.saya akan membayar berapapun yang dokter minta,asalkan tolong jangan berhenti membantu istri saya."protes Gavin yang sedikit marah pada dokter.


setelah mereka mengobrol dan sesekali berdebat, akhirnya Gavin keluar dari ruangan Dokter dan langsung menuju ke ruangan Marina.


Ia masuk dan langsung menghampiri Marina yang kini terbaring dengan mata yang selalu terpejam yang entah sampai kapan akan terbuka lagi atau pun tidak akan pernah.


Gavin melihat tidur damai Marina,tapi bukannya menjadi ketenangan untuk Gavin,namun menjadi sebuah derita untuk Gavin.


"Sayang..... cepatlah lah bangun.apa kamu tidak mau melihat putri kita,dia sangat lucu dan cantik seperti kamu."Ucap Gavin tersenyum sekaligus terisak menangis.


*******


Sebulan telah berlalu, keadaan Marina belum juga menunjukkan perkembangan.


Bagaikan bumi tanpa sinar matahari,kini keadaan keluarga Gavin maupun Marina sedang bersedih.mengingat keadaan Marina yang nyawanya sudah di ujung tanduk.


Hari ini Gavin sedang duduk di sofa ruangan Marina,ia sedang melamun.Memikirkan segala masalahnya,Ia sangat bersedih dan putus asa,tapi ia juga harus kuat untuk putrinya dan ia juga yakin bahwa Marina akan kembali sadar.setiap hari ia berdoa untuk kesembuhan Marina.


Saat sedang melamun, tiba-tiba datang Windi.Ia menghampiri Gavin di sofa dan langsung menanyakan kabarnya dan keadaannya Marina.


"Nak, bagaimana keadaan kamu.dan bagaimana perkembangan Marina."tanya Windi sambil mengusap bahu Gavin.


"Seperti yang mamah lihat.Dan keadaan Marina masih belum ada perkembangan mah."jawab Gavin dengan tatapan sendu.


"Kamu jangan gini dong nak,mama juga sedih dengan keadaan Marina,apalagi dia juga kan putri mamah.Tpi kamu juga jangan lupa kalau ada putri kami yang kita i membutuhkan sosok ayahnya nak."Ucap Windi mencoba menasehati Gavin,ya walaupun hatinya sama hancur nya dengan gavin.


"Ia mah,Gavin akan berusaha tegar dan mengurus putri kami sebisa mungkin."jawab Gavin yang langsung terhenti karena mendengar sesuatu dari arah Marina.


Saat mereka mendekat dan mendapati Marina yang mulai tengah berjuang melawan mautnya.ia terlihat sejak nafas,dan Gavin yang panik langsung memencet tombol darurat untuk memanggil dokter.


tidak lama,dokter dan perawat langsung berlarian kekamar rawat marina.


Gavin yang tidak mau disuruh keluar tetap ngotot ingin menemani istrinya,kini sedang melihat bagaimana perjuangan Marina bertahan hidup.


Dokter terlihat sangat serius dan beberapa kali memakaikan alat Apada marina.Gavin melihat bahwa keadaan Marina sudah sangat lemah.