
Aldo keluar dari rumah ayahnya dengan perasaan kecewa. Ia benar-benar tidak ikhlas untuk melepas Yesi karena baginya Yesi adalah miliknya.
Aldo melajukan mobilnya menuju ke luar kota, penolakan Yesi yang memilih Aryo membuatnya cukup terpukul. Sepertinya ia memerlukan waktu untuk menjauh sejenak dan menenangkan pikirannya. Setidaknya ia juga sudah mewanti-wanti Ayahnya agar tak memaksakan pertunangannya sekalipun Yesi menolak untuk bersamanya.
Aldo memarkirkan kendaraannya di pinggiran Pantai, ia membuka kaca mobilnya menghirup udara malam untuk melonggarkan perasaannya yang terasa sesak dan menghimpit. Bayangan dan kenangan Yesi terus berputar di kepalanya.
Ternyata sangat sulit untuk melupakan Yesi, sekeras apapun ia berusaha untuk melupakannya, bayangannya malah semakin liar dipikirannya. Ia merasa jiwanya sudah terikat dengan wanita itu. Tanpa Aldo sadari ia tertidur di dalam mobil hingga menjelang pagi.
Suara deburan ombak dan anak kecil berlarian di sekitaran pantai membangunkannya. Ya hari ini adalah hari Minggu, banyak anak-anak sekitaran pantai berlarian bermain dengan deburan ombak atau sekedar membantu orang tuanya membersihkan jala dari kotoran-kotoran yang tersangkut. Aldo keluar dari mobilnya dan merenggangkan otot tubuhnya sebelum memulai kembali perjalanannya.
Setelah melakukan perjalanan kembali akhirnya di sinilah Aldo berada, di pedesaan dengan pemandangan yang masih asri dan udara sejuk cukup untuk meredam emosinya. Aldo menemui Mbok Darmi dan Pak Atmo yang saat ini sedang berada di kebun belakang Villa. Mereka adalah sepasang suami-isteri penjaga Villa yang ia percayai. Ini adalah Villa pribadi miliknya, Bahkan ayahnya tak mengetahui Villa ini, hanya sang asisten lah yang mengetahui keberadaan Villa ini.
"Panen apa mbok!" Sapa Aldo mengejutkan wanita paruh baya itu.
"Ya Allah ya Gusti, den bagus kapan datang" sapa wanita tua itu yang tadinya sibuk memetik sayuran yang siap panen.
Pak Atmo yang berada tak jauh dari mbok Darmi menoleh ke arah suara. Ia meninggalkan sabit yang ia gunakan untuk mencari rumput pakan sapi. Kedua orang tua itu memanfaatkan waktunya dengan memelihara dua ekor sapi dan menanam sayuran di kebun belakang Villa.
"Kapan datang den" kedua orang tua paruh baya itu menyambut kedatangan Aldo.
"Baru saja Pak. Bagaimana kabarnya Mbok dan Pak Atmo" ucap Aldo saat bersalaman dengan kedua orang tua itu. Tak lupa ia juga mencium.pinggung keduanya.
Buat Aldo kedua orang tua itu sudah selayaknya orang tuanya. Walaupun baru sekitar 4 tahun ia mengenal mereka. Sepasang suami istri itu di pekerjakan oleh pemilik Villa sebelumya. Hingga akhirnya Aldo tertarik membeli Villa ini dan tetap meminta kedua orang tua itu untuk menjaga Villanya.
"Alhamdulillah baik den, tumben Aden lama nggak main kesini. Biasanya juga sebulan sekali." ucap mbok Darmi.
"Den Aldo udah kecantol cewek cantik mbokne jadi lupa sama kita" ucap Pak Atmo menggoda Aldo.
"Alhamdulillah kalau sudah dapat jodoh, kapan dikenalin sama kita den ceweknya" sahut Mbok Darmi.
"Doakan saja mbok dia jodohku, nanti kalau aku sudah sah nikahin dia, pasti aku bawa dia kemari" sahut Aldo sembari tersenyum.
"Jadi beneran ini Den Aldo sudah punya calon" sahut Mbok Darmi terlihat senang sekaligus penasaran. Kehidupan Aldo yang selama ini terkesan dingin dan selalu menjaga jarak dengan wanita sempat menjadi kekhawatiran wanita paruh baya ini. Kalau-kalau majikan yang sudah ia anggap anak sendiri ini tak tertarik pada wanita.
"Doain aja ya mbok, saingannya berat soalnya" ucap Aldo.
"Kalau berat bibi bantuin angkatnya Den, biar nggak keburu di bawa kabur orang" canda Mbok Darmi.
Suasana Villa yang adem dan orang-orangnya yang ramah membawa ketentraman di hati Aldo. Melupakan sejenak intrik dan kepenatan kehidupan di kota.
*************
Sementara itu Yesi dan Aryo saat ini sudah keluar dari rumah sakit, atas permintaan Ayahnya Aryo akhirnya tinggal dirumah utama milik Ayahnya. Walaupun sampai saat ini ia belum bisa bersikap ramah terhadap ayahnya. Entahlah ia merasa memiliki konflik batin, seperti ada hal besar yang mengganggu pikirannya setiap kali ia melihat pria tua itu.
Yesi memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri, walaupun calon mertuanya itu memintanya untuk tinggal bersama. Calon mertuanya ingin melakukan pendekatan dengan cucunya. Tapi Yesi menolaknya baik-baik mengingat putranya masih belum nyaman dengan kehadiran Kakeknya maupun Aryo Ayahnya.
"Mommy, Daddy mana? aku kangen" rengek Galih ketika Yesi tak juga mempertemukannya dengan Aldo. Belum juga Yesi menyahuti rengekan anaknya tiba-tiba telponnya berdering. Ia menatap nama Aryo di layar ponselnya dan segera menerima panggilan video call. Panggilan Video call menampakkan wajah tampan Aryo di layar handphone. Galih yang awalnya mengira Aldo terlihat senang. Ia merebut handphone dari tangan Mommy nya.
"Hallo anak Papa, apa kabar?" sapa Aryo. Wajah Galih yang tadinya senang tiba-tiba muram begitu ia tau itu bukan suara Daddy nya.
"Kenapa bukan Daddy?" ucapnya sembari melemparkan handphone Yesi keatas kasur dengan kesal.
"Galih!" teriak Yesi melihat tingkah laku anaknya. Dengan cepat Yesi mengambil handphone miliknya, sedangkan Galih keluar dari kamar itu dengan wajah muram.
"Maafin Galih ya Mas, dia belum terbiasa dengan kehadiran Mas" Yesi merasa tidak enak, apalagi ia bisa melihat raut wajah kecewa Aryo.
"Iya nggak apa, pelan-pelan aku akan merebut hatinya" ucap Aryo kemudian tersenyum, menghilangkan kekhawatiran Yesi.
"Besok aku kirim supir buat jemput kamu, besok kita Fitting baju pengantin. Sekalian ajak Galih, aku juga sudah siapkan seragam khusus buatnya."
"Iya Mas, nanti Yesi ajak Galih sekalian. Tapi gimana kondisi kaki Mas, Mas yakin pernikahan kita dilaksanakan secepat ini" Tanya Yesi, sebagian dari hatinya menolak pernikahan ini. Tapi sisi hati lainnya juga merasa tak tega dan bersalah jika ia sampai menolak Aryo.
"Jangan khawatir, Mas rutin terapi. Dihari pernikahan kita nanti, mas pastikan Mas sudah bisa berjalan. Ya, walaupun mungkin tidak seperti orang normal, tapi mas akan berusaha yang terbaik buat kamu. Mas nggak ingin mengecewakan kamu dan Galih. Maaf kalau kondisi Mas saat ini mungkin mengecewakanmu."
"Kami nggak kecewa kok Mas, kami bangga memilikimu. Jangan terlalu memaksakan diri, Yesi terima Mas apa adanya kok" sahut Yesi mencoba meningkatkan rasa percaya diri Aryo.
"Terimakasih sayang, Mas nggak sabar meminangmu. Mas akan berusaha membahagiakan kalian. Selamat malam, sampai jumpa besok jam 10. Selamat mimpi indah dan selalu rindukan aku" ucap Aryo mengakhiri pembicaraannya.
"Selamat malam juga Mas" ucap Yesi menutup telponnya.
"Ya Allah jika ini memang sudah jalanku dan ia adalah jodoh terbaik yang kau kirimkan untukku, aku akan ikhlas dan menerimanya ya Allah" gumam Yesi sembari mendekap handphone di dadanya. Mulai saat ini ia akan menutup kenangan indahnya bersama Aldo dan mencoba menerima Aryo secara utuh.
TBC.