My Lovely Husband

My Lovely Husband
Merindukanmu.



"Sekarang hanya ada kita berdua disini, katakan apa yang ingin kau katakan sekarang" Aryo menatap bocah kecil yang ada dihadapannya dengan wajah serius.


"Berhenti membohongi kami Paman, aku sudah tahu siapa Daddy kandungku sebenarnya."


"Oh, ya! bisa kau katakan siapa Daddy yang kau maksud itu."


"Nama Daddy ku adalah Aryo, tapi ia terpaksa memakai nama Aldo karena ia kehilangan ingatannya. Jadi Paman jangan kau gunakan nama Ayahku sebagai identitas mu sekarang. Nama Daddy Aryo adalah milik Daddy ku!!" Galih berteriak keras dengan mata yang memerah, ia berusaha keras untuk tidak menangis. Bahkan tubuhnya sampai bergetar karena menahan tangisannya.


"Suka tidak suka, Aryo adalah identitasku sekarang. Jangan lupa Daddy mu sudah tiada saat ini, jadi jangan ucapkan omong kosong itu lagi. Terimalah aku sebagai Ayahmu saat ini karena Aryo adalah aku dan aku adalah Daddy mu. Berhentilah merengek seperti bayi, kau harus tumbuh besar dan kuat jika kau ingin menyingkirkanku" Aryo melangkah pergi meninggalkan Galih yang menatapnya penuh kebencian. Tubuh bocah kecil itu merosot ke lantai begitu Aryo meninggalkannya.


"A-aku pasti akan tumbuh menjadi anak yang kuat, dan membawa mommy pergi dari sisimu" gumam Galih, ia tak lagi mampu membendung air matanya lagi. Ia segera menghapus kasar setiap buliran air mata yang jatuh membasahi pipinya.


"Daddy doakan aku, agar bisa menyingkirkan pria jahat itu dari mommy" gumam Galih lirih.


Semenjak mengetahui kebenaran jika pria yang menikah dengan ibunya saat ini bukanlah ayah kandungnya membuatnya sangat membenci kembaran ayahnya itu. Ia beranggapan karena pria itulah Ibunya berpisah dari ayahnya, membuat ayahnya meninggal dunia. Belum lagi kondisi ibunya yang hamil saat ini seperti mayat hidup. Semenjak mendapatkan berita jika pria yang dicintainya meninggal dalam kecelakaan, Yesi sempat mangalami depresi yang cukup hebat.


Rasa bersalah membuat Yesi tidak bisa menerima kenyataan, ia lebih banyak diam dan melamun seolah ia hidup dalam dunianya sendiri.


"Aku harus menjadi anak yang kuat, aku harus kuat. Aku akan melindungi mommy dan adik-adikku menggantikan Daddy."


Galih merasa senang sekaligus sedih pada saat mengetahui ibunya hamil anak kembar, ia sedih karena ayahnya tak ada lagi disisinya.


Dengan tubuh yang masih bergetar ia bangun dari lantai. Melangkah dengan gontai tapi tetap berusaha menegakkan kepalanya. Bocah kecil itu dipaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.


*************


Sementara itu disebuah gedung perkantoran seorang wanita terlihat sedang menatap Aryo yang sibuk membaca tumpukan berkas yang ada dihadapannya.


"Kau telah banyak berubah Kak Aryo" ucap wanita itu datar sembari menatap pria yang mengabaikannya sedari tadi.


"Apa kau kemari menemuiku hanya untuk berbicara hal yang tak penting" ucap Aryo dingin.


"Aku kehilanganmu Kak, kau dulu begitu ramah, ceria dan selalu tersenyum. Tapi lihat dirimu saat ini, kau seperti manusia kulkas yang tak tersentuh dan tak pernah tersenyum. Ada apa denganmu kak?" tanya Salsa, suaranya semakin terdengar lirih.


"Sebaiknya kau pulang dan selesaikan tugas kuliahmu, jangan berbicara omong kosong disini."


"Kematiannya bukanlah kesalahanmu Kak, jangan terus menyalahkan dirimu sendiri. Dan tidak perlu berpura-pura menjadi dirinya, kembalilah ke identitasmu yang sebenarnya sebagai Kak Aldo bukannya Kak Aryo seperti saat ini" Salsa berjalan mendekat ke arahnya.


"Rani, tolong kau bawa keluar tamu yang ada di dalam ruanganku" Aryo memencet tombol di depannya untuk berkomunikasi dengan sekretarisnya.


"Kakak tidak perlu mengusirku, aku bisa pergi sendiri dan besok aku akan datang kemari lagi. Awas saja kalau kakak sampai berani mengusirku lagi" Salsa meraih tasnya yang ia taruh diatas meja sebelumnya, ia pergi meninggalkan ruangan itu dengan menghentakkan kakinya dan menampilkan wajah marah.


Aryo meletakkan berkas yang ia pegang sedari tadi, menyandarkan tubuhnya ke kursi dan memejamkan matanya.


*****


"Sebaiknya kita istirahat dulu tuan" seorang perawat yang membantu Key terapi berjalan meminta Key untuk beristirahat.


"Tidak, kita lanjut lagi" ucapnya sembari menghapus keringat di keningnya. Dengan kaki bergetar dan kedua tangan yang menopang pada teralis besi ia kembali mencoba berdiri kembali sekalipun ia harus terjatuh kembali.


"Ini sudah lebih dari satu jam tuan, jika anda memaksakan diri itu hanya akan memperparah kondisi kaki anda" Beni ikut membujuk Key.


"Berapa lama lagi aku bisa berjalan Ben, aku lelah harus hidup seperti orang cacat. Aku ingin berlari menemuinya, aku sangat merindukannya" terlihat tatapan putus asa di kedua kelopak mata Aldo, ia terlihat frustasi dan memukuli kedua kakinya.


"Jangan lakukan itu tuan, anda pasti akan bisa berjalan seperti semula" ucap Perawat dan Beni menghalangi tangan Key yang ingin kembali memukul kedua kakinya.


"Bahkan dokter tempat aku dirawat sebelumnya juga mengatakan aku akan bisa berjalan kembali setelah operasi, tapi lihat kenyataannya aku masih saja menjadi orang lumpuh yang tak berguna".


Beni sedikit terkejut dengan rasa frustasi Bosnya, ia tidak menyangka bos yang biasanya tegas, tegar dan pantang menyerah tiba-tiba jadi seperti ini.


"Saya sudah menghubungi dokter terbaik di luar negeri, satu Minggu lagi ia akan datang ke negara ini. Saya sudah menjadwalkan pertemuan anda di rumah sakit pusat, jangan khawatir tuan semuanya pasti akan kembali seperti semula. Saya juga sudah mengirimkan riwayat kesehatan anda padanya dan ia yakin bisa membuat anda kembali berjalan lagi."


"Kau tidak sedang berbohong hanya untuk menghiburku kan Ben".


"Saya tidak berbohong Tuan, tidak hanya kaki anda tapi aku juga akan memastikan Nyonya dan putra anda kembali bersama anda, percayalah Tuan saya berjanji akan membantu anda mengambil kembali milik anda" ucap Beni meyakinkan Key.


******


Tak terasa satu Minggu lebih sudah berlalu, Galih yang sedang berjalan menuju kamar ibunya di kejutkan dengan suara teriakan Ibunya.


"Mommy...." teriak Galih menghampiri Ibunya yang terduduk di lantai sembari memegangi perutnya kesakitan.


Galih segera berlari memanggil asisten rumah tangga untuk segera membawa ibunya ke rumah sakit. Para asisten rumah tangga itu segera berlari mengikuti Galih sedangkan satu orang lainnya segera menghubungi Aryo.


Di dalam mobil Galih terus memegangi tangan ibunya, berharap ibunya tetap sadar dan membuka mata. Dengan mata memerah menahan tangisannya bocah kecil itu terus mengajak ibunya untuk berbicara, sementara itu supir yang mengendarai kendaraan sesekali melirik mereka. Ia cukup kagum dengan bocah kecil itu, walaupun tampak raut khawatir dan menahan tangis di wajahnya tapi ia tetap berusaha berbicara sembari tersenyum menenangkan ibunya.


Di ruang UGD dokter meminta para perawat untuk menyiapkan ruang operasi untuk persalinan Yesi. Dokter juga menanyakan keberadaan suami Yesi, mereka memerlukan tanda tangan suaminya untuk melaksanakan operasi. Segera setelah Aryo datang perawat beserta timnya bergerak cepat membawa Yesi keruang operasi.


Dalam keadaan setengah sadar Yesi di bawa menuju ke dalam ruang operasi. Samar-samar ia melihat seorang pria yang selama ini ia rindukan sedang berbaring di atas brankar dan di dorong keluar dari ruang operasi.


"Hubby" panggilnya dengan suara lemah.


TBC.